
Mendengar kabar tentang Chiara yang tengah sakit Galang bergegas menemui sang gadis pujaan tepat setelah bel istirahat berbunyi. Ia berlari menyusuri koridor yang mulai ramai, mengabaikan panggilan beberapa siswi yang menyapanya.
Brak!!
Pintu kelas terbuka mengagetkan beberapa murid yang masih berada di dalam kelas.
"Chiara!" seru Galang berlari menghampiri bangku Chiara.
Chiara tersentak ketika Galang tiba-tiba membingkai wajahnya.
"Are you okay?"
Mila terperangah melihat ulah Galang, ia melongok ke belakang melirik ke arah Kenneth, namun ekspresi Kenneth sama seperti sebelumnya. Datar. Ia menepis tangan Galang dari wajah Chiara. "Apaan, sih, lo. Main pegang-pegang aja," protesnya.
"Jangan ikut campur,” balas Galang acuh. “Bagaimana keadaan lo, Chi?" tanyanya memperhatikan lekat gadis cantik di hadapannya.
Chiara mengangguk ragu, ia cukup kaget dengan tindakan Galang.
"Gue panik banget denger lo sakit makanya gue langsung ke sini nyamperin lo."
Mila berdecih mual mendengar penuturan gombal dari Galang.
"Siapa yang bikin lo kayak gini, Chi? Ngomong sama gue."
Chiara menggeleng menatap Galang.
"Lo butuh sesuatu?" tanya Galang kemudian.
Chiara kembali menggeleng, kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya. Makasih udah khawatir sama gue.
Galang tersenyum menepuk puncak kepala Chiara. "Sans aja, oke."
Mila mencibir melihat ke-gombalan Galang, ekor matanya kembali melirik pada Kenneth yang sedang memainkan ponsel.
Niko dan Joni datang membawa kantong plastik berwarna hitam.
"Nih, bos," ucap Joni meletakkan plastik hitam di meja Chiara.
"Mau minum?" tawar Galang menyerahkan sebotol minuman isotonik pada Chiara.
Chiara menggeleng.
"Ara nggak boleh minum minuman kayak gitu, Lang,” sahut Mila, kemudian merebut minuman kaleng dari tangan Galang. "Sini, buat gue aja."
"Ra,” Niko berdehem, “Sorry, nih, kalau gue lancang. Lo beneran enggak bisa ngomong?" tanyanya hati-hati.
Kenneth mendongak, menatap tajam pada Niko yang duduk di depannya.
"Bukan nggak bisa ngomong, bego! Nggak boleh ngomong sementara waktu,” ralat Mila. Sepertinya mulai sekarang ia beralih profesi sebagai penerjemah bagi Chiara.
Niko meringis mendapatkan tatapan tajam dari Galang dan juga Kenneth.
Terasa getaran pada ponsel Chiara, ia membuka dan ternyata ada pesan dari Clarissa, setelah membalas ia kembali memasukkan ponselnya ke saku seragam.
"Kalau butuh sesuatu jangan sungkan kasih tahu gue, ya, Chi,” ucap Galang bersungguh-sungguh.
Chiara mengangguk mengiyakan.
"Lang, kapan acara penyerahan kepemimpinan basket?" tanya Toriq yang baru masuk ke dalam kelas bersamaan dengan Alex.
"Masih seleksi buat pilih kapten yang cocok. Kenapa?"
"Sepupu gue mau masuk tim basket,” Toriq menjawab.
Alex menoleh. "Sepupu lo? Siapa?"
"Ada, lah, kelas sepuluh."
"Suruh aja nemuin gue."
Toriq mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mereka terus berbincang hingga bel pelajaran berbunyi.
Galang bangkit dari duduknya, menepuk kepala Chiara pelan. "Cepet sembuh, ya, calon pacar. Fighting!" godanya terkekeh.
"Idih, ngarep lo," sungut Mila mencibir.
Sedangkan Chiara tersenyum canggung.
...***...
Nampak langkah Clarissa yang tergesa-gesa disusul Hanin dan Zia di belakangnya. Nafasnya memburu menahan amarah yang siap untuk diledakkan sebentar lagi. Dari jauh ia sudah melihat targetnya, siapa lagi kalau bukan Vanya dan Lani yang sedang duduk di salah satu kursi di koridor.
"Heh! Mak lampir!" hardik Clarissa keras.
Vanya bangkit dari duduknya. "Siapa yang lo maksud Mak lampir?"
"Elo!" Clarissa menuding.
Vanya melotot. "Berani lo ngatain gue?!" bentaknya tak terima.
"Iya, kenapa?” tantang Clarissa tak gentar. “Dasar Mak lampir!” semprotnya keras.
Vanya mengangkat tangannya hendak menampar Clarissa, namun dengan cepat Clarissa mencengkeram tangan Vanya.
"Apa yang lo lakuin sama Kakak gue? Hah?!"
"Apa maksud lo?" tangkis Vanya menepis tangan Clarissa.
"Pasti lo sengaja mau ngerjain gue, ‘kan?"
"Kakak lo sendiri yang minta gantiin lo buat makan, tuh, bakso, bego!"
Perdebatan keduanya menjadi tontonan, beberapa murid mulai mengerubungi kedua gadis yang sedang beradu otot leher itu.
"Kenapa lo bohong?!"
Vanya mendengus. "Bohong? Dari segi mana gue berbohong?!"
