
Suasana siang itu sangat cerah dan ramai tentu saja, karena semua murid berbondong-bondong keluar kelas untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Bunyi lonceng tanda pelajaran usai telah berbunyi sedari lima menit yang lalu, tapi Clarissa belum juga melihat batang hidung kakaknya, sehingga ia memilih mengirim pesan kalau ia pulang bersama Galang. Tak berapa lama ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dahinya mengernyit membaca sebuah alamat yang sengaja dikirim sang pengirim, mengangkat bahunya acuh dan kembali memasukkan ponselnya dalam saku. Salah kirim, pikirnya. Namun tak berapa lama ponselnya kembali bergetar. Terdapat pesan yang memberitahukan bahwa mobil yang biasa menjemputnya mogok, dan meminta agar Clarissa menghampiri. "Pak Udin, kan, emang enggak bisa jemput hari ini, aneh," gumamnya.
Clarissa tak begitu mudah percaya dengan apa yang dikirim sang pengirim, mungkin orang iseng, pikirnya. Namun saat ponselnya kembali bergetar, matanya membulat sempurna saat melihat foto yang baru saja terkirim di ponselnya. Serta tulisan di bawahnya yang mengatakan segera datang.
Clarissa panik, menoleh ke area sekolah, sama sekali belum terlihat Chiara yang muncul, kemudian menelepon sopirnya namun ternyata nomornya sibuk. Ia gegas berlari menyetop taksi, setelah berhasil duduk, Clarissa menunjukkan alamat pada sang sopir, karena rasa khawatir yang menjalar di kepalanya membuat dirinya tidak sempat mengabari sang kakak. Bahkan sampai dirinya menginjakkan kaki pada alamat yang tertera di ponselnya ia belum juga menghubungi Chiara.
Clarissa berjalan menuju alamat yang tertera pada layar ponselnya. Setelah sampai ia melihat sekitar. "Kenapa jadi rumah kosong?" gumamnya kebingungan.
Tak berapa lama sekumpulan pria dengan beberapa tato di sekitar wajah, leher, lengan dan kaki serta tindik berjalan menghampirinya.
Clarissa terkejut. 'Siapa mereka?’ bathinnya mulai takut melihat wajah beringas itu.
Terdengar dari mereka berbisik pada salah satu temannya. "Bener dia orangnya?”
"Bener, gue yakin, nih lihat fotonya," pria itu menunjukkan gambar di layar ponselnya.
Seseorang yang melihat layar ponsel itu menampilkan seringai seraya menatap Clarissa dari bawah sampai atas.
Jujur, Clarissa sudah merinding, keringat mulai muncul di dahinya. "Si-siapa kalian?" tanyanya gugup.
Mereka terbahak.
“Elo nggak perlu tahu siapa kita, yang jelas lo harus ikut kita."
Salah seorang mengisyaratkan untuk menghampiri dan membawa Clarissa pergi.
"Lepas. Lepasin gue, tolooongggg!!”
"Teriak sekencangnya, enggak bakal ada yang dengerin lo," teriak salah satu preman yang mencekal tangannya.
"TOLOOONGGGGGG!!!!"
"Lepasin dia," tiba-tiba sebuah suara menyeru.
"Kak Ara?" gumam Clarissa terkejut.
"Jangan bawa adik gue, bawa gue saja," Chiara menatap Clarissa yang ketakutan. Sebenarnya ia juga amat sangat ketakutan, namun ia berusaha menyembunyikan ketakutannya itu, ia tidak mau preman-preman itu membawa sang adik.
Sebelumnya Chiara sempat khawatir melihat Clarissa yang terburu-buru pergi dengan taksi ketika pulang sekolah, karena ada hal yang harus ia serahkan kepada Bu Rosa menyebabkan dirinya telat keluar tadi. Ia semakin khawatir mengingat pesan Clarissa yang mengatakan akan pulang dengan Galang tapi justru naik taksi, sebab itu ia gegas meminta bantuan tukang ojek untuk mengikuti Clarissa walau sempat tertinggal jauh.
"Lo siapa?" tanya seorang preman pada Chiara.
"Gue orang yang kalian cari, bukan dia," Chiara menunjuk pada Clarissa.
Clarissa menggeleng menatap Chiara.
"Jadi, lo mau gantiin posisi dia jadi sandera kita?" sang preman menyeringai melirik ke arah teman-temannya
Clarissa dan Chiara mematung.
Sandera?
