KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 8 - Yang Mulia Ratu


__ADS_3

"Semua datanya sudah ada di sini, setelah ku periksa ndak ada yang janggal," Juno meletakkan map berisi berkas di atas meja.


"Bagaimana selanjutnya, Ko?" Clarissa berujar.


"Tunggu keputusan Bu Helinda saja," Juno menyandarkan punggungnya di kursi. "Kita sudah pergi ke rumah sakit mencari informasi dari korban. Karena pihak perusahaan memberikan uang kompensasi, mereka memutuskan tidak melanjutkan perkara," Juno geleng-geleng kepala. "Memang benar, ya, uang bisa membuat semuanya menjadi mudah," imbuhnya lagi.


Clarissa tak menyahut.


"Tapi kenapa uang sulit dicari, ya, Clarissa," Juno terkekeh.


"Ko Jun kurang semangat mencari mungkin," tanggap Clarissa ikut terkekeh.


"Kamu anak magang, dari luar kota lagi. Jangan-jangan di Jakarta kamu anaknya crazy rich, ya?" Juno menyelidik.


Clarissa menggeleng. "Crazy rich opo toh, Ko?" ia meniru logat bahasa Juno. "Aku, kan, anak perantauan. Mencari pengalaman, kalau uang mikir belakangan saja, hehe," imbuhnya terkekeh.


"Masih perlu banyak buat wisuda, kamu jangan boros-boros," Juno menasehati.


"Siap, Ko Jun."


Clarissa mendekatkan kursinya. "Ko Jun, Bu Helinda nggak marah sama aku karena masalah kemarin, kan?" tanyanya pelan, ekor matanya memperhatikan arah pintu, khawatir jika yang dibicarakan tiba-tiba muncul.


"Yang cewek kemarin itu?"


Clarissa mengangguk.


"Sebenarnya itu masalah kalian pribadi, Bu Helinda ndak mau ikut campur. Tapi seperti apa yang beliau katakan. Jangan sampai masalah pribadi menyeret nama firma hukum ini, terlebih jika atasan tahu, semuanya bisa jadi masalah besar," tutur Juno memperingatkan.


Clarissa mengangguk-angguk. "Maafkan aku, ya, Ko. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Semua sudah berlalu, cewek yang kemarin juga sudah menerima uang ganti rugi darimu, bukan? Lain kali jangan lagi cari masalah sama dia."


Sekali lagi Clarissa mengangguk.


"Juno, Clarissa, siap-siap kita berangkat ke rumah sakit sekarang," suara Helinda menginterupsi.


"Baik, Bu."


"Ada masalah apa lagi, Bu?" Juno bertanya.


"Ada kejanggalan dari rekam medis mengenai kondisi korban," jawab Helinda gegas meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


*


Tiba di rumah sakit, Helinda menunjukkan tanda pengenal pada petugas penjaga, selanjutnya ia beserta Juno dan Clarissa dipersilahkan untuk masuk.


"Selamat siang, Bu Erna?" Helinda memberi salam sapa.


Wanita itu menoleh. "Siang, Bu," ia gegas memberikan laporan rekam medis pada Helinda. "Saya ndak tahu apakah ini berguna untuk penyelidikan atau ndak, tolong Ibu cermati lagi karena saya ndak mengerti. Tapi Dokter bilang semuanya sudah sesuai dengan prosedurnya. Hanya saja beberapa minggu suami saya mengeluhkan sakit di dadanya, ketika diperiksa, Dokter mengatakan itu sebab efek dari obat," tutur Erna menjelaskan, raut wajahnya tampak ketakutan.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anda dan suami anda," Helinda memperhatikan suami Erna yang masih terbaring dengan beberapa alat menempel di tubuhnya. "Apa suami anda belum pernah siuman?" tanyanya kemudian.


Erna menggeleng. "Dia hanya akan mengeluhkan sakit, kemudian Dokter memberikan obat pereda nyeri yang membuatnya kembali tidur."


Juno dan Clarissa saling tatap.


"Bukankah itu terlalu berbahaya jika setiap mengonsumsi obat dia akan tertidur?" Juno mengutarakan apa yang ada di otaknya.


"Dokter selalu mengatakan semua sudah sesuai prosedur, untuk itu saya meminta rekam medis, dan meminta bantuan anda menelitinya."


"Apa Ibu ingat berapa jenis obat yang dimasukkan ke dalam tubuh suami Ibu?" Clarissa ikut bertanya.


Erna nampak berpikir. "Saya ingat sedikit."

__ADS_1


Helinda meminta Erna untuk duduk. "Mari kita tulis," ujarnya.


...***...


