
..."Kalau kamu berfikir aku yang akan menyerah, justru aku yang takut kamu akan berpaling." ...
...-Kenneth William-...
...ΒΆΒΆΒΆ...
Tak terasa ujian sekolah semakin dekat, dan tak terasa pula tanggung jawab Kenneth terhadap jabatannya sebagai ketua osis sudah selesai. Tinggal membimbing adik kelas berikutnya yang akan menggantikan posisinya.
Hari itu pihak sekolah mengundang orang tua wali murid untuk datang ke sekolah guna membahas masalah ujian dan juga kegiatan akhir sekolah. Beberapa murid duduk di depan kelas menantikan orangtua mereka hadir untuk mengikuti rapat. Ada pula yang menunggu di halaman depan sekolah, karena sebagian besar orangtua belum mengetahui ruang kelas dari anak-anak mereka.
Tampak beberapa wali murid yang sudah datang. Bisa dipastikan sekolah akan penuh sesak dengan kedatangan hampir seluruh wali murid sekolah SMA VH 21. Memang begitulah kenyataannya, setiap tahun selalu diadakan pertemuan.
Terlihat kedua orang tua dari Chiara dan Clarissa yang baru saja turun dari mobilnya. Sandy terlihat berpakaian formal dengan jas kerja berwarna abu-abu dan kemeja putih yang membungkus tubuhnya. Sedang sang Ibunda mengenakan dress berwarna putih dengan hiasan bunga berwarna abu-abu, senada dengan jas yang dikenakan Sandy.
Chiara dan Clarissa menghampiri orangtuanya. Memberikan pelukan hangat pada Bunda dan juga Daddy. Beberapa wali murid memberikan anggukan hormat kepada Sandy dan juga Stella yang merupakan pemilik sekolah sekaligus orang terpandang di negara ini. Meskipun sudah lama meninggalkan Indonesia, namun tak sedikit yang tak mengenalnya.
"Biar Bunda yang ke kelas Clarissa, Daddy yang ke aula sekolah," ujar Stella mengusulkan.
Chiara dan Clarissa mengangguk. Karena memang untuk wali murid kelas dua belas, pertemuan diadakan di aula sekolah.
Belum sempat mereka berjalan, sebuah suara menyapa.
"Stella?"
Ke empatnya menoleh ke asal suara, di sana berdiri Rega dengan pakaian formalnya.
"Hai, Ga, apa kabar?" sapa Stella kemudian.
Rega mengangguk. "Seperti yang kamu lihat," jawabnya tersenyum. "Ini pasti Chiara dan Clarissa, ya?" tebaknya.
Chiara dan Clarissa saling tatap. Jujur saja mereka tidak mengenal pria di hadapannya.
Melihat kebingungan sang anak, Sandy berucap, "Dia Om Rega, suami Tante Intan, Papanya Galang."
Kedua gadis berparas cantik itu terkejut, terlebih Clarissa yang tiba-tiba gugup.
"Bagaimana kabarnya, Om?" sapa Chiara mencium punggung tangan Rega, diikuti Clarissa.
"Om baik. Jadi, yang mana yang namanya Clarissa?" Rega menatap keduanya bergantian.
"S-aya, Om," jawab Clarissa gugup.
Rega tersenyum, saat hendak membuka suara tiba-tiba Sandy berdehem.
"Ehem!"
Kelimanya merasa canggung, inisiatif Stella kembali membuka suara.
"Oh, iya, kapan kamu tiba, Ga?"
"Kemarin aku dan Intan baru sampai, Ste."
Stella mengangguk. "Intan tidak ikut?"
"Enggak, dia di rumah sama Giselle," Giselle merupakan adik dari Galang.
Galang yang berjalan di koridor tak sengaja melihat papanya berbincang dengan keluarga Clarissa, ia menghampiri. "Pa."
Rega menoleh, menepuk-nepuk pundak Galang.
"Selamat pagi, Om, Tante," sapa Galang kemudian.
"Pagi."
"Pagi, Galang."
__ADS_1
Jawab Sandy dan juga Stella bersamaan.
"Dimana ruangan kamu? Papa ingin bertemu dan bertanya banyak hal dengan wali kelas kamu," ucap Rega menatap Galang.