Vanya melipat kedua tangannya. "Kenapa? Kakak lo jadi bisu karena makan sambal?" ejeknya tak mengetahui keadaan Chiara yang sesungguhnya.
Pupil mata Clarissa melebar, nafasnya sudah naik turun menahan emosi. "Breng**k! Apa lo bilang?! Ha?!"
Hanin dan Zia segera menarik tubuh Clarissa agar tidak menyerang Vanya.
"Cla, tahan, Cla."
"Sabar, Cla."
"Sini lo, Bang**t! Berani lo ngatain Kakak gue bisu. Kurang ajar lo!” teriak Clarissa, wajahnya sudah memerah karena emosi. “Lepasin gue. Biar gue cakar-cakar, tuh, wajah, dasar perempuan gila!” ia meronta dari cekalan temannya.
"Jangan, Cla."
Vanya tertawa sarkas. “Jadi, siapa di sini yang gila?” tanyanya mengejek. “Elo?” tunjuknya pada Clarissa. "Atau gue?" beralih pada dirinya sendiri.
Vanya dan Lani terbahak melihat kebodohan Clarissa.
"Breng**k. Awas lo, Vanya!" teriak Clarissa murka.
Sekonyong-konyong Galang berlari menerobos kerumunan. "Ada apa ini?!" ucapnya entah pada siapa.
"Elo yang breng**k! Cewek murah*n! Cewek gila!" maki Vanya.
Clarissa kalap, melepaskan cekalan tangannya dan menarik rambut Vanya kuat, membuat Vanya memekik kesakitan. "Berani lo ngatain gue murahan!"
Vanya balik menarik rambut Clarissa. "Lepasin tangan lo, cewek gila!"
"Elo yang gila!" bentak Clarissa.
Hanin, Zia dan Lani berusaha melerai keduanya.
"Hoii bantuin!!" seru Lani nampak kewalahan.
__ADS_1
Galang melotot melihat adegan di depannya. Ia gegas memisahkan kedua gadis yang sedang beradu kekuatan rambut itu. Menarik tubuh Clarissa agar menjauh.
"Lepasin gue, biar gue cakar-cakar, tuh, wajah Mak lampir!"
"Berani lo ngatain gue? Dasar gila!” teriak Vanya.
Clarissa meronta. "Breng**k! Apa lo bilang?!"
"Astaga, Clarissa, sadar, Cla,” tutur Galang yang mulai kewalahan karena Clarissa terus meronta.
"Cewek gila!" pekik Vanya lagi.
Clarissa semakin tersulut emosi, ia mendorong tubuh Galang agar menyingkir dari hadapannya, namun dengan sigap Galang menahan tubuh Clarissa.
"Lepasin gue!"
Tanpa pikir panjang, Galang memanggul tubuh Clarissa seperti karung beras, membawanya pergi dari sana. Clarissa memukul-mukul punggung Galang, agar menurunkannya.
"Awas lo, Vanya, tunggu pembalasan gue!" teriak Clarissa saat Galang sudah membawanya cukup jauh dari tempat Vanya.
Galang membanting tubuh Clarissa pada sofa yang berada di ruang kesenian, karena ruangan itu yang dekat dengan koridor tempat Clarissa dan Vanya beradu tadi.
"Kenapa lo bawa gue ke sini?! Biarin gue ngabisin, tuh, anak!" teriak Clarissa menggeram.
"Udah, Cla."
"Gue belum selesai sama dia, biarin gue urus masalah gue!"
"Clarissa, diam!" bentak Galang.
"Jangan ikut campur!”
“Clarissa!"
"Apa?!" Clarissa ikut membentak dengan nafas memburu.
"Diem atau gue cium lo!" ancam Galang serius.
Kalimat Galang sukses membuat Clarissa terdiam membeku.
Galang menghembuskan nafas panjang. "Diem juga lo akhirnya,” ujarnya lega. Ia menyugar rambutnya. "Apa yang lo lakuin?!" cecarnya menatap Clarissa. "Lo mau jadi tontonan semua murid? Apa yang lo dapetin kalau sudah ngehajar dia?!"
Clarissa menunduk mendengar ucapan Galang.
"Lo enggak harus jadi cewek bar-bar buat bales dia, Cla. Bagaimana kalau Chiara tahu? Lebih lagi, bagaimana kalau Abang lo tahu?"
Mendengar Abangnya disebut, Clarissa mendongak, buliran bening menetes di pipinya.
Galang menghapus air mata di pipi Clarissa. "Jangan ulangi lagi, oke."
Clarissa menunduk lesu. "Gue enggak terima dia ngatain Kak Ara bisu," ujarnya mulai terisak.
Galang menarik Clarissa dalam pelukannya, mengelus punggung yang bergetar. "Udahlah yang penting Chiara enggak bisu, ‘kan? Dia cuma nggak boleh ngomong beberapa hari,” ucapnya menenangkan.
Clarissa mengangguk di pelukan Galang. "Maaf," lirihnya.
Galang melerai pelukannya, membingkai wajah Clarissa. "Jangan ulangi lagi. Gue takut sama lo,” ujarnya terkekeh mengusap pipi Clarissa.
Clarissa merengut memukul dada Galang.
Galang tergelak. "Muka lo kayak macan ngamuk tahu nggak? Ngeri gue."
Clarissa kembali memukul dada Galang berkali-kali. "Nyebelin."
Galang terbahak menyentuh perutnya.
"Gila,” cibir Clarissa mengusap matanya ujung matanya.
📖📖
📖
__ADS_1