KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
15. Pulang bareng


__ADS_3

Area sirkuit dipenuhi suara bising kendaraan bermotor, masing-masing dari mereka menarik gasnya kencang menimbulkan suara knalpot semakin berderum. Joki sudah siap mengangkat kainnya, kemudian setelah kain itu menyentuh tanah, semua pembalap itu melesat membelah angin, saling berebut mendapatkan posisi terdepan.


Seruan penonton membuat suasana semakin ramai, waktu tengah malam tak menyurutkan tekad mereka, justru semakin membuat mereka berkobar semangat. Motor sport berwarna putih itu melaju menjadi yang terdepan, tepukan penonton mengiringi laju kendaraan itu yang selanjutnya menjadi pemenang dalam balapan malam itu.


"Wagelasshhh.... Keren banget lo, Lang!"


"Yo'i, bakalan pesta besar-besaran kite, ye, nggak?" seruan Niko diangguki para anggota gengnya.


"So pasti gaesss,” Galang menimpali setelah melepas helmnya.


"Besok aja, lah, pestanya, adain di basecamp aja, gimana?"


"Setuju gue."


"Terserah kalian gue ngikut,” Galang menyahut. "Gus, lo ambil uangnya, gue cabut duluan,” perintahnya pada seorang temannya.


"Lah, lo mau balik, Lang. Tumben?"


Galang menonyor kepala Joni. "Besok pagi kita ulangan, bego."


Joni menggaruk kepalanya. "Lah emang napa? Biasanya juga lo biasa aja, masa bodo."


"Gue enggak mau telat, malu sama calon pacar," jawab Galang terbahak.


"Lo punya pacar baru, Lang?" tanya salah satu anggotanya.


"Umpan baru nih?" goda yang lain.


"Eittss,” Galang memprotes. “Jangan sembarangan ngomong, gue udah males nge'playboy,” kekehnya.


"Wuihhh akhirnya lo tobat, Lang. Dari dulu kek, biar cewek nggak ngelirik lo mulu,” cibir salah satu anggota disertai gelak tawa.


"Sialan lo. Gue cabut duluan," Galang menarik gasnya berlalu meninggalkan anggotanya.


"Galang beneran tobat?" seseorang menyenggol lengan Niko.


"Kayaknya sih," jawab Niko melirik para ciwi-ciwi seksi yang berada di sekitarnya.


"Dia lagi deketin cewek," timpal Joni.


"Siapa?"


"Temen sekolah gue, cannntikk banget, anak baru lebih tepatnya."


"Wooww, gue jadi penasaran sama, tuh, cewek."


"Jangan, Bro. Lo bisa kejer lihat wajahnya,” ujar Niko terkekeh.


"Sialan lo."


...***...


Kantin sangat ramai dipenuhi siswa siswi yang mengisi amunisi, terlihat bangku panjang berisi delapan siswa dan tiga siswi yang paling menonjol, terlihat sangat riuh di meja itu, apalagi dengan kekonyolan para siswanya, membuat teman-temannya tergelak.


Clarissa yang beberapa kali bergabung dengan mereka mulai bisa berbaur, sama sekali tak terlihat canggung berada satu meja dengan seniornya. Tak jarang dirinya terbahak mendengar lelucon para seniornya itu.


Tengah asik memakan makanannya, bunyi getaran di sakunya membuat Chiara meletakkan kembali sendoknya. Ia merogoh saku roknya, raut wajahnya berubah sumringah membaca identitas penelepon.


Clarissa menyenggol lengan Chiara. "Siapa, Kak?"


Chiara menoleh. "Bunda.”


Raut wajah Clarissa yang terang semakin cerah, ia menempelkan telinga di sisi Chiara untuk menguping pembicaraan dengan bundanya.


"Assalamualaikum, Bunda.”


Teman-teman yang mendengar ucapan Chiara mendadak tenang, berusaha tidak menimbulkan suara berisik karena Chiara sedang menerima telepon.


"Alhamdulillah baik, Bunda."


"Cla juga baik, Bunda," Clarissa ikut menimpali.


"Clarissa di situ juga?"


"Iya, Bun. Ngintilin Ara mulu dia,” Chiara terkekeh melirik Clarissa yang mengerucutkan bibir.


"Bunda cuma mau ngasih tahu, minggu depan Daddy ada meeting di Malaysia, rencananya Bunda sama Daddy akan ke Indonesia setelah itu."


"Beneran, Bunda?” seru Chiara dan Clarissa bersamaan.


Teman-temannya kembali menoleh memperhatikan dua gadis berparas cantik itu. Sementara Kenneth diam-diam memperhatikan keduanya sedari pertama Chiara menerima telepon, ia pernah mendengar dari ibunya bahwa Aiden serta adik-adiknya memanggil sebutan 'Bunda' untuk ibunya yang bernama Stella. Hal itu membuat dugaannya semakin besar bahwa Chiara adalah anak Sandyaga Van Houten. Pemilik sekolah.

__ADS_1


"I love you, Bunda," seru Chiara dan Clarissa yang ternyata sudah mengakhiri sambungan telepon. Raut wajah keduanya masih mencetak rona bahagia yang kentara.