Mengingat hubungannya yang sempat terhenti bertahun-tahun akibat tidak mendapatkan restu, Galang tentu ingat bagaimana usahanya untuk melupakan kenangan indah bersama Clarissa walaupun pada akhirnya ia menyerah, karena rasa itu tetap melekat di hati. Dan sekarang setelah semua perjuangan, pengorbanan yang ia lakukan untuk mendapatkan Clarissa kembali, tentunya ia tidak akan bertindak bodoh untuk kehilangan pemilik hatinya dua kali.


Kejadian terakhir kali yang membuat Clarissa hampir menyerah padanya, kejadian terakhir kali yang hampir membuatnya kehilangan Clarissa. Tentu saja Galang tidak berharap hal itu terjadi dan terulang. Untuk itu ia memutuskan mengunjungi Berlian siang itu, ia akan membuat pengakuan serta perhitungan dengan perempuan itu.


Galang membuka pintu VIP di sebuah restoran, seseorang di dalam sana menoleh dan tersenyum padanya. Awalnya ia berniat menemui di kantor gadis itu, tapi Berlian justru mengajaknya ke sebuah restoran sekaligus makan siang. Meskipun makan siang bersama bukanlah tujuan Galang.


"Hai, aku sudah memesan makanan untuk kamu," ujar Berlian riang.


Galang memperhatikan beberapa hidangan yang tersaji di atas meja, sama sekali tak menarik minatnya. "Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ia memulai pembicaraan dengan mengambil duduk di depan Berlian.


Berlian mengangguk saja. "Meβ€”"


"Tidak perlu repot-repot menuangkan minuman untukku, aku tidak akan makan apapun di sini," potong Galang menyindir.


Jemari Berlian yang menuangkan minuman bergetar, ia menatap lawan bicaranya gugup.


"Aku akan jujur padamu," Galang mulai serius. "Mungkin kamu berfikir bahwa hubunganku dengan Clarissa hanya bercanda sebab kita baru bertemu beberapa minggu. Tapi kamu salah. Clarissa dan aku mempunyai hubungan jauh sebelum aku bertemu denganmu. Kita berpisah karena suatu hal, dan akhirnya bertemu kembali. Kisah kita masih terus berlanjut hingga sekarang dan sampai salah satu dari kita tiada." Galang memperhatikan lawan bicaranya yang nampak terkejut. "Aku mengatakannya padamu karena berharap kamu akan mengerti. Clarissa adalah hidupku, nafasku. Aku akan sekarat tanpanya, dia begitu spesial di hatiku."


Berlian mengepalkan jemarinya.


"Sampai kapanpun, sekuat apapun kamu dan orang lain mencoba memisahkan aku dan dia. Tidak akan ada yang bisa menghapus dia di hatiku. Aku sungguh tergila-gila padanya." Galang menarik nafas. "Kejadian kemarin sudah aku lupakan, aku berharap kamu tidak melakukan tindakan bodoh itu lagi."


Berlian tercekat, ia menelan salivanya alot.


"Berhenti mengganggu hubunganku dengan Clarissa. Berhenti mencampuri urusan pribadiku dan Clarissa. Aku masih bersikap baik padamu karena masih menganggapmu orang baik. Tapi tidak jika itu sudah keterlaluan, Berlian," tutur Galang bersungguh-sungguh, selama ini ia hanya menganggap Berlian bagian dari bisnis, tidak lebih. "Tidak sepatutnya kamu berbuat hal rendah seperti kemarin untuk mendapatkan seorang pria," imbuhnya lagi.


Airmata Berlian mengalir, ia menunduk dengan kedua jari yang saling memilin.


Galang beranjak. "Aku akan mengatakan pada Fando bahwa aku mundur menjadi investor."


"Jujur saja, aku tidak ingin lagi terlibat urusan denganmu."


Galang terlalu jujur, hal itu membuat amarah Berlian berkobar. "Apa kamu harus melakukan itu hanya demi dia?"


"Apapun akan lakukan demi Clarissa," jawab Galang yakin. "Jika menjauh darimu akan membuatnya tenang, aku akan dengan senang hati melakukannya."


Kedua bola mata Berlian membulat. "Dia memintamu menjauhiku?" sungguh ia tidak percaya bahwa Galang akan menuruti.


"Tidak, kekasihku tidak pernah memintaku menjauhimu. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir."


Berlian tersenyum sarkas. "Aku tidak percaya, kamu sangat bucin padanya," ledeknya.


Galang mengangguk. "Sejak dulu aku sudah terlalu bucin padanya," tanggapnya tersenyum mengingat kenangannya bersama Clarissa saat masih sekolah.


Berlian bersungut-sungut menyadari Galang tersenyum saat membicarakan Clarissa, ia sangat benci dengan perempuan itu. "Itu terserah padamu," ucapnya kesal.


"Aku harap kamu tidak akan bertindak diluar batas lagi," percayalah bahwa Galang tengah mengancam.


