
"JANGAN SENTUH DIA, BANGS*T!!"
Bruk!!
Tendangan Kenneth tepat mengenai punggung sang pria, menyebabkan pria itu tersungkur di aspal yang kini mulai tergenang air. Kenneth meraih lengan Chiara dan menyembunyikan tubuh gadis itu di belakang tubuhnya.
Galang sudah kembali bangkit dan tengah menghajar mereka, beruntung tadi Kenneth membantunya sehingga ia tidak berakhir di rumah sakit.
Beberapa dari mereka mulai menyerang Kenneth dari berbagai sudut, Chiara hanya bisa memekik tertahan saat dari mereka melepaskan pukulan dan tendangan ke arahnya juga Kenneth, beruntung Kenneth selalu mengetahui serangan yang akan terjadi sehingga tetap bisa melindungi tubuh Chiara di belakang tubuhnya. Hingga beberapa dari mereka mulai tumbang dan memilih kabur.
Chiara berlari mengambil ponselnya yang tergeletak di genangan air, kemudian melangkah menghampiri Kenneth dan juga Galang yang babak belur membuat sekujur tubuh Chiara bergidik ngeri.
"Thanks," ujar Galang menepuk pundak Kenneth.
"Gue udah hubungi Niko sama Joni, sebentar lagi mereka datang," balas Kenneth.
"Lang, lo nggak apa-apa?" tanya Chiara khawatir.
Galang tersenyum. "Nggak apa-apa, Chi. Luka kecil."
Jawaban dari Galang membuat Chiara meringis. Wajah lebam kebiruan, ujung bibir serta hidung berdarah, kening sobek, dan itu luka kecil? Chiara benar-benar tidak habis pikir dengan manusia itu.
"Jangan khawatir gitu, gue nggak apa-apa,” ulang Galang tersenyum menenangkan.
Mau tak mau Chiara mengangguk, berharap memang luka Galang tidak terlalu parah.
"Ken, gue minta tolong anterin Chiara pulang, ban motor gue kempes," galang menunjuk pada motor sport berwarna putih yang terparkir di depan halte.
Kenneth mengangguk saja.
"Lo serius nggak apa-apa, Lang? Entar kalau mereka balik lagi gimana?"
"Nggak apa-apa, Chi. Bentar lagi Niko sama Joni datang."
Chiara mengangguk ragu. "Ya udah, lo hati-hati, ya?" ucapnya menepuk lengan Galang membuat sang empu menahan ringisan.
Cuaca masih gerimis saat Kenneth dan Chiara tengah berboncengan menuju kediaman Van Houten. Chiara mengeratkan tangannya mencengkeram seragam Kenneth yang menjadi pegangannya, angin yang berhembus membuat dirinya kedinginan.
Menyadari gadis di belakangnya kedinginan, Kenneth berbelok ke kedai kopi.
"Kenapa kita ke sini, Ken?"
Tak ada jawaban, Chiara mendengus mengikuti langkah kaki Kenneth yang membawanya masuk dan duduk di salah satu kursi cafe.
Seorang pelayan membawa dua cup kopi yang masih mengepul, Chiara memegang gelas untuk menyalurkan hawa hangat di tangannya, dan menyeruputnya pelan. Tidak dipedulikan seragam sekolahnya yang basah akibat guyuran hujan tadi membuat kursi yang diduduki menjadi basah.
"Makasih, Ken.”
Kenneth mengangguk menjawab ucapan Chiara.
"Beruntung lo datang tepat waktu tadi," Chiara mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. Retakan yang dulu tak terlihat kini semakin panjang di layarnya, sepertinya sempat terinjak tadi. Dan kini ponselnya sama sekali tidak bisa menyala, entah habis baterai atau terlalu lama terendam di kubangan air.
"Hape lo rusak?"
Chiara mendongak dan mengangguk. "Sepertinya begitu."