Galang mengangguk.
"Aku duluan," Rega menatap Sandy dan Stella bergantian. "Clarissa, Chiara, Om duluan, ya?" pamitnya kemudian.
"Iya, Om."
"Iya."
"Permisi, Om, Tante," pamit Galang selanjutnya. Setelah mendapat anggukan dari kedua orangtua Clarissa Galang berbalik, tapi sebelumnya ia mencuri tatap pada Clarissa yang juga tengah menatapnya.
"Ayo, Dad," Chiara melingkarkan tanga di lengan Sandy.
"Sayang, aku ke aula dulu," pamit Sandy mengelus lengan Stella.
Chiara menuntun ayahnya menuju aula sekolah, hampir seluruh tatapan mata tertuju ke arahnya, atau lebih tepatnya sang ayah, yang masih terlihat tampan dari usianya. Di depan aula mereka bertemu dengan Kenneth.
Kenneth yang melihat sang kekasih bersama orangtuanya pun bermaksud menyapa. "Pagi, Om."
"Pagi, Kenneth," Sandy menyahut. "Om masuk dulu," ucapnya menepuk pundak pemuda di hadapannya.
Kenneth mengangguk. "Bunda kamu ikut?" tanyanya pada Chiara.
"Iya, Bunda ke kelas Clarissa. Orangtua kamu udah datang?"
"Mama udah di dalam."
Chiara membulatkan mulutnya.
"Mau pulang sekarang?" Kenneth bertanya.
"Anak-anak pada kemana?"
"Ikutan, yuk?"
Kenneth mengangguk.
Sebenarnya ketika para orangtua murid melakukan pertemuan, para murid diperbolehkan untuk pulang, karena tidak ada jadwal kegiatan belajar mengajar setelahnya. Jadi mereka bisa bebas.
Kenneth dan Chiara berjalan beriringan menuju puncak tertinggi gedung sekolah, lebih tepatnya rooftop, sebenarnya bukan mereka saja yang biasa ke sana, murid lain pun pernah, karena hampir setiap gedung mempunyai rooftop, jadi bisa di bayangkan berapa luas dan banyaknya rooftop di sekolah mereka. Tapi yang biasa di tempati Kenneth dan kawan-kawannya adalah yang berada di atas gedung bagian sayap kiri, atau yang berada di atas gedung olahraga indoor.
Chiara membuka pintu dan terkejut saat melihat pemandangan di depannya, begitu pula Kenneth yang juga nampak terpaku. Mereka berdua menelan salivanya alot, bahkan Chiara sampai harus memalingkan wajah.
Pemandangan yang tersuguh di hadapannya membuat Kenneth merasakan gejolak aneh dalam dirinya, terlebih saat melihat wajah Chiara yang berpaling dengan kedua pipi yang bersemu.
"Ehem!!" Kenneth berdehem keras untuk menghentikan aktifitas dua sejoli yang sedang bercumbu di atas sofa usang, posisi mereka benar-benar membuat Kenneth harus menahan geraman.
Tak beda jauh dengan Chiara, ia terlalu gugup hingga meremas kedua jemarinya di belakang tubuh. Bagaimana tidak. Seorang siswi tengah duduk di pangkuan siswa, sedang sang siswa tengah menjelajahi leher sang siswi dengan lidahnya, jangan lupakan suara erangan dari sang siswi. Chiara sampai merinding dibuatnya.
Dua sejoli itu tersentak oleh kehadiran Kenneth dan juga Chiara, mereka segera merapikan penampilan mereka yang entahlah.. dan segera berlalu.
Kenneth dan Chiara berdiri bersandar pada balkon, keduanya diam, sebenarnya sedikit canggung setelah kejadian yang keduanya lihat barusan.
"Em, mereka dimana?" Chiara membuka suara.
Kenneth membuka ponsel. "Mereka di kantin," jawabnya membaca balasan dari Alex yang tidak ia ketahui sebelumnya.
"Ayo ke sana?" ujar Chiara melirik Kenneth pelan, ia benar-benar canggung sekarang.
"Ra," Kenneth menahan tangan Chiara yang akan beranjak.
"A-apa?" jawab Chiara gugup.
