KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
30. Sandera


__ADS_3

Galang dan Kenneth duduk di sofa seraya mengompres luka di wajahnya dengan es batu, kini keduanya tengah berada di basecamp tempat Galang dan gengnya berkumpul. Setengah jam yang lalu mereka tiba di basecamp, bagaimana mereka bisa sampai di sana?


Beberapa menit setelah kesadarannya pulih, Galang dan Kenneth memutuskan untuk menyusun strategi untuk membebaskan Chiara dan juga Clarissa dari para preman musuh Galang.


"Jadi, gimana rencana lo?"


"Kita serang mereka," jawab Galang tegas.


"Lo tahu dimana mereka?” tanya Kenneth meragukan.


Terlihat Galang memijit dahinya, kemudian menggeleng pelan.


"Pasti mereka udah ngincer lo dari lama, Lang,” ucap salah satu anggotanya.


"Mereka cari kelemahan lo lewat Clarissa dan kakaknya, siapa namanya?"


"Chiara," Galang menyahut.


"Nah, iya, itu, saat lo lengah mereka culik Clarissa sama Chiara."


"Tapi siapa Chiara? Kenapa dia jadi ikut ke seret juga?" ujar yang lain bingung, karena yang mereka tahu, hanya Clarissa yang pernah Galang bawa ke basecamp.


"Gue rasa bukan Chiara yang mereka incar, tapi Clarissa," Kenneth berkomentar, membuat tatapan mata mengarah padanya. "Chiara ngikutin Clarissa," imbuhnya menjelaskan.


Tampak dari mereka mulai serius dengan memikirkan cara membebaskan dua gadis cantik dari para musuh mereka.


Dan di sinilah mereka sekarang, berdiri beberapa meter dari gudang kosong yang berada di bawah jembatan tak terpakai dengan rumput ilalang yang menjulang tinggi.


"Tempat persembunyian yang bagus," komentar Alex menilik sekitar dengan seringainya.


Kenneth tentu saja menghubungi teman-temannya yang kebetulan merupakan satu kumpulan juga. Alex, Julio, Deni, Toriq, Putra, Rangga dan beberapa yang lainnya ikut membantu membebaskan sandera.


"Kalian awasi dari sini, gue akan ke sana, setelah gue kasih kode kalian segera bergerak," perintah Galang menatap tajam ke arah gudang.


Galang berjalan menuju gudang kosong sesuai alamat yang di kirim oleh nomor tak dikenal tadi, namun dengan ancaman harus datang seorang diri. Membuat Galang berdecih sarkas, dan setelah mengirim pesan nomor tersebut sudah tidak aktif.


Bola mata Galang melirik sekitar, sangat sepi, tapi ia merasakan tatapan tajam dari beberapa arah mengarah padanya, Galang mengangkat ujung bibirnya membentuk seringai. Kakinya sampai di depan pintu yang sepertinya terbuat dari kayu kualitas baik, sehingga masih terlihat kokoh, hanya saja warnanya yang memudar, serta banyaknya coretan memenuhi badan pintu.


Bagaimana bisa gudang kosong itu memiliki pintu yang bisa dibilang bagus dan kuat? Entahlah Galang tidak tahu.


BRUAK!!!!


Galang menendang pintu besar di hadapannya, membuat orang-orang yang berada di dalam terlonjak kaget dan saling mengumpat.


Salah seorang pria yang berbadan besar penuh tato dengan memakai celana jeans selutut atau bisa disebut ketua geng berdiri dan berjalan menghampiri Galang. "Woahh berani juga lo ke sini," seringai muncul di ujung bibirnya, ialah sang ketua geng yang diketahui bernama Viki.


Viki mengintip ke belakang Galang, tidak ada siapapun di belakangnya. "Sendirian?" ejeknya.


"Gue udah di sini, dimana mereka?" tanya Galang tanpa basa basi.

__ADS_1


Viki tertawa. "Mereka? Siapa mereka?" tanyanya tertawa keras mempermainkan Galang.


Galang mengepalkan kedua tangannya. "Breng**k. Apa mau lo?"


