
Sepulang sekolah tak sengaja Chiara bertemu dengan Liona yang berdiri bersandar di sisi mobil berwarna merah. Awalnya Chiara hendak mengabaikan namun seruan dari Liona menghentikan langkah kakinya yang akan menuju mobil jemputannya.
"Ara?"
Chiara menoleh. "Iya."
"Lo lihat Kenneth?"
Chiara menoleh ke belakang, menelisik sekitarnya. "Em.. kayaknya masih di dalam."
"Baiklah, gue akan nunggu dia di sini."
"Kenneth enggak bawa motor?" Chiara menyerukan pertanyaan.
Liona menggeleng. "Tadi pagi dia sekalian berangkat bareng gue. Sekarang gue jemput dia."
Chiara mengangguk. "Oh. Em.. kalau gitu gue duluan, ya?"
"Eh, tunggu, Ra, elo kemarin pergi sama Kenneth, ya?"
"Iya, ada tugas dari guru."
"Gue tahu, Kenneth cerita semua sama gue."
Chiara terkesiap, namun tak urung kepalanya mengangguk. Kalau udah tahu ngapain tanya? bathinnya.
"Dia cerita kalau dapat hukuman buat nyari katak sama lo, dia juga cerita bagaimana bisa mendapat hukuman itu."
"Sorry, itu gara-gara gue," sesal Chiara tak enak.
Liona tersenyum. "Nggak apa-apa, gue ngerti kok, yang penting Kenneth jujur sama gue." Liona memperhatikan lawan bicaranya. "Lo tahu, meskipun di luar dia terlihat dingin dan ketus, tapi ada sisi lain Kenneth yang nggak semua orang tahu, dia mudah ketawa bahkan hanya karena hal kecil, waktu gue bilang cinta sama dia misalnya."
Chiara tertegun menatap raut wajah Liona yang bersemu.
"Dia juga cerita kalau kemarin dia ketawa waktu bareng lo," Liona kembali memperhatikan Chiara.
"Eh, itu enggak sengaja kok, lo jangan salah paham."
Liona tersenyum. "Tenang saja, hubungan gue sama Ken jauh lebih kuat dari yang lo pikirin, enggak mungkin cuma karena hal-hal kecil kayak gini langsung hancur gitu aja."
Chiara tersenyum kecut, kemudian mengangguk. "Semoga hubungan lo sama Ken langgeng, ya?" doanya tulus.
"Terimakasih," balas Liona senang.
"Sepertinya gue harus cabut," pamit Chiara melirik jam tangannya.
"Sampai ketemu lagi, Ara," tanggap Liona melambaikan tangan.
Chiara tersenyum kecil membalas lambaian tangan Liona. Sebenarnya ia tidak tahan membahas Kenneth dengan pacarnya, hatinya masih belum bisa ikhlas bahwa Kenneth tidak bisa membalas perasaannya. Dan juga, sepertinya hubungan mereka memang lebih serius, terbukti dengan penjelasan Liona yang mengatakan 'hubungan mereka tidak akan hancur hanya masalah sepele seperti ini' astaga jantung Chiara serasa diremas mendengarnya. Ternyata ia belum bisa menghapus perasaannya terhadap Kenneth, harus sampai kapan ia bertahan dengan situasi seperti itu?
Liona tersenyum misterius melihat raut wajah Chiara yang sendu saat sebelum meninggalkan dirinya yang masih berdiri di tempat semula. Langkahnya kembali menuju mobilnya terparkir, menunggu Kenneth yang belum juga menunjukkan batang hidungnya.
...***...
Setelah absen sehari karena demam akibat tercebur kolam renang, akhirnya Vanya kembali bersekolah lagi. Ia merasa kesal dengan Chiara, kekesalannya kini sudah mencapai ubun-ubun. Rencananya mengerjai Chiara gagal, malah justru dirinya yang tercebur ke dalam kolam bersama bangkai katak yang membuatnya mual-mual seharian sampai demam. Juga Kenneth yang menyebabkan rencananya mengerjai Chiara gagal, sebenarnya ia suka sama Kenneth, tapi kenapa Kenneth selalu saja membela Chiara, hal itu membuat Vanya semakin membenci Chiara. Dan sekarang ia berencana menghampiri Chiara untuk memuntahkan unek-uneknya selama ini, ia benar-benar kesal dengan Chiara. Chiara dan adiknya yang bernama Clarissa bisa kebal akan bully yang di lakukan olehnya. Padahal sebelumnya tidak ada yang berani melawannya, semua takut padanya, dan tidak ada yang bisa mempermalukannya.
Brakkk!!!
Vanya mendorong pintu dengan keras membuat seisi ruangan terkejut akan tindakannya. "Mana Chiara?" tanyanya entah pada siapa.
"Lo nanya sama siapa?" jawab Icha acuh, ia tahu reputasi Vanya di sekolah, ratu bullying.
"Jangan banyak bacot, dimana Chiara?" Vanya menghardik.
