
Di ruangan yang luas, kedua pria kakak beradik itu tengah dilanda kekhawatiran yang semakin melekat, bagaimana tidak, dua saudarinya belum pulang hingga malam menjelang, nomornya tidak bisa dihubungi sama sekali.
Aiden terlihat beberapa kali menghubungi nomor seseorang untuk mendapatkan informasi dimana keberadaan sang adik, bahkan kini Daniel yang merupakan sahabatnya dari orok pun ikut bergabung di rumahnya. Pihak sekolah mengatakan bahwa seluruh siswa siswi telah meninggalkan sekolah. Sedangkan dari rekaman cctv terlihat Clarissa dan Chiara sudah pergi meninggalkan area sekolah.
"Gimana, Niel? Mereka udah nemuin dimana adik gue?" tanya Aiden tak sabar.
Daniel memperhatikan layar ponselnya. "Tunggu sebentar lagi, Den,” jawabnya.
"Bang, kita lacak ponsel kak Ara aja gimana?" usul Alzayn.
Aiden dan Daniel saling tatap.
"Ide bagus," ucap Daniel setuju. "Kenapa nggak dari tadi aja coba," imbuhnya.
"Lo aja yang bego," seru Aiden kesal.
"Elo juga,” balas Daniel tak mau kalah.
Sedangkan Alzayn memutar bola matanya.
Aiden gegas berlari menuju ruang kerjanya guna mengambil laptop, hampir sepuluh menit menelusuri akhirnya mereka menemukan dimana keberadaan kedua adik perempuannya. Ketiganya bergegas menuju lokasi dengan membawa pasukan yang tak kalah banyak, karena diyakini ini adalah kasus penculikan. Entah siapa yang melakukan, tapi Aiden tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Berani mengusik keluarganya, harus siap mati di tangannya.
...***...
Galang membatu mendengar ucapan yang keluar dari bibir Chiara, begitu pula Clarissa yang menutup mulutnya karena terkejut akan pengakuan sang kakak, ekor matanya memperhatikan Galang yang berdiri di depannya, ia tahu Galang pasti mendengar ucapan Chiara. Clarissa merasa tidak enak hati dengan Galang, karena sama halnya itu merupakan penolakan dari Chiara.
Galang yang mematung tak menyadari bahwa ada musuh yang hendak menyerangnya, reflek Clarissa berlari dan menarik tubuh Galang untuk mundur, menyebabkan sang musuh memukul angin.
"Galang, awas!"
Tubuh Galang terhuyung ke belakang, ia membalik tubuhnya. "Thanks, Cla,” ucapnya menepuk pundak Clarissa.
Clarissa mengangguk.
Kenneth mengangkat tubuh Chiara. "Lindungi gue," titahnya pada kelompoknya.
Beberapa anggota terkejut melihat Kenneth membopong gadis dengan kepala yang mengeluarkan darah, mereka kemudian memberikan jalan untuk Kenneth dan menghajar musuh yang bermaksud menghentikan langkah Kenneth.
Terlihat tenaga Galang yang semakin berkurang, tubuhnya sangat letih, serta pasukan Viki yang semakin banyak.
Bola mata Clarissa membulat saat melihat di depan pintu seorang pria berbadan besar dengan tato di kakinya sedang menodongkan pistol ke arah Galang.
Pria itu adalah Viki —ketua geng. sengaja ia mengalah saat Galang menghajarnya, namun ia mempunyai rencana lain untuk Galang. Viki sudah melihat salah satu gadis dibawa pergi oleh seorang pria, ia tidak peduli, yang ia inginkan hanya Galang, dendam yang selama ini membuatnya buta. Ia menginginkan Galang mati di tangannya. Sekarang saatnya, ketika melihat Galang semakin tak berdaya, Viki meminta anggotanya yang sudah lemah untuk mundur digantikan pasukan yang ia sembunyikan untuk menyerang, sehingga kelompok Galang akan semakin mudah dikalahkan.
Clarissa semakin gemetar, ingin rasanya berteriak pada Galang, namun seakan tenggorokannya tercekat.
"SELAMAT JALAN, GALANG!!" teriakan Viki menggelegar.
Clarissa berlari dan mendorong tubuh Galang kuat.
__ADS_1
DOR!!
"AKHH."
Semua mata terbelalak mendengar suara tembakan.
*
Terlihat Aiden, Daniel, Alzayn dan juga beberapa bodyguard menyerbu lokasi. Aiden menjadi yang terdepan, ia menendang keras pintu di depannya membuat dua orang yang berada di belakang pintu tersungkur. "Urus mereka semua!" serunya.
Daniel dan Alzayn berlari ke lantai dua, namun langkah kakinya terhenti ketika melihat seseorang membopong gadis dan diyakini itu adalah Chiara.
"Apa yang terjadi sama kak Ara?" tanya Alzayn terkejut.
"Bawa Ara ke rumah sakit. Al, kamu ikut dia," titah Aiden menatap Alzayn kemudian menunjuk Kenneth dengan dagunya. Sungguh hatinya seperti tersayat saat melihat keadaan Chiara, namun ia masih harus menemukan adik yang satunya lagi, sehingga meminta Alzayn untuk menemani Chiara. ‘Ya Tuhan selamatkan adik-adikku.’
Aiden gegas menyusul Daniel yang sudah menaiki tangga. Di lantai dua tak kalah berantakan, ada beberapa yang sudah tumbang tergeletak di lantai. Tepat di depannya seorang pria menodongkan pistol ke arah sang adik, tanpa pikir panjang, Aiden meraih pistol di saku belakangnya dan menarik pelatuknya.
DOR!!
