
Flashback on.
Kenneth masih berada di dalam kamar mandi saat ponselnya yang berada di atas meja belajar bergetar dan berbunyi.
Seorang gadis masuk ke dalam kamarnya hendak menyapa, namun yang disapa tidak ada di sana. "Ken?" tatapannya berotasi, terdengar bunyi gemericik dari dalam kamar mandi. "Dia mandi," gumamnya lagi.
Saat hendak berbalik, ponsel di atas meja kembali berdering, gadis itu menghampiri, ragu saat akan mengangkatnya. "Alex," ia membaca nama yang tertera sebagai penelepon. Tangannya terulur hendak menjawab panggilan, namun sambungan telepon itu sudah terputus. Mengangkat bahunya acuh, gadis itu memilih untuk menunggu di luar. Namun lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat tak sengaja netranya menangkap sesuatu di layar ponsel. Karena penasaran, ia menggeser layar untuk membuka kunci, matanya terbelalak melihat wajah seseorang yang ada di dalam layar ponsel tersebut.
"Ngapain lo?" Kenneth yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat seorang gadis berada di kamarnya.
Gadis itu menoleh. "Hai, Ken, kangen sama gue?" ujarnya percaya diri.
"Kapan lo dateng?" alih-alih menjawab, Kenneth justru mengajukan pertanyaan.
"Barusan, rencananya gue mau bikin kejutan buat elo, tapi sepertinya justru gue yang terkejut," gadis itu mengangkat ponsel milik Kenneth dengan raut wajah riang, seakan telah menemukan harta karun.
Kenneth menatap dingin. "Balikin hape gue."
"Siapa dia?" gadis itu mengarahkan layar ponsel di hadapan Kenneth.
Bola mata Kenneth terbelalak.
"Cewek lo?" tebak sang gadis.
"Bukan," jawab Kenneth singkat.
"Siapa namanya?" sang gadis belum menyerah.
Kenneth menghembuskan nafas. "Ara," jawabnya.
Gadis itu mengangguk. "Dia cantik," komentarnya mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.
"Jangan bikin gosip yang enggak-enggak," Kenneth memperingati.
"Gue nggak janji," gadis itu menjulurkan lidah.
*
"Kamu serius?"
"Iya, Tante."
"Siapa namanya?"
"Ara."
"Syukurlah kalau begitu," tampak sang Ibu yang tersenyum mendengar penjelasan dari keponakannya.
*
"Gimana? Ada kemajuan?"
"Apaan, sih, lo."
"Gimana sama Ara?"
Kenneth menghela nafas panjang, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat.
"Jangan bilang lo nggak berani."
"Jangan sok tahu," cetus Kenneth tak terima.
"Lalu?"
Kenneth bersandar pada sofa, tatapannya menerawang. "Gue bingung, kenapa dia ngomong suka sama gue, seharusnya, kan, gue yang ngomong," ujarnya.
"What? Serius?"
Kenneth mengangguk.
"Jadi.. lo ngerasa enggak enak hati gitu?"
Kenneth mengangkat bahu.
"Seharusnya lo seneng, karena udah tahu perasaan dia yang sebenarnya ke lo, jadi udah bisa dipastikan dia bakal mau jadi cewek lo, kenapa lo yang ragu?"
"Nggak semudah itu, Liona," Kenneth menonyor kepala sepupunya itu.
"Alah.. bilang aja lo nggak berani," balas Liona mencibir.
"..."
*
Kenneth tergesa-gesa memasuki rumah, langkah kakinya mencari seseorang yang menjadi sumber masalah untuknya selama ini, setelah mendapati tersangka ada di gazebo belakang rumah, langkahnya semakin cepat untuk menghampiri. "Heh, lo ngomong apa sama Ara?" hardiknya kesal.
Liona mendongak. "Apaan? Datang-datang nuduh orang sembarangan."
"Jangan pura-pura bego, lo ngomong apa sama Ara kemarin?"
Liona tampak berpikir, ujung bibirnya tertarik ke atas. "Apa dia marah sama lo?" tebaknya.
Tatapan Kenneth meredup.
Liona mengusap dagu. "Atauu, dia ngehindar dari lo?" tebaknya lagi.
__ADS_1
Kenneth bergeming dengan tatapan membunuh.