"Hahaha, santai, Bro. Jangan emosi," Viki menepuk pundak Galang, dengan cepat Galang menghempaskan tangan Viki dari tubuhnya.


Viki tersenyum sinis. "Lo mau tahu apa mau gue?"


Galang hanya diam, manik matanya menatap tajam bola mata lawannya, andai tatapan itu bisa membunuh, pasti sekarang Viki sudah terkapar tak bernyawa dengan luka di kedua matanya.


"Mau gue, mudah,” Viki menjeda ucapannya. "Elo, bubarin geng motor lo, dan akuin kekalahan lo sama gue, atau lo pilih kedua cewek itu gue gilir rame-rame di sini, mereka berdua sungguh menggairahkan,” sambungnya menampilkan senyuman mesum membayangkan wajah kedua gadis cantik itu.


"KEPAR*T!" Galang melayangkan pukulannya di wajah Viki, membuat Viki terhuyung ke belakang.


Rahang Galang mengeras mendengar ucapan dari musuhnya, demi apapun dirinya tidak terima Chiara dan Clarissa dijadikan objek fantasi liar mereka.


Tak terima ketuanya di pukul, para anak buahnya mulai mengeroyok Galang, tak berapa lama gerombolan yang dibawa Galang pun ikut turut serta saling baku hantam.


"Gue udah ngira lo nggak bakal sendirian,” ujar Viki tersenyum mengejek pada Galang.


"Jangan banyak omong, bangs*t!" teriak Galang bersiap menghajar Viki.


*


Chiara dan Clarissa hanya bisa menangis tertahan, tubuhnya diikat pada sebuah kursi kayu serta mulutnya dibekap dengan lakban. Keduanya bergumam dalam hati, berdoa semoga ada seseorang yang menolongnya, serta Clarissa yang menyerukan nama Aiden di hatinya berkali-kali, berharap Abangnya itu bisa segera datang dan menolongnya. Sungguh dirinya menyesal mempercayai pesan chat yang tadi diterimanya, bagaimana tidak? Dalam chat tersebut menunjukkan gambar seorang pria berseragam sopir tengah terkapar dengan darah di sekujur tubuhnya, dan ia meyakini bahwa itu adalah Pak Udin sang sopir pribadinya. Salahkan dirinya yang terlalu gegabah dan tidak bisa berfikir jernih saat pikirannya sedang kalut dan khawatir. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, tidak bisa diulang kembali, kini dirinya hanya bisa berdoa agar bisa terbebas dari sini.


Kenneth berjalan menuju ruangan di lantai dua yang ia yakini tempat mereka menyekap Chiara dan juga Clarissa, disusul Galang dan yang lainnya di belakang, setelah Galang sudah berhasil melumpuhkan Viki, entahlah kenapa pria itu mudah sekali dikalahkan, Galang merasa curiga, tapi ia tidak ambil pusing, sekarang tujuannya adalah menyelamatkan sandera.


Chiara dan Clarissa tersentak mendengar suara gaduh dari luar, bahkan beberapa dari mereka yang bertugas menjaga sandera di dalam pun mulai berdiri dan menyiapkan beberapa senjata, membuat Clarissa dan Chiara saling tatap dan menggeleng pelan.


Brakk!!


Pintu terbuka lebar mengejutkan Chiara dan juga Clarissa, namun tidak dengan mereka yang menjaganya, terlihat Kenneth berdiri di sana dengan keadaan yang tidak bisa di bilang baik-baik saja, menangkis serta menghindari pukulan yang mengarah padanya, disusul Galang di belakangnya yang tak kalah buruk penampilannya.


Sedikit perasaan lega hinggap di hati Chiara melihat Kenneth di sana, menolongnya.


Galang dan Kenneth berlari menghampiri Clarissa dan Chiara, membuka tali yang mengikat keduanya.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Galang.


Clarissa menggeleng. "Nggak apa-apa.”


"Diam di sini, jangan bergerak," perintah Kenneth diangguki Chiara.


Chiara berpegangan tangan dengan Clarissa, melihat para pria baku hantam membuat keduanya bergidik ngeri, Clarissa hendak meminta bantuan, namun naas ponselnya tidak ada di saku, sepertinya diambil preman ketika dirinya pingsan.


