
Clarissa dan Chiara yang sedang ke minimarket depan komplek tak sengaja bertemu dengan Galang.
"Aku baru mau ke rumah kamu, Cla," ujar Galang mengambil duduk di depan minimarket.
"Ada apa?"
"Aku mau pamit sama kamu."
Chiara yang dari tadi berkutat dengan ponselnya pun mendongak.
"Pamit kemana?" tanya Clarissa heran.
Galang tersenyum, mengacak rambut Clarissa. "Enggak usah kaget gitu mukanya."
"Lo mau kemana, Lang?" tanya Chiara mengulang.
"Gue mau ke Surabaya, Papa ngabarin kalau Mama masuk rumah sakit."
"Mama kamu sakit apa?"
"Belum tahu."
"Lo kapan berangkat?"
"Habis ini, makanya gue ke sini mau pamit sama Clarissa." Galang beralih menatap Clarissa. "Mungkin aku seminggu di sana," ujarnya.
"Lama banget," keluh Clarissa mengerucutkan bibirnya.
"Nanti aku bakal sering telepon kamu," sahut Galang mengusap jemari Clarissa.
Chiara memalingkan wajah melihat keromantisan Galang dengan sang adik. "Sebaiknya gue tunggu di mobil," putusnya kemudian.
"Cla pulang sama gue, Ra," seru Galang memberitahu.
Chiara berbalik. "Oke, kalian hati-hati."
"Iya, Kak."
Sepeninggalan Chiara.
"Mau pergi ke suatu tempat?" ajak Galang kemudian.
"Kemana?"
"Nanti kamu juga tahu, ayo," Galang mengulurkan tangan dan disambut oleh Clarissa.
*
Galang mengajak Clarissa menuju pesisir pantai, berjalan menyusuri bibir pantai sambil berpegangan tangan.
"Cla, kalau aku di Surabaya kamu jangan nakal," Galang memulai obrolan.
"Nakal?"
Galang berhenti dan berdiri di depan Clarissa. "Jangan deket-deket sama cowok lain," peringatnya mencubit hidung Clarissa gemas.
"Kenapa?" tantang Clarissa mengulum senyum.
"Aku cemburu tau."
Clarissa terkekeh mendengar jawaban Galang. "Ciyee yang udah cinta beneran sama aku," godanya menunjuk Galang dengan jarinya.
Galang tersenyum. "Kamu bener, Cla, kayaknya aku udah jatuh cinta beneran sama kamu."
Clarissa tercengang mendengar jawaban Galang, padahal sebelumnya ia hanya bercanda. "Kamu serius?"
Galang mengangguk yakin.
Netra teduh itu berkedip saat tatapan Galang seakan mengintimidasi, ia mengalihkan tatapan pada ombak yang menari-nari di lautan.
Galang menarik tubuh Clarissa ke dalam pelukannya. "Aku pasti bakal kangen banget sama kamu," ungkapnya tiba-tiba.
Jantung Clarissa serasa jumpalitan saat Galang merengkuhnya erat. Ia mematung merasakan jantungnya berdebar-debar.
"Aku cinta sama kamu, Cla," bisik Galang di telinga Clarissa.
Seutas senyum terpatri di wajah Clarissa saat mendengar kalimat Galang, ia pun membalas pelukan pemuda itu, kepalanya mengangguk. "Aku juga cinta sama kamu," balasnya pelan.
Galang terkesiap, ia menarik diri menatap lekat gadis di hadapannya. Ia terkejut dengan ungkapan gadis itu. "Kamu serius, Cla?"
Clarissa mengangguk pelan.
Galang tersenyum dan kembali merengkuh tubuh Clarissa dalam pelukan hangat. "Terimakasih, Clarissa."
Clarissa tersenyum, apa yang ia rasakan pada Galang memang itulah kenyataannya.
Galang menarik diri, membingkai wajah Clarissa serta menatapnya lekat, seakan tengah merekamnya dalam memori. "Tungguin aku, ya? Aku akan segera kembali ke Jakarta kalau keadaan Mama udah membaik," tuturnya.
Clarissa mengangguk. "Iya, kamu hati-hati."