"Hahaha," Liona terbahak melihat ekspresi Kenneth, sudah dipastikan tebakannya benar semua.
"Lo ngerusak rencana gue."
"Sorry," Liona berdehem guna menetralkan suara. "Gue cuma memberi bumbu sedikit sama kalian berdua, seberapa besar kekuatan cinta lo ke dia, so?" Liona mengendikkan bahunya acuh.
Kenneth menyugar rambutnya ke belakang. "Tapi nggak harus bilang lo pacar gue juga," ia benar-benar geram akan ulah sepupunya yang kelewat batas.
Liona kembali tergelak. "Karena dari yang gue lihat, dia kalem banget, beda sama mantan-mantan lo yang dulu, kayaknya seru kalau gue kerjain dikit," ungkapnya kemudian.
Kenneth berkacak pinggang.
"Udahlah, jangan dipikirin. Lagipula kalaupun dia nggak mau sama lo, kan, asih ada gue," goda Liona menaik turunkan alis.
"Cih, gue nggak tertarik sama tunangan orang," balas Kenneth ketus.
"Ohoho, benarkah?"
Kenneth berbalik meninggalkan Liona.
Flashback off.
"Jadi maksudnya? Lo saudaranya Kenneth?" tebak Chiara agak tak menyangka.
Liona mengangguk.
Chiara terkesiap, tubuhnya memaku di sandaran sofa.
"Berhubung gue mau balik ke Aussie, sepertinya gue harus ngelurusin kesalahan pahaman ini."
Chiara masih termenung dengan pikirannya sendiri.
Liona tersenyum, mengusap lengan Chiara pelan. "Maafin gue, ya? Gue gemes aja gitu sama Kenneth, selama ini emang dia nggak pernah sebego ini dalam masalah cewek."
Chiara menoleh, dahinya mengerut dalam.
"Maksud gue, baru sekarang ini sikap Kenneth cemen menghadapi cewek, padahal selama yang gue tahu, dia nggak pernah ragu buat deketin cewek, tapi entah kenapa gue rasa ada sesuatu dalam diri lo yang membuatnya ragu."
Chiara terdiam. 'Apa karena gue anak pemilik sekolah?'
"Udahlah, yang penting kalian berdua sama-sama cinta, gue doain langgeng sampai tunangan kayak gue," Liona terkekeh.
"Lo udah tunangan?"
Liona tersenyum, mengangkat jarinya memperlihatkan sebuah cincin melingkar indah di sana.
"Wah.. selamat, ya?" Chiara turut senang.
Liona mengangguk. "Gue deket banget sama Kenneth, gue udah anggap dia sebagai adik gue sendiri, bahkan sewaktu kecil kita tinggal bareng, jadi gue tahu bagaimana dia." Liona menggeser tempat duduknya lebih dekat. "Lo bakal tahu sifat dia yang sebenarnya, jadi jangan kaget, oke," peringatnya berbisik.
"Lo bakal tahu nanti," Liona menyeringai.
...***...
Setelah urusan dengan Liona selesai, dan juga kesalahan pahaman sudah diluruskan, Kenneth mengantarkan Chiara pulang menggunakan mobil.
"Ken."
"Hm?"
"Kenapa kamu nggak bilang kalau Liona sepupu kamu?"
Kenneth merasa senang Chiara merubah panggilannya dengan aku-kamu, bukan lagi lo-gue. "Pengen lihat aja reaksi kamu, ternyata lucu kalau lagi cemburu."
Chiara melotot. "Siapa yang cemburu?"
"Kamu."
"Enggak!" Chiara berkelit.
"Besok lusa ulang tahun kamu?"
"Iya."
"Mau hadiah apa?"
"Hah?"
"Mau hadiah apa?" ulang Kenneth menoleh sekilas.
"Nggak perlu repot-repot, cukup datang ke rumah aja besok."
"Yakin?"
Chiara mengangguk. "Aku nggak nyangka kalau Bunda sama Daddy bakalan balik ke Indonesia secepat ini." ia mencuri tatap pada pemuda di samping, ragu untuk berucap. "Ken," panggilnya.
"Hm?"
"Kata Liona kamu ragu sama aku, apa karena aku anak pemilik sekolah?" tanya Chiara hati-hati.