Chiara bangkit dari duduknya, menghampiri pegawai cafe yang tengah berdiri di belakang tempat pemesanan. Setelahnya pegawai itu mengangguk, kemudian Chiara kembali menuju tempatnya dengan membawa baskom berisi es batu serta sapu tangan. "Gue obatin luka lo," ucapnya mengambil duduk di samping Kenneth. "Nggak ada penolakan," tambahnya menirukan ucapan Kenneth kala itu.
Kenneth menghela nafas, dan itu membuat Chiara merasa menang, ia menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa puas.
Perlahan Chiara mengompres lebam di tulang pipi Kenneth, ekspresi Kenneth biasa saja, namun justru Chiara yang meringis saat sapu tangan berisi es batu itu menyentuh luka lebam Kenneth.
"Lo kenal mereka?"
Kenneth menyernyit. "Siapa?"
"Yang tadi nyerang kita, Galang bilang mereka musuh Galang. Gue pernah dengar dari Clarissa kalau Galang punya geng motor juga, apa mereka salah satu musuh gengnya Galang?"
"Mungkin,” jawab Kenneth datar.
"Apa semua geng motor harus musuhan?"
__ADS_1
Kenneth menatap lekat wajah Chiara yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Lo punya geng motor juga nggak, Ken?"
"Kenapa?"
"Apa lo punya musuh juga?"
"Kenapa lo tanya begitu?"
"Gue enggak habis pikir, kenapa mereka bikin geng kalau tujuannya untuk menghancurkan geng motor lain, apa tidak ada hal positif yang mereka lakukan selain bermusuhan, berantem?"
Kenneth menghela nafas. "Enggak semua geng motor bertujuan menghancurkan satu sama lain. Mungkin salah satu dari mereka merasa tersaingi dan nggak semua masalah ada di dalam geng. Ada kalanya masalah pribadi yang kemudian menjadi masalah satu geng," terangnya.
Beri tepuk tangan untuk Kenneth yang mampu berbicara panjang kali lebar kali tinggi dengan seorang Chiara. Prok! Prok! Prok!
Chiara mengangguk, kemudian tersadar sesuatu. "Lo barusan ngomong panjang, Ken?" tanyanya tak percaya.
Sedangkan Kenneth mendengus dan memutar bola matanya.
...***...
"Kak, gue tadi lihat wajah Galang lebam-lebam, kemarin nggak terjadi apa-apa, ‘kan?" Clarissa buka suara, saat ini dirinya tengah duduk di kantin bersama Chiara, Mila, Zia dan juga Hanin.
"Hah? Serius?" Mila menyahut.
"Iya, Kak. Kayak habis berantem gitu," jawab Zia membenarkan ucapan Clarissa.
Chiara mengangguk. "Kemarin kita didatengin geng motor, kata Galang mereka musuh dia."
"Lo nggak apa-apa, ‘kan, Ra?"
"Nggak apa-apa, Mil, untung Kenneth dateng nolongin."
"Kenneth?" Mila membeo.
"Kak Kenneth?" ulang Clarissa, Zia dan Hanin kompak.
"Bisa kebetulan gitu, ya, Ra."
Chiara mengangkat bahunya.
"Terus kenapa handphone Kakak rusak?"
"Aku sebenernya mau nelpon Abang buat minta bantuan, tapi salah satu dari mereka ngambil paksa ponselku, terus dibanting ke aspal, keinjek juga kayaknya sama mereka, kerendam air hujan juga, jadi rusak deh."
"Pantesan semalem gue chat lo enggak masuk," timpal Mila.
Chiara menyengir. "Sorry.”
Chiara menoleh pada Clarissa. "Kamu jangan bicara macem-macem sama Abang, ya?" peringatnya.
"Oke," Clarissa menekuk jarinya membentuk huruf O.
"Cla, entar pulang sekolah kita nonton, yuk?"
"Ada film terbaru?" tanya Clarissa menoleh pada Hanin.
Hanin mengangkat bahunya. "Gue belum tahu, gue bosen aja di rumah, hari ini orangtua gue keluar kota, gue di rumah sendirian."