"I-iya, lepasin dia,” jawab Chiara gugup, menelan salivanya alot.
"Baiklah, lepasin dia," perintah sang preman pada orang-orang yang memegang Clarissa. "Bawa dia," perintahnya lagi menunjuk Chiara dengan dagunya.
"Jangan bawa Kak Ara. Lepasin dia," Clarissa menarik tangan preman yang hendak membawa Chiara.
"Dek, kamu pergi."
__ADS_1
"Enggak, Kak. Aku nggak akan ngebiarin Kakak jadi sandera mereka," tolak Clarissa.
"Berisik banget! Budeg kuping gue!" hardik sang preman membuat Chiara dan Clarissa seketika diam.
"Daripada kalian ribut mending kalian berdua yang jadi sandera kita, gimana?"
Chiara dan Clarissa terkejut, keduanya saling tatap, Chiara memberi isyarat agar Clarissa berlari, namun baru selangkah, pergelangan tangannya sudah ditarik dan dicekal oleh preman-preman itu.
...***...
Di sekolah, Galang terus mencoba menghubungi nomor Clarissa. Bukannya tadi ia meminta agar Clarissa menunggunya di depan gerbang, tapi kenapa tidak ada? Dan juga kenapa nomornya tidak bisa dihubungi. "Breng**k!" umpatnya kesal.
Galang merasa ada yang tidak beres terjadi dengan Clarissa.
Kenneth yang sedang berjalan menuju parkiran tak sengaja mendengar pembicaraan dari temannya.
"Ara udah pulang tadi, kayaknya buru-buru banget, waktu gue tanya, mau ngejar adiknya."
"Dia naik apa?"
"Ojek.”
"Seriusan? Ara naik ojek?"
"Iya, barusan dia telepon gue."
Kenneth memperhatikan dua siswi itu, kemudian menstarter motornya keluar sekolah.
Galang yang melihat motor Kenneth langsung menghadangnya, membuat Kenneth mengerem motornya.
"Lo lihat Chiara?" tanya Galang to the point.
"Ck, lo lihat nggak? Gue mau nanya adiknya sama dia nggak?" Galang berdecak karena tak juga mendapat jawaban dari Kenneth.
"Gue nggak tahu," jawab Kenneth datar.
"Ck, percuma ngomong sama lo."
Kenneth berfikir sejenak, ia teringat ucapan siswi tadi. "Gue denger Chiara udah pulang naik ojek buat ngejar Clarissa."
Galang menoleh. "Lo serius?"
Kenneth mengangkat bahunya. "Gue enggak sengaja denger tadi."
"Brengsek. Pasti ini ulah mereka," umpat Galang pelan.
"Siapa maksud lo?" tanya Kenneth.
"Nggak penting. Gue cabut dulu nyari mereka," Galang menaiki motornya hendak memakai helm.
"Gue ikut," ucap Kenneth.
Galang menoleh kemudian mengangguk.
Keduanya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dengan Galang sebagai petunjuk arah, sepertinya Galang tahu dimana Clarissa berada. Hampir setengah jam mereka berkeliling, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Clarissa dan Chiara. Hingga Kenneth melihat beberapa gerombolan preman yang sedang berada di seberang jalan sepi, serta rumah yang sepertinya tidak berpenghuni karena banyaknya tanaman liar.
"Lang,” panggil Kenneth menunjuk arah dengan dagunya.
Galang melihat arah tunjuk Kenneth, kemudian mengangguk. Keduanya memarkirkan motornya agak jauh, berjalan perlahan menuju gerombolan preman itu. Mereka memantau apakah ada Chiara dan Clarissa ada di sana.
__ADS_1
"Itu mereka,” ujar Kenneth.
"Breng**k!" Galang mengumpat, jemarinya terkepal ketika melihat dua gadis yang diseret paksa oleh preman-preman itu.
"Woii.. lepasin mereka, breng**k!" teriak Galang yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Wohoho.. akhirnya dia datang juga dia,” ucap sang preman disusul tawa dari yang lain.
"Lepasin mereka, bangs*t! Urusan lo sama gue, bukan mereka," tunjuk Galang pada Chiara dan Clarissa.
Kenneth meluaskan tatapannya, menghitung jumlah preman yang lumayan banyak dan tentu saja tidak sepadan dengan ia yang hanya berdua dengan Galang. Netranya beralih menatap Chiara dan Clarissa yang tangannya masih dicekal beberapa preman. Terlihat wajah kedua gadis itu ketakutan, bahkan wajahnya memucat. Tatapannya bersibobrok dengan Chiara, entah kenapa hatinya terasa nyeri saat melihat Chiara yang ketakutan hampir menangis.