"Dia belum dateng," salah satu siswi berbando putih menjawab.
Vanya berbalik keluar kelas, ia memilih menunggu Chiara di depan kelas. Tak berapa lama netranya menangkap seseorang yang ia tunggu. Vanya memposisikan dirinya berdiri dengan menyender pada dinding serta melipat kaki.
Chiara yang datang sendirian pagi itu sempat terheran mendapati Vanya berdiri di samping kelasnya, menunggu siapa? bathinnya. Karena kelas Vanya berada di koridor yang berlawanan arah dengannya. Oh, atau mungkin dia menunggu Kenneth? Mengabaikan Vanya, Chiara berjalan santai menuju kelasnya, tak disangka ternyata tak jauh di belakangnya Kenneth juga berjalan menuju kelasnya.
Vanya tak peduli bahwa ada Kenneth di belakang Chiara, ia hanya perlu memberi pelajaran untuk cewek kurang ajar seperti Chiara. "Heh! *****!" hardiknya keras.
__ADS_1
Byurr!!
Belum sempat Chiara menoleh, wajah serta seragamnya tersiram air, membuatnya reflek menutup mata.
Vanya tersenyum menang melihat wajah dan tubuh Chiara basah akibatnya siraman air darinya.
Netra Chiara terbuka dan berkilat tajam pada sang pelaku. "Apa yang lo lakuin?!" hardiknya marah.
"Ups, gue cuma bantuin lo cuci muka, biar muka lo bersih dari kuman-kuman yang selama ini bersarang di wajah lo, biar orang tahu siapa lo sebenarnya. Hanya seorang, *****," Vanya sengaja menekankan kata terakhirnya dengan pelan.
"Vanya stop!"
Keduanya beralih menatap Kenneth yang baru saja bersuara.
"Apa yang lo lakuin sama Ara?" terlihat rahang Kenneth mengeras.
"Bukan urusan lo, Ken, ini urusan gue sama dia," Vanya menunjuk Chiara.
"Lo keterlaluan, Vanya, gue nggak —"
"Stoopp!" potong Chiara cepat. Ia menarik nafas dalam guna mengontrol emosi yang mendesak keluar. "Gue tekankan sekali lagi sama lo," tunjuknya tepat di wajah Vanya. "Gue nggak selemah yang lo pikir, gue bisa bikin lo hancur lebih dari yang nggak pernah lo bayangkan. Selama ini gue selalu diem atas semua yang lo lakuin ke gue." Netra yang biasanya nampak indah itu mulai berkabut. "Dan gue peringatin lo sekali lagi," Chiara menarik nafas. "JANGAN GANGGU HIDUP GUE KALAU LO MASIH MAU HIDUP TENANG!!" hentak Chiara keras dan lantang, bahkan seruannya mengundang beberapa murid untuk melihat ke arahnya.
Vanya tersentak mendengar bentakan dari Chiara, nyalinya sedikit menciut melihat tatapan tajam dari Chiara, ingat hanya sedikit. "Lo berani bentak gue?" ia mengancam.
"Diam!!" sela Chiara lagi, membuat Vanya seketika beku, nafasnya naik turun menahan luapan emosi.
"Ra, tenang —"
"Lo juga, diam!!" Chiara menatap tajam pada Kenneth. "Gue nggak butuh bantuan dari lo, gue nggak butuh perhatian dari lo, dan juga nggak butuh empati dari lo. Jadi lo nggak perlu pura-pura buat lindungin gue dari dia." Chiara menunjuk Vanya. "Gue.bisa.urus.masalah.gue.sendiri," tekannya dalam. "Dan gue nggak butuh bantuan dari lo," imbuhnya menatap Kenneth tajam. Entahlah, Chiara merasa benar-benar muak dengan semuanya, ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang tidak berguna seperti Vanya dan Kenneth, dirinya benar-benar lelah, bathinnya selalu tertekan oleh emosinya sendiri, tertekan oleh perasaan yang semakin menggerogoti dirinya dan membuatnya semakin terpuruk.
Kenneth tersentak mendengar kalimat Chiara padanya, ada apa ini? Ada apa dengan Chiara? Kenapa dia berubah?
Vanya lebih tidak menyangka lagi bahwa Kenneth juga terkena amukan dari Chiara.
Tatapan tajam Chiara menghunus pada Vanya, setelahnya ia berbalik menuju toilet untuk membersihkan diri, beberapa murid yang berkerumun perlahan memberikan jalan untuknya.
Semua sempat terkejut melihat Chiara yang kalem bisa beringas seperti itu, mereka menyimpulkan bahwa perbuatan Vanya sangat keterlaluan, selama ini tidak ada yang berani melawannya.
...***...
Masih seperti sebelumnya, di salah satu meja panjang terdapat sekumpulan anak-anak yang memang penghuni asli meja tersebut, siapa lagi kalau bukan kawanan anak IPA 1.
Tatapan mata Kenneth terus menghujam pada Chiara yang duduk di depannya.
