
Beberapa hari kemudian.
Seluruh keluarga Van Houten mengetahui fakta besar bahwa Galang merupakan anak dari Intan, yang merupakan adik dari Stella, namun bukan itu yang menyebabkan keterkejutan besar, melainkan hubungan yang dijalani oleh Galang dan Clarissa. Kedua orangtuanya jelas menentang hubungan mereka, Sandylah yang lebih dominan menjadi marah besar.
"Kalian berdua tidak bisa bersama, kamu harus putus dengannya, Clarissa!" bentakan keras mengisi kesunyian ruangan.
Clarissa menangis tersedu. "Tapi, Dad, Cla tidak bisa."
"Kalau Daddy bilang tidak! Berarti tidak! Jangan lagi berhubungan dengan dia!" tunjuknya pada Galang yang berdiri memaku di tempat.
Stella berusaha menenangkan Clarissa yang menangis. "Sayang, benar apa kata Daddy, kalian berdua tidak seharusnya berpacaran, kalian berdua saudara," ia berusaha menjelaskan dengan lembut.
"Tapi, Bunda."
"Kamu!" Sandy beralih menatap Galang. "Jangan lagi temui Clarissa, sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubungan kalian berdua!"
"Tapi Om,"
"Saya tidak mau menerima alasan apapun. Lagipula kalian berdua masih kecil, masih panjang masa depan kalian, belum tentu kalian berjodoh di masa yang akan datang. Jadi sebelum terlambat, putuskan hubungan kalian, ingat, kalian berdua bersaudara!" hardik Sandy berlalu menaiki tangga.
Awalnya Galang berniat meminta restu, meskipun ia tahu bahwa hubungannya dengan Clarissa pasti tidak akan diterima, namun dengan penuh tekad ia memberanikan diri bertandang ke rumah Clarissa mengajaknya berangkat sekolah bersama setelah beberapa hari Clarissa menolak untuk dijemput olehnya. Namun setelah ia mengatakan bahwa ia berpacaran dengan Clarissa, Sandy dan Stella tersentak dan menentang keduanya.
Stella berjalan menghampiri Galang. "Nak, apa yang Om kamu bilang itu benar, kalian tidak seharusnya bersama, masih belum terlambat untuk mengakhirinya," ujarnya menjelaskan.
Galang mendongak. "Apa kita berdua tidak bisa berjuang, Tante?" ia ingin memastikan, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
Stella menggeleng pelan. "Maafkan Tante."
"Bunda," Clarissa memeluk Stella sambil menangis.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, belum tentu kalian berdua berjodoh."
"Atau mungkin memang kami berdua berjodoh," sahut Galang lugas.
"Jangan bermimpi!" seru sebuah suara yang diyakini adalah suara Sandy, yang kini sudah berjalan sambil menenteng tas kerja. "Kalian berdua tidak berjodoh, aku sendiri yang akan mengantarkan anak gadisku dengan jodohnya, dan itu bukan kamu!" Sandy menuding wajah Galang.
Galang tak gentar, netranya turut menatap pada Sandy, tidak ada ketakutan sedikitpun di sana. "Aku akan buktikan itu, Om," tekadnya.
"Saya akan menunggu," Sandy menantang. "Clarissa, berangkat sama Daddy," Sandy menarik tangan Clarissa untuk mengikutinya.
"Tapi, Dad —"
"Kamu mau membantah Daddy?!"
Clarissa menunduk, kemudian menggeleng pelan.
Galang dan Stella memperhatikan keduanya yang perlahan menjauh, terlihat Clarissa yang beberapa kali menengok ke belakang menatap Galang.
"Ayahmu juga akan bertindak seperti itu saat mengetahuinya," tutur Stella menepuk lengan Galang.
Galang menoleh. "Tapi aku ingin memperjuangkan Clarissa, Tante."
Stella menghela nafas, anak ini sama keras kepalanya dengan adiknya. Stella mengangguk-angguk. "Berangkatlah, kamu akan terlambat."
"Aku permisi ,Tante, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Stella memperhatikan punggung Galang yang berlahan menjauh dan menghilang. "Jiwa muda," gumamnya menggelengkan kepala.
...***...
"Jadi maksud kamu Galang sepupuan sama kamu?" Kenneth bertanya dengan intonasi suara yang sangat datar.
Chiara menunduk lesu. "Iya."
Chiara menyenderkan kepalanya di sofa ruang osis. "Kasihan Clarissa, beberapa hari dia murung terus, aku nggak tahu harus bagaimana, karena Daddy menentang hubungan mereka."
Kenneth meraih kepala Chiara agar bersandar di bahunya. "Daddy kamu benar."
"Tapi aku kasihan sama Clarissa," Chiara mendongak menatap Kenneth.
Kenneth tersenyum. "Biar bagaimanapun Galang dan Clarissa nggak mungkin bersama, Ra, itu sudah hukum alam. Kecuali..."
