KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 3 - Karena cinta itu buta


__ADS_3

Acara amal yang diadakan sangat tertutup, hanya para undangan yang bisa hadir. Rata-rata undangan juga bukan kalangan biasa. Hampir semua yang hadir mempunyai nama besar di beberapa bidang usaha.


Clarissa tentu tidak akan merasa kerdil berada di antara para sultan, karena ia pun keturunan sultan, hehe.


Namun berbeda dengan tatapan Berlian, ia yang tidak mengetahui siapa Clarissa sesungguhnya menatap remeh pada perempuan yang duduk semeja dengan Galang. "Dasar norak," gerutunya saat melihat Clarissa bertepuk tangan usai acara lelangan dimenangkan pihak tertentu.


Clarissa tentu saja mengerti bahwa ada seseorang yang tengah menatapnya tajam. Namun ia pura-pura tidak tahu saja. Saat tengah mengedarkan pandangan, ia melihat seseorang yang ia kenal. "Kak Kenneth ada di sini juga?" tanyanya pada Galang.


Galang mengikuti arah tatap Clarissa. "Tumben dia hadir, biasanya dia hanya mengirimkan staff," komentarnya.


"Kalau ada Kak Ken apa mungkin ada Abang juga?" Clarissa kembali meluaskan tatapan.


Galang menggeleng. "Van Houten hanya akan mengikuti acara via telepon, jarang sekali hadir."


Clarissa mengangguk-angguk, meskipun ia merupakan anak pemilik perusahaan raksasa tapi ia sama sekali tidak berniat untuk turun ke lapangan mengikuti jejak sang Abang. Bahkan kakak perempuannya juga membuka usaha butik. Mungkin beberapa perusahaan akan diwariskan ke adik bungsunya.


Galang menatap Clarissa. "Daddy kamu punya banyak anak perusahaan, di bidang lain juga ada. Kenapa kamu justru ambil magang di luar kota? Mau jadi jaksa malah," ia masih tak paham jalan pikiran kekasihnya itu, ada yang mudah, kenapa Clarissa memilih jalan yang sulit.


Clarissa tersenyum. "Jujur saja, saat Daddy tidak merestui hubungan kita, aku sudah memutuskan untuk memilih jalan hidup yang tidak sejalan dengan Daddy. Aku tidak mau dikekang, aku ingin bebas. Dan mungkin saja saat kebebasan aku untuk memilih itu tiba, aku bisa menemukan cintaku kembali, dan itu benar," ia menyengir lebar.


Galang menyipit curiga. "Aku mau jawaban yang jujur," tuntutnya.


Clarissa menutup mulutnya kerena tertawa. "Kamu, ih. Aku udah ngomong serius juga."


Galang menghembuskan nafas. "Tapi aku tahu bukan itu jawaban sebenarnya."


Clarissa menyengir. "Aku mau jadi jaksa cantik yang adil. Dalam bayangan aku, keren aja gitu jadi jaksa, semua keputusan ada dalam genggamanku, hohoho."


Galang tertawa pelan. "Andaikan di sini hanya ada kita berdua, aku pasti bakal langsung makan kamu," ia terlalu gemas dengan jawaban Clarissa yang nyeleneh tentang cita-cita.


Clarissa terkekeh saja.


Satu jam acara lelangan sudah berlangsung, para undangan diberi waktu istirahat selama setengah jam.


Berlian menghampiri Galang dan juga Clarissa. "Hai, kita bertemu lagi," sapanya renyah.


Clarissa menoleh. "Hai juga," balasnya. "Kamu datang sendirian?" tanyanya kemudian.


"Sama Papi aku juga. Kayaknya dia lagi bahas hal penting sama rekan bisnis. Biasalah, orang penting," Berlian tersenyum.


Clarissa tersenyum maklum.

__ADS_1


"Galang, tadi aku bertemu Tuan Felix, sepertinya dia mencarimu," ucap Berlian lagi. "Kalian seperti sepasang kekasih, di setiap acara Tuan Felix pasti akan mencarimu," ia terkekeh.


"Aku belum melihatnya," tanggap Galang meluaskan tatapan mencari seseorang yang dimaksud.


"Mungkin sebentar lagi dia akan menemuimu."


"Sepertinya aku melihatnya," Galang menangkap keberadaan seseorang. "Sayang, aku ke sana sebentar, ya," pamitnya pada Clarissa.


Clarissa mengangguk mengiyakan.


"Tuan Felix dan Galang memang tak terpisahkan," ujar Berlian memperhatikan kepergian Galang.


Clarissa memperhatikan langkah kaki Galang yang menghampiri seorang pria tua berambut putih. "Pria tua itu?" tanyanya tanpa sadar.


Kening Berlian mengerut. "Meskipun dia terlihat tua tapi dia orang yang hebat, beberapa pengusaha segan padanya, yaa karena dia kaya. Bisnis yang ia tekuni berkembang pesat semua, meskipun sekarang anak cucunya yang melanjutkan, tapi dia masih hilir mudik di beberapa acara besar hanya untuk tampil wajah." Berlian menutup mulutnya. "Ah, maaf aku terlalu antusias bercerita, kamu pasti tidak akan mengerti," tuturnya kemudian.


