
Chiara melenguh saat retina matanya terbuka, penglihatannya serasa kabur, mengerjap beberapa kali untuk menghalau cahaya yang menembus retina matanya.
Setelah terbuka sempurna, dia melihat sekitar, merasa bingung dengan tempatnya berbaring, ruangan dengan dinding putih serta tirai berwarna hijau, serta aroma antiseptik yang menusuk hidungnya. Matanya menatap langit-langit, menerawang apa yang sebenarnya terjadi, tangannya terulur menyentuh kepalanya yang terasa berat. Ternyata ada perban melingkar di sana.
Berusaha mengingat apa yang menyebabkan kepalanya di perban, pikirannya terlintas pada kejadian ia di sandera, melihat Kenneth yang hendak dipukul tiba-tiba tubuhnya melangkah menghampiri Kenneth dan merasakan benda tumpul menghantam kepalanya. "Ashh," ringisnya merasakan nyeri di kepalanya.
Pikirannya kembali mengingat. Tangannya menyentuh sisi kepalanya yang luar biasa ngilu, dan ia melihat darah di telapak tangannya, dan tak berapa lama Kenneth menghampiri, memangku kepalanya.
"Apa yang lo lakuin?"
"Kenapa lo nolongin gue, Ra?"
"K-karena g-gue s-s-suka s-ssama l-lo."
Chiara memejamkan matanya rapat, menggigit bibirnya saat mengingat kalimat yang terucap dari bibirnya kala itu. Apa yang harus gue lakuin kalau ketemu sama dia? bathinnya. Matanya kembali memperhatikan sekitar. "Kenapa sepi sekali? Gue haus,” gumamnya menelan ludah yang sama sekali tidak membantu membasahi tenggorokannya.
Aiden yang baru kembali dari kantor menghampiri kedua adiknya yang duduk di kursi tunggu ruang ICU. "Bagaimana keadaan Ara?"
"Masih belum siuman, Bang."
"Kalian pulang saja dulu, nanti ke sini lagi, kita nginep di sini."
"Nanti saja, Bang. Al masih mau di sini."
"Cla juga,” sahut Clarissa.
Aiden mengangguk, langkahnya menuju pintu ruangan, melihat dari balik kaca.
Chiara yang melihat bayangan orang di pintu pun menoleh, kemudian tersenyum pada Aiden.
Bola mata Aiden membulat sempurna. "Ara bangun,” ucapnya membuat kedua adiknya bangkit dari duduknya dan menghampiri.
Pintu ICU terbuka, Aiden segera berlari dan memeluk Chiara, begitu pula Clarissa dan Alzayn yang ikut memeluk.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Ra. Abang lega banget."
"Iya, Kak. Al juga seneng banget."
"Cla juga."
"Haus," ucap Chiara saat dilepaskan pelukannya.
Aiden meraih gelas di nakas dan membantu Chiara minum, sedangkan Alzayn menekan tombol darurat di sisi bed pasien guna memanggil dokter. Tak berapa lama dokter Arya datang dan memeriksa keadaan Chiara.
"Bagaimana yang kamu rasakan, Chiara? Ada keluhan?"
Chiara menggeleng. "Kepalaku sedikit pusing."
Dokter Arya tersenyum. "Itu wajar, kepalamu terbentur benda tumpul, tapi tidak apa-apa, untung kamu cepat siuman. Perbanyak istirahat, jangan terlalu banyak berfikir keras, konsumsi obat teratur agar cepat sembuh, hasil labnya akan keluar beberapa hari lagi," terangnya.
Dokter Arya memeriksa di beberapa titik tubuh Chiara. "Setelah ini sudah bisa dipindahkan di ruang rawat jalan," ujarnya lagi.
"Terimakasih, Dokter," Aiden berucap.
"Sama-sama, saya permisi," Dokter Arya beserta suster undur diri.
"Abang urus kamar buat Ara dulu, kalian di sini sebentar jagain Ara."
"Iya, Bang.”
