
...CERITA INI HANYA FIKTIF. HASIL KARYA AUTHOR SEMATA....
...JIKA ADA KESALAHAN MOHON DI KOREKSI DEMI KENYAMANAN BERSAMA....
...TERIMAKASIH DAN HAPPY READING!...
...\...
"Sayang, kamu lagi mikir apa, sih?" Galang menegur saat memperhatikan Clarissa yang tengah terdiam dengan tatapan kosong.
Clarissa menggeleng.
"Nggak dapet bukti lagi?" Galang memberikan piring berisi potongan buah apel pada Clarissa.
"Korban lainnya nggak mau buka suara memberikan kesaksian. Seorang peneliti yang mengundurkan diri juga nggak tahu dimana, kayak ngilang gitu aja. Juga kesaksian pihak rumah sakit nggak bisa dikoreksi lebih dalam. Bu Helinda sudah hampir putus asa," Clarissa mendesah berat.
Galang menyuapkan sepotong apel dan diterima sang empu. "Aku masih belum boleh tahu nama perusahaannya? Siapa tahu aku bisa bantuin kamu."
Clarissa menggeleng. "Sebaiknya kamu tidak perlu tahu itu," jangan sampai Galang tahu jika lawan yang ia hadapi adalah perusahaan milik Berlian.
"Aku punya banyak temen detektif kalau kamu mau tahu," Galang kembali berujar memperhatikan Clarissa.
Clarissa mengerjap, detik berikutnya ia tahu apa yang harus ia lakukan. "Terimakasih sudah membuka pikiranku," cetusnya tersenyum lebar.
Kening Galang mengerut. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa," Clarissa menyengir.
Galang berjalan menghampiri, membingkai wajah Clarissa untuk mendongak menatapnya. "Kamu jangan bikin aku khawatir. Atasan kamu pasti punya banyak koneksi dan relasi, kamu jangan ambil keputusan yang bikin kamu dalam bahaya, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," tuturnya serius.
Clarissa menyentuh jemari Galang di pipinya. "Aku pasti jaga diri. Kamu orang pertama yang aku hubungi kalau seandainya aku kenapa-kenapa."
"Jangan bicara sembarangan."
Clarissa menyengir. "Aku cuma mau minta bantuan Abang Daniel aja. Dia kan punya jajaran orang berbaju hitam yang mengerikan," ujarnya bergurau, walau kenyataannya memang benar.
Galang mengusap puncak kepala Clarissa gemas. "Kayaknya kamu mau banget jatuhin perusahaan itu."
Clarissa mengangkat kedua alisnya. "Aku hanya memberinya sedikit peringatan."
"Kamu sampai meminta bantuan Bang Daniel, sepertinya itu bukan hanya sekedar kasus hukum," Galang menyindir.
Clarissa terdiam memperhatikan sang kekasih. Memang tidak sesepele itu. Ia berniat menghancurkan perempuan yang sudah mengibarkan bendera perang padanya.
"Pemilik Beenar memang mempunyai jam terbang tinggi, mereka tidak akan diam saja jika seandainya seseorang mulai mengusik, begitupun perusahaan lain. Aku bisa meminta orang lain membantumu tanpa harus melibatkan namamu, hanya saja kamu sudah terlibat di dalamnya karena firma hukum tempatmu magang. Terlebih kamu juga menolak bantuanku."
Clarissa tercekat menyadari bahwa Galang mengetahuinya.
Galang tersenyum membingkai wajah Clarissa. "Setidaknya aku akan tenang kalau Bang Daniel juga turut berpartisipasi," guraunya terkekeh.
"Sejak kapan kamu tahu?"
"Tentu saja aku mencaritahu, kamu terlalu bersemangat mencari bukti hingga membuat waktu istirahatmu berkurang."
Clarissa tersenyum.
"Tapi apa kamu yakin mau melanjutkan kasusnya? Sedangkan sebentar lagi waktu magangmu selesai," Galang mengingatkan.
"Aku tahu. Untuk itu aku berusaha keras menyelesaikan kasus ini sebelum jadwal magangku selesai."
"Kamu pernah memikirkan kalau seandainya kamu tidak mendapatkan bukti kuat dan justru pihak Beenar melaporkan balik atas tuduhan?"
Clarissa menarik nafas. "Bu Helinda sudah memikirkan hal itu."
"Lalu? Bagaimana kalau klien-mu yang justru di penjara?"
"Untuk itu aku berusaha keras mencari peneliti yang kabur itu," Clarissa bersungut-sungut. "Aku akan menelepon Bang Daniel, dia pasti bisa menemukannya meskipun orang itu berada di lubang tikus sekalipun."
Galang tersenyum, mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerja yang ia bawa, memberikan pada Clarissa.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Bukalah."