Tatapan Clarissa menyipit tajam, sindiran perempuan di hadapannya sangat menyebalkan.


"Aku harus menyapa beberapa kolega. Tidak apa-apa, kan, kalau aku tinggal sendiri?" Berlian tengah merendahkan, perempuan di hadapannya tentu tidak akan mengenal siapapun di tempat itu.


"Tentu, silahkan," tanggap Clarissa pura-pura ramah. Padahal di dalam hati ia tengah mengumpati sikap arogan perempuan itu.


"Kamu pasti kesepian dan kebingungan karena tidak mengenal siapapun di sini," ujar Berlian lagi.


"Aku akan meminta Galang untuk menemanimu. Kalau dia mau," Berlian sengaja memberikan tatapan remeh pada Clarissa sebelum benar-benar berlalu.


Emosi Clarissa kembali muncul, andaikan ia mempunyai kekuatan mengendalikan pikiran, ia pasti sudah menusukkan ribuan panah pada punggung Berlian dari tatapan matanya.


Tapi sepertinya apa yang Berlian katakan benar, Clarissa tidak mengenal siapapun di sana, tidak ada yang bisa ia ajak bicara. Ia memperhatikan Galang yang tengah mengobrol asik dengan orang tua berambut putih itu. Hingga kemudian netranya menangkap seseorang yang duduk sendirian di sebuah meja. Clarissa menghampiri.


"Kak Ken."


Kenneth yang tengah serius dengan ponselnya mendongak, ia terkejut melihat adik kekasihnya ada dalam acara itu. "Clarissa? Kamu di sini?"


Clarissa mengambil duduk di samping Kenneth. "Iya, Kak. Aku sama Galang, dia lagi ngobrol sama orang penting," ia mengangkat bahunya.


Kenneth mengangguk saja.


"Kakak tidak keberatan, kan, kalau aku duduk di sini. Sejujurnya aku tidak mengenal semua orang di sini," aku Clarissa menekuk wajahnya lesu.


Kenneth mengangguk. "Tidak apa-apa," sahutnya kembali fokus pada ponselnya.

__ADS_1


Berlian mendengus melihat Clarissa yang tengah duduk bersama pebisnis muda dengan julukan dingin dari William Corporation. "Mana mau dia kenalan sama cewek norak kayak kamu, dasar!" gerutunya pelan memperhatikan pemilik William Corporation tak merespon ocehan Clarissa.


"Kak Ara tahu kalau Kakak ke Surabaya?" Clarissa kembali membuka suara.


Kenneth menoleh sekilas. "Tahu, dia kirim pesan sama kamu, jangan mengacau katanya."


Wajah Kenneth benar-benar datar saat mengatakan kalimatnya, namun tetap saja membuat Clarissa mendengus sebal, terlebih sindiran sang kakak yang memintanya jangan mengacau. Memangnya ia mau mengacaukan apa. Huh!


"Jangan mengabaikan pesan darinya," ujar Kenneth lagi usai membaca pesan dari Chiara.


"Banyak kasus yang aku tangani, aku tidak sempat membalasnya," Clarissa menyahut.


Kenneth hanya mengangguk.


Clarissa meringis memperhatikan respon Kenneth yang begitu dingin dan datar. Bagaimana bisa kakaknya tahan dengan pemuda kaku di hadapannya. Irit bicara, wajah datar, tersenyum saja tidak. Clarissa semakin heran. Oh, tapi tidak, tunggu dulu, Clarissa baru saja melihatnya, ia sejenak terpaku melihat pemuda kekasih kakaknya itu tersenyum kecil. Entah apa yang tengah kakaknya katakan dalam pesan chat sehingga membuat Kenneth tersenyum. Waow, luar biasa sekali kakaknya itu. Clarissa menggeleng takjub.


"Sayang," Galang mengalihkan perhatian Clarissa yang tengah terpaku menatap Kenneth.


Clarissa mengerjap. "Ya?" balasnya terkejut.


Kenneth hanya menoleh sekilas.


"Acaranya sebentar lagi dilanjutkan," Galang memberitahu.


"Oh," Clarissa beranjak. "Kak Ken, aku pergi dulu," pamitnya pada Kenneth.


Kenneth menoleh dan mengangguk.


Galang menghembuskan nafas pelan. "Apa yang kamu kagumkan dari dia?" ucapnya saat tengah duduk di kursi.


Clarissa tak paham. "Maksudnya?"


"Kamu memperhatikan dia seakan-akan dia manusia paling aneh di dunia," Galang tengah menyindir.


Clarissa menahan tawa. "Kamu memang benar. Dia manusia paling aneh, paling kaku," ia terkikik. "Aku hanya penasaran kenapa Kak Ara bisa tahan sama sikap dingin Kak Kenneth," imbuhnya menggeleng heran.


"Karena cinta itu buta," balas Galang asal.


Clarissa nampak berpikir. "Benar juga, ya," ia setuju dengan perumpamaan Galang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2