
Hari minggu tiba, Kenneth menepati janjinya membawa Chiara ke sebuah taman hiburan untuk menaiki wahana bianglala atau mungkin dari kalian menyebutnya kincir angin. Chiara tentu merasa senang karena sebentar lagi ia akan menaiki wahana tinggi yang menggantung, menikmati pemandangan dari puncak wahana.
Namun belum sempat tiba di lokasi, ponsel Kenneth berdering, Kenneth menghentikan laju kendaraannya guna menerima telepon. "Halo"
"..."
"Harus sekarang?" Kenneth nampak tak senang.
"..."
"Hm."
"..."
"Kalian dimana?"
"..."
"Ya."
Tut.
"Ada apa, Ken?" tanya Chiara penasaran menyadari raut wajah Kenneth berubah.
Kenneth menghembuskan nafas pelan. "Maaf, sepertinya kita harus putar balik."
"Kenapa?"
"Anak osis ngajak rapat sekarang, penting katanya."
Chiara menekuk wajah lesu, padahal puncak wahana bianglala sudah nampak di ujung sana, tapi ia harus putar balik.
"Ra?" Kenneth menyadari kekecewaan di raut wajah kekasihnya.
Chiara mengangguk lesu. "Iya, nggak apa-apa, kita putar balik aja."
"Selesai rapat kita ke sini lagi," Kenneth membujuk.
Chiara pasrah, memangnya ia bisa apa. "Iya."
Kenneth memutuskan memutar balik guna memenuhi panggilan sebagai ketua osis untuk memimpin rapat. Sebenarnya ia kesal saat rapat diagendakan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Terlebih lagi, hari itu adalah hari minggu, bukan ranahnya kalau harus membahas masalah sekolah di hari libur seperti itu. Serta jangan lupakan, karena rapat dadakan itu pula ia harus mengecewakan Chiara yang sudah berbinar saat ia mengatakan akan mengajaknya naik wahana bianglala.
Tapi sebagai ketua osis, Kenneth tidak bisa mengabaikan tugasnya, karena rapat tersebut bersifat darurat, entah apa yang harus dibahas lagi, padahal beberapa minggu yang lalu mereka, anggota osis sudah pernah mengadakan rapat untuk membahas acara akhir tahun.
Rapat diadakan di salah satu cafetaria di pusat kota, Kenneth menarik tangan Chiara memasuki cafe. Terlihat beberapa anggota osis yang sudah berkumpul di salah satu meja panjang, sepertinya hanya sedang menunggu dirinya.
Chiara tersenyum canggung berada di antara anggota osis.
"Apa ada jadwal rapat dadakan?" Kenneth berujar dingin ketika berdiri di antara anggota osis.
"Sorry, Ken, tapi ini urgent," jawab Siska, —wakil ketua osis.
Kenneth berdecak, kemudian mengambil duduk di ujung meja, sebelumnya ia mengambil kursi untuk Chiara di sampingnya.
"Ken, apa dia harus ikut dalam rapat?"
__ADS_1
Chiara yang hendak duduk kembali berdiri, ia memperhatikan Siska, gadis itu adalah siswi yang memanggil Kenneth di kelasnya waktu itu.
"Rapat akan berjalan kalau Ara di sini," putus Kenneth menatap tajam keseluruhan anggota osis. "Ada yang keberatan?" tanyanya mengancam.
Semua menggeleng.
Chiara mendekat. "Sebaiknya aku tunggu di meja yang lain saja," bisiknya pelan, ia merasa tidak enak dan tidak nyaman, entah kenapa gadis bernama Siska itu selalu menatap ke arahnya, dan Chiara tahu arti tatapan itu, seolah menginginkan ia untuk tidak ikut bergabung, atau lebih tepatnya tidak berada di sisi Kenneth.
"Kalau kamu pergi, aku juga pergi," sahut Kenneth dingin.
Chiara menelan saliva, pada akhirnya ia menurut.
Siska menatap sinis pada Chiara, jujur saja ia tidak suka dengan kehadiran Chiara.
Mereka memulai rapat, bersahutan memberikan suara mengenai beberapa kegiatan yang akan diadakan guna mengisi acara.
Chiara sebenarnya ingin memberikan usul, atau sekedar ikut memberikan pendapat, tapi ia mengurungkan niatnya, karena ia berfikir itu bukan ranahnya, belum tentu juga sarannya akan diterima oleh anggota osis. Pada akhirnya yang ia lakukan hanya duduk mengaduk-aduk minuman serta beberapa kali mengecek ponsel.
Chiara termenung, mungkin seharusnya saat ini ia sudah berada di puncak bianglala, menikmati pemandangan dengan senyum yang terukir indah, mengambil beberapa foto dengan Kenneth, atau mungkin bisa mendapatkan ciuman dari Kenneth. Haha. Chiara tersenyum serta memukul kepala pelan saat bayangan gila melintas di otaknya. Kenapa ia jadi mesum begini, ya?
Kenneth menoleh, menggenggam jemari Chiara serta dagunya diangkat ke atas seolah bertanya kenapa?
Chiara menggigit bibir bawahnya guna menahan agar senyumnya tidak melebar, kemudian kepalanya menggeleng pelan.
Kenneth tersenyum, mengusap jemari Chiara pelan kemudian kembali fokus pada rapat.
Beberapa menit sudah berlalu, Chiara mengedarkan pandangan pada penjuru cafe, sesaat netranya memicing memperhatikan bayangan orang yang berada di seberang cafe. Punggungnya menegak ingin memastikan serta memperjelas tatapannya terhadap objek di ujung sana, meskipun terhalang kaca cafe, tapi ia jelas mengenali siapa itu. Tanpa sadar ia beranjak dari kursi membuat tatapan mengarah padanya tak terkecuali Kenneth.
