
..."Cinta nggak perlu diucapkan setiap hari, setiap waktu. Seberapa besar cinta aku sama kamu nggak bisa dihitung dengan kata-kata."...
...-Kenneth William-...
...¶¶¶...
Tak terasa ujian sekolah sudah terselesaikan dengan hikmat dan penuh kepercayaan diri. Semua siswa siswi kelas dua belas merasa bisa bernafas lega saat hari itu berakhir. Saat ujung dimana masa belajar mereka selama sekolah dapat dilalui.
Kelegaan yang luar biasa sama-sama mereka rasakan, sesak yang selama ini menghimpit seakan terlepas. Mereka bebas. Meskipun masih ada yang harus dilalui di masa depan, namun setidaknya setelah mereka terbebas dari yang namanya masa SMA, mereka bisa benar-benar lega.
Terlihat beberapa murid yang saling memeluk setelah selesai mengerjakan ujian di hari terakhir. Hanya tinggal menunggu hasil yang sama-sama membuat jantung mereka kembali bertabuh seperti tengah berperang. Namun tak apa, itu masih beberapa bulan lagi. Setidaknya mereka sekarang bisa bernafas lega untuk beberapa hari setelah tenaga yang terkuras saat mengerjakan soal ujian.
"Akhirnya gue bebas!!" teriak Rangga sesaat keluar dari ruang ujian, ia merentangkan kedua tangan.
"Lega banget. Akhirnya gue nggak bakal lagi kena hukum karena nggak ngerjain tugas," Toriq tengah membuka kartunya sendiri.
"Tugas ke depan lebih kejam, Bro," seorang siswa bersahut menepuk pundak Toriq.
"Setidaknya gue sudah bebas kali ini. Masalah itu, mah, pikir entar aja," balas Toriq sekenanya. "Wehh.. Paketuu, nape lo?"
Julio tampak murung saat keluar dari ruangan. "Pusing gue ngerjain soalnya. Pala gue mau pecah. Gila!"
Alex merangkul pundak Julio. "Jangan dibahas, gue juga pusing. Kita nongkrong, yok?" ajaknya kemudian.
"Kemana?"
"Terserah, yang penting enak," tanggap Deni yang juga baru keluar dari ruangan.
"Skuy.. kita berangkat."
Mereka mulai berjalan meninggalkan ruangan yang sudah menjadi saksi bisu kisah mereka selama berperang melawan kertas dengan soal-soal yang membuat otak mereka terbelit.
"Kasih tahu yang lain," ujar Rangga mengingatkan.
Alex mengangguk. "Gue udah chat si Ken sama Putra. Entar yang lain biar ngikut."
*
Chiara dan Mila tampak berjalan berdampingan menuju parkiran. Mereka berdua tengah membahas soal yang baru saja mereka kerjakan.
Bedanya cowok dengan cewek, ya?
Kalau cowok merasa nggak perlu membahas soal pelajaran yang membuat otak mereka panas. Sedangkan cewek masih saja membahas jawaban yang benar atau salah.
"Sayang~"
Chiara dan Mila berbalik.
Putra mendekat serta melingkarkan tangan di pundak Mila. "Kita ikutan nongkrong anak-anak, yuk?" ujarnya.
"Kemana?"
"Cafe, maybe," Putra mengangkat bahu.
"Lo ikutan, Ra?" Mila menatap Chiara.
"Gue tanya Kenneth dulu, dia masih di toilet."
"Kita tunggu di parkiran aja. Anak-anak kayaknya udah ngumpul di sana."
Chiara mengangguk.
Ternyata teman-teman mereka memang sudah berkumpul di parkiran, tengah mengobrol dan bercanda tawa.
"Datang juga," Deni berseru.
"Memang mau nongkrong dimana, sih?" tanya Mila memastikan.
"Karaoke, yuk? Kebetulan nyokap gue baru buka tempat karaoke," usul Alex kemudian.
"Ide bagus, tuh. Bisa gratis kita. Ya, nggak?" tanggap Rangga menyenggol lengan Deni.
"Yo'i."
"Kenneth mana, Ra?" Alex memperhatikan Chiara yang sendirian.
"Masih di toilet. Nah itu dia," Chiara menunjuk pada Kenneth tengah berjalan ke arahnya.
"Ken. Karaoke, yuk?"
Kenneth tak menjawab ajakan Alex, ia justru menatap pada Chiara meminta persetujuan.
