KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
46. Ke [tidak] percayaan


__ADS_3

Galang menarik tangan Clarissa menuju rooftop gedung sekolah, keduanya duduk di kursi yang tersedia.


Clarissa hanya menurut, memperhatikan Galang yang beberapa kali memalingkan serta mengusap wajahnya. "Galang, ada apa?" ia nampak khawatir dengan perubahan sikap Galang.


Galang menoleh, beberapa kali menghela nafas kasar, tangannya terulur menggenggam jemari Clarissa. "Cla, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, apa kamu juga cinta sama aku?"


Clarissa tertegun mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Galang, kedua alisnya menyatu.


"Jawab, Cla?" desak Galang tak sabar.


Clarissa berkedip beberapa kali, kemudian mengangguk. "Iya, aku cinta sama kamu, Lang, bukannya kamu sudah tahu?"


Galang melipat bibirnya ke dalam. "Bagaimana kalau sebenarnya kita berdua adalah saudara?"


Clarissa tercengang. "Apa??" "Maksud kamu apa, Lang?" tanyanya tak mengerti.


Kepala Galang menunduk sejenak, kemudian kembali mendongak menatap Clarissa. "Cla, aku akan pertahanin kamu," tekadnya membingkai wajah Clarissa. "Tidak peduli kalau kita sedarah, tapi aku akan perjuangin kamu, aku cinta sama kamu, Cla."


Clarissa membeku, netranya menatap lekat manik mata legam yang perlahan berkaca-kaca. Ia menyentak tangan Galang yang membingkai wajahnya. "Maksud kamu apa, Galang?!"


Galang menghembuskan nafas pelan. "Apa benar kamu anak pemilik sekolah?"


Kening Clarissa mengkerut, kemudian mengangguk pelan. "Iya."


Galang merapatkan kedua matanya, mendongak menatap langit kemudian kembali menatap Clarissa. "Kamu anaknya Tante Stella dan Om Sandy?"


Bibir Clarissa terbuka. "Apa hubungan kamu dengan orangtuaku? Kenapa kamu memanggilnya Om dan Tante?" tuntut Clarissa nampak khawatir.


Galang hanya diam memperhatikan Clarissa.


Clarissa menggoyangkan lengan Galang. "Galang, jawab pertanyaan aku?" netranya sudah berkabut, lelehan bening seakan mendesak ingin keluar.


"Kamu tahu siapa nama adik Bunda kamu? Tante Stella?"


Clarissa nampak berfikir. "Tante Intan," jawabnya ragu.


"Kamu tahu siapa dia?"


Pikiran Clarissa melayang pada keluarganya, ia tidak begitu akrab dengan tantenya, karena mereka telah pindah ke Jerman, bahkan Clarissa sendiri tidak tahu rupa wajah tantenya itu, hanya sewaktu kecil ia pernah bertemu, namun ia benar-benar tidak ingat. Hanya tahu dari cerita sang bunda bahwa ia mempunyai tante bernama Intan, dan juga mempunyai saudara sepupu bernama..


Kedua bola mata Clarissa membulat. "Ja-jangan bilang kamu.. kamu Galang anaknya tante Intan dan Om Rega?" tebak Clarissa seakan berhasil menyusun puzzle yang rumit. Bibirnya bergetar.


Galang menatap Clarissa, kemudian mengangguk lemah. "Iya Cla, itu aku."


Lelehan bening mengalir membentuk anak sungai, Clarissa menangis. "Tidak. Itu tidak mungkin."


Galang menarik Clarissa ke dalam pelukan, keduanya merasa sakit mendengar kenyataan pahit itu.


"Kenapa, Galang? Kenapa?" racau Clarissa memukul dada Galang.


"Aku akan perjuangin kamu, Cla," bisik Galang meyakinkan, meskipun ia sendiri tidak yakin akan mendapatkan restu dari keluarganya. Kenyataan itu memukul keras jantungnya, dadanya terasa sesak, bahkan untuk membayangkan berpisah dengan Clarissa ia tidak bisa, ia tidak ingin.


Clarissa masih menangis meraung dalam pelukan Galang, menyesakkan kepalanya di dada Galang, mencengkeram erat seragam belakang Galang. Ia juga sama tersiksanya.