Bola mata Clarissa membulat ketika membaca deretan huruf berbentuk kalimat mengenai identitas seseorang. "Kamu mendapatkannya?"
"Sebenarnya aku hanya menunggu, jika tim kerjamu bisa menemukannya, aku akan membuang itu."
"Dan sayangnya Bu Helinda belum bisa melacak keberadaannya," sahut Clarissa lesu. "Titik terakhir yang kami temukan adalah dia yang mengendarai mobil dengan seluruh keluarganya. Kami pastikan kalau mereka akan ke luar negeri. Tapi kami mencari data di beberapa bandara, stasiun dan terminal tidak ada nama orang itu. Bahkan kami juga sudah mendatangi rumahnya, bertanya kepada tetangganya. Semuanya nihil."
"Hanya kasus kecil, perusahaan Beenar tidak mungkin memintanya ke luar negeri. Lagipula korban sudah mendapatkan uang kompensasi. Hanya satu korban yang pada akhirnya memutuskan membawa kasus ke jalur hukum. Itu tidak akan bisa menghancurkan mereka. Terlebih korban tersebut juga sudah mendapatkan uang kompensasi."
Clarissa terdiam, kemudian berucap, "Bu Helinda sudah menjelaskan sebelumnya pada suami dan ibu Erna, kalau mereka sudah menerima uang kompensasi, jika ingin melanjutkan laporan, mungkin pihak perusahaan akan mengungkit itu sebagai pemerasan, tapi mereka tidak peduli. Ibu Erna sadar kalau seharusnya dia tetap melanjutkan laporan dan menuntut perusahaan itu."
"Bagaimana mereka mengembalikan uang kompensasi?"
"Aku tidak begitu yakin, tapi aku pernah mendengar kalau Ibu Erna bersedia mendekam di penjara untuk membayar uang kompensasi asalkan suamiku mendapatkan keadilan."
"Kenapa dia berubah pikiran sekarang?"
"Sebab penyakit suaminya semakin buruk."
Sebelah alis Galang terangkat. "Hanya itu?" ia menyelidik.
Clarissa tampak berfikir. "Sebenarnya suami ibu Erna memiliki riwayat penyakit, ketika mengonsumsi makanan tertentu akan kambuh. Ibu Erna berfikir bahwa olahan makanan pabrik yang di makan suaminya mengandung bahan yang tidak seharusnya di konsumsi, terlebih penanganan pengobatan Dokter yang mencurigakan. Ditambah kondisi suami ibu Erna sekarang kembali tak sadarkan diri setelah mengonsumsi obat dari infus."
"Sudah berapa persen bukti yang kamu temukan?"
"Baru 30%, peneliti juga Dokter belum bisa kami korek lebih dalam," Clarissa terdiam memperhatikan sang kekasih. "Kamu tahu Berlian anak pemilik Beenar, kan?" tanyanya kemudian.
Galang mengangguk.
"Kamu keberatan kalau aku melawan dia?" Clarissa nampak curiga.
Galang mendesah pelan. "Mereka yang bersalah harus bertanggungjawab."
"Kamu jangan empati sama dia kalau dia menderita karena melawan keluarga Van Houten," Clarissa tengah memperingati.
"Aku milikmu, Sayang," Galang mencubit gemas pipi Clarissa. "Lagipula keluarga Van Houten lebih menarik, terlebih salah satu putrinya membuatku tergila-gila. Aku bersedia melakukan apapun untuknya," imbuhnya tersenyum senang.
Clarissa tersenyum saja.
...***...
"Apa?!" Clarissa terkejut hingga beranjak dari kursi mendengar ucapan Juno.
"Benar, Clarissa. Putri pemilik Beenar. Perempuan yang minta ganti rugi sama kamu waktu itu balik melaporkan suami Bu Erna atas tuduhan pemerasan," Juno mengulang ucapannya.
Clarissa terdiam, meskipun ia pernah memikirkan bahwa pihak perusahaan akan melaporkan balik, tapi ia tidak pernah terbayangkan bahwa yang menjadi pelapor adalah Berlian. "Kenapa Berlian?"
"Berlian sendiri yang menulis laporannya," Bu Helinda menyerahkan sebuah berkas pada Clarissa. "Kecil kemungkinan putri Beenar ikut campur masalah ini, terlebih dia sekarang tengah memegang bisnis lain."
"Menurutmu kenapa, Clarissa?" Juno bertanya pada Clarissa.
Clarissa menggeleng. Ia tidak yakin jika itu semua berhubungan dengan apa yang sudah terjadi antara dia dan Berlian. Lagipula sepertinya Berlian belum tahu bahwa ia turut menangani kasus yang menyeret perusahaan milik orangtuanya.