Chiara menegakkan punggungnya, menatap Kenneth serius. "Kecuali apa?"
"Kecuali mereka nggak ada hubungan darah."
Chiara kembali lesu, menyandar kepalanya di bahu Kenneth. "Tapi kenyataannya kami sedarah."
"Kamu coba kasih pengertian sama adik kamu," Kenneth mengusulkan, ia membuka ponselnya yang bergetar.
Chiara mengangguk. "Aku usahakan."
Tak mendapat sahutan, Chiara kembali duduk tegak. "Kamu lihat apa?"
Kenneth menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya. "Enggak, ini ada pesan dari temen lama aku."
"Ada apa?" Chiara melongokkan kepalanya pada layar ponsel Kenneth.
"Mereka ngundang aku ke tempat mereka."
"Kamu mau?"
Kenneth mengangkat bahunya. "Lihat nanti."
"Ken."
"Hm?"
"Aku denger kamu pernah ikut balapan liar, ya?"
Kenneth menoleh. "Kata siapa?"
"Emm, pernah denger, sih, apa itu bener?" tanya Chiara hati-hati.
__ADS_1
Kenneth tersenyum, mengusap kepala Chiara. "Entar pulang sekolah aku mau ngumpul sama anak-anak, mau ikut?" ajaknya balik bertanya.
"Kemana?"
"Ada, lah, mau ikut nggak?"
"Emm, boleh, deh."
Kenneth tersenyum mengangguk.
*
Sepulang sekolah, Kenneth mengajak Chiara menuju tempat kawan-kawannya biasa nongkrong di sebuah tempat, atau bisa disebut basecamp.
Chiara sedikit terkejut melihat rumah di hadapannya, terdapat beberapa motor sport terparkir di halamannya yang luas. "Ken, ini rumah siapa?" Chiara memperhatikan keseluruhan dari rumah.
"Rumah temen," Kenneth menarik tangan Chiara.
"Kenapa ramai sekali, ada acara apa?"
Chiara kembali berujar seraya memperhatikan beberapa motor dan mobil yang terparkir.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Chiara, Kenneth berjalan memasuki rumah.
Ceklek!
Seluruh penghuni rumah menoleh ke arah pintu.
Chiara terbelalak lebar melihat pemandangan di hadapannya. Sebagian besar teman sekolahnya ada di sana dan beberapa anggota lain yang tidak ia kenali.
"Hai, Ra," Julio menyapa.
"Julio?" Chiara membeo.
"Siapa dia, Ken?" tanya salah seorang pria.
"Cewek gue," jawab Kenneth mengeratkan genggaman tangannya.
"Bening bener," goda salah seorang dari mereka.
"Gue inget, dia yang jadi sandera waktu itu, 'kan?" seloroh seorang pria dengan kaos singlet berwarna hitam. Ucapan pria itu diangguki yang lain.
"Memang dia. Jangan ganggu dia, dia anak keluarga Van Houten," celetuk Putra yang baru keluar dari pintu di sebelah kiri.
Pupil mata Chiara melebar. 'Putra juga di sini?'
Yang lain tampak terkejut mengetahui fakta bahwa Chiara anak keluarga Van Houten, karena beberapa dari mereka tahu siapa keluarga itu.
"Bang Ibas mana?" tanya Kenneth kemudian.
"Ada di atas."
"Ra, kamu duduk di sini dulu, aku ada urusan di atas," Kenneth menuntun Chiara untuk duduk di sofa.
Chiara hendak memprotes.
"Sini, Ra, gue nggak bakal gigit lo, kok," seloroh Deni jenaka, ia terkekeh di ikuti yang lain.
Kenneth mengangguk. "Jagain cewek gue," titahnya menatap Alex. "Aku cuma sebentar," bisiknya di telinga Chiara
Mau tak mau Chiara mengangguk.
Sepeninggalan Kenneth.
Chiara duduk di sofa di samping Putra. "Mila nggak ikut?" tanyanya.
"Enggak, dia jarang ikut kalau gue ajak ke sini."
Chiara mengangguk, sebenarnya ia agak bingung dengan perkumpulan itu, apa mereka merupakan kelompok gengster?
"Hai, gue Desi," sapa seorang gadis.
Chiara tersentak, ia tak menyadari bahwa ada beberapa perempuan juga di sana. "Oh, hai, gue Ara," balasnya menjabat tangan Desi.
"Lo pacaran sama Ken?" Desi mengambil duduk di samping Chiara.
Chiara mengangguk.
"Dia cewek gue, Ra," ujar Rangga meneguk minuman kalengnya.
"Oh ya?" Chiara nampak terkejut, ia tersenyum memperhatikan Desi. 'Jadi dia gadis yang dipilih Rangga setelah tidak mendapatkan Sinta?' bathinnya.
"Lo sekelas sama Rangga?"
"Iya, gue anak baru."