"Baik, Bang.”
Tak berapa lama Chiara dipindahkan di kamar VVIP yang berada di lantai tiga.
Esok harinya, teman-temannya datang menjenguk, kali ini Galang juga turut hadir, namun dilihat dari gesturnya pemuda itu lebih banyak diam, entah apa yang menjadi beban pikirannya, apakah pernyataan Chiara waktu itu?
"Lang, tumben lo diem aja."
"Sakit gigi gue,” jawab Galang asal.
Jawaban dari Galang membuat teman-temannya tergelak.
"Lo serius sakit gigi?"
"Diem lo,” sentak Galang ketus. Ia memperhatikan Chiara. "Chi, maafin gue, ini semua gara-gara gue,” sesalnya.
Chiara tersenyum. "Nggak apa-apa, Lang. Lagi pula gue udah baikan."
Selanjutnya Galang tersenyum mengangguk.
"Kapan lo boleh pulang, Ra?"
"Belum tahu, kata Dokter nunggu hasil lab keluar."
"Kepala lo gimana, Ra?" kali ini Alex yang bertanya.
"Kadang-kadang pusing sih."
"Untung enggak sampe gegar otak, Kak,” sahut Clarissa memeluk kakaknya.
"Ngomongnya.." peringat Chiara mencubit pipi Clarissa.
"Hehe, maaf, Kak."
"Makasih, Ra," Kenneth yang sedari tadi, eh bukan, sedari kemarin hanya menjadi pendengar yang baik mulai membuka suara, membuat teman-temannya menutup bibir rapat. "Udah nolongin gue."
Chiara tersenyum canggung. "Iya sama-sama," Jawabnya kikuk. Sebenarnya Chiara malu untuk bertemu dengan Kenneth, ia agak menyesal telah mengatakan suka pada Kenneth. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dirinya juga tidak bisa menarik ulang kata-katanya. Hanya berharap Kenneth melupakan ucapannya kala itu. Benar, hanya itu yang bisa ia harapkan. Ah, apa seharusnya ia pura-pura lupa ingatan saja? Tapi sepertinya itu sudah terlambat.
Kenneth akhirnya bisa bernafas lega mendengar kabar bahwa Chiara telah siuman, terlebih melihat keadaan Chiara yang jauh lebih baik dari kemarin. Kenneth merasa ia bisa tidur nyenyak malam ini. Oke ralat! Agak nyenyak, karena Chiara belum sepenuhnya pulih. Apa Kenneth merasa berhutang nyawa pada Chiara?
__ADS_1
Entahlah...
...***...
Sudah tiga hari sejak Chiara siuman, Clarissa kembali bersekolah seperti biasa, langkah kakinya berjalan cepat bahkan berlari untuk mengejar seseorang yang ada di ujung koridor dan akan berbelok. "Galang!" panggilnya.
Galang berbalik dan mendapati Clarissa sedang terengah mengatur nafasnya. "Ada apa, Cla?"
"Gue, huh, perlu ngom-mong huh, sama lo," ucapnya terbata seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Galang terkekeh geli melihat Clarissa. "Oke.”
Kemudian Galang menuntun Clarissa agar mengikutinya menuju lapangan basket indoor. Kebetulan ada yang perlu ia ambil di loker ruang ganti pemain basket.
"Mau ngomong apa, Cla?" tanya Galang saat sudah duduk di kursi di samping Clarissa.
"Gimana perasaan lo?"
Sebelah alis Galang terangkat. "Perasaan gue?" tunjuknya pada diri sendiri.
Clarissa mengangguk. "Sorry, gue nggak tahu kalau Kak Ara suka sama orang lain, gue pikir dia suka sama lo, makanya gue nggak pernah nanya perasaan dia yang sebenarnya sama lo."
Galang tersenyum. "Gue nggak apa-apa lagi, kenapa lo ngerasa bersalah kayak gitu sih, emang muka gue kelihatan banget sedihnya."