"Nyokap lo mau pulang, Ra?" Mila melontarkan pertanyaannya.


Chiara mengangguk semangat. "Iya, Mil. Gue seneng banget."


"Pasti nyokap lo cantik banget, ya, Ra?" celetuk Rangga. Ia menjadi pusat perhatian dari ke-sepuluh pasang mata. Ia menyeruput minumannya santai. "Kalian lihat aja wajah Chiara dan Clarissa, cantik, ‘kan?" imbuhnya menjelaskan kebingungan teman-temannya.


Teman-temannya kompak memutar kepala menghadap Chiara dan Clarissa. Yang ditatap saling tatap bingung.


"Nah! Apalagi nyokapnya!” seru Rangga menggebrak meja.


Teman-temannya terlonjak kaget.


"Anjirr, kaget gue."


"Breng**k lo, Rang."


"Sial**,” umpat Mila.


Sedangkan Putra melempar Rangga dengan tisu bekasnya.


"Temen lucknut lo, Rang," Alex menonyor kepala Rangga yang tengah terbahak.


"Whats up, Gaess." Galang beserta kedua temannya datang, mengambil duduk di samping Clarissa. "Gue boleh gabung, 'kan?" tanyanya menilik setiap pasang mata.


"Sip,” jawab Julio mengangguk.


"Hai, Chia~” sapa Galang tersenyum tengil pada Chiara.


Chiara membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum.


"Lang, gue denger lo habis tanding tadi malem?" tanya Putra kemudian.


Galang meneguk minumannya dan mengangguk.


"Juara bertahan," ujar Niko bangga, menepuk pundak Galang keras. Seketika membuat Galang tersedak.


"Uhuk-uhuk! ******!” Galang mengumpat merasakan perih di tenggorokannya, sang pelaku justru menampilkan wajah tanpa dosanya.


"Woahhh keren lo, Lang."


"Kapan-kapan lo harus coba lawan Ken," ujar Alex menepuk pundak Kenneth yang duduk di sampingnya.


"Boleh, gue juga penasaran sama kemampuan dia," jawab Galang.


"Gue nggak tertarik," timpal Kenneth dingin.


"Sekali-kali, Ken. Udah lama lo nggak pernah turun,” ujar Toriq membuka bungkus snack.


"Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Chiara tak paham, diangguki Mila.


Clarissa menoleh ke sisi kanannya. "Tanding apaan?"


"Bukan apa-apa," balas Galang mengacak rambut Clarissa.


"Eh, kalian berdua pacaran?" Julio kembali membuka suara melihat sikap Galang terhadap Clarissa.


"Hah, enggak!" bantah Clarissa.


"Oh, kirain."


Galang berbisik ke sisi kirinya. "Pulang sekolah sama gue."


"Kenapa?" tanya Clarissa ikut berbisik.


"Gue ajak ke basecamp, mau?"


Clarissa berbinar. "Mau.”


"Mau apa, Cla?" Chiara yang duduk di sebelahnya merasa tertarik saat tiba-tiba Clarissa berseru.


Clarissa menyengir. "Nggak apa-apa, Kak. Hehe."


...***...


Chiara berdiri di gerbang sembari menunggu Pak Udin yang akan menjemputnya. Hanya ia sendiri karena Clarissa sudah pulang duluan bersama Galang, yang katanya ada keperluan sebentar. Sebenarnya Chiara agak ragu, tapi kemudian ia berusaha percaya pada adiknya, bahwa Clarissa bisa jaga diri. Ia tidak mau terlalu mengekang sang adik. Chiara berdiri menyenderkan punggungnya pada dinding pos satpam sembari memainkan ponsel.


Vanya yang melihat Chiara berdiri di depan pos satpam berencana untuk mengerjainya. “Lan, kerjain Chiara, yuk?"


Lani tersenyum. "Oke, Van. Gue juga udah kangen ngerjain orang," balasnya tersenyum senang.

__ADS_1


"Jalan gih," perintah Vanya kemudian. Kaki Vanya belum sepenuhnya sembuh sehingga ia tidak bisa mengendarai mobilnya sendiri.


Tiiiinnnnnnnnnn!!


Chiara berjengit kaget hingga ponselnya terlempar ke atas dan...


Prakk!!


"Hahahaha," Vanya dan Lani terbahak melihat kekagetan Chiara, ditambah ponsel Chiara yang terjatuh naas di tanah yang keras.


Chiara mengambil ponselnya, beruntung ponselnya berharga mahal jadi hanya layarnya yang tergores sedikit. Ia menatap tajam pada tersangka yang terbahak di dalam mobil.


"Kaget, yaa, kasihannnn," ejek Vanya terbahak-bahak.


"Hape lo minta ganti, tuh," sahut Lani menambahi.


"Turun lo," hardik Chiara geram.


"Huuu marah, gue takutt," Vanya kembali meledek.


