KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
19. Rahasia besar


__ADS_3

Hampir sepuluh menit Clarissa, Kenneth, Mila, Julio, Alex, Hanin dan Zia menunggu Chiara yang belum juga tersadar. Wajahnya, telinga, dan juga lehernya masih memerah. Sesampainya di uks tadi, Clarissa gegas menghubungi dokter yang biasa menangani Chiara, namun hingga sekarang dokter tersebut belum juga sampai.


Clarissa duduk di samping bed, ia terisak menyentuh tangan Chiara. Mila, Hanin dan Zia bergantian mengusap lengan Clarissa untuk menenangkan. "Maafin, Cla, Kak. Maaf," sesalnya menciumi tangan Chiara.


Tak berapa lama dokter datang.


"Apa yang terjadi dengan Ara, Cla?" tanya sang dokter seraya membuka tasnya mengambil stetoskop.


Clarissa mengusap air matanya. "Kak Ara makan bakso, Om."


Terlihat sang dokter menghela nafas. "Berapa banyak?" tanyanya tanpa menoleh.


"Ti-tiga sendok, Om,” jawab Clarissa sesegukan.


Julio menyenggol lengan Alex, kemudian keduanya mengangkat bahunya dan menggeleng.


"Kamu yakin, Clarissa?" tanya sang dokter memastikan.


Clarissa gelagapan, mengangguk pelan kemudian menggeleng.


Tak berapa lama Chiara tersadar, terkesiap melihat Om Rian —dokter pribadi keluarganya. ada di depannya.


Dokter Rian mengangkat tangannya menyadari gelagat Chiara yang hendak berbicara. "Berhenti, Om harus bicarakan hal ini dengan Daddymu."


Chiara menggeleng cepat, ia menarik lengan Clarissa.


"Om, please, jangan katakan kejadian ini sama Daddy dan Bunda, mereka pasti khawatir, Om. Clarissa mohon,” pinta Clarissa menyatukan kedua tangannya.


Tampak Chiara juga mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menyatukan kedua tangannya.


Kompak teman-temannya saling tatap bingung melihat ketiganya berdebat.


"Please, Om. Cla janji ini yang terakhir," Clarissa mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Dokter Rian menghembuskan nafas panjang. "Baiklah,” putusnya menyetujui. “Seperti sebelumnya, kamu hanya boleh makan bubur, tidak boleh berbicara selama tiga hari, dan hanya boleh minum air hangat kuku, dan rajin minum obatnya, oke," terangnya mengelus kepala Chiara.


Lagi, teman-temannya terkejut mendengar penuturan Dokter Rian, separah itukah penyakit Chiara.


"Apa yang terjadi dengan Ara dok?" Kenneth yang sedari tadi terdiam akhirnya buka suara, dirinya nampak penasaran.


"Kamu bisa tanyakan sama Clarissa, anak muda. Om pamit dulu."


"Terimakasih, Om,” ucap Clarissa.


"Cla, kamu juga harus jaga diri, Om bisa menebak kejadian ini ada sangkut pautnya dengan alergi kamu," tebak Dokter Rian.


Clarissa terkesiap. "Baik, Om. Terimakasih."


"Cepat sembuh, oke." Dokter Rian kembali menepuk pelan pipi Chiara.


Chiara mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Clarissa mengambil air hangat kuku dalam gelas yang berada di atas nakas, membantu Chiara meminumnya.


"Jadi Chiara sakit apa, Cla?" Julio buka suara, karena jujur dirinya juga penasaran.


Clarissa melirik Chiara meminta persetujuan, ia menghembuskan nafas panjang saat Chiara memberi izin. "Kak Ara mengidap alergi radang tenggorokan, dia enggak bisa makan pedas, efeknya tenggorokan terasa terbakar, susah buat ngomong. Jadi selama penyembuhan Kak Ara dilarang berbicara sebab mempengaruhi pita suaranya. Hanya boleh makan makanan halus, bubur sumsum, selain itu tidak boleh. Dan juga hanya bisa minum air hangat kuku, tidak boleh terlalu panas, apalagi dingin," tuturnya menatap Chiara yang terbaring di bed.


"Berapa lama akan sembuh?"


Clarissa menoleh pada Mila. "Paling sebentar tiga hari, tapi kalau parah bisa seminggu lebih."


"Jadi selama itu Ara nggak boleh ngomong?"


Clarissa mengangguk mengiyakan pertanyaan Julio.


"Kasihan banget lo, Ra. Enggak tega gue lihatnya," ujar Alex prihatin.