"AKHH,” jerit sang pria kala peluru tepat mengenai lengan kanannya, pistol yang di pegangnya terlepas.
"Abang!" Clarissa berseru saat melihat Aiden di depan pintu.
Galang tersentak menyadari Clarissa kembali menolongnya, ia terkejut melihat sang musuh mengerang kesakitan di lantai dengan darah yang keluar dari salah satu lengannya.
Daniel dengan sigap melayangkan pukulan pada orang yang berani menghalanginya, begitu pula Aiden yang sudah kalap melihat keadaan sang adik berada dalam bahaya, memukul semua orang yang menghalangi jalannya, sangat buas menghajar pria yang sudah berani menodongkan pistol ke arah Clarissa hingga orang tersebut benar-benar tidak bisa bergerak.
"Sstt.. tenang, ya, Abang ada di sini, kamu akan baik-baik saja." Aiden mengusap punggung Clarissa yang bergetar.
Clarissa mendongak. "Bang, kak Ara."
"Abang tahu, ayo kita pergi dari sini."
Clarissa mengangguk, ia benar-benar bersyukur Aiden datang, ia merasa akan baik-baik saja saat bersama kakak tertuanya.
"Niel, urus mereka," seruan Aiden di balas anggukan oleh Daniel yang sedang menghajar pria di depannya.
...***...
Sudah hampir tengah malam, namun mereka masih berada di depan ruang IGD untuk menunggu Chiara yang sedang ditangani oleh dokter. Beberapa dari mereka meminta bantuan medis untuk mengobati luka-lukanya, namun tidak dengan Kenneth, pria itu masih berdiri menyandar pada dinding dengan mata terpejam, pikirannya terus berputar pada ucapan Chiara sebelum gadis itu pingsan. Beberapa kali dari kawannya menawarkan agar mengobati lukanya, namun Kenneth bergeming.
"Kalian sebaiknya pulang, istirahat," ujar Aiden menatap para pria yang berdiri dengan tampilan amburadul.
Galang bangkit. "Dia benar, sebaiknya kita istirahat, besok kita ke sini lagi jenguk Chiara." Dari nada bicaranya menunjukkan penyesalan dan juga kepahitan yang berarti. "Maaf, Bang. Ini semua salah gue," sesalnya setelah berdiri di depan Aiden.
Aiden mengangguk. "Pulanglah,” ucapnya menepuk lengan Galang.
"Gue permisi, Bang."
__ADS_1
Clarissa yang bersender di pundak Aiden memperhatikan wajah Galang yang tersirat akan kesedihan.
"Lo nggak pulang, Ken?" Tatapan Aiden mengarah pada Kenneth yang masih berdiri di tempatnya.
"Sebentar lagi,” jawab Kenneth tanpa membuka mata.
Daniel menoleh pada Clarissa. "Cla, Abang anter pulang, ya? Muka kamu pucet, nanti sakit lagi.”
Clarissa menggeleng. "Cla mau nemenin kak Ara di sini," tolaknya.
"Kamu pulang aja dulu, bersih-bersih, terus makan, istirahat, kamu pasti capek," bujuk Aiden mengusap kepala Clarissa.
"Tapi Bang —"
Tatapan Aiden meredup. "Dengerin apa kata Abang, ini buat kebaikan kamu, Cla. Abang enggak mau kalau kamu juga ikut sakit," nasehatnya.
Clarissa menatap lekat wajah Aiden yang tersirat akan kesedihan, kekhawatiran serta penyesalan, abangnya pasti bingung mencarinya dan juga Chiara. Akhirnya ia mengangguk. "Cla pulang dulu, Bang. Kalau ada apa-apa kabari Cla."
Aiden mengangguk. "Hati-hati, Niel," perintahnya menatap Daniel.
*
Sudah hampir satu jam lebih, namun dokter yang menangani Chiara belum juga keluar membuat perasaan Aiden kian tak menentu, ini kali kedua ia lalai menjaga Chiara. Aiden mengurut hidungnya. Apa yang harus ia katakan pada sang Bunda, orangtuanya pasti kecewa karena ia tidak bisa menjaga adik-adiknya. ‘Bunda, maafkan Aiden,’ sesalnya dalam hati. Aiden menoleh melihat Kenneth. "Apa yang terjadi, Ken?" tanyanya.
Kenneth membuka mata, menoleh pada Aiden kemudian mengambil duduk di samping pria itu. "Mereka menculik Chiara buat balas dendam ke Galang."
"Siapa Galang?"
"Yang tadi duduk di sini, Bang," Alzayn menjawab.
"Chiara pacaran sama Galang?"
Kenneth mengangkat bahunya. "Kemungkinan sasarannya adalah Clarissa, tapi gue nggak tahu bagaimana Chiara juga ada di sana."
"Ada hubungan apa Clarissa dengan Galang?"
"Maaf, gue nggak tahu," jawab Kenneth jujur.
Kemudian ketiganya diam.
Satu setengah jam berlalu, namun dokter masih belum keluar juga.
"Kak, lo sebaiknya bersihin diri dulu, gue risih lihat wajah lo penuh darah kayak gitu," ujar Alzayn menatap ngeri darah yang mengering di beberapa titik di wajah Kenneth.
"Benar apa kata Al, lo pulang aja dulu," Aiden menambahi dengan menepuk pundak Kenneth.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Kenneth mengangguk dan memutuskan untuk pulang. Ia juga perlu mengobati punggungnya yang terasa nyeri saat ia gunakan duduk bersandar di kursi. Tapi sepertinya saat ia membopong Chiara ia tidak merasakan sakit, punggungnya seolah baik-baik saja.
📖
__ADS_1
📖📖