Kenneth menoleh. "Enggak juga."
"Lalu?"
__ADS_1
Kenneth menghadap Chiara. "Nggak apa-apa, nggak perlu dibahas, yang penting sekarang kamu udah jadi milik aku," ia mengusap kepala Chiara.
Chiara tersipu mendengar kata kepemilikan dari mulut Kenneth.
"Turun," perintah Kenneth.
"Hah?"
"Udah sampai, Ra. Atau mau ikut aku pulang lagi?"
Chiara menatap keluar, kenapa ia tidak menyadari kalau sudah sampai rumah? Chiara tersenyum dan menggeleng sebagai tanggapan. "Terimakasih," ucapnya seraya melepaskan seatbelt.
Kenneth mengangguk.
"Mau mampir?"
"Lain kali aja, aku ada urusan sama anak-anak."
Chiara mengangguk. "Hati-hati."
Sekali lagi Kenneth mengangguk.
...***...
"Kak, Kakak beneran jadian sama Kak Ken?" Clarissa berujar seraya turut merebahkan diri di samping Chiara.
"Seperti yang kamu lihat," balas Chiara membalik halaman novel yang ia baca.
"Akhirnya kalian pacaran juga," Clarissa terkekeh.
"Apa, sih."
"Ciye Kakak blushing," goda Clarissa menunjuk pipi Chiara.
"Hmm.. kapan Galang pulang?" Chiara mengalihkan pembicaraan.
Clarissa menghela nafas, "Katanya, sih, besok baru pulang."
Chiara menoleh. "Kenapa lesu begitu mukanya?" ia terkekeh
Bibir Clarissa mengerucut sebal.
Ceklek!
"Anak gadis bunda dicariin ternyata di sini?"
Kedua gadis itu menoleh ke arah pintu dan segera bangkit. "Bunda?" seru keduanya bersamaan.
"Serius amat, lagi ngomongin apa, sih? Hem?" Stella mengambil duduk di tengah-tengah mereka.
"Kak Ara punya pacar baru, Bun," seloroh Clarissa membuat Chiara melotot.
"Oh, ya?" Stella nampak terkejut, kemudian memperhatikan Chiara. "Jadi, siapa, nih, calon mantu Bunda?" godanya kemudian.
"Ihh, Bunda, apaan, sih, pake bawa calon mantu segala, Abang duluan sana yang sebentar lagi menikah," balas Chiara merengut.
Stella tersenyum, mengusap kepala Chiara dan Clarissa bergantian. "Nggak nyangka, Bunda ternyata udah tua, ya? Sebentar lagi kamu tambah usia, sebentar lagi juga bunda punya mantu," Stella terkekeh.
"Tapi bunda tetep cantik, kok," sahut Clarissa tersenyum.
"Kalau Bunda kalian tidak cantik, Daddy mana mau sama Bunda," sebuah suara menyeru.
"Daddy!" pekik Clarissa dan Chiara bersamaan.
Sandy turut duduk di ranjang bersama istri dan anaknya.
"Kalau aku jelek berarti nggak mau, ya?" selidik Stella mengancam.
Sandy tergelak, kerutan di sekitar mata menunjukkan bahwa usianya tak lagi muda. "Kenapa kamu bicara begitu, Sayang. Aku cuma bercanda," Sandy meraih tengkuk Stella dan mencium tepat di bibirnya.
"DADDY!" pekik kedua putrinya memprotes tindakan sang ayah.
Sandy kembali tergelak, menghiraukan pinggangnya menjadi korban cubitan istrinya.
"Clarissa masih di bawah umur tau," protes Clarissa memberengut kesal.
"Di bawah umur tapi sudah berani pacaran," sindir Sandy santai.
Clarissa meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Stella melotot. "Kamu juga sudah punya pacar, Cla?"
"Iya, Bunda, malah dia udah lama jadiannya," Chiara mengompori. Satu sama, bathinnya meledek.
Sandy dan Stella saling tatap.
"Sepertinya anak-anak kita sudah dewasa," ucap Stella kemudian.
Sandy mengangguk. "Apa sebaiknya kita bikin lagi?"
Chiara dan Clarissa terperangah. Kemudian..
"DADDYYYYY!!!"
Tawa Sandy menggema.
__ADS_1
📚📚
📚