Galang menarik diri, membingkai wajah Clarissa, menghapus air matanya. "Kamu percaya sama aku?" ujarnya serak.


Clarissa tidak menjawab, ia tidak tahu harus bagaimana, pasti orangtuanya tidak akan mendukung hubungannya dengan Galang, mereka berdua saudara, mereka berdua sedarah, hal yang tidak bisa dihindari. Air matanya kembali tumpah.


"Cla, percaya sama aku," ucap Galang meyakinkan.


"Bagaimana kalau orangtuaku tidak setuju, Galang. Tidak. Mereka pasti mengekang hubungan kita," Clarissa menunduk, jantungnya seperti di tusuk ribuan jarum. Sangat sakit dan sesak.


Galang kembali menarik wajah Clarissa agar menatap padanya, tak beda jauh dengan Clarissa, Galang juga sakit. "Cla, aku serius, aku ingin memperjuangkan kamu, aku pastikan mereka merestui hubungan kita," satu bulir airmata Galang jatuh.


Clarissa tersentak melihat Galang menangis, tangannya terulur untuk menghapus.


Galang memejamkan mata merasakan tangan halus Clarissa menyentuh kulitnya. "Aku cinta sama kamu, Cla," ungkapnya sungguh-sungguh.


Clarissa terisak. "Jangan bicara apapun."


"Aku mencintaimu, Clarissa."


Clarissa menggeleng, air matanya kembali mengalir. "Jangan katakan apapun, Galang."


"Aku sungguh mencintaimu, Clarissa."

__ADS_1


Tak tahan, Clarissa menarik seragam Galang dan menyatukan bibirnya, melum*tnya kasar.


Galang membalas ciuman Clarissa, sama-sama kasar dan mendamba seakan ingin meredakan kesesakan yang menembus jantungnya. Menumpahkan segala beban yang menimpa hubungan mereka, tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, mereka benar-benar tidak ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Dengan air mata yang terus mengalir, kedua bibir mereka masih terus berpag** dan ******* kasar. Hingga perlahan ciuman kedua melembut, tak sekasar sebelumnya, bahkan kini terlihat sangat lembut dan saling membutuhkan.


Clarissa terisak di sela ciumannya, tangannya mencengkeram erat seragam Galang.


Keduanya menarik diri, menghirup udara guna memenuhi rongga dada yang terasa sesak kehabisan nafas.


Galang menyeka air mata Clarissa, menyatukan keningnya. "Mari berjuang bersama." Tak mendapatkan jawaban, Galang menarik diri, menatap wajah sendu gadis di hadapannya.


Tak ada habisnya Clarissa menangis, air matanya kembali mengalir. Menatap Galang yang seakan memberinya kekuatan bahwa mereka bisa menghadapi kenyataan pahit itu bersama. Perlahan kepalanya mengangguk.


Galang menarik Clarissa ke dalam pelukan, menciumi puncak kepalanya.


"Aku mencintaimu, Galang," ucap Clarissa lirih.


Mendengar kalimat Clarissa, Galang semakin mengeratkan pelukannya, memberikan ciuman bertubi-tubi pada kepala dan pelipis Clarissa.


Keduanya sudah memutuskan, akan terus berjuang bersama, meskipun kecil kemungkinan keluarga akan merestui hubungan mereka, karena darah yang mengalir pada keduanya tidak bisa membohongi bahwa itu sama. Namun keduanya bertekad, selama masih bisa diperjuangkan, akan mereka perjuangkan, entah bagaimana akhirnya nanti.


...***...


Hari yang ditunggu tiba, malam itu kediaman keluarga Van Houten sudah disulap menjadi sedemikian mewah dengan hiasan di setiap incinya.


Hari itu merupakan hari kelahiran putri pertama mereka yang ke delapan belas tahun. Tidak banyak yang diundang, hanya beberapa teman sekolah Chiara dan Clarissa. Itu juga merupakan keinginan Chiara yang tidak ingin acara ulangtahunnya diadakan sangat mewah seperti sebelumnya. Sepertinya ia merasa tidak seharusnya seperti itu, atau mungkin ia mulai bosan.


Dengan gaun merah yang membalut tubuhnya, Chiara nampak sangat cantik malam itu. Ditemani sang Bunda yang berdiri di sampingnya menyalami tamu yang datang.


