KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
40. Kasihan Tuan katak


__ADS_3

"Uhh pasti melelahkan membersihkan kolam seluas ini. Bundaaa, help me," keluh Chiara memperhatikan keseluruhan lebar kali tinggi isi kolam renang.


"Lo mau bersihin kolam ini?" Kenneth berujar.


"Iya, lah. Elo jangan lari dari tanggung jawab, ya? Bantuin gue," Chiara mengancam.


"Gue memang mau bantuin lo, tapi bukan bersihin kolam renang," ucap Kenneth datar.


Chiara memicing. "Maksud lo?"


"Sekali-kali lo gunain kekuasaan lo sebagai anak dari pemilik sekolah."


Mata Chiara melebar. "Husstttt, jangan keras-keras," peringatnya menempelkan jari telunjuk di bibir.


Kenneth menatap datar.


"Huftt, oke, jadi, lo punya rencana apa?"


Tak berapa lama Kenneth memanggil seorang tukang bersih-bersih yang kebetulan sedang berada di taman sekolah. "Pak, saya minta tolong bersihkan kolam ini, ya? Itu ada bangkai katak yang enggak sengaja ke cebur, ini ada sedikit rejeki untuk Bapak," Kenneth menunjuk bangkai katak yang mengapung, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kepada sang bapak petugas kebersihan sekolah.


Chiara tercengang bukan hanya akan ide Kenneth, tapi karena Kenneth yang mampu berucap panjang kali lebar pada petugas kebersihan sekolah.


"Iya, Mas Ken, biar saya yang bersihkan, terimakasih banyak."


"Sama-sama, Pak, saya juga berterima kasih sama Bapak," tanggap Kenneth tersenyum.


Lagi-lagi Chiara tercengang melihat senyuman Kenneth, juga kalimat Kenneth yang sangat halus saat berbicara dengan orang yang lebih tua.


Ctik!


Kenneth menjentikkan jari di depan wajah Chiara yang terbengong. "Udah terpesonanya?"


Chiara tersadar. "Idih, ge-er," cibirnya membuang muka.


Kenneth tersenyum tipis, kemudian berlalu meninggalkan Chiara, namun baru beberapa langkah dirinya berbalik. "Lo mau bolos pelajaran?"


"Eh, tunggu," seru Chiara saat menyadari Kenneth sudah berjalan cukup jauh darinya.


...***...


"Ra, lo beneran dapet hukuman dari Pak Hasanuddin?" Mila berseru seraya memasukkan buku ke dalam tas.


"Iya, gue harus nyari katak," jawab Chiara lesu.


"Lo mau nyari dimana?"


Chiara mengangkat bahu. "Nggak tahu, gue ngikut sama Ken."


"Lo yang sabar, ya?" Mila terkikik geli melihat wajah lesu Chiara, ia turut prihatin namun juga terhibur. "Gue duluan, ya? Putra udah nungguin gue di bawah," pamitnya kemudian.


Chiara mengangguk. "Hati-hati," ia mulai memakai ranselnya. "Ken, gue ke kelas Clarissa dulu, ya? Mau ngabarin kalau gue pergi sama lo," ucapnya pada Kenneth yang masih terduduk di tempatnya.


Kenneth mengangguk "Hm."


*


Chiara dan Kenneth berjalan beriringan menuju parkiran tempat motor Kenneth. Tadi Chiara sudah menemui Clarissa dan mengatakan akan pulang telat karena harus mencari katak, hukuman dari Pak Hasanuddin atas kelalaiannya yang tidak disengaja.


"Ken kita mau cari katak dimana?" Chiara membuka suara saat keduanya hanya diam menikmati padatnya jalan yang dilewati.


"Entar lo juga tahu."


Chiara mencibir mendengar jawaban dari Kenneth.


Kenneth memelankan laju motornya saat melihat minimarket yang berada di pinggir jalan.


Kali ini Chiara tidak berkata apapun, ia hanya mengikuti Kenneth yang membeli minuman dan beberapa roti, sementara ia ikut membeli beberapa camilan dan juga tisu.


