
Keesokan harinya sekolah dibuat heboh akan pemberitaan tentang Kenneth yang notabene ketua osis kaku berpacaran dengan Chiara βPrimadona sekolah. Beritanya menjadi trending topic di majalah online sekolah, bahkan foto mereka yang sempat bergandengan tangan memberikan bukti bahwa memang keduanya resmi berpacaran.
Jangan tanyakan berapa hati yang patah karena berita itu, sudah sewajarnya setiap hubungan seseorang akan mendapatkan pro dan kontra dari para netizen. Ada yang percaya dan ada yang tidak, banyak yang menyukai dan juga menentang hubungan keduanya.
Namun gosip itu segera dibungkam telak oleh kehadiran dua sosok yang menjadi bahan pembicaraan sedari kemarin siang, tepat saat foto keduanya diunggah oleh seseorang dalam majalah online sekolah.
Kenneth melepaskan helm di kepala Chiara, kemudian meraih jemarinya untuk berjalan beriringan menuju kelas.
Chiara berfikir bahwa Kenneth hanya mengerjainya soal mengklaim dirinya sebagai pacar, hingga pagi-pagi Kenneth datang ke rumahnya untuk menjemput dan berangkat sekolah bersama. Seluruh tatapan mata mengarah padanya, membuat dirinya risih dan malu. "Ken, lo ngerasa nggak? Semua orang ngelihatin ke arah kita?"
Kenneth menyapu tatapannya, ternyata benar semua orang melihat ke arahnya juga Chiara. "Biarin aja, nggak usah pedulikan." Seakan teringat, Kenneth menghentikan langkah menghadap Chiara. "Mulai sekarang jangan pake lo-gue, pake aku-kamu," titahnya tak ingin dibantah.
"Hah?" Chiara terkejut.
Menghiraukan keterkejutan Chiara, Kenneth kembali menarik tangan Chiara.
Berita itu sampai ke telinga Vanya. Vanya benar-benar kesal, tidak terima bahwa Kenneth jadian dengan Chiara. Dengan sedikit berlari ia mengejar Kenneth dan Chiara yang berjalan di depannya. "Tunggu!" serunya nyaring.
Kenneth dan Chiara berhenti dan berbalik. Chiara mengernyit melihat Vanya, sedangkan Kenneth menatap datar.
"Jadi berita itu benar? Kalian berdua pacaran?"
Chiara mendongak pada Kenneth, berharap Kenneth yang akan menjawab pertanyaan dari Vanya, karena jujur ia juga masih belum percaya.
"Ya."
Vanya tertawa sarkas. "Breng**k lo!" umpatnya menarik tangan Chiara untuk menjauh.
Kenneth menarik dan menyembunyikan tubuh Chiara di belakangnya. "Kalau lo berani gangguin Ara, lo berhadapan sama gue."
Vanya tertawa pias. "Kenapa? Kenapa lo pilih dia, Ken? Apa lebihnya dia daripada gue?!" teriaknya frustasi. "Sejak pertama gue sekolah di sini, gue udah coba cari perhatian lo, sampai gue ngebully anak-anak, itu semua gue lakuin karena gue pengen deket sama lo, tapi lo milih dia." Netranya berkobar amarah menatap Chiara.
Chiara tersentak mendengar penuturan Vanya, begitu besarnya pengorbanan Vanya untuk Kenneth, tapi apa itu benar cinta atau obsesi?
"Lo mau tahu jawaban dari gue?" tanggap Kenneth datar. Ia menarik tubuh Chiara berdiri sejajar dengannya. "Karena Ara bisa bikin gue jatuh cinta."
Vanya membeku.
"Sekali lagi lo gangguin cewek gue, gue bakal bikin lo nggak betah sekolah di sini," ancam Kenneth dengan suara datar namun sangat mematikan.
Vanya mengepalkan tangannya, menyumpah serapahi kedua sejoli yang sudah berbalik meninggalkan dirinya yang masih terpaku di tempat.
...***...
"Ehem, traktiran cuy," celetuk Julio saat tengah duduk di meja kantin bersama teman-temannya bermaksud menggoda Kenneth dan juga Chiara yang kini duduk berdampingan.