Galang tersenyum, tatapannya turun pada segitiga simetris bewarna merah muda. Tiba-tiba Galang gugup, terlihat ia juga melipat bibirnya beberapa kali. Galang menelan saliva. "Bolehkah?" tanyanya ragu.
Clarissa semakin berdebar. "Sejak kapan kamu minta izin?" jawabnya gugup.
Kedua ujung bibir Galang tertarik membentuk senyuman. Perlahan namun pasti, ia merendahkan tubuhnya hingga kedua bibir itu bertemu, mengecup serta menyapu benda kenyal itu dengan gerakan lembut.
Clarissa menutup kedua matanya merasakan sapuan lembut pada bibirnya. Kakinya seperti jelly tak mampu menopang tubuhnya, hingga ia mencengkram kaos Galang guna mencari pegangan.
Di saksikan deburan ombak dan cahaya matahari yang semakin meredup di ujung senja, keduanya menemukan arti kehadiran masing-masing. Perasaan cinta yang entah sejak kapan tumbuh di hati keduanya, benar-benar cinta yang harus dijaga satu sama lain. Perpisahan yang akan terjadi beberapa hari ke depan membuat keduanya enggan melepas pagutan, seolah itulah ciuman pertama dan terakhir bagi mereka.
...***...
Kenneth yang baru saja keluar dari bengkel tak sengaja melihat Chiara yang sedang bermain tennis di lapangan tenis yang berada di pusat kota. Menghentikan laju mobilnya, Kenneth sengaja berhenti di tepi jalan agar bisa memperhatikan Chiara yang sedang serius memainkan bola berwarna hijau itu. Cukup lama ia memperhatikan Chiara, hingga Chiara selesai bermain dan sedang duduk di kursi seraya meminum air dalam botolnya. Kenneth membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri.
__ADS_1
Chiara tersedak minuman saat melihat Kenneth berjalan ke arahnya. Uhuk! Uhuk!!
"Pelan-pelan," ucap Kenneth menepuk punggung Chiara.
Saat di rasa sedikit reda, Chiara memberi isyarat agar Kenneth berhenti menepuk punggungnya "Terimakasih."
Kenneth ikut duduk di samping Chiara, memperhatikan beberapa orang yang juga bermain tennis di sana. "Lo sendirian?" tanyanya membuka suara.
Chiara yang sempat terdiam menoleh. "Em, iya."
"Abang lo ngebolehin lo pergi sendirian?"
"Sebenarnya gue tadi sama adik gue, Alzayn, tapi dia ada urusan sama temennya," balas Chiara menjelaskan. "Lo mau tennis juga?" tanyanya kemudian.
Kenneth menggeleng. "Gue nggak sengaja lihat lo tadi," ia menoleh memperhatikan Chiara.
Chiara yang heran hanya bisa mengangguk seraya membulatkan mulutnya.
"Lo darimana?" tanya Chiara membuka suara setelah keduanya hanya diam.
"Bengkel."
"Sendirian?"
"Iya." Kenneth menilik jam di tangannya. "Udah sore, lo nggak balik?"
Chiara menatap langit yang berubah memerah. "Iya, ini gue mau balik."
"Gue anter."
"Eh, nggak usah, gue nunggu Alzayn," tolak Chiara cepat.
"Bilang sama adik lo, kalo lo pulang bareng gue," bukan meminta persetujuan, Kenneth tengah memaksa.
"Tapi —"
"Ayo," ajak Kenneth menarik tangan Chiara menuju mobilnya yang terparkir.
Chiara menurut.
Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara, namun beberapa kali Kenneth mencuri tatap pada gadis di sampingnya. Ada yang ingin ia ucapkan, tapi lidahnya terasa kaku dan sulit untuk diajak untuk berucap.
Chiara termenung dalam pikirannya sendiri, kenapa Kenneth bisa di tempatnya tennis? Dan juga, kenapa Kenneth mau mengantarkan dirinya pulang? Ingin menanyakan, tapi Chiara ragu, ia tidak seberani itu untuk bertanya setelah apa yang sudah terjadi.
