
Seperti janjinya, Chiara datang ke rumah Kenneth dengan membawa kotak bekal berisi bakwan udang pesanan Kenneth.
Chiara tampak cantik mengenakan baju rajut berlengan panjang berwarna biru tosca, celana jeans berwarna putih, serta sepatu yang juga berwarna putih, serta rambutnya yang ia biarkan tergerai. Kedatangannya disambut oleh Ratih, setelah berbasa-basi sejenak, Chiara beranjak menuju lantai dua dimana kamar Kenneth berada.
Mengetuk tiga kali, setelah mendapat sahutan Chiara membuka pintu, terlihat Kenneth tengah bersandar di sofa panjang menonton acara televisi.
Kenneth tersenyum menyambut kedatangan Chiara, menepuk sisi sebelahnya bermaksud agar Chiara duduk.
Chiara menyerahkan kotak bekal pada Kenneth. "Pesanan kamu," ujarnya.
Kenneth tersenyum. "Serius buatan kamu?" tanyanya dengan suara serak.
Chiara mengangguk. "Udah tahu lagi flu, kenapa minta makan gorengan, sih," protesnya.
Kenneth hanya tersenyum. "Lagi pengen makan masakan kamu."
"Gimana?" tanya Chiara menatap penuh harap saat Kenneth memakan masakannya.
"Enak."
Chiara tersenyum lebar, merasa sangat lega saat hasil masakanmu di puji orang lain. Ia menerima suapan yang Kenneth berikan. "Besok kamu sekolah, 'kan?"
Kenneth mengangguk.
"Aku bawa mobil sendiri aja, ya?"
Kenneth menoleh. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku pengen bawa mobil. Atau gimana kalau aku yang jemput kamu?"
"Pake mobil aku aja, nanti aku jemput."
"Tapi biarin aku yang nyetir, ya?" usul Chiara kemudian.
Kenneth menggeleng. "Nanti kamu nabrak lagi, kayak Mila."
Seakan teringat. "Eh, gimana kabar cewek yang ditabrak Mila, ya? Mila belum ngabarin aku dari kemarin," Chiara bergumam.
"Bukannya kemarin kamu abis jenguk dia."
Chiara mengangguk. "Iya, tapi waktu itu keadaannya masih belum pulih, aku kasihan sama dia."
Kenneth menoleh, memperhatikan raut wajah Chiara yang tengah memikirkan sesuatu. "Kenapa?"
"Enggak, nggak apa-apa, semoga dia cepet sembuh," Chiara tersenyum. Ia turut menselonjorkan kakinya, kepalanya menyandar di bahu Kenneth.
Kenneth mengusap kepala Chiara. "Makasih," ucapnya.
Chiara mendongak. "Untuk apa?"
"Bakwan udangnya."
Chiara mengangguk, netranya terfokus pada acara di televisi. Dalam tayangan tersebut menampilkan acara yang sedang berada di sebuah pasar malam. "Ken, kapan-kapan kita ke sana, yuk?" tunjuknya pada layar televisi.
"Kamu mau naik bianglala?"
Chiara mengangguk antusias.
Kenneth mengusap sebelah pipi Chiara. "Minggu depan."
Chiara menegakkan punggungnya. "Beneran?"
Kenneth mengangguk.
__ADS_1
Kedua ujung bibir Chiara terangkat membentuk sebuah senyuman lebar, tangannya melingkar di lengan Kenneth, wajahnya mendongak menatap Kenneth dengan dagunya bertumpu di pundak pemuda itu. "Makasih," ucapnya senang.
Cup!
Kenneth mencuri kecupan singkat di bibir Chiara. "Sama-sama."
Keduanya diam, fokus mereka ada pada layar televisi di depannya.
"Ken."
"Hm?"
"Aku pasti akan merindukan moment seperti ini ketika di Jerman nanti," Chiara berujar tiba-tiba.
Kenneth menoleh. "Kamu berubah pikiran?"
Chiara mendongak kemudian menggeleng, tak berapa lama senyumnya terukir. "Mari membuat kenangan," ajaknya antusias.
Kenneth tertawa kecil.
"Sebelum aku berangkat ke Jerman, Ken, aku yakin kamu pasti bakalan kangen sama aku."
"Oh, ya?" Kenneth pura-pura terkejut.
Chiara membuang muka. "Awas aja kalau sampai kamu nggak kangen aku," gerutunya pelan.
Kenneth tersenyum mendengar gumaman Chiara, tangannya melingkar di pundak Chiara, menarik tubuhnya agar mendekat. "Aku pasti bakalan kangen sama gaya ngambek kamu ini," ucapnya menggesek ujung hidungnya dengan hidung Chiara.
Chiara tersenyum, pipinya bersemu.
"Apalagi warna pipi yang merah ini," Kenneth memainkan kedua pipi Chiara gemas, membuatnya seperti bibir ikan koi yang lucu. "Dan juga.." ucapan Kenneth terjeda saat jemarinya menyentuh permukaan bibir Chiara.
Chiara menahan nafas menyadari tatapan Kenneth tertuju pada bibirnya.