"Bentar, deh. Kalau Kak Ara tahu dia enggak bisa makan pedas, terus kenapa tadi dia mau gantiin lo makan bakso, Cla?"


Ucapan Zia diangguki Hanin dan juga Mila yang memang tahu kejadian sebenarnya.


Sementara Kenneth mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Clarissa, namun netranya terfokus pada Chiara yang berbaring sesekali meringis.


Clarissa menunduk, memilin kedua jarinya, ia terlihat gugup. "Sebenarnya, Gue alergi baso,” lirihnya.


"What?"


"Apa?"


"Ha?"


Hanin dan Zia mengelus lengan Clarissa. "Gue enggak tahu kalau lo punya alergi kayak gitu, Cla."


"Pantesan tiap gue tawarin makan bakso di kantin, lo selalu nolak."


"Sorry, Cla."


"Kalian tenang aja, gue nggak apa-apa kok."


"Keterlaluan, ya, si Vanya, bisa-bisanya ngerjain lo,” sungut Zia kesal.


"Ini ulah si Vanya?" tanya Julio memastikan.


Chiara menyerahkan ponselnya ke arah Mila setelah ia mengetik sesuatu di sana.


"Udahlah, lagian si Vanya enggak tahu kalau gue enggak bisa makan pedas dan Clarissa alergi baso," Mila membaca tulisan di ponsel Chiara.


Terlihat Chiara yang mengangguk-angguk.


"Eh, Ra. Kalau Abang lo tahu gimana?" Mila melanjutkan.


Chiara tersentak begitu pula dengan Clarissa, keduanya saling tatap, terlihat dari ekspresi keduanya yang tiba-tiba gugup.

__ADS_1


Chiara menggeleng menatap Clarissa.


"Abang pasti curiga, Kak, kalau tahu Kak Ara enggak ngomong dan enggak makan,” protes Clarissa.


Chiara memijit keningnya, kalau berurusan dengan Abangnya pasti akan semakin panjang, bisa-bisa Abangnya itu nekad ke sekolah dan membongkar apa yang berusaha disembunyikan selama ini. Ia kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya, kemudian menyerahkan pada Clarissa.


Clarissa terkejut saat membacanya, menatap lekat Chiara yang seakan memohon padanya, tak berapa lama Clarissa menghembuskan nafas dan mengangguk lesu.


"Kasihan banget sih lo, Ra. Mau ngomong aja mesti pake alat bantu kayak orang bisu," seloroh Julio.


Plak!


Mila memukul lengan Julio, sedangkan Alex menonyor kepala belakang Julio.


"Anjirr!"


"Kalau ngomong disaring dulu bisa?"


"Sekate-kate lo, Jul."


Chiara tersenyum sambil menepuk nepuk lengan Julio.


"Sorry, Ra,” sesal Julio meringis.


Chiara menggeleng. Anggap aja gue lagi akting jadi orang bisu.😁😉


Julio membaca ketikan di ponsel Chiara. "Bisa aja lo, Ra," balasnya terkekeh.


"Ya, udah, balik, yuk, habis ini kita ada kuis Pak Ilham, ‘kan?”


"Eh, iya. Ra, lo nggak apa-apa gue tinggal?" tanya Mila memastikan.


Chiara mengangguk.


"Lah, kita juga ada ulangan, ‘kan, Cla?"


Clarissa menepuk keningnya. "Mampus, kita telat, deh, keknya."


Chiara mengetikkan sesuatu di ponselnya, mengarahkan pada Clarissa. "Kalian pergi aja, gue mau istirahat, kepala gue pusing, entar bangunin gue kalau sampai bel pulang sekolah gue belum bangun."


"Kak Ara yakin?"


Chiara mengangguk, kemudian mengibaskan tangannya meminta teman-temannya keluar.


Setelah teman-temannya keluar, menyisakan Kenneth yang masih berdiri di sana seraya memasukkan tangan di saku celananya. Ia berjalan mendekati bed Chiara.


Lo nggak balik? tanya Chiara dengan ketikan di ponselnya.


"Cepet sembuh," ujar Kenneth mengusap rambut Chiara, kemudian melangkah keluar ruangan.


Jantung Chiara berdebar mendengar nada bicara Kenneth yang menunjukkan kekhawatiran. Apa dia khawatir sama gue? Tangannya bergerak menyentuh ujung kepalanya, kemudian sebuah senyuman terukir di bibirnya.

__ADS_1


📖📖


📖


__ADS_2