"Yang baru jadian, boleh dong bagi-bagi kebahagiaan," Alex terkekeh menimpali.
"Beritanya sampai jadi trending topic di sekolah, keren," Rangga ikut menyahuti dan memberikan jempolnya.
"Pesen aja, gue yang bayar," tanggap Kenneth yang sadar akan sindiran dari teman-temannya.
"Widihhhhh mantap boskuu," seru Toriq dan Deni bersamaan.
"Kuy, kita pesen," ajak Alex menggerakkan kepalanya.
"Kalian berdua beneran pacaran, 'kan?" tanya Rangga saat tengah menyantap makanannya.
"Menurut lo?"
"Ra, lo beneran pacaran sama Ken?" Rangga kembali bertanya, namun kini tatapannya mengarah pada Chiara, karena ekspresi Kenneth masih sama.
"Oh, em, i-ya," jawab Chiara ragu.
Kenneth menoleh pada Chiara. "Kenapa ragu jawabnya?" tanyanya menyelidik.
"Ah, enggak," Chiara menggelengkan kepala.
Tengah asik menyuapkan berbagai macam makanan ke dalam mulut, Mila berlari tergopoh sambil menarik tangan Putra menuju teman-temannya tengah berkumpul. "Kenapa nggak nungguin gue, Ra?" protesnya mengerucut.
"Sorry, hehe."
"Pesen, gih, Ken yang bayarin," Alex mengusulkan.
"Seriusan? Mantaap," mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma memang menyenangkan. "Yang, kamu pesan apa?" Putra bertanya pada sang kekasih.
"Bakso sama es teh."
"Tunggu, aku pesenin."
Mila mengangguk, kemudian mengambil duduk di samping Chiara.
"Lo dari mana, Mil?"
"Gue dari lapangan basket jemput ayang gue," Mila terkekeh seraya membuka snack di depannya, entah punya siapa.
"Eh, gue tadi kayaknya lihat adik lo sama perempuan cantik deh, Ra," Putra berujar dengan membawa nampan di tangannya.
"Perempuan cantik? Siapa?" Julio penasaran.
"Denger perempuan cantik, nyamber aja lo," cetus Rangga menyahut.
"Jangankan jaringan 5G, jaringan 10G gue auto meluncur tanpa batas, sat set dapet sinyal radar cantik," balas Julio tertawa.
Deni menampol belakang kepala Julio. "Waras. Waras," ucapnya seakan tengah mengusir roh jahat di tubuh sang ketua kelas.
"******!" Julio menghindar.
__ADS_1
Putra sudah maklum dengan keabsurd-an teman-temannya. "Udah tua dia, seumuran nyokap gue. Mau lo?" ucapnya terkekeh.
"Tante-tante syantik," Rangga tertawa.
"Lumayan, Jul, lepas dapet Icha dapet Tante cantik," Toriq mengedipkan sebelah matanya genit.
"Idih, ogah gue! Nggak jadi!" tolak Julio ketus.
"Gue denger pemilik sekolah mau dateng," celetuk Putra kemudian.
"Hah, serius lo?" Chiara berseru terkejut.
"Katanya, sih, dari anak-anak basket tadi," Putra mengangkat bahunya.
"Oh, gue baru inget, tadi pagi nyokap gue bilang ada berita yang mengatakan kalau pengusaha sukses Sandyaga beserta sang istri pulang hari ini."
Berrrffffff!!!.
Chiara menyemburkan minuman yang baru saja ja teguk.
Kenneth menarik tisu di depannya dan mengusap bibir Chiara.
"Lo serius, Mil?" tak disangka nada suara Chiara meninggi.
Mila mengangguk.
"Lo kenapa kaget gitu sih, Ra?" timpal Julio heran.
"Hah, enggak, gue cuma pengen tahu aja," Chiara berkelit. Ia menoleh pada Kenneth, dan Kenneth menggenggam jemarinya seakan berucap semua akan baik-baik saja.
"Mungkin Ara belum tahu siapa Sandyaga, dia, kan, baru pindah dari Jerman."
"Dia itu pemilik sekolah ini, Ra. Kalau benar kata Putra mereka bakal ke sini, itu bagus, soalnya gue penasaran sama wajah mereka, kata Mama gue istrinya Pak Sandy itu masih cantik, awet muda," Mila menimpali ucapan Alex dan terkikik geli.