Tiba saatnya Galang hadir, dengan langkah pelan namun pasti ia berjalan menuju Chiara, dengan kotak berbungkus kertas berwarna biru di tangan kirinya. "Selamat malam, Ra, selamat malam, Tante," sapanya menyerahkan kado pada Chiara. Sejak mengetahui bahwa Chiara merupakan teman masa kecilnya, Galang merubah panggilannya terhadap Chiara, mungkin karena dulu keduanya masih balita sehingga tidak menyadari bahwa keduanya adalah saudara.


"Malam, Galang," balas Chiara tersenyum menerima hadiahnya. "Terimakasih."


"Loh, kamu Galang, 'kan?" Stella nampak mengingat -ingat.


Galang tersenyum kecut. "Iya, Tante," ia mencium punggung tangan Stella.


"Kalian satu sekolah?"


Chiara yang bingung hanya mengangguk. "Iya, Bunda, dia ini pac—"


"Alhamdulillah Tante baik. Tidak disangka ternyata kamu juga sekolah di tempat yang sama dengan anak Tante, kenapa Tante jadi lupa begini, ya?" Stella terkekeh. "Bagaimana kabar mamya kamu? Sudah baikan?" tanyanya kemudian.


Galang tersenyum masam. "Alhamdulillah Mama sudah dibawa pulang."


"Mungkin besok Tante baru ke Surabaya jengukin Mama kamu," Stella kembali berujar.


"Iya, Tante, terimakasih," balas Galang sekenanya.


Chiara yang penasaran pun berujar, "Bunda kenal sama orangtuanya Galang?"


Stella tersenyum. "Kamu belum tahu, ya? Galang ini anaknya Tante Intan, adiknya Bunda."


Chiara melotot. "Apa?"


Stella terkesiap. "Kenapa kaget begitu, sih?" tanyanya heran. "Wajar, sih. Kalian itu belum pernah ketemu. Oh, pernah waktu kecil, pasti kalian berdua tidak ingat, ya?" Stella kembali terkekeh, anak bayi saling bertemu pasti tidak akan ingat.


Chiara memerhatikan Galang yang tersenyum paksa, ia tidak menyangka bahwa mereka saudara, itu berarti Galang dan Clarissa? Apa itu alasan Clarissa kemarin murung? Astaga? Chiara menutup mulutnya.


"Iya, Ra, gue juga lupa lupa ingat," Galang terkekeh paksa.


"Tunggu, Tante bingung. Bukannya Ara sudah pindah beberapa bulan ke Indonesia dan sekolah di tempat yang sama, sama kamu Galang?" Stella menatap keduanya bergantian. "Apa yang terjadi? Kalian tidak saling mengenal?" tebaknya.


Galang memperhatikan Chiara yang nampak terkejut. "Galang bukan tipe orang yang peduli sekitar, Tante. Jadi baru-baru ini tahu kalau Chiara dan Clarissa ternyata anaknya Tante Stella, maafkan Galang, Tante," terangnya yang seratus persen bohong.


Stella mengangguk. "Baiklah, Tante maklum." ia menepuk lengan Galang. "Oh, silahkan menikmati hidangan, Om Sandy dan yang lain ada di sebelah sana," Stella menunjuk ke arah kursi yang di tempati keluarganya.


Galang mengangguk. "Permisi, Tante," pamitnya kemudian.


Tak berapa lama acara dimulai, menyanyikan lagu selamat ulangtahun, tiup lilin, dan potong kue. Setelahnya memasuki acara makan malam bersama. Meja panjang sudah disediakan serta kursi-kursi yang di tata rapi untuk acara. Pihak keluarga menempati meja yang sama, dengan Sandy sebagai kepala keluarga yang duduk di ujung, beberapa teman sekolah Chiara pun turut dalam satu meja itu.


Sandy berdehem, "Jadi, yang mana yang namanya Kenneth?" ia membuka suara.


Semuanya mendongak.

__ADS_1


"Dad," protes Chiara, sedangkan yang lain tersenyum menggoda.


Kenneth yang merasa disebut namanya menjawab. "Saya, Om," jawabnya.


"Kamu pacaran sama anak saya?"


"Dad," Chiara berharap bahwa sang ayah tidak akan mempermalukannya.


"Iya, Om," jawab Kenneth tanpa keraguan.