"Ada apa?" tanya Kenneth khawatir.
Kenneth mengikuti arah pandang Chiara. "Ada apa?" tanyanya memastikan.
Chiara menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan. "Tidak, bukan hal yang penting, aku keluar dulu sebentar," ujarnya melangkah ke luar cafe.
Kenneth memperhatikan langkah Chiara yang perlahan menjauh.
"Bisa kita lanjutkan, Ken?" Siska membuka suara setelah tindakan Chiara membuat suasana berubah seketika, mengambil fokus anggota osis.
Kenneth mengangguk.
Chiara membuka pintu cafe, ia berdiri di sisi jalan, sekarang ia yakin bahwa yang menjadi objek tatapannya adalah Mila. Tapi, untuk apa Mila di sana?
Tangan Chiara terangkat hendak melambai, tapi ia urungkan saat melihat Mila yang tengah menangis di seberang sana. Kemudian tatapannya mengarah pada Putra dengan seorang gadis yang berada di dalam mobil, sepertinya terjadi suatu masalah antara Mila dan Putra.
Terlihat Mila memukul-mukul dada Putra, sedangkan Putra hanya diam membiarkan tubuhnya dipukuli oleh Mila. Tak berapa lama Mila berlari meninggalkan Putra dan sang gadis yang berdiri membelakanginya.
"Mila! Mila!" Chiara berseru keras, namun suaranya teredam oleh padatnya kendaraan yang berlalu lalang. Ia heran, kenapa Putra membiarkan Mila pergi begitu saja, ada apa sebenarnya? Bathinnya menerka-nerka.
Tak lama kemudian Chiara terkejut saat menyadari siapa gadis yang berdiri bersama Putra, netranya melotot terkejut ketika dengan mudahnya sang gadis memeluk lengan Putra posesif. Bukan, bukan, bukan itu yang membuatnya terkejut, tapi gadis itu, ia adalah Joanna, gadis yang menjadi korban tabrakan Mila.
Tapi kenapa Joanna bersama dengan Putra? Apa mereka mempunyai hubungan di belakang Mila?
Seketika Chiara menutup mulutnya membayangkan apa yang terlintas di pikirannya.
Jujur saja Kenneth tidak bisa fokus dengan rapat, berulang kali ia memperhatikan luar cafe, memperhatikan Chiara yang berdiri di sana. Ia merasa khawatir. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menunda rapat serta menghampiri Chiara.
__ADS_1
"Ra," Kenneth terheran menyadari Chiara tengah mematung dengan menutup mukut.
Chiara tersentak, ia menoleh. "Ken? Rapatnya udah selesai?"
Kenneth menggeleng. "Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Tatapan Chiara kembali mengarah pada seberang jalan, namun kini hanya terlihat Joanna yang berdiri di sana. "Dimana dia?" gumamnya celingukan.
"Siapa?" tanya Kenneth.
"Putra."
Kenneth menyernyit. "Putra?"
"Iya, Ken, Putra sama Mila tadi di sana, tapi Mila udah pergi sambil menangis tadi. Entah apa yang terjadi. Tapi aku rasa gadis itu yang menjadi penyebabnya." Chiara menunjuk pada Joanna yang berdiri di sisi mobil.
Kenneth mengikuti arah tunjuk Chiara, netranya memicing memperhatikan objek. "Kamu kenal dia?" tanyanya kemudian.
Chiara menoleh. "Dia Joanna, gadis yang ditabrak Mila waktu itu."
Kenneth melebarkan matanya. "Jadi dia?"
Chiara mengangguk. "Tunggu, deh, aku baru sadar kalau kakinya sudah membaik, kenapa cepat sekali sembuhnya?" gumamnya nampak tak percaya melihat cara jalan Joanna yang tidak seperti orang habis patah tulang, padahal belum ada satu bulan gadis itu terapi.
Kenneth menyadari satu hal, ada yang tidak beres di sini, dan ia harus segera meluruskan kesalahpahaman antara teman dan pacarnya itu.
"Ken, aku mau temui Mila, bolehkah?"
Kenneth mengangguk. "Aku antar."
"Tapi, rapat kamu gimana?"
"Kamu prioritas aku saat ini, Ra."
"Tapi, aku nggak enak sama anggota osis lain."
"Bukan salah kamu, memang seharusnya aku nggak menghadiri rapat ini, karena ini di luar jam sekolah," Kenneth meyakinkan. Ia merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Gue ada urusan. Rapat kita lanjutkan di sekolah besok." Tanpa menunggu sahutan dari seberang, Kenneth mematikan sambungan sepihak, tidak peduli kalau mereka semua mengumpati dirinya. "Ayo," ajaknya menarik tangan Chiara menuju motornya.
Chiara hanya menurut, sesekali netranya menatap pada Joanna yang masih berdiri angkuh di sisi mobil tengah bertelepon. Entah apa yang terjadi, apa yang ada di pikirannya adalah jawabannya? Chiara hanya bisa menebak, dan akan menemukan jawaban saat tiba di rumah Mila nanti.
📖
📖📖
..
Permisi numpang promosi hehe.
Mampir lapak sebelah yuk, cerita menarik lainnya, berjudul BESIDE YOU.
Karakter pria sempurna yang dimiliki Gaza. Ganteng, kaya, perlakuan lembut. Disandingkan dengan Gisella yang kalem banget, namun harus berjuang melawan lautan manusia yang membencinya sebab kesalahan yang takdir gariskan.
Pokoknya keren banget ini cerita. Jangan lupa mampir ya, terimakasih ♥️🥰
__ADS_1