"Ken, buat apa lo beli kotak itu?" Chiara yang penasaran pun buka suara melihat Kenneth mengambil kotak dengan tutup transparan. "Entar lo juga tahu," Chiara mencibir menirukan jawaban Kenneth saat tak mendapat tanggapan. Selanjutnya, tanpa mempedulikan Kenneth, Chiara berjalan menuju kasir.


Kenneth menarik ujung bibirnya ke atas menyadari Chiara yang merajuk.


*


Kenneth kembali melajukan motornya membelah jalanan ibukota, pada perempatan depan Kenneth membelokkan stir ke kanan dan melaju lurus ke jalan yang perlahan mulai sepi oleh kendaraan.


Chiara yang berada di belakang Kenneth menerka-nerka sebenarnya Kenneth mau mengajaknya kemana, namun saat melewati jalan yang sepi atau cenderung asri, dirinya sadar bahwa Kenneth membawanya ke pedesaan yang lumayan jauh dari jalanan ibukota. Netra Chiara berbinar saat melihat pemandangan hijau terpampang di depannya, hamparan luas dengan tanaman padi yang menyejukkan mata, serta aromanya yang menyegarkan. Reflek Chiara melebarkan tangannya menghirup udara yang sangat menenangkan.


Kenneth tersenyum melihat tingkah Chiara dari kaca spion.


Kenneth menghentikan motor saat tiba di tempat tujuan.


Chiara turun dan meneliti pemandangan sekitarnya. "Kita nyari di sawah?" ia nampak berseri menyaksikan hamparan hijau di hadapannya, hal yang jarang dan hampir tidak pernah ia kunjungi.


"Ya," Kenneth menyahut.


Di tengah kebingungan, Chiara mengikuti langkah kaki Kenneth yang berjalan menuju gubuk di tepi sawah, di depannya ada sungai kecil yang mengalir jernih.


"Makan dulu," Kenneth membuka tas dan mengeluarkan roti yang ia beli sebelumnya di minimarket, menyerahkan pada Chiara.


"Terimakasih," ucap Chiara menerima roti dari Kenneth. "Gue baru tahu ada pemandangan indah di sini," ia memperhatikan sekelilingnya, angin sepoi menerpa wajahnya.


"Tidak banyak yang tahu di balik gedung yang tinggi itu." Kenneth menunjuk pada bangunan gedung yang berdiri berjajar diujung. "Ada keindahan di belakangnya," tambahnya.


Chiara mengangguk menyetujui ucapan Kenneth.


Setelah selesai makan, keduanya mulai menyusuri jalan pematang sawah tanpa menggunakan alas kaki karena jalan yang berlumpur.


"Ken, seperti apa ciri-ciri ada katak di sini? Lo tahu sarang mereka?" Chiara membuka suara.


"Gue nggak tahu."


"Hah? Terus?"


"Dengerin aja suaranya, pertajam penglihatan lo," jawab Kenneth, karena sejujurnya ia juga belum pernah mencari katak di sawah.


"Itu, itu, ada katak, Ken," seru Chiara heboh menunjuk ke dalam sawah di sekitar padi yang sepertinya baru ditanam, karena masih pendek-pendek. "Gimana cara nangkapnya, Ken?" tanya Chiara lagi.


"Pakai tangan."


"Hah? Lo yang nangkap, ya? Gue takut."


Kenneth mengangguk. Dengan gerakan pelan, Kenneth mulai memasukkan kakinya ke dalam tanah berlumpur setelah menaikkan celananya dan juga melepas seragamnya, β€”hanya memakai kaos hitam lengan pendek.


Chiara bersorak saat Kenneth berhasil menangkap satu ekor katak, bahkan dirinya sampai melompat sambil bertepuk tangan. Mungkin karena terlalu senang, ia terpeleset dan masuk ke dalam sawah juga.


"Aaaaaa," teriak Chiara mencengkeram lengan Kenneth membuat katak yang tadi sudah tertangkap kembali lepas.


"Ada apa?" tanya Kenneth panik.

__ADS_1


"Aaaa, Kenn, ada yang merayap di kaki gue, aaaaa," teriak Chiara histeris.


