
Hari senin diawali dengan pagi yang sangat panjang dan melelahkan, kebanyakan murid datang lebih pagi guna mengikuti kegiatan upacara bendera. Walau tak sedikit yang sengaja berangkat siang agar tidak turut berjemur di bawah matahari senin pagi.
Chiara berdiri di barisannya berdampingan dengan Mila hingga seseorang mengambil barisan di depannya dan mengharuskan dirinya mundur ke belakang.
"RAPIKAN BARISAN!" Pemimpin barisan memberikan arahan pada seluruh murid.
Chiara menoleh ke samping, terkesiap saat mendapati ia berada satu barisan dengan Kenneth. Sedangkan Kenneth yang merasa diperhatikan menoleh pada Chiara, ia mengulum senyum menyadari kekagetan gadis itu bahkan wajahnya memerah entah karena sinar matahari atau karena blushing.
Cuaca benar-benar panas, bahkan keringat sudah mengucur dari pelipisnya. Chiara mengibas-ibaskan tangannya karena kepanasan.
Kenneth memperhatikan tingkah gadis di sampingnya, ia melihat keringat yang mengucur dari pelipis Chiara, bahkan wajahnya yang putih memerah terbakar sinar matahari. Ia merogoh saku celananya dan memberikan sapu tangan pada Chiara.
Chiara mendongak menatap Kenneth, kemudian beralih pada sapu tangan yang disodorkan ke arahnya. Ia menerima sapu tangan itu dan menyeka keringat di wajahnya. "Gue cuci dulu, baru gue balikin," ujarnya pelan.
Kenneth tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas kemudian beralih melihat ke depan.
Diam-diam Chiara tersenyum memperhatikan sapu tangan berwarna hitam di tangannya.
...***...
Brakk!!!
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka lebar, mengejutkan Chiara yang sedang berada di dalamnya. Ia menoleh dan mendapati Vanya dkk melotot padanya, ada apa lagi? Pikirnya.
"Mana?" Vanya membuka telapak tangannya.
Chiara menyernyit bingung.
Vanya berdecak. “Mana sapu tangan Kenneth,” tagihnya.
"Apa? Tidak!" Chiara menyentuh saku roknya.
"Siniin, atau gue paksa,” ancam Vanya.
"Apa hak lo?" tantang Chiara.
"Dasar bit**, serahin ke gue sekarang!” bentak Vanya meninggikan suara. "Pegangin dia,” perintahnya pada kedua temannya.
"Lepasin gue, breng**k!" umpat Chiara meronta.
"Diem lo, bang**t!" maki salah satu dari mereka mencengkeram tangan Chiara kuat.
Chiara terus meronta, menghindar saat Vanya akan merogoh saku roknya. Tanpa sengaja Chiara memukul perut Vanya dengan lututnya.
"Arrghh..,” Vanya terhuyung ke belakang menyentuh perutnya. Tatapannya menggelap. "Dasar breng**k. Berani lo mukul gue, cewek sial*n!" hardiknya tersulut emosi.
Chiara berhasil terlepas dari antek-antek Vanya, ia berbalik hendak berlari keluar, namun siapa sangka Vanya menedang pinggulnya keras hingga ia membentur kaca yang ada di depannya.
Pranggg!!!!
Bunyi kaca pecah mengejutkan ketiganya, lebih terkejut saat Vanya dkk melihat darah mengalir dari kening Chiara.
Chiara menyentuh keningnya yang serasa berdenyut, merasakan sesuatu yang lengket di telapak tangannya, ternyata itu adalah darah yang mengalir dari dahinya. Ia merogoh saku roknya dan mendapati saputangan milik Kenneth, ia menekan keningnya dengan sapu tangan dengan meringis menahan perih.
Chiara gegas berlari keluar untuk menghindari Vanya dkk. Penglihatannya perlahan mengabur, ia berpegangan pada pilar guna mengalihkan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya, bahkan kini pilar putih itu terkena noda darahnya. Koridor sangat sepi karena kegiatan belajar mengajar telah dimulai, tidak ada yang bisa dimintai tolong, ia juga tidak ingin membuat panik semua orang.
Seakan takut Vanya dkk akan mengejarnya, Chiara berlari sesekali terhuyung, beberapa kali ia berhenti menghalau rasa nyeri yang semakin menekan keningnya. Beruntung dirinya bisa sampai di UKS, petugas UKS segera membantunya berbaring, dan setelah itu semuanya gelap.
...***...
"Mil, Chiara dimana?" tanya Toriq yang tidak mendapati teman sebangku Mila berada di tempat, padahal tadi pagi mengikuti upacara.
Hampir semua murid menatap pada Mila, karena jam pelajaran pertama sudah selesai, tapi Chiara belum juga kembali.
__ADS_1
"Gue nggak tahu, tadi pamit ke toilet tapi nggak balik-balik,” jawab Mila khawatir.
"Jangan-jangan nyasar lagi, dia, 'kan, anak baru."
"Enggak mungkin, dia sudah hafal jalan dari toilet ke kelas," bantah Mila.
"Telfon aja,” saran seorang siswi yang duduk di depannya.
"Hapenya ketinggalan di tas. Nih," Mila mengangkat ponsel milik Chiara.
"Jangan-jangan..."