*
Seperti sudah diatur oleh author. Berlian berdiri angkuh di basemen sebuah apartemen untuk menunggu seseorang. Ia sudah meminta security untuk menyampaikan pesannya pada orang tersebut.
Clarissa berjalan menghampiri seorang gadis yang terlihat angkuh tengah berdiri bersandar di kap mobil, kacamata hitam bertengger di hidungnya yang kecil namun bangir. Clarissa melipat tangan. "Tidak ada tempat yang lebih baik kah untuk bertemu? Atau kamu sengaja mencari tempat sepi untuk membalas perbuatanku?" ujarnya penuh sindiran.
Berlian berdecih. "Aku tidak pernah takut denganmu. Malam itu kamu hanya beruntung."
"Lalu?"
"Aku hanya mengingatkan, jangan bermain-main dengan keluargaku. Firma hukum milikmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuasaan keluargaku. Aku sarankan padamu lebih baik kamu mundur."
Clarissa tersenyum kecil. "Jadi benar kamu membuat laporan untuk membalasku?" ledeknya.
__ADS_1
Berlian menatap tajam. "Aku tidak mudah memaafkan orang, dan maaf kalau aku orangnya pendendam."
Clarissa tertawa. "Kamu kalah saing denganku karena cintamu bertepuk sebelah tangan? Kamu mengotori pekerjaanku dengan mencampurkan urusan pribadimu."
"Aku tidak peduli," balas Berlian kian angkuh, ia berjalan mendekat. "Kamu membuat pilihan yang salah karena terlibat dalam masalah dengan keluargaku, Clarissa," tekannya mengancam.
Clarissa turut mendekat. "Dan aku tidak pernah takut menghadapimu. Baik sekarang ataupun di pengadilan nanti," balasnya tak kalah tajam.
"Kamu akan menyesalinya."
"Aku akan tertawa ketika melihatmu kecewa. Sama seperti saat kekasihku tidak memilihmu."
Jemari Berlian terkepal, bukan hanya perempuan di hadapannya yang membuat emosinya naik. Mengingat ancaman Galang yang memintanya tak mengganggu Clarissa juga turut membuat emosinya menyala. "Aku sangat membencimu, Clarissa."
"Me too," balas Clarissa tersenyum sarkas.
"Bukan hanya menghancurkan pekerjaan, aku juga akan mengacaukan hidupmu," Berlian tengah mengancam dengan tatapan tajam.
"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba," balas Clarissa acuh. "Tapi, harus kamu ingat, bahwa aku selangkah lebih cepat darimu," imbuhnya memperingati.
Kilau netra yang nampak teduh itu sama-sama memancarkan sinar laser yang seakan bisa saling menebas nyawa. Keduanya sama-sama memiliki tekad untuk saling menghancurkan. Keduanya sama-sama memiliki tujuan yang kuat. Hanya saja siapakah yang paling bisa bertahan?
...***...
Jemari lentik itu tengah bermain indah di atas keyboard laptop. Kedua ujung bibirnya terangnya setelah berhasil mengirimkan sebuah file kepada seseorang di seberang sana. Kemudian membuka sambungan telepon yang terhubung melalui layar laptop.
"Sudah aku kirim, Bang."
"Kamu sudah memastikan keaslian identitas ini, kan, Cla?"
Clarissa mengangguk. "Terakhir kali dia terlihat di jalan x."
"Butuh segera?"
"Iya, sebelum magangku selesai."
"Mudah saja, beri waktu tiga hari. Cukup?"
Clarissa tersenyum. "Cukup. Terimakasih Bang Daniel."
Daniel mengangguk. "Ini saja? Ada yang lebih sulit?" kekehnya bergurau.
Clarissa mendengus. "Oh, satu lagi. Dokter yang menangani juga perlu diselidiki."
"Siapa namanya?"
"Dokter Fangyu."
"Masalah Dokter biar Abang suruh Aiden saja."
"Aku belum cerita sama Bang Aiden soal ini."
"Kamu tenang saja, biar Abang yang ngomong. Kamu tunggu kabar baiknya saja."
Clarissa mengangguk. "Terimakasih, Abang."
"Bagaimana kabar kamu di sana, Cla?"
"Aku baik, Bang."
"Jangan sok berani, kalau perlu bantuan telepon Abang," Daniel menasehati. Clarissa sudah seperti adiknya sendiri.
"Iya, Bang Daniel, pasti."
"Ya sudah, kamu istirahat, sudah malam. Abang kabarin secepatnya."
Clarissa mengangguk, melambaikan tangan pada layar laptop hingga kemudian sambungan terputus. Ia tersenyum sarkas. "Siapa suruh cari gara-gara gue. Bakal gue buktikan keluarga Van Houten," gumamnya menyeringai.
.
__ADS_1
.