Chiara tersenyum dan mengangguk.
"Hm," sahut Kenneth kemudian.
Mereka bergegas menuju tempat karaoke milik keluarga Alex. Dengan Alex sebagai penunjuk arah. Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat karaoke.
Setelah memesan tempat, mereka semua memasuki ruangan, sengaja Alex memesan ruangan yang cukup besar agar bisa menampung mereka semua. Beberapa gadis yang merupakan pacar ataupun gebetan dari mereka pun turut hadir memenuhi dan meramaikan ruangan.
__ADS_1
Akhirnya mereka bisa melepas penat. Mereka bersuka ria berbagi kebahagiaan bersama. Menikmati alunan lagu yang dibawakan masing-masing anak. Hanya satu yang sedari tadi tidak memegang mikrofon. Sudah pasti tahu siapa, 'kan? Siapa lagi kalau bukan Kenneth.
Kenneth hanya duduk bersandar di sofa seraya memperhatikan teman-temannya yang bernyanyi ala konser, ia sesekali geleng-geleng kepala melihat ulah absurd teman-temannya. Bahkan gadisnya pun turut bernyanyi ria, sesekali menatap ke arahnya dengan melempar senyuman yang di sukainya.
Terkadang Kenneth tanpa sadar tersenyum melihat para gadis menyanyi sambil menangis, entah apa yang mereka tangisi, ia tidak habis pikir. Mungkin karena hati wanita terlalu sensitif, hingga hanya membaca lirik lagu melow saja bisa menangis.
Chiara terduduk di samping Kenneth setelah menyelesaikan lagu. Ia menyeka air matanya dengan tisu.
"Kenapa nangis?"
"Lagunya sedih tahu," Chiara mengusapi ujung matanya.
Kenneth hanya geleng-geleng kepala. "Kalau lagunya bikin nangis, kenapa ikutan nyanyi?"
Chiara menyipit tajam. "Kamu nggak dengerin liriknya tadi?"
Kenneth mengernyit.
"Aku terbawa perasaan, liriknya mirip kisah kita yang sebentar lagi LDR-an," Chiara kembali mengusap airmatanya yang mengalir.
Kenneth menarik Chiara ke dalam pelukan. "Itu, kan, cuma lirik lagu, nggak usah di masukin ke hati," ucapnya menenangkan.
Chiara mengangguk. "Ken," panggilnya kemudian.
"Hmm?"
Chiara mendongak "Aku cinta sama kamu," ungkapnya menatap lekat.
Kenneth menunduk, terkesiap dengan ucapan Chiara. "Aku tahu," sahutnya kemudian.
Bibir Chiara mengerucut. "Bukan seperti itu jawaban yang aku mau," protesnya.
"Terus?"
Chiara menarik diri. "Terserah kamu," ketusnya memalingkan wajah, meraih gelas minuman serta meneguknya kasar.
Kenneth menyeringai, sebelah tangannya melingkar di pinggang Chiara.
Chiara tak merespon, ia pura-pura tidak terkejut, meskipun sebenarnya ia mulai gugup.
"Sejauh ini kamu masih meragukan aku?" Kenneth berujar di telinga Chiara.
Chiara menoleh, memutar tubuhnya menghadap Kenneth. "Aku nggak bermaksud meragukan, cuma kayaknya kamu jarang bilang cinta sama aku."
Kenneth menyelipkan anak rambut di telinga Chiara. "Cinta nggak perlu diucapkan setiap hari, setiap waktu. Seberapa besar cinta aku sama kamu nggak bisa dihitung dengan kata-kata. Cukup dengan ini," ia mencuri satu kecupan di pipi Chiara.
"Haish, itu maunya kamu," Chiara merengut sebal.
Chiara menunduk malu, beruntung ruangan sedikit gelap, sehingga rona di pipinya tidak akan terlihat.
"Besok aku mulai ke kantornya Papa lagi," ujar Kenneth melingkarkan tangan di pundak Chiara.
"Beneran jadi Direktur Utama?" ledek Chiara terkekeh.
Kenneth mencubit hidung Chiara. "Selagi nunggu hasil ujian keluar."
Chiara masih terkekeh. "Kapan-kapan aku boleh ke kantor kamu?"
"Boleh, dong. Bawakan bakwan udang lagi, ya?" Kenneth mengangkat kedua alisnya sekali.