Dan sayangnya Clarissa mengangguk.
Galang menghembuskan nafas kasar. "Jujur banget sih lo," ucapnya mengacak rambut Clarissa sambil terkekeh.
"Udahlah, jangan patah hati gitu, masak iya mantan playboy cengeng," ledek Clarissa.
"Heh, siapa yang patah hati coba,” Galang mengelak.
Clarissa menyengir.
"Lo nggak mau ngasih ucapan ke gue?"
Clarissa menyernyit. "Ucapan apa?"
"Selamat, karena gue ditolak sama Chiara,” ujar Galang terkekeh.
"Lo ‘kan nggak ditolak sama Kakak gue, jadi yaa selamat.." Clarissa mengulurkan tangan.
Galang yang bingung tak urung menyambut uluran tangan Clarissa.
"..menikmati masa patah hati," lanjut Clarissa terbahak.
Galang menipiskan bibirnya, matanya menatap horor pada Clarissa. "Udah tahu gue lagi patah hati, lo libur kek," cibirnya seraya menyenderkan punggungnya pada dinding.
Clarissa berdehem, "Oke-oke jan galau, sans aja, cowok kayak elo nggak pantes nunjukin wajah sedih, malu tuh sama musuh lo," ia kekehnya.
"Teros aja teroooosss,” Galang berkompor kesal.
Clarissa tertawa sampai matanya menyipit.
"Sama-sama," balas Clarissa mengangguk.
Kemudian keduanya diam, Clarissa membuka ponselnya melihat aplikasi Instagram, sedangkan Galang masih menyender pada dinding serta kakinya yang dibiarkan lurus dan kedua tangan terlipat.
"Cla?"
"Hm?"
"Gue patah hati nih.”
"Terus?” jawab Clarissa tanpa menoleh.
"Pacaran yuk?"
Krik.. krik..
Krik.. krik.. (suara jangkrik)
Seketika Clarissa menoleh. "Apa lo bilang?"
"Kita pacaran yuk?" Galang mengulang ucapannya.
"Heh, lo pikir gue cewek apaan? Nembak kok gitu banget, enggak ada romantis-romantisnya,” cibir Clarissa. "Lagian nih ya, gara-gara lo ditolak Kakak gue terus lo bikin pelampiasan ke gue gitu? Idih."
Galang menghela nafas. "Setidaknya gue bisa lupain Chiara," jawabnya enteng.
Clarissa menelisik wajah Galang dengan intens. "Lo sedih banget sih gara-gara ditolak Kakak gue, enggak tega gue sama lo."
"Nah, lo nggak tega ‘kan sama gue? Jadi kita pacaran aja gimana?" Galang menaik turunkan alisnya.
"Lo ngajak pacaran kayak mau ngajak orang berantem."
Galang terkekeh. "Karena lo beda dari yang lain, Cla."
Clarissa mencibir, melipat kedua tangannya. "Terus?”
"Oke, gini deh, gue tanya sama lo." Galang menegakkan tubuhnya menghadap Clarissa. "Lo nggak punya cowok ‘kan?"
"Enggak.”
"Lo lagi suka sama siapa?"
Clarissa berfikir sejenak. "Enggak ada.”
"Bagus!" seru Galang.
__ADS_1
"Bagus apanya?"
"Gue juga lagi jomblo, jadi lo pacaran sama gue."
Clarissa menatap tajam cowok di depannya, menempelkan punggung tangannya di dahi Galang. "Lo sakit, Lang?"
"Gue sehat, Clarissa."
"Gara-gara ditolak Kakak gue otak lo rada geser kayaknya."
"Udahlah, jadi gimana kita pacaran nggak nih?"
"Gue baru tahu model ngajak pacaran kayak gini, kayak sebuah kesepakatan gitu," gumam Clarissa.
"Itu bedanya kita,” cetus Galang menjentikkan jarinya seraya tersenyum lebar. "Ayolah, lo salah satu orang yang beruntung karena bisa pacaran sama gue," ucapnya bangga.