"Jangan banyak cingcong, serang mereka!” teriak sang preman memberi perintah.
Baku hantam pun terjadi, Galang dengan tiga orang dan juga Kenneth dengan tiga orang, sedang yang lain masih menonton. Galang terus memukul dan menendang tiga orang tersebut tanpa tubuhnya yang tersentuh sedikit pun, tak terima, dua preman lagi ikut mengeroyok Galang.
"Banci lo, beraninya keroyokan, banci aja nggak suka keroyokan!” maki Galang meludah.
Karena lawan yang tak seimbang, beberapa pukulan mengenai wajah Galang. Sedangkan Kenneth sama sekali tak melawan ketika ketiga preman itu memberinya pukulan dan tendangan, sebisa mungkin dirinya menghindar tanpa melawannya. Ia menunggu sampai lawannya lelah dan lengah.
"Auww, sakit," terdengar suara Chiara yang mengaduh ketika rambut panjangnya dijambak ke belakang oleh seorang preman.
Kenneth menoleh ke arah Chiara, matanya memanas melihat seorang preman menyakiti Chiara. "JANGAN SENTUH DIA, BANGS*T!" teriaknya menggema.
Chiara meringis menahan sakit di kulit kepalanya, ia melirik Kenneth sekilas.
Melihat Chiara disakiti, Kenneth mengeluarkan tenaganya untuk membalas semua preman yang menghadangnya. Awalnya ia tidak ingin susah payah melawan, namun melihat Chiara seperti itu emosinya memuncak, ia ingin menghabisi siapa saja yang menyakiti Chiara. Tiga preman tumbang di tangan Kenneth, muncul lagi preman yang lain. Seorang preman yang menjambak Chiara melepaskannya dan beralih melawan Kenneth.
Chiara berlari ke arah Clarissa yang bersembunyi. "Cla, lari, cari bantuan."
Clarissa menggeleng. "Enggak, Kak. Cla mau sama Kakak."
"Kamu lari, Cla. Cari bantuan, biar Kakak yang mengalihkan perhatian mereka."
"Cla enggak mau ninggalin Kakak," ucap Clarissa hampir menangis.
Chiara memegang pundak Clarissa, menatap kedua matanya. "Cla, dengerin Kakak, semua akan baik-baik saja, oke. Kamu percaya sama Kakak, kan?"
Clarissa mengangguk ragu, kemudian Chiara berusaha mengalihkan perhatian preman agar Clarissa bisa keluar dari rumah kosong itu. Dan berhasil, Clarissa berhasil berlari dari sana, namun salah seorang preman mengetahui Clarissa yang kabur, beberapa dari mereka mengejarnya.
Kenneth dan Galang saling tatap, kemudian mengangguk. Galang berlari mengejar para preman yang mengejar Clarissa, sedangkan Kenneth tetap tinggal melawan para preman yang jumlahnya semakin banyak.
"Lepas, lepasin gue, tolooongggg!!"
Teriakan Chiara mengalihkan perhatian Kenneth, sehingga ia terkena tendangan di punggungnya. Sebuah balok kayu mengenai kepalanya, membuat kepalanya berkunang-kunang, ia menggeleng berusaha menetralkan penglihatannya yang mengabur. Lagi, wajahnya terkena bogeman begitu juga perutnya, membuat Kenneth mundur ke belakang menyentuh perutnya.
Chiara berlinang air mata melihat keadaan Kenneth yang mengenaskan. Tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan tak berapa lama Chiara pingsan tak sadarkan diri.
Clarissa terus berlari seraya berteriak meminta tolong, namun tak ada satu pun orang yang melintas. Tiba-tiba tangannya dicekal, seorang preman berhasil menangkapnya.
"Mau kemana lo? Hah!”
"Lepasin gue, tolooongggg!!"
"Lepasin dia, breng**k!"
Galang datang, namun beberapa preman segera mengepungnya, ia terus mengeluarkan tenaga melawan para preman itu, tenaganya hampir melemah karena lawan yang tak sepadan. Galang tumbang dengan beberapa luka di wajah serta tubuhnya, saat di lihatnya ternyata Clarissa sudah tidak ada di tempatnya. Satu lagi tendangan mengenai wajahnya membuat Galang tergeletak di tanah.
📖📖
__ADS_1
📖