Chiara merasa gugup berkali-kali lipat, apa benar Daddy dan Bundanya pulang ke Indonesia? Kenapa ia tidak tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahunya?
"Mungkin sudah waktunya," bisik Kenneth menyadari kegelisahan Chiara.
Chiara menoleh, menyunggingkan senyuman paksa.
"KAK ARAAAA!!!!"
Semua penghuni kantin menoleh ke asal suara, termasuk Chiara dan teman-temannya. Menatap Clarissa yang berdiri dengan menggandeng lengan seorang wanita yang masih terlihat muda dari usianya.
"Nah, itu wanita yang gue maksud," Putra berucap.
"Loh, itu, kan, yang tadi pagi gue lihat di berita, itu istri Pak Sandy, pemilik sekolah," Mila terperangah.
"BUNDA!!" pekik Chiara dengan netra berkaca-kaca berkabut rindu.
Sontak teman-temannya menoleh menatap Chiara. "BUNDA?" gumam mereka bersamaan.
Stella menyambut. "Bunda jauh lebih kangen sama kamu," ia mencium puncak kepala sang anak yang kini hampir menyamai tingginya.
Chiara menarik diri. "Bunda kenapa nggak bilang kalau mau ke Indonesia?"
"Kejutan."
"Daddy juga di sini loh, Kak," ujar Clarissa senang.
"Daddy juga ikut, Bunda?"
Stella mengangguk. Ah, betapa senangnya bisa melihat kedua putrinya yang sudah lama ia tinggalkan, dalam keadaan yang sangat baik.
*
"Em, kenalin, ini nyokap gue, Bunda Stella," ujar Chiara kikuk pada teman-temannya yang masih terbengong menatapnya juga bundanya. Setelah melepas rindu beberapa menit yang lalu Chiara mengajak sang Bunda untuk berkenalan dengan teman-temannya.
"Hallo, anak-anak," sapa Stella tersenyum hangat.
"Halo, Tante," Kenneth yang menjawab, sedangkan yang lain masih terbengong dengan mulut terbuka.
Stella heran dengan respon teman-teman anaknya yang terdiam, kemudian ia menoleh pada kedua putrinya yang justru menyengir lebar.
Kenneth menendang kaki Alex dari bawah meja untuk membuatnya waras.
Alex meringis mendapatkan tendangan maut. Ia berdehem, "Tante ibunya Ara?" tanyanya memastikan.
Stella mengangguk. "Iya, panggil saja Tante Stella."
"Tante istrinya Pak Sandyaga pemilik sekolah, 'kan?" Mila juga tengah memastikan.
"Iya, benar," Stella masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi, entah kenapa respon anak-anak itu begitu terkejut.
Brukk!!
Terdengar bunyi meja yang tergeser karena tertimpa atau tersenggol sesuatu, ternyata Lani yang pingsan di meja seberang. Bagaimana tidak pingsan, selama ini ia membully anak pemilik sekolah, bisa tamat riwayatnya.
"Eh, tolong angkat dia," perintah Stella melihat siswi yang pingsan.
Setelah suasana lebih kondusif dari sebelumnya, Stella kembali menatap para siswa siswi yang masih menatapnya bingung. "Kalian teman-temannya Chiara dan Clarissa, 'kan?" tanyanya kemudian.
Ketujuhnya mengangguk kompak.
"Besok lusa datang ke rumah, ya? Tante ada hajatan kecil untuk merayakan ulangtahun anak Tante," Stella tersenyum pada Chiara.
Chiara tersentak. "Bunda ingat?"
__ADS_1
"Ingat dong, Sayang. Makanya Bunda sama Daddy pulang buat ngerayain ulang tahun kamu," Stella mengelus kepala Chiara. "Jangan lupa datang, ya?" Ia kembali memperhatikan teman-teman anaknya yang masih membeku.
"Iya, Tante," jawab mereka kompak.
"Bunda pulang dulu, Daddy udah nungguin di ruang kepala sekolah." Stella mencium pipi kedua anaknya dan berlalu meninggalkan kantin dengan langkah yang sangat anggun.