Chiara memainkan bibirnya, kemudian mengangguk.
...***...
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Hingga tiba saatnya acara prom night. Acara digelar di gedung sekolah. Suasana malam semakin meriah dengan ruangan di bentuk sedemikian meriah oleh pihak panitia beserta osis.
Seluruh anak mulai kelas sepuluh sampai dua belas turut hadir. Nilai ujian sudah keluar beberapa hari yang lalu dengan hasil yang begitu memuaskan karena seluruh murid SMA VH 21 lulus seratus persen.
Terlihat rona kebahagiaan di wajah siswa siswi yang hadir memenuhi ruangan luas tersebut. Beberapa pengisi acara mulai menunjukkan bakat.
Kenneth, Chiara beserta teman-temannya tengah duduk di salah satu deretan kursi yang telah disediakan untuk kelas dua belas. Mereka tengah menikmati pertunjukan dari para adik kelas. Termasuk juga Clarissa yang merupakan anggota cheerleader.
Seorang pembawa acara menginterupsi acara selanjutnya adalah pertunjukan dari band sekolah. Saat lagu mulai dinyanyikan, dalam layar yang besar nan tinggi itu menunjukkan gambar dan kenangan para siswa-siswi kelas dua belas.
Sorakan semakin meriah saat foto-foto yang lucu mulai muncul, hingga sebuah foto membuat mereka semakin memekik terkejut, begitu pula dua orang yang menjadi tersangka dari foto tersebut.
Chiara dan Kenneth mematung di tempat saat melihat foto keduanya terpampang jelas di layar besar di hadapannya. Di sana, tampak Kenneth yang tengah mencium pipi Chiara, dan bisa dipastikan bahwa foto tersebut diambil di ruang kelas mereka.
"Woo!! Ara cieee?!!" Mila dengan hebohnya menyenggol lengan Chiara.
"Gila.. diam-diam cari kesempatan di kelas lo, Ken!" seloroh salah satu temannya tertawa.
"Pasangan ter ter deh kalian berdua," Julio terbahak-bahak disusul yang lain.
Chiara sudah menunduk malu, pipinya benar-benar bersemu merah hingga ke telinga.
Kenneth menatap dingin teman-temannya yang tengah menggoda dirinya serta Chiara. Ia mengembuskan nafas pelan. 'Sialan. Siapa yang ngambil foto itu?' batinnya merutuk.
Acara berlanjut. Para siswa siswi berpasangan untuk melakukan dansa. Tak terkecuali Chiara dan Kenneth.
__ADS_1
"Ngerasa dejavu nggak?" tanya Kenneth di hadapan Chiara.
Ujung bibir Chiara terangkat, kepalanya mengangguk. "Aku nggak nyangka aja, ternyata kita bersama."
"Boleh aku jujur sama kamu?"
"Apa?"
"Sebenarnya aku sudah tertarik sama kamu saat pertama kali kamu masuk kelas."
Chiara tercekat, netranya melebar sempurna. "Benarkah?"
Kenneth mengangguk.
"Tapi waktu itu kamu dingin banget, aku nggak nyangka kamu bisa ngomong," Chiara terkikik.
"Bawaan lahir."
Chiara mengangguk. "Tapi buktinya kamu bisa ngomong panjang lebar sama aku, itu yang bikin aku senang."
"Itu karena kamu spesial."
Chiara tersipu. "Aku tahu."
Kenneth tersenyum. Kemudian menarik tangan Chiara untuk keluar dari aula. Mengajaknya ke sisi taman yang berada di sayap kiri gedung. Menyaksikan kembang api yang mulai dinyalakan membuat hiasan indah di udara.
Kenneth menatap lekat pada Chiara yang tengah berbinar menatap percikan kembang api yang berkerlap kerlip indah. Jemarinya merogoh saku celana, mengambil sebuah liontin bertuliskan Kenara sebagai gandulnya. Kenneth mengangkatnya di depan wajah Chiara, membuat perhatian Chiara teralihkan.
"Mungkin aku belum bisa memberikan apapun sama kamu. Tapi selama di Jerman. Selama kamu nggak ada di samping aku. Aku berharap kamu akan terus ingat sama aku. Ingat bahwa aku akan selalu nunggu kamu untuk kembali. Dengan liontin ini kamu bisa tahu betapa aku cinta sama kamu. Aku nggak pernah merasa secinta ini sama cewek. Cuma kamu, Chiara," tutur Kenneth menatap lekat manik teduh yang perlahan berkabut karena ucapannya.