"Idih, percaya diri banget masnya."
"Harus dong!"
"Padahal lagi patah hati tuh," ejek Clarissa.
"Yaelah, nggak usah dibahas kali, Cla. Gue udah move on ini, nunggu jawaban lo doang."
Clarissa mengetuk jarinya di dagu, matanya menatap Galang yang tersenyum kian lebar. Menghembuskan nafas pelan. "Oke deh gue mau."
Kedua ujung bibir Galang terangkat ke atas. “Deal nih, kita pacaran."
"Deal," Clarissa menjabat tangan Galang. "Tapi awas kalau lo selingkuh dari gue," ancamnya.
"Gue enggak pernah selingkuh kali."
Mata Clarissa memicing curiga.
"Serius, Cla. Lo tanya aja sama mantan gue, gue tuh tipe cowok setia, tapi ya gitu.."
"Gitu apa?" potong Clarissa menyelidik.
"Bosenan gue, hehe," imbuh Galang menyengir.
"Berarti lo berniat main-main dong sama gue?"
"Elah, gue serius kali, Cla. Gue pikir-pikir nih ya, kayaknya selama ini gue tuh lebih deket sama lo daripada sama Kakak lo."
"Itu 'kan karena gue bantu nyomblangin lo sama Kakak gue."
Galang mengangguk. "Iya juga sih, tapi gue rada bingung sama perasaan gue sendiri," ujarnya kembali bersender pada dinding.
"Maksud lo?" Clarissa memiringkan kepala.
Galang mengangkat kedua bahunya. "Gue ragu. Sebenernya gue suka sama Chiara atau nggak."
Clarissa semakin tak mengerti dengan pernyataan dari Galang.
Galang menghadap Clarissa, mencubit keduanya pipinya gemas. "Gue rasa, gue enggak beneran cinta sama Chiara, Clarissa.."
Clarissa membingkai kedua pipinya sendiri. "Gue sia-sia dong bantuin lo."
"Setidaknya ‘kan lo jadi punya alasan buat deket sama gue," Galang terkekeh.
Clarissa memicingkan matanya, menunjuk Galang dengan telunjuknya. "Jangan-jangan elo ya yang bikin alasan buat bisa deket sama gue, ngaku lo."
Galang tergelak. "Enggak juga."
"Bohong!"
Galang semakin tergelak. "Udahlah, yang penting sekarang kita udah jadian ‘kan? Gue nggak bakal selingkuh, gue janji," ucapnya meyakinkan.
"Oke, gue pegang kata-kata lo."
"Lo bisa pegang omongan gue, pacar," Galang tersenyum mengacak rambut Clarissa. "Gue lagi seneng nih, boleh gue cium lo?" Galang siap mendekatkan bibirnya.
Clarissa mendorong kepala Galang. "Eitss, tidak bisa, main nyosor aja kayak bebek lo."
Galang mencebik. "Kita ‘kan sekarang pacaran, ganti, pake aku-kamu, bukan lo-gue."
Clarissa melotot, kemudian menghembuskan nafas pelan. "Terserah."
Galang berdiri mengulurkan tangan ke arah Clarissa. "Ayo, pacar, aku anter kamu ke kelas,” ucapnya menyengir.
"Geli gue," Clarissa bergidik namun menerima uluran tangan Galang.
"Lo harus terbiasa sama ucapan gue."
"Nah, itu lo-gue."
"Ah, lupa aku, maaf ya sayang~" Galang menggosok dahinya di kepala Clarissa.
"Ihh, kenapa gue jadi merinding ya."
"Aku, bukan gue,” ralat Galang.
"Iya, sayang~. Maaf ya, aku lupa," Clarissa menirukan ucapan Galang.
Keduanya bertatapan kemudian tertawa menyadari ucapan menggelikan yang baru saja mereka katakan.
📖📖
📖
__ADS_1
...Aihh co cuiittt......
...Akhirnya mereka jadian....😘😘...