Berlian menatap nyalang pada Galang yang berlalu meninggalkannya, nafasnya memburu mengingat ucapan Galang yang memuji kekasihnya serta mengancamnya. "Hah!" ia mendengus. "Brengs*k!! Aku sangat membencimu, Clarissa," desisnya dengan kilat tajam di kedua netranya.


...***...


Clarissa yang baru saja keluar kantor terkejut melihat seorang pemuda tengah bersandar di body mobil dengan melipat kaki. Kedua ujung bibirnya terangkat melihat penampilan pria itu yang sungguh mempesona, ditambah kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat auranya semakin tak terkendali. Clarissa sangat menyukai pria itu.


Galang mendongak dari ponselnya, ia tersenyum menyambut kehadiran Clarissa. Sengaja ia membuka lebar kedua tangannya.


Clarissa berlari kecil dan melesak masuk ke dalam pelukan hangat sang kekasih. "Padahal kita bertemu setiap hari, tapi kenapa aku selalu merindukanmu?" ujarnya mendongak menatap Galang.


Galang mengecup singkat ujung hidung Clarissa. "Bagaimana kalau kita tinggal serumah saja?" tawarnya.

__ADS_1


Clarissa nampak berfikir. "Bagaimana kalau kita kerja satu kantor saja?" balasnya.


"Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Pertama, kita coba tinggal serumah dan tidur seranjang, Bagaimana?"


Clarissa mencubit pinggang Galang. "Jangan ngaco!"


Galang meringis kemudian terkekeh. "Ini tawaran yang menguntungkan untukmu, Sayang. Yakin mau menolak?"


Clarissa menyipitkan tajam. "Menguntungkan bagimu maksudnya?"


Galang tertawa. "Sama-sama untung," ia baru saja akan mendaratkan kecupan di bibir Clarissa, namun gadis itu tiba-tiba mundur.


"Tunggu dulu. Sepertinya kita masih marahan kemarin," ujar Clarissa seakan teringat.


Galang tertegun. "Marahan?" ulangnya kemudian.


"Iya, soal Berlian itu. Huh! Jangan mencoba mengalihkan perhatian, ya? Aku tidak bisa dibujuk dengan mudah," Clarissa melipat tangan serta membuang muka.


"Bukannya kita sudah berbaikan di mobil?" Galang sungguh tidak mengerti dengan yang namanya wanita, kenapa selalu mengungkit masalah yang sudah lalu.


"Itu, kan, karena aku kasihan lihat kamu basah kuyup. Sekarang kamu sudah sadar, kita marahan lagi."


Astaga, kenapa Clarissa begitu menggemaskan. Galang jadi gemas sendiri.


"Jadi, apa yang harus hamba lakukan untuk membuat yang mulia ratu memberikan maaf?" Galang memulai aksi.


Clarissa menahan senyum. "Tunggu sebentar, aku akan berpikir," ia nampak berpikir.


Galang diam menunggu.


"Emm, kencan malam ini naik motor," ucap Clarissa kemudian.


Menurut Galang, Clarissa tipe gadis yang unik, dan tentunya keunikan itu hanya boleh ia yang nikmati.


Galang tersenyum. "Hamba siap melaksanakan perintah yang mulia ratu," balasnya menggoda.


Clarissa tersipu. "Hukuman pertama, cium pipi yang mulia ratu dulu," ia menyodokkan sebelah pipinya.


Dengan senang hati Galang melakukannya, ia memberikan kecupan dalam di pipi Clarissa. Bukan hanya pipi, ia merambat ke kening, mata, hidung, bibir, semua wajah Clarissa tak luput dari ciuman Galang.


Clarissa terkekeh geli.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan di dalam mobil saja, aku khawatir banyak orang yang iri," gurau Galang memperhatikan area halaman kantor tempat Clarissa bekerja yang memang sudah masuk jam pulang.


Clarissa seakan tersadar, tapi itu sudah terlambat. "Biarkan saja, aku tidak peduli," sahutnya acuh.


Sudut bibir Galang menyeringai. "Saya suka jawaban anda yang mulia ratu."


Clarissa tercekat mendengar jawaban Galang, ia mulai waspada. "Sebaiknya kita pulang saja, melaksanakannya hukuman untukmu," ia mendorongku tubuh Galang untuk berbalik.


"Saya belum selesai melaksanakan hukuman pertama."


"Hukuman pertama sudah cukup!"


Galang terkekeh menyadari Clarissa gugup. kemudian ia membukakan pintu untuk gadisnya. "Silahkan yang mulia ratu."


Clarissa menginterupsi arah Galang merendahkan tubuhnya. "Terimakasih, pangeranku," bisiknya di telinga Galang, tak lupa ia memberikan kecupan di pipi pria itu.


Galang sempat terkejut namun detik berikutnya ia tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2