Desi mengangguk. "Udah lama pacaran sama Ken?"
"Em.. baru seminggu."
Desi kembali mengangguk. "Gue kira si Ken nggak doyan cewek," bisiknya tersenyum lebar.
Chiara menyernyit.
Desi menyengir. "Lo tahu sendiri, kan, gimana kakunya dia."
Ah.. Chiara kini tahu maksud dari Desi, iapun ikut tersenyum setelahnya. "Lo sering ke sini, Des?"
Desi mengangguk. "Iya, Rangga sering ngajak gue."
Chiara mendekatkan tubuhnya. "Sebenarnya ini kelompok apaan, sih?" tanyanya berbisik.
Desi terkesiap. "Lo nggak tahu, Ra?" tanyanya terkejut.
Chiara tertegun melihat respon Desi, kepalanya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Sebaiknya lo nanya sama pacar lo," Desi menunjuk Kenneth yang turun dari tangga.
Chiara turut memperhatikan Kenneth.
Desi menepuk lengan Chiara. "Tenang aja, mereka bukan gengster, tukang pukul atau pengedar narkoba," bisiknya sebelum bangkit dari duduknya.
Chiara memperhatikan Desi yang bangkit dari sisinya, pikirannya tengah mencerna kalimat Desi, ia sedikit lega mendengar bahwa perkumpulan itu bukan kelompok gengster yang sempat ia pikirkan.
Kenneth menempati sisi Chiara yang di tempati Desi sebelumnya. "Mau pulang sekarang?" tanyanya.
Chiara mengangguk. "Iya."
"Ayo," Kenneth menggenggam jemari Chiara.
"Lo mau balik, Ken?" Alex berseru.
"Ya."
Alex mengangguk. "Hati-hati."
...***...
Kenneth memperhatikan Chiara dari kaca spion.. "Ada apa?" tanyanya.
Chiara menggeleng, mengeratkan pelukannya di perut Kenneth.
Sengaja Kenneth membelokkan motornya menuju sebuah danau tepi jalan yang agak sepi, menghentikan motornya di bawah pohon beringin yang sejuk dan rindang.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Chiara memperhatikan sekitar.
"Aku tahu ada yang ingin kamu tanyakan," jawab Kenneth setelah membuka helm.
Chiara turun dari motor, berjalan menuju sisi danau dan duduk di rerumputan, diikuti Kenneth di sampingnya.
"Apa kamu terlibat sebuah kelompok gangster?" tanya Chiara hati-hati.
Awalnya Kenneth menyernyit, namun kemudian tersenyum. "Bukan gangster, cuma anggota kelompok biasa."
"Enggak tawuran, 'kan?"
"Bukan, Ra, kita tergabung karena hobi yang sama."
Chiara mengangguk, kemudian tatapannya mengarah pada seorang pemuda yang tengah memancing di seberang danau.
"Ra."
Chiara menoleh. "Ya?"
"Malam minggu ini aku dapat tawaran balapan."
Chiara terperangah. "Apa? Kamu.. Kamu ikut balapan?" Chiara tidak menyangka kalau Kenneth juga ikut balapan seperti Galang. Seketika ia teringat percakapan teman-temannya di kantin waktu itu.
"Lang, gue denger lo habis tanding tadi malem?"
"Juara bertahan."
"Woahhh keren lo, Lang."
"Kapan-kapan lo harus coba lawan si Ken."
"Boleh, gue juga penasaran sama kemampuan dia."
"Gue nggak tertarik."
"Sekali-kali, Ken, udah lama lo nggak pernah turun."
Jadi yang dimaksud mereka waktu itu adalah, Kenneth yang juga merupakan seorang pembalap liar??
"Iya, tapi nggak tiap balapan aku yang ikut, cuma kali ini Bang Ibas yang minta aku buat turun tangan," Kenneth menjawab.
"Bang Ibas?"
"Dia ketua geng."
Chiara nampak berfikir. "Aku boleh ikut?" tanyanya hati-hati.
Kenneth menoleh, menatap lekat gadis di sampingnya. "Jangan," tolaknya.
"Kenapa?"
"Bahaya, Ra, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu."
"Tapi, kan, ada kamu yang jagain aku."
Kenneth mengembuskan nafas pelan. "Lain kali aku ajak, tapi tidak malam minggu ini."
"Kenapa?" Chiara hendak protes.
Kenneth menggenggam jemari Chiara.
"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" Chiara menyelidik.
Kenneth tersenyum, melingkarkan tangan di pundak Chiara. "Aku nggak nyembunyiin apapun dari kamu."
Chiara mendongak. "Lalu?"
Kenneth mencubit pipi Chiara gemas. "Kepo banget, sih, kamu."
Bibir Chiara mengerucut sebal.
"Janji, lain kali aku ajak," Kenneth meyakinkan.
"Janji?"
Kenneth mengangguk. "Iya."
__ADS_1
📚
📚