Wajah Chiara memerah menahan emosi, saat hendak melangkah menghampiri Vanya, ternyata Lani sudah menekan gasnya dan meninggalkan Chiara yang tengah dilanda emosi tingkat tinggi. "Vanya sial**!" teriaknya memperhatikan mobil Vanya yang menjauh. Ia menghembuskan nafas panjang guna mereda emosi. Belum sempat selesai memperbaiki nafasnya, ia kembali terperanjat oleh suara klakson dari belakangnya. "Bisa nggak, sih, jangan ngagetin orang mulu. Mau bikin gue mati? Ha!?" hardiknya menatap berang seorang siswa yang mengendarai sepeda motor.


"Lo ngalangin jalan gue."


Chiara tercekat mendengar suara itu, suara berat dan dalam dari seseorang yang mempunyai aura dingin sedingin sikapnya. "Nggak usah ngagetin juga kali," protesnya setelah tersadar dari rasa terkejutnya. Ia menepi memberi jalan, bibirnya telah mengerucut sebal.


Motor sport hitam itu berhenti tepat di depan Chiara. "Lo belum dijemput?"


Chiara melirik sekilas. "Belum,” jawabnya dingin melipat kedua tangannya.


"Mau bareng gue?"


Chiara menyernyit. 'Sejak kapan si salju banyak omong?' bathinnya. "Nggak usah, makasih."


"Lo nggak baca berita hari ini?"


"Ha?"


Kenneth membuka helmnya. "Jalan di blokade, ada demo, supir lo pasti kejebak macet."


Chiara tampak berpikir. "Lo serius?"


"Terserah,” jawab Kenneth kembali memakai helmnya.


"Eh, eh, tunggu, Ken,“ cegah Chiara. Belum sempat melanjutkan ucapannya, ponselnya berdering, telepon dari Pak Udin yang mengabarkan terjebak macet karena ada demo.


Sebelah alis Kenneth terangkat menunggu jawaban siswi di hadapannya.


Chiara menghembuskan nafas pelan. "Gue ikut lo," putusnya kemudian.


Kenneth memutar kunci untuk menyalakan mesin. Menunggu Chiara naik di jok belakang motornya, setelah memastikan perempuan di belakangnya duduk nyaman ia mulai menarik gas dan melajukan kendaraan.


Seperti sebelumnya, selama perjalanan keduanya hanya diam, Chiara yang bingung harus mengajak bicara Kenneth atau tidak, karena laki-laki itu juga diam saja. Pada akhirnya ia juga diam memilih menikmati pemandangan jalan yang dilewati.


Kali ini Kenneth tidak melewati jalan yang biasanya, ia memilih rute yang tak dilewati pendemo agar tak terjebak macet. Suasana jalan yang dilewati siang itu sangat lengang, mungkin karena banyak pengendara yang terjebak macet di jalan utama. Ia melirik dari kaca spion beberapa gerombolan motor yang berjalan beriringan di belakang motornya.


Salah satu dari mereka mendekati motor Kenneth. "Hai, cantik."


Chiara berjengit saat sesuatu menyentuh lengannya, ia menoleh dan beringsut takut melihat penampilan urakan pria di sampingnya.


Kenneth melihat apa yang pria itu lakukan terhadap Chiara, entah kenapa tatapannya menggelap, ia menarik gas kuat meninggalkan rombongan preman itu. “Pegangan!” serunya pada Chiara.


Chiara yang terkejut reflek melingkarkan tangan di perut Kenneth erat. Ia menenggelamkan wajahnya di punggung Kenneth seraya berdoa dalam hati semoga ia selamat menyadari cara mengendarai Kenneth yang sangat kencang seakan tubuhnya terbang.


Kenneth memelankan laju kendaraan saat tak terlihat gerombolan itu mengejar. Beberapa menit kemudian ia menghentikan motor tepat di depan rumah Chiara. Kenneth menunduk menyadari tangan Chiara masih melingkari perutnya, ia melirik perempuan di belakangnya yang sepertinya tak menyadari telah sampai di rumah. "Lo nggak mau turun?" tanyanya kemudian.


Chiara mengangkat kepalanya memperhatikan sekeliling, ia bernafas lega saat sudah tiba di depan rumah dan juga masih selamat.


“Ehem!”


Chiara terhenyak buru-buru menarik tangan dan turun dari motor Kenneth. Memperbaiki penampilan dan menyisir rambut dengan jarinya. "Makasih, ya, Ken."


Kenneth mengangguk.


"Em.. mau mampir?" Chiara meringis menggigit bibir bawahnya. 'Bodoh! Pertanyaan macam apa itu, Ra,' rutuknya.


"Enggak, makasih."


Chiara mengangguk. "Lo.. hati-hati. Dah." Ia melambai pada Kenneth, kemudian menekan tombol, setelah gerbang terbuka ia sempat menoleh ke belakang, ternyata Kenneth masih di sana. Sepertinya Kenneth tidak akan kembali sebelum memastikan bahwa ia masuk ke dalam rumah. Entah mengapa diperlakukan seperti itu membuat Chiara senyum-senyum sendiri. Apa ia mulai menyukai siswa dingin itu?


Entahlah.

__ADS_1


📖


📖📖


__ADS_2