Kenneth menunduk memperhatikan kaki Chiara, ternyata ada serangga sawah yang menempel di sana, ia membuangnya. "Udah."


Chiara membuka mata dan melihat kakinya yang sebagian sudah tertutup lumpur. "Gue geli, Ken, bantuin gue naik," Chiara bergidik merasakan kakinya seperti di gerayangi serangga.


"Yahh kaki gue kotor," keluh Chiara menunduk melihat kaki putihnya kini berwarna hitam terkena lumpur.


"Entar cuci di sana, sekarang kita cari katak lagi."


"Loh, yang tadi mana?"


"Lepas, gara-gara lo," cetus Kenneth kesal.


"Kok gue?"


"Lo ngagetin gue, Ra."


"Ya, maaf."


Hampir setengah jam akhirnya mereka bisa mendapatkan dua ekor katak, dengan perjuangan yang sangat keras tentunya. Bahkan Chiara berulang kali berteriak karena melihat beberapa hewan penghuni sawah yang baru pertama di temuinya.


"Ken, pelan-pelan, tungguin gue," seru Chiara melihat Kenneth berjalan jauh di depannya.


"Dasar siput," cibir Kenneth pelan.


"Ih, jalannya licin tahu, lihat kaki gue penuh lumpur," Chiara mengangkat sebelah kakinya.


"Cuci di sini," Kenneth menunjuk pada aliran air di tepi pematang.


Chiara mengikuti Kenneth yang mencelupkan kakinya ke air. Tak berapa lama tatapan Chiara mengarah pada hewan berbentuk seperti ular yang meliuk-liuk ke arah kakinya. "Huwaaaa ulaarrrr!!" Chiara berteriak dan bersembunyi di belakang tubuh Kenneth. "Ken, ada ular, Ken, kita bisa mati dipatok ular, Ken," Chiara mencengkeram kaos belakang Kenneth, ia benar-benar takut.


"Dimana?" tanya Kenneth menilik sekitarnya.


"Itu di dalam air," Chiara menunjuk dengan jarinya, wajahnya masih disembunyikan di belakang punggung Kenneth.


Kenneth mencari keberadaan ular yang dimaksud Chiara, sebenarnya ia juga takut dengan ular. Menajamkan penglihatan, Kenneth melihat hewan seperti ular namun lebih kecil dan pendek berwarna hitam tengah berenang di air. "Itu bukan ular, Ra, itu belut," ujarnya bernafas lega.


"Hah? Darimana lo tahu itu belut?"


"Lihat, tubuhnya pendek."


Chiara ikut melongok di balik punggung Kenneth. "Bisa saja itu anak ular, Ken."


"Bukan. Itu belut, mau gue buktiin?" Kenneth menantang.


Chiara menggeleng. "Nggak usah, gue percaya itu belut," lebih baik percaya daripada hal buruk akan terjadi. Chiara berjalan lebih dulu, berulang kali tubuhnya bergidik membayangkan hewan seperti ular yang ternyata belut, tapi yang menurutnya itu anak ular, dipegang Kenneth. Chiara mengelus lehernya saat menyadari bulu kuduknya meremang.


Kenneth yang berjalan di belakang Chiara menggeleng-gelengkan kepala. Jujur saja ia merasa terhibur akan ulah Chiara, beberapa kali pula senyuman tersungging di bibirnya melihat tingkah lucu gadis itu.


Keduanya membasuh kaki pada sungai yang berada di depan gubuk, setelah dirasa bersih mereka kembali ke dalam gubuk, beristirahat sebentar menikmati hamparan hijau di depannya.


Kenneth membuka botol air mineral dan meneguknya, sementara Chiara yang masih berdiri di depannya mengambil beberapa gambar melalui ponsel.


"Seharusnya tadi gue fotoin lo pas nangkap katak ya, Ken," ujar Chiara tiba-tiba.


"Buat apa?"


"Kenang-kenangan kalo lo pernah nangkap katak," balas Chiara terkikik.


"Seharusnya gue juga fotoin lo waktu takut takut sama serangga sawah," balas Kenneth.