"Tolong jaga putriku."


Chiara mendongak menatap sang ayah, tidak menyangka sang ayah akan berkata seperti itu.


"Pasti, Om," sahut Kenneth yakin, dan ia memang sudah berjanji untuk menjaga yang sudah menjadi bagian hidupnya.


Kedua netra Chiara berkaca-kaca melihat sang ayah yang tersenyum padanya. "Love you, Dad," ucapnya dengan gerakan bibir.


"Love you too," balas Sandy turut melakukan apa yang putrinya lakukan.


Galang mengeratkan cengkeraman tangan pada sendoknya, bisakah ia mendapatkan restu seperti itu? Atau justru ia akan mendapatkan penolakan?


Clarissa menunduk, meremas gaunnya erat, menghirup udara pelan dan dalam, berusaha agar air matanya tidak jatuh. Kepalanya mendongak dan bersibobrok dengan Galang. Ia menghembuskan nafas panjang melihat Galang yang menganggukkan kepala seakan berkata semua akan baik-baik saja.


Semua acara sudah hampir selesai dilaksanakan, tibalah saat penyerahan kado kepada sang putri dari kedua orangtuanya.


"Ayo kita lihat hadiahnya, sepertinya sudah sampai," Stella berujar riang.


Chiara menoleh. "Aku jadi deg-degan."


Hampir seluruh tamu mengikuti sang pemilik rumah menuju halaman depan.


Chiara menutup mulutnya tak percaya dengan hadiah yang ada di depan mata. "Bunda, Daddy, ini untukku?" tanyanya tak percaya.


"Iya, Sayang, kamu sudah delapan belas tahun, jadi sudah boleh mengemudikannya," Sandy mengusap kepala sang anak.


Chiara memeluk sang ayah. "Thank you, Dad," ucapnya haru. "Thank you, Bunda," beralih memeluk sang ibu.


Beberapa temannya terkejut dengan hadiah yang Chiara dapatkan dari orangtuanya, sebuah mobil sport dengan warna merah darah, serta atap mobil yang terbuka dengan hiasan pita besar di bagian depannya membuat seluruh mata tercengang. Beberapa dari mereka mulai mengerubungi mobil tersebut.


"Sepertinya percuma Ara dapat hadiah mobil," celetuk Julio tiba-tiba, membuat seluruh tamu dan pemilik kediaman mengerutkan dahi.


"Maksud lo apa, Jul?" tanya Rangga tak mengerti.


"Dia pasti lebih milih berangkat sekolah bareng Kenneth daripada mengendarai mobil ini sendirian, ya, nggak?" godanya menyenggol lengan Kenneth yang berdiri di sampingnya.


"Benar juga, ya," tanggap Deni tersenyum lebar.


Sontak seluruh tamu membenarkan pernyataan dari Julio.


Respon Kenneth hanya diam saja, sedangkan Chiara menunduk malu.


"Benar begitu, Ara?" Sandy turut menggoda sang anak.


Chiara mendongak. "Daddy~"


Sandy tertawa melihat respon anaknya yang cemberut.


📚


📚


°°[]°°


Yang baca cerita 'Bunda untuk Daddy' di lapak sebelah pasti 'nggeh kalau Galang anaknya Intan ѕαмα Rega.


Kenapa mereka tidak saling kenal?


Jawabannya.. sewaktu kecil sebelum Clarissa lahir, Galang pernah bertemu dengan Chiara di rumah kakek dari pihak Stella di Bandung. Waktu itu Intan cerita mau ikut suaminya pindah ke Dubai, dan setelah dewasa Galang memilih tinggal bersama neneknya di Jakarta, sedangkan orangtuanya di Surabaya.


Sementara saat Chiara umur delapan tahun, Sandy sekeluarga pindah ke Jerman. Hanya Aiden yang tahu Galang, tapi waktu itu dia masih sekolah dasar, agak lupa.


Ingat, kan, pertama kali Galang ke rumah Chiara, waktu Galang nyebutin namanya, Aiden sedikit terkejut. Karena namanya persis denganz nama anak tantenya, Intan.


Jadi sudah paham ya sampai sini? Terimakasih...

__ADS_1


Vote & komentar yg banyak dong....!!!!


Terimakasih 😘


__ADS_2