Hingga akhirnya keheningan tercipta hingga mobil Kenneth memasuki kediaman keluarga Van Houten.
"Terimakasih," ucap Chiara hendak membuka pintu.
"Ra."
"Iya?"
"Em, nggak apa-apa, selamat malam," Kenneth nampak kikuk.
Kenneth berdehem, "Selamat sore," ucapnya.
Chiara mengangguk, kemudian berjalan memasuki rumah tanpa menoleh lagi ke belakang, ia masih hafal bahwa Kenneth tidak akan pulang kalau ia belum masuk ke dalam rumah.
...***...
Hari berikutnya, Chiara yang saat itu sedang berjalan dari arah koperasi sekolah tak sengaja bertemu dengan salah satu guru biologi, —Pak Hasanuddin.
"Kamu, ke sini," Pak Hasanuddin menginterupsi.
"Saya, Pak?" Chiara menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Bapak minta tolong, bawakan ini ke laboratorium biologi, ya?"
Chiara mengangguk. "Baik, Pak," ia menerima kotak yang tertutup. "Pak, boleh saya tahu ini isinya apa?" tanyanya kemudian.
"Isinya katak," Pak Hasanuddin menjawab.
Chiara terkejut. "Katak, Pak?" ulangnya.
"Iya. Sudah, tolong kamu bawa ke lab biologi, hati-hati jangan sampai jatuh apalagi lepas," titah Pak Hasanuddin.
"I-ya, Pak, permisi," ucap Chiara melaksanakan perintah.
Kebetulan ruang laboratorium biologi terletak di gedung sebelah koperasi sekolah, Chiara sengaja melewati kolam renang sekolah agar lebih cepat sampai di laboratorium.
"Van, lihat tuh," Lani yang sedang duduk di tribun pinggir kolam renang tak sengaja melihat Chiara yang sedang melintas.
Kebetulan pula kelas Vanya dan Lani hari itu jadwal olahraga renang, namun keduanya sudah berganti seragam sekolah kembali.
Vanya mendongak. "Gue bakal kerjain tuh anak," ia menyeringai.
"Lo mau apa, Van?" tanya Lani penasaran.
"Nyeburin dia ke kolam," bisik Vanya pelan.
Lani tersenyum. "Gue setuju," tanggapnya memberikan respon jempol pada Vanya.
Vanya berjalan pelan menghampiri Chiara, sepertinya Chiara tidak menyadari bahwa Vanya berjalan berlainan arah dengannya. Perlahan namun pasti Vanya sengaja menyenggol tubuh Chiara agar tercebur ke dalam kolam renang.
Tak sengaja manik mata Kenneth melihat pergerakan Chiara di tepi kolam dan juga Vanya yang berjalan menghampiri Chiara. Kenneth bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Vanya. Ia berjalan cepat sedikit berlari menghampiri.
Chiara berjalan dengan memegang erat kotak di tangannya, pikirannya berkelana tentang katak yang ada di dalam kotak, ia berharap sang katak tidak berontak di dalam sana, kalau sampai lepas bisa bahaya, 'kan? Darimana ia mendapatkan katak? Oh tidak! Memegang saja ia belum pernah, tubuhnya bergidik ngeri membayangkan tangannya memegang katak. Chiara tertarik dari lamunan saat merasakan tarikan kuat pada lengannya, membuat kotak yang berada di tangannya terlempar ke atas dan berakhir masuk ke dalam kolam renang.
"AAaaaaa!!"
Byuuurrrrr!!
Terdengar bunyi ombak disusul suara seseorang yang berteriak.
__ADS_1
Chiara belum mengerti apa yang telah terjadi, namun yang lebih mengejutkan adalah dirinya yang kini berada dalam pelukan seseorang, seseorang yang menarik tangannya, dan kini tengah menatap padanya dengan tatapan dingin.
"Untung keburu," ujar Kenneth pelan.
"Breng**k! Sialan!" Vanya mengumpat marah.
Chiara tersadar, ia berbalik memperhatikan kolam renang. "Loh, ngapain Vanya di situ?" gumamnya kebingungan.
"Sialan lo, Ra."