Tak sadar Kenneth tersenyum akan ulah Chiara.


"Aduh," ringis Chiara merasakan kakinya digigit sesuatu. "Huwaaaa," teriaknya kesekian kali, ia melompat naik ke atas gubuk.


"Ada apa lagi?" Kenneth mulai jengah.


"Semut merah, aduh-duh-duh," Chiara menggosok kakinya yang terkena gigitan semut merah.


"Coba gue lihat," Kenneth melihat kaki Chiara yang memerah dan bengkak.


"Aduh, gatal," Chiara menggaruk kakinya.


"Lo bawa minyak kayu putih?"


"Kayaknya bawa, deh, ada di tas," jawab Chiara seraya menggaruk kakinya.


Kenneth mengangguk, membuka tas ransel Chiara untuk mencari minyak kayu putih.


Chiara sebenarnya tidak tahu sejak kapan minyak kayu putih ada di dalam tasnya, tapi meskipun begitu ia tetap menyimpannya di dalam tas, untuk keadaan darurat pikirnya, seperti sekarang contohnya.


"Masih gatal?"


"Lumayan sih." Chiara menghembuskan nafas kasar. "Uh, sepertinya hewan di sini suka sama gue, deh," cetusnya.


Kenneth menyernyit mendengar penuturan dari Chiara.


"Sedari tadi mereka selalu gangguin gue."


"Itu karena lo terlalu lebay," tanggap Kenneth asal.


"Apa lo bilang?" Chiara tak terima.


"Setidaknya gue nggak teriak-teriak saat hewan-hewan itu ada di sekitar gue," sindir Kenneth lagi.


Chiara mendengus. "Gue cuma kaget," bantahnya.


"Gue baru pertama kali ke sawah, becek-becekan kayak gini," ujar Chiara setelah keduanya diam menikmati pemandangan hijau di depannya.


'Gue juga,' bathin Kenneth.


"Uhh, ini pengalaman pertama yang tidak terlupakan," Chiara nampak riang.


"Berterima kasih sama Pak Hasanuddin"


Chiara menoleh. "Terimakasih juga buat lo," tuturnya tersenyum.


Kenneth menatap datar, haruskah ia akui bahwa ia sudah terpesona oleh senyuman gadis itu?


Kenneth mengeluarkan pisau lipat dan juga satu ekor katak yang tadi ditangkap.


"Lo mau ngapain, Ken?" tanya Chiara was was.


"Mau robek perut katak."


"What? Lo mau bunuh itu katak?"


"Iya."

__ADS_1


"Eh, tunggu-tunggu, kenapa lo bunuh dia, apa salah dia sama lo?"


Kenneth memutar bola matanya jengah. "Ini buat Pak Hasanuddin, Ra. Lo lupa bangkai katak yang lo buang ke kolam renang darimana asalnya?"


Chiara menggeleng.


"Itu karena Pak Hasanuddin yang merobek perutnya untuk penelitian di lab biologi," Kenneth menjelaskan.


"Jadi maksud lo Pak Hasanuddin sengaja bunuh kataknya?"


"Iya."


"Dan sekarang lo juga mau bunuh itu katak?"


"Iya."


"Kejam banget, kasihan tahu, nanti kalau keluarganya nyariin gimana?" cetus Chiara polos.


Kenneth tertawa, iya benar-benar tertawa. "Lo ngomong apa sih, Ra?" tanggapnya tak habis pikir.


"Ih, gue serius, Ken."


Kenneth hanya menggelengkan kepala.


"Ken, kalau arwah kataknya gentayangan gimana?" cicit Chiara lagi.


Kenneth tercengang mendengar penuturan Chiara, ujung bibirnya terangkat membentuk seringai. "Gue bilang aja lo yang nyuruh gue buat bunuh dia, biar dia gangguin lo."


"Hah? Enak aja, bukan gue kok yang nyuruh lo bunuh itu katak."


Kenneth kembali tertawa melihat raut wajah Chiara yang berubah tegang. "Udah, gue mau robek perutnya dulu, sekalian gue cuci di sungai itu," ujarnya kemudian.