Salah satu musuh tersungkur di bawah kakinya membuat Chiara dan Clarissa memekik dan melepaskan genggaman tangannya pada Clarissa menyebabkan keduanya berpisah jauh.


Chiara menelan salivanya alot saat melihat kaos putih yang Kenneth gunakan penuh bercak merah disebabkan oleh darah.

__ADS_1


Kenneth menyadari Chiara berada di belakangnya, menoleh sebentar pada Chiara dan itu membuat jantung Chiara berdetak up normal melihat wajah Kenneth yang juga penuh dengan darah.


Entah sudah berapa lama, namun pertarungan tersebut belum juga usai, salah satu dari mereka memukul punggung Kenneth dengan balok kayu.


"Sial," umpat Kenneth merasakan punggungnya semakin sakit, karena sebelumnya ia juga terkena pukulan di tempat yang sama. Kenneth tersungkur di lantai, dan itu membuat musuh semakin gencar memberikan pukulan serta tendangan di tubuhnya.


Chiara memekik tertahan melihat tubuh tak berdaya Kenneth yang kini dikeroyok dua orang, melihat balok kayu tergeletak, ia mengambil dan memukulnya pada punggung dua orang yang sedang mengeroyok Kenneth.


"Breng**k! Cewek kurang ajar!” hardik salah satu dari mereka merebut balok kayu di tangan Chiara.


Tubuh Chiara bergetar melihat kilat kemarahan di mata sang pria, dirinya beringsut mundur dengan keringat yang semakin memenuhi wajahnya.


Kenneth yang melihat seseorang mendekati Chiara, menendang kaki musuh hingga tersungkur.


"BANGS*T!" umpat sang pria.


Kenneth yang terlalu fokus pada pria di hadapannya tidak menyadari seseorang dari belakang tengah mengarahkan sebuah balok kayu besar ke arahnya.


Entah apa yang dipikirkan Chiara, reflek dirinya berlari menghampiri Kenneth, memeluk tubuh Kenneth dari belakang, namun hal itu membuat kepalanya terkena pukulan balok besar tersebut.


Prakk!!


"Akhh," ringis Chiara merasakan kepalanya yang terasa sangat sakit, tubuhnya limbung.


Kenneth segera merengkuh tubuh Chiara yang ambruk di belakangnya.


Clarissa memekik melihat kakaknya ambruk di ujung sana, air matanya tiba-tiba mengalir deras. "Kak Ara!" pekiknya.


Wajah Kenneth memerah berkabut emosi melihat kepala Chiara yang kini mengeluarkan darah segar. "KEPAR*T!" teriaknya, ia menghajar pria yang sudah memukul Chiara dengan membabi buta.


"Stop, Ken. Dia bisa mati," Gio, salah satu kelompoknya menyadarkan Kenneth yang kesetanan.


"Gue nggak peduli, gue bakal habisin dia."


"Ken, sadar, mending lo urus Chiara," usul Alex menyadarkan.


Mendengar kata Chiara, Kenneth menghentikan pukulannya, menyentak kepala pria tersebut pada lantai dengan keras, tidak peduli kalau kepala orang tersebut akan pecah. Ia berlari menuju Chiara, memangku kepalanya, tangannya menyentuh kepala Chiara yang masih mengeluarkan darah, sungguh hatinya bagaikan tertusuk ribuan jarum tak kasat mata. "Apa yang lo lakuin?"


Chiara meringis menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya.


"Kenapa lo nolongin gue, Ra?" Kenneth berseru frustasi melihat keadaan Chiara yang terluka karena menolongnya, bahkan wajahnya mulai memucat.


"K-karena g-gue s-s-suka s-sama l-lo," jawab Chiara terbata.


Tepat setelah kalimat itu terucap dari bibir tipisnya, matanya terpejam.


Deg!


Jantung Kenneth serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan dari Chiara, tubuhnya membeku dengan tatapan mata terarah pada wajah Chiara yang sayu dan kedua mata yang sudah tertutup rapat.

__ADS_1


📖📖


📖


__ADS_2