Clarissa menoleh pada Chiara meminta persetujuan. "Gimana, Kak? Kakak mau nonton enggak?"
Chiara nampak berfikir. "Boleh, deh, udah lama kita enggak nonton di bioskop,” jawabnya. "Lo ikut nggak, Mil?"
"Gue ajak Putra, ya?" balas Mila menyengir.
"Nggak apa-apa, Kak. Kita enggak keberatan kok,” jawab Zia. "Iya, ‘kan?"
Clarissa dan Hanin mengangguk setuju.
"Nanti kalian ikut di mobil kita aja," usul Chiara menatap Hanin dan juga Zia, selanjutnya pada Mila. "Biar Mila bareng Putra."
__ADS_1
"Eh, ada apa, nih, kok nama gue disebut-sebut," Putra yang baru datang menyela.
"Mau nonton, kamu ikut juga, ya?" ajak Mila kemudian.
"Aku cowok sendiri?"
Mila mengangguk dan tersenyum manis pada pacarnya.
"Gue ajak yang lain, ya? Nggak seru kalau gue cowok sendiri,” Putra berusul.
"Boleh, Kak," jawab Clarissa antusias diangguki Hanin dan Zia.
Pasti yang dimaksud yang lain adalah kelompoknya yang mempunyai wajah rata-rata tampan dan juga famous seantero sekolah.
"Oke, aku pergi dulu, ya, sayang. Ngasih tahu yang lain,” ujar Putra mengelus puncak kepala Mila serta mendaratkan satu kecupan di keningnya.
"Ouhhhhh manisnya.."
"So sweet.."
"Kak Mila bikin iri, deh," komentar Clarissa mengerucutkan bibirnya.
"Kalian buruan cari pacar sana," ledek Mila terkekeh.
"Pengennya yang kayak Kak Putra, gimana dong?" goda Hanin diangguki Zia dan Clarissa.
Mila melotot. "Enak aja, khusus yang itu punya gue, enggak bisa di bagi-bagi,” jawabnya sarkas.
Keempatnya terkekeh mendengar jawaban Mila.
*
Seperti yang direncanakan, pulang sekolah mereka memutuskan untuk menonton di salah satu bioskop di pusat kota. Putra mengajak serta Toriq, Deni, Alex dan Julio, sedangkan Kenneth tidak bisa ikut.
"Mau nonton apa?" ucap Putra membuka suara.
"Horor," usul Julio semangat.
"Nggak!" tolak Chiara cepat.
"Lo serius takut hantu, Ra?"
"Bukan takut, ngeri,” bantah Chiara menatap Julio yang terkikik.
"Sama aja itu, mah,” sahut Alex.
"Terus kita nonton apa, dong?"
"Dilan 2 gimana?" usul Zia.
"Gue udah pernah nonton, yang lain," jawab Clarissa tak setuju.
"Film action aja, lah," Deni menimpali. "Ya, kali kita lihat film romantis cuma bisa halu doang,” sambungnya.
"Nasib jomblo," Toriq menepuk pundak Deni sambil tertawa.
"Lo juga jomblo, bego!" Putra menonyor kepala Toriq.
Dan perdebatan memilih film pun terjadi, bahkan hingga lima belas menit berlalu mereka hanya berdiri mengemukakan ide yang sama sekali tidak membuahkan kesepakatan berarti.
"Udah, stop! Enggak usah nonton, kita makan aja gimana?" usul Alex yang merasa pening melihat perdebatan yang tidak kunjung usai.
"Setuju, gue udah laper ini,” Julio menyahut mengelus perutnya.
"Oke, gue setuju,” timpal Chiara diangguki yang lain.
Dan akhirnya acara menonton hari itu pun BATAL TOTAL. Ke-sepuluhnya memilih makan di salah satu kedai tongkrongan anak muda jaman now di samping gedung bioskop.
📖📖
📖
__ADS_1