Sebenarnya Chiara tahu bahwa Kenneth memperhatikannya, namun ia pura-pura tidak melihat dan menikmati nasi goreng yang di pesannya.
Teman-temannya juga tak lagi membahas masalah yang tadi pagi sempat membuat heboh antara Chiara, Kenneth dan Vanya.
Begitu pula Mila, yang sebenarnya dibuat mati penasaran, namun ia mengurungkan niat untuk bertanya pada Chiara, sepertinya suasana hati Chiara sedang tidak baik hari ini, dilihat dari raut wajahnya yang mendung.
Beberapa murid mulai bergegas meninggalkan kantin saat sudah selesai dengan kegiatannya mengisi perut. Begitu pula dengan Chiara yang langsung bangkit dari duduknya saat sudah menghabiskan seporsi nasi goreng serta jus stroberi miliknya.
"Lo mau kemana, Ra?" tanya Mila melihat Chiara berdiri.
"Gue balik duluan," jawab Chiara dingin.
Kenneth yang melihat Chiara sudah beranjak pun ikut berdiri.
"Mau kemana lo, Ken?" seru Alex mendongak.
"Balik," jawab Kenneth datar.
"Lo semua tahu nggak? Apa yang sebenarnya terjadi sama mereka berdua?" tanya Alex saat Kenneth sudah berjalan meninggalkan kantin.
Semua kompak menggeleng.
"Yang gue tahu, kemarin lusa Ara sama Ken sempat dapet hukuman dari Pak Hasanuddin nyari katak, dan itu disebabkan karena Vanya," Mila menjelaskan.
"Tapi kayaknya kemarin mereka baik-baik aja," Deni menyahut.
Beberapa dari mereka tampak mengangguk.
__ADS_1
"Lagi mens kali Ara," ujar Rangga asal.
"Maksud lo?" protes Mila.
"Ya gitu, lagi sensi, makanya tadi pagi dia marah-marah sama Vanya, tapi itu bagus, 'kan?"
"Tapi kenapa dia marah sama Ken juga?" Julio berseru.
"Kita lihat aja kelanjutannya besok," putus Deni.
Sementara itu, Kenneth berusaha mengejar Chiara yang berjalan di depannya, ia merasa ada yang salah dengan Chiara, karena tidak biasanya Chiara bersikap seperti ini terhadapnya. "Ra," panggilnya.
Chiara menoleh ke belakang.
"Gue perlu ngomong sama lo."
"Sorry, gue nggak bisa," tolak Chiara kembali melanjutkan langkah.
"Ini penting."
Chiara berhenti, menatap Kenneth yang berdiri di depannya. "Mau ngomong apa?"
"Ikut gue," Kenneth menarik tangan Chiara, namun Chiara segera menepis.
"Bicara di sini atau tidak sama sekali."
Kenneth menatap dingin pada Chiara, bahkan salah satu sudut alisnya terangkat.
"Gue cuma punya waktu lima menit," cetus Chiara melirik jam tangannya, mengabaikan tatapan tajam milik Kenneth yang menghunusnya.
Kenneth sendiri tersentak mendengar kalimat Chiara, ia bingung dengan sikap Chiara yang seperti enggan berbicara dengannya, sebenarnya apa salahnya?
"Waktu lo tinggal tiga menit," Chiara masih melipat kedua tangannya.
Namun Kenneth tak kunjung berucap, pemuda itu hanya menatap lekat pada Chiara, berharap bisa mendapat jawaban dari sikap Chiara hari ini.
Chiara agak gugup sebenarnya saat dengan terang-terangan Kenneth menatap padanya, namun ia beberapa kali mengalihkan perhatian agar tidak kentara. "Waktu lo habis," putusnya gegas berjalan meninggalkan Kenneth. Sempat ia rasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat karena tatapan mata Kenneth. Chiara menghembuskan nafas pelan berulang kali agar menghilangkan rasa gugupnya.
📚📚
📚
.
Mak : Ara, kamu kenapa, Nak?
Ara : Ara kesel sama Ken, Mak, hiks. 😫
Mak : Ken, kamu apain anak emak? 😠 (berkacak pinggang)
Ken : Ampun, Mak, nggak aku apa-apain, Mak, suer. ✌️
Mak : Kamu bikin anak emak nangis. 👊
Ken : Aku cuma nanya dia masih suka sama aku nggak? Eh, malah nangis.
Ara : huwaaa lihat, Mak, dia nggak peka, Mak, huwaaa. 😭
Mak : Kennnn 😠😠 (Melotot)
Ken : Salahin Emak sono, Ra, gue mau jujur malah dia bikin salah paham mulu, kesel gue sama lo, Mak.
Ara : Mak jahat ,huwaaa 😭, aku benci Emak. 😭
Mak : lah ?? 😕
Ken : Mampus lu, Mak.
.
Aiyooo!!
__ADS_1
Jangan lupa baca lapaknya abang ganteng juga, ya?😋😉
Happy Sunday, happy weekend, happy holiday. See u babai.