Clarissa sudah kembali ke kelasnya, sedangkan Chiara kembali duduk di samping Kenneth. Kini seluruh mata menatap tajam padanya, membuat Chiara salah tingkah.
"Jelasin," tekan Mila menuntut.
"Seperti yang kalian lihat," sahut Chiara menyengir memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
"Lo anak dari keluarga Van Houten?"
Chiara mengangguk.
"Lo anaknya Pak Sandyaga?"
Chiara kembali mengangguk.
"Lo anak pemilik sekolah?" ucap ke-enamnya kompak, hebat!
Chiara lagi-lagi mengangguk. "Iya, gue anak pemilik sekolah ini, hehe."
"Kenapa lo β"
"Udahlah, kalian jangan mojokin cewek gue," potong Kenneth menengahi.
"Tunggu, lo tahu, Ken?"
"Tahu apa?"
"Lo tahu Chiara anak pemilik sekolah?" Mila sangat terkejut.
Kenneth mengangguk.
"Sejak kapan?" Alex menambahi.
"Nggak penting," jawab Kenneth acuh.
"Nggak nyangka gue, ternyata lo anak pemilik sekolah, Ra," Julio sungguh tidak menyangka.
"Gue ngerasa terhormat bisa duduk di sini, se-meja sama lo," Deni terlalu menghayati peran.
"Apaan, sih, gue masih Ara yang dulu. Jadi jangan berubah karena kalian tahu kalau gue anak pemilik sekolah, kalian semua tetep temen gue," tutur Chiara menatap ke enamnya.
"Nyokap lo cantik banget, Ra, pantes lo juga cantik," celetuk Rangga diangguki yang lain.
"Eh, ini kita serius diundang nyokap lo, Ra?" tanya Putra memastikan.
"Kalau Bunda bilang begitu berarti benar, jangan lupa datang, ya?"
"Rumah lo dimana, Ra?"
"Entar gue shareloc di grup kelas, biar kalian semua tahu."
Kenneth mendekat. "Kamu nggak bilang kalau lusa ulangtahun?" bisiknya.
"Kamu, kan, enggak nanya," jawab Chiara tersenyum.
...***...
Sepulang sekolah Kenneth sengaja mengajak Chiara untuk mampir di rumahnya sebentar, karena ada sesuatu hal yang harus diberitahukan dan bersifat darurat.
Sebenarnya Chiara ingin menolak, karena Daddy dan Bundanya di rumah, tapi melihat raut wajah Kenneth yang memohon, dirinya tidak kuasa menolak.
"Loh, Ara ya?" tebak Ratih saat menyadari sang anak pulang dengan seorang gadis.
"Iya, Tante," jawab Chiara mencium punggung tangan Ratih.
"Liona mana, Ma?" tanya Kenneth.
Chiara terkesiap mendengar nama Liona disebut.
"Ada di kamar, lagi siap-siap, sebentar lagi berangkat."
Kenneth menarik tangan Chiara menuju lantai dua, tepatnya kamar yang di tempati oleh Liona.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
"Kapan berangkat?" Kenneth membuka suara.
Liona yang mendengar suara Kenneth berbalik. "Satu jam lagi pesawat gue berangkat."
Chiara yang tidak tahu apa-apa hanya diam di tempat, sebenarnya ia tidak nyamam saat Kenneth terus saja menggenggam jemarinya, meskipun ia berusaha melepas tapi kekuatan tangan Kenneth jauh di atasnya.
Tatapan mata Liona mengarah pada jari Kenneth dan Chiara yang saling bertaut. Ia tersenyum samar. "Jadi, udah pacaran, nih?" godanya.
"Eh, bu-bukan begit, kok," tangkis Chiara gugup. "Maafin gue, gue nggak bermaksud β"
"Hahaha," tawa Liona pecah berderai-derai.
Chiara justru kebingungan, ia menatap Kenneth seakan meminta penjelasan, namun wajah pemuda itu sangat datar.
"Lo jelasin semua sama cewek gue, jangan sampai ada yang terlewatkan," titah Kenneth mengancam, kemudian ia berlalu meninggalkan Chiara yang kebingungan di dalam kamar Liona.
__ADS_1
ππ
π