__ADS_1
'Kenapa gue mendadak jadi gugup begini? Sialan,' umpat Kenneth dalam hati.
Tanpa saling mengetahui, jantung keduanya sama-sama berdetak up normal, bahkan saat jemari keduanya bersentuhan membuat gelenyar aneh dalam diri Kenneth semakin memuncak.
"Kapan kamu berangkat ke Bandung?" Kenneth berusaha mengalihkan pikirannya yang kotor.
"Mungkin besok."
"Kamu beneran nggak ikut aku sama anak-anak?"
Chiara menggeleng. "Meskipun aku nyusul ke sana, waktunya juga nggak bakal cukup. Kita cuma punya waktu liburan seminggu, 'kan?" Jeda. "Memangnya nggak bisa di undur, gitu? Selesai ujian aja kek liburannya. Kan aku juga pengen ikut kalian," imbuhnya mengerucut sebal.
Kenneth tersenyum, mengusap kepala Chiara pelan. "Kamu kapan berangkat ke Jerman?"
"Ha? Emm, mungkin setelah ujian, aku harus ngurus beberapa prosedur pendaftaran di sana. Setelah itu balik lagi ke Indonesia."
"Kita liburan setelah kamu pulang dari Jerman."
Bola mata Chiara membulat. "Kamu serius?"
Kenneth mengangguk. "Iya."
Chiara tersenyum lebar, tapi kemudian kembali redup. "Tapi, kan, kamu ada kerjaan di kantor Papa kamu."
"Nggak apa-apa, aku bebas masuk kapan saja, yang penting sebelum kamu ke Jerman kita liburan berdua, mau?"
Chiara tidak bisa tidak tersenyum kembali, bagaimana mungkin ia menolak diajak liburan berdua dengan kekasihnya, karena mungkin setelah itu mereka tidak bisa bertemu dalam waktu yang cukup lama. Sebab Chiara akan fokus dengan kuliahnya di Jerman.
Chiara melesak masuk ke dalam pelukan Kenneth, tentu saja Kenneth menyambutnya dengan senang hati.
"Aku pasti bakalan kangen banget saat-saat kayak gini sama kamu. Apa kita bisa bertahan, Ken?" Chiara mendongak menatap Kenneth. Jujur, ia tidak yakin bisa menjalani hubungan jarak jauh atau LDR bahasa kekiniannya.
"Kamu yakin dengan hati kamu?"
Kening Chiara mengerut.
"Kalau kamu ragu sama perasaan kamu sendiri, kamu otomatis nggak akan bisa bertahan, Ra."
Chiara segera menggeleng. "Aku percaya sama diri aku sendiri, aku yakin aku bisa. Tapi, aku takut kamu.."
Kenneth menutup mulut Chiara dengan jarinya. "Aku percaya sama kamu, Ra, begitu juga aku percaya sama diri aku sendiri. Kita berdua pasti bisa, aku pasti bakal nungguin kamu buat kembali sama aku. Kamu percaya sama aku, 'kan?" Kenneth membingkai wajah Chiara.
Chiara menatap manik legam di hadapannya, ia menemukan keseriusan di sana.
"Kalau kamu berfikir aku yang akan menyerah, justru aku yang takut kamu akan berpaling."
Chiara menggeleng cepat. "Enggak, aku nggak akan melakukan itu, kamu percaya sama aku, kan, Ken?"
Kenneth menatap lekat wajah Chiara, kemudian tersenyum. "Aku percaya."
Chiara ikut tertular senyuman Kenneth. "Aku berharap kita bisa sampai akhir."
"Aminn."
Keduanya tersenyum, Kenneth menundukkan kepalanya dan mencium bibir Chiara dengan lembut.
Chiara memejamkan mata untuk menyambutnya. Ia mendongak untuk memberikan akses penuh pada Kenneth.
Sebelah tangan Kenneth menahan kepala Chiara guna memperdalam ciumannya, menyesap rasa manis dari bibir yang menjadi candu.
Ciuman yang panjang itu diakhiri dengan pelukan hangat oleh keduanya. Berharap doa yang baru saja mereka ucapkan suatu hari nanti akan menjadi kenyataan, dan Tuhan akan mengabulkannya.
Semoga.
π
__ADS_1
ππ