Julio memukul lengan Deni. "Jangan-jangan apa? Ngomong yang jelas dong, jangan setengah-setengah."
"Jangan-jangan Chiara diculik hantu sekolah."
Plak!
Bugh!
Plak!
Pukulan menyerang tubuh Deni dari beberapa murid.
"Aww, aduhh, sakit, woiii."
"Jangan sembarangan kalau ngomong."
Julio berdehem. "Biar gue yang nyari pacar gue, perasaan gue mendadak enggak enak," usulnya beranjak.
Deni menonyor kepala Julio. "Pacar dari Hongkong, emang Chiara mau sama lo, ogeb!"
"Sirik aja lo, orang-orangan sawah."
...***...
Julio menyusuri koridor lantai dua, beralih ke toilet dan kantin, namun nihil, ia tidak menemukan Chiara dimanapun. Ia hendak berjalan ke ruang guru, mungkin sedang ada urusan dengan guru, pikirnya, namun tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya.
"Eh, elo kelas dua belas, 'kan?"
Julio menoleh. "Iya, kenapa?"
Gadis itu sejenak berpikir. "Ah, iya, Chiara. Lo tahu dia ruang apa?"
"Chiara? Dia sekelas sama gue, kenapa?"
"Oh, Alhamdulillah.. gue nggak perlu ke ruang guru buat nanyain kelasnya," gadis itu tersenyum.
Julio menatap gadis di hadapannya dengan sebelah alis terangkat.
"Eh, iya, sorry. Itu, dia ada di UKS, lagi sakit."
"Chiara sakit?"
Gadis itu mengangguk.
Julio gegas berlari menuju UKS diikuti gadis yang ternyata bernama Najwa, dilihat dari tulisan di seragamnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Julio saat melihat wajah pucat Chiara yang berbaring di atas bed dengan kening yang berbalut perban.
"Gue enggak tahu, tiba-tiba dia datang ke sini sambil megang keningnya yang tertutup saputangan, waktu gue bantuin dia berbaring dia sudah enggak sadar, sampai sekarang," tutur Najwa menjelaskan.
Julio meraup wajahnya. "Enggak harus dibawa ke rumah sakit, ‘kan?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Kata petugas medis enggak perlu, untung lukanya ke tutup sama saputangan, jadi enggak sampai kehabisan darah."
"Kapan dia siuman?"
"Mungkin sebentar lagi. Oh, iya, ini saputangannya," Najwa menyerahkan saputangan hitam yang sudah berlumuran darah.
"Bisa lo jaga dia sebentar, gue mau panggil temen buat jagain dia di sini."
"Dia anak baru itu, ya?"
Julio mengangguk.
"Bukannya dia punya adik juga di sekolah ini?"
"Iya, tapi gue enggak tahu kelasnya apa?"
Najwa membulatkan mulutnya.
"Tungguin bentar gue tinggal dulu."
Najwa mengangguk mengiyakan perintah Julio.
...***...
Julio memasuki kelas bertepatan dengan bel istirahat berbunyi, ia memegang ujung saputangan yang terdapat darah Chiara. Beberapa murid yang masih ada di kelas menoleh padanya, tak terkecuali Kenneth.
Kenneth memperhatikan kain hitam yang dipegang Julio. Ia tahu bahwa saputangan itu miliknya yang tadi pagi diberikan untuk Chiara mengusap peluh.
"Julio, dimana Chiara?" Mila mencecar Julio dengan pertanyaan.
"Kenapa lo bawa kayak gitu saputangannya?"
"Kayak jijik gitu, iya, enggak sih?" pertanyaan Icha sang mantan pacar diangguki beberapa murid.
"Lo enggak nyium sesuatu gitu?" tanya Julio.
Beberapa murid mulai mengendus-endus.
Kenneth beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri Julio, merebut saputangan dari tangan Julio, menggosoknya pelan. Terasa kasar, bathinnya. Ia merasakan lengket di tangannya yang terkena noda merah. Matanya terbelalak menyadari bahwa itu darah. "Dimana dia?" tuntutnya tak sabar.
Julio terkesiap. "Di U-KS,” jawabnya tergagap.
Kenneth gegas berlari keluar kelas dengan membawa saputangan, tujuannya hanya satu, melihat kondisi Chiara. Sebenarnya dirinya sedikit khawatir karena Chiara tidak kunjung kembali ke kelas, namun ia tidak ingin memperlihatkan kekhawatiran itu pada teman-temannya.
"Julio! Apa yang terjadi sama Chiara?" cecar Mila menghardik.
"Astaghfirullah, lo ngagetin gue, Mil,” kejut Julio menyentuh dadanya. Entah sejak kapan Mila sudah berdiri di sampingnya. “Di UKS,” jawabnya kemudian.
"Hah, kenapa? Ada apa dengan Chiara, Jul?"
Julio menghela nafas lelah. "Dia sakit, buruan lo ke sana jagain dia."
Mila mengangguk dan gegas berlari, namun belum sampai keluar kelas Julio memanggilnya.
"Eh, Mil, sekalian kasih tahu adiknya Ara!”
Tanpa menjawab ucapan Julio, Mila gegas berlari menuju ruangan Clarissa yang entah ia sendiri pun tidak tahu Clarissa masuk kelas apa, ia akan bertanya nanti.
📖
📖
📖
__ADS_1