Chiara memperhatikan Kenneth yang turun di tepi sungai dan perlahan membelah perut sang katak, reflek Chiara menutup matanya dan berdoa dalam hati, semoga arwah tuan katak diterima Allah, dan mengampuni dosa Kenneth dan dirinya, dan juga tidak mengganggu kehidupannya nanti.


"Lo ngapain?"


"Eh, gue lagi berdoa tahu."


"Doa?" Kenneth terkejut juga heran.


Chiara mengangguk. "Gue berdoa semoga tuan katak tenang di alam sana, dan juga memaafkan kesalahan lo dan gue karena udah bikin dia mati, biar arwahnya enggak gentayangan," tuturnya polos.


Kenneth kembali tertawa, bahkan sampai terbahak-bahak, ia tidak tahan mendengar penuturan dari Chiara, sangat konyol pikirnya


"Eh lo bisa ketawa, Ken?" Chiara baru menyadari kalau Kenneth tertawa berulang kali.


"Lo itu bego atau oon sih, Ra," kekeh Kenneth menghiraukan ucapan Chiara.


Chiara mendengus mendengar cibiran dari Kenneth.


"Ayo balik, udah sore."


Setelah membereskan barang-barangnya, Chiara dan Kenneth memutuskan untuk pulang.


"Gue bersyukur nggak masuk jurusan biologi," ucap Chiara saat keduanya sudah berada di jalan.


Kenneth menoleh. "Kenapa?"


"Lo hitung aja berapa banyak mereka membunuh hewan."


"Ada alasan buat mereka ngelakuin itu."


"Tetep aja, kan, membunuh."


Kenneth menghiraukan keluhan Chiara, ia fokus pada jalanan di depannya.


"Setidaknya gue nggak perlu ketakutan karena arwah mereka gangguin gue, gue, kan, ambil jurusan Fisika," Chiara terus saja bergumam di belakang Kenneth.


"Lo percaya sama hantu?"


"Percaya enggak percaya, sih?"


"Kenapa lo takut?"


"Emm, gue juga nggak tahu," Chiara mengangkat bahunya.


"Lo pernah lihat hantu?"


Chiara mendekatkan wajahnya di sisi Kenneth. "Apa lo bilang?"


"Lo pernah lihat hantu?" Kenneth mengulangi.


"Ahh.. gue berharap enggak pernah ketemu mereka." Chiara menepuk pundak Kenneth. "Kenapa jadi bahas hantu, sih," protesnya.


"Elo yang mulai."


Chiara mencibir, membuat gerakan seakan memukul kepala Kenneth yang terbalut helm, kemudian melipat kedua tangannya.


*


"Nih lo yang bawa?" Kenneth menyerahkan kotak pada Chiara saat keduanya telah sampai di depan rumah Chiara.


"Eh, kok gue? Gue nggak mau, lo aja yang bawa."


"Kenapa?"


"Nanti kalau arwah tuan katak masuk ke rumah gue gimana?"


Kenneth terkekeh, menahan agar suara tawanya tidak menggema, sungguh polos atau terlalu bego sih Ara ini. "Ya udah biar gue yang bawa," putusnya kemudian.


Chiara tersenyum senang.


"Kayaknya arwah kataknya juga udah tahu rumah lo," Kenneth kembali bersua.


"Hah?! KENNETH!!" pekik Chiara keras.


Kenneth segera menstarter motornya dan berlalu meninggalkan Chiara yang masih berteriak menyumpah serapahi dirinya. Selama perjalanan Kenneth tak henti-hentinya tersenyum, ia tidak menyesal telah menjatuhkan katak milik Pak Hasanuddin, dan sepertinya ia harus berterima kasih pada Vanya, karena berkat Vanya, hampir seperempat harinya dihabiskan dengan Chiara, dengan situasi yang menyenangkan tentunya.


.


...🐸 🐸 🐸...


...Cieeeee gaspollll...


...Gue yang ngetik ikut tergelitik loh....


...😁😁😁...


...Aihhh lucuΒ² gimanaa gitu. πŸ˜‹...

__ADS_1


__ADS_2