"Kok gue? Gue kenapa?" sahut Chiara tak paham.
"Dia mau ngerjain lo," Kenneth berucap datar.
"Ngerjain gue?" gumam Chiara masih belum mengerti.
"Aaaaa, katak, tolonggggg!!!" teriak Vanya yang mendapati bangkai katak mengapung di sampingnya.
"Vanya, lo nggak apa-apa?" Lani tergopoh menghampiri saat melihat justru Vanya yang tercebur ke dalam kolam.
"Tolongin gue, ada bangkai katak," teriak vanya berusaha berenang ke tepi.
Beberapa siswa siswi yang berada di sana terbahak-bahak melihat ketakutan Vanya, tak terkecuali Chiara dan juga Kenneth, meskipun Kenneth hanya tersenyum kecil yang hampir tak terlihat oleh orang lain.
"Hahaha rasain lo, emang enak," Chiara meledek puas.
"Heh! Diem lo!" Lani menghentak seraya membantu Vanya naik.
"Senjata makan tuan," cetus Chiara menyeringai.
"Huekk huekkk." Vanya memuntahkan isi perutnya. "Aw-*** huekk lo Ar huekk a," nyatanya ia masih mampu memaki saat keadaannya bahkan sangat mengenaskan.
Setelah kepergian Vanya dan Lani, Chiara masih terkekeh geli melihat keadaan Vanya yang gagal mengerjai dirinya, Chiara bernafas lega, untung bukan gue yang kecebur. "Loh? Kataknya?" Chiara terkejut melihat kotak yang ia bawa telah mengapung dengan tutup terbuka.
"Itu punya lo?" Kenneth berujar.
Chiara menggeleng lesu. "Punya Pak Hasanuddin," jawabnya lesu. "Gue bakal kena hukum, deh, pasti," keluhnya menghembuskan nafas pasrah.
"Ayo gue temenin ketemu Pak Hasanuddin," ajak Kenneth kemudian.
"Ha?"
"Hei, kamu!"
Baru juga dibicarakan, orangnya sudah hadir.
"Mampus gue," gumam Chiara.
"Kamu, kan, yang saya suruh bawa kotak ke lab biologi?"
Chiara menunduk. "Iya, Pak."
"Dimana kotaknya?" tagih Pak Hasanuddin.
Chiara menunduk takut, kedua tangannya memilin di belakang tubuhnya.
Kenneth yang melihat keadaan Chiara pun berujar, "Maaf, Pak, saya nggak sengaja jatuhin kataknya ke dalam kolam," Kenneth menunjuk kolam renang dengan dagunya.
Chiara terkejut menyadari Kenneth menjadi tamengnya.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Pak Hasanuddin sarkas.
"Maaf, Pak, ini salah saya," sesal Chiara menunduk.
"Bukan, Pak, saya yang salah," Kenneth menyela.
Chiara terheran. "Saya, Pak," ucapnya kemudian.
"Saya, Pak," Kenneth tak mau kalah.
"Stooppp!!" potong Pak Hasanuddin pening melihat keduanya saling menyalahkan diri. "Kalian berdua saya hukum," putusnya kemudian.
"Hukum, Pak?" Chiara membeo.
"Iya, kalian berdua bersihkan kolam renang ini."
"Whatt? Pak, kolam renang ini luas lho," Chiara memprotes.
"Kamu tidak melihat bangkai katak di sana? Itu sudah mencemari kolam renang, dan itu gara-gara siapa? Kalian, 'kan?"
Chiara menghela nafas. "Baik, Pak," jawabnya lesu.
"Dan satu lagi."
"Ada lagi, Pak?" sebelah alis Kenneth terangkat.
Chiara sudah menunduk lesu, membayangkan dirinya menguras kolam seluas itu sudah akan sangat melelahkan.
"Kalian berdua carikan dua katak untuk bahan analisis saya."
Chiara dan Kenneth tertegun.
"APAAAA??!!"
.
...🐸 🐸 🐸...
...Xixixi suka chapter ini??...
...Hmmm kira-kira Ken dan Ara bakal nyari katak dimana, ya???...
...🤔🤔...
__ADS_1