Chiara berkaca-kaca mendengar penuturan dari Kenneth. Selama bersama Kenneth, belum pernah pemuda itu mengungkapkan kalimat seindah itu, Chiara sungguh terharu.
Kenneth memakaikan liontin di leher Chiara, mengusap gandulnya. "Kalau suatu saat aku bikin kamu kesel, kita berdua marahan. Kamu lihat liontin ini, kalau apapun yang terjadi aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu."
Chiara mulai terisak. "Aku percaya sama kamu."
"Andaikan suatu saat aku nggak sengaja bilang nggak lagi cinta sama kamu. Kamu jangan percaya. Karena sampai kapanpun aku akan tetap mencintai kamu."
Chiara melesak memeluk tubuh Kenneth, airmatanya sudah tumpah. "Aku cinta kamu, Kenneth, aku mencintaimu."
Kenneth mengelus punggung Chiara. "Aku juga mencintaimu, Chiara. Sangat."
Kenneth menarik tubuh Chiara melepaskan pelukan, kedua tangannya membingkai wajah Chiara untuk menghapus lelehan kristal bening di kedua pipi gadis itu. "Jangan menangis kalau nggak ada aku di samping kamu. Karena aku nggak bisa hapus air mata kamu."
Chiara mengangguk, airmatanya kembali mengalir, ungkapan kalimat perpisahan Kenneth sangat indah dan mengharukan. "Aku akan jaga liontin ini, seperti aku jaga hati aku buat kamu."
Kenneth tersenyum, kepalanya mengangguk.
Chiara membingkai wajah Kenneth, seakan tengah merekam wajah itu dalam ingatan. Kemudian ia berjinjit melabuhkan ciuman di bibirnya, memberikan sentuhan lembut yang mungkin akan ia rindukan.
Dengan senang hati Kenneth menyambutnya. Ia melingkarkan tangan di pinggang Chiara, menarik agar tubuh gadis itu menempel padanya, menikmati rasa manis dari bibir yang menjadi candu untuknya. Memberikan kecupan hangat yang terkesan menuntut. Lidah Kenneth melesak masuk mengabsen deretan gigi, mencumbu habis benda kenyal yang perlahan menebal karena ulahnya.
Keduanya tengah meresapi saat-saat yang mereka miliki sebelum semuanya akan terjarak sebentar lagi.
Kepala Kenneth senantiasa bergerak guna memperdalam ciuman. Menikmati rasa di tiap sisi. Menghirup aroma tubuh yang memabukkan. Merekam kenangan dalam ingatan.
Semoga hati keduanya senantiasa menyatu, entah seberapa besar dan rumit halangan yang akan menimpa mereka ke depannya. Namun selama hati mereka tetap menyatu, tetap teguh, tetap saling percaya, semua rintangan akan terasa ringan, mereka percaya bahwa mereka bisa melewatinya, bisa menghadapinya.
Disaksikan bintang yang tengah berkelip dan juga kembang api yang menciptakan percikan indah. Keduanya sama-sama berjanji untuk saling percaya dan saling menjaga hati. Untuk sesuatu yang lebih besar yang akan mereka lalui, dan berharap agar mereka bisa melalui sampai happy ending.
...Tamat!...
...×°\=[]\=°×...
.
...Waow... Akhirnya selesai juga. 😘...
...Terimakasih buat kalian pembaca setia cerita ini....
...Awalnya aku ragu buat nulis cerita dengan tokoh yang banyak, takut salah sebut atau salah alur....
...Tapi ternyata aku bisa.. yeay!!...
...Banyak kurangnya, harap maklum....
...Thank You so much buat para pembaca yang selalu kasih vote and komen....
...Terimakasih juga untuk para pembaca yang cuma baca aja. 😉...
...Aku seneng banget. Akhirnya cerita ini bisa rampung. Hiks, terharu aku tuh. 😣...
...Ku beri bonus part, tenang. 😚...
...Btw mampir juga di cerita aku yang lainnya ya. Search aja pake nama Saskavirby. Atau bisa langsung klik profilku....
...Terimakasih.. 🥰...
...^^^Salam sayang, Author.^^^...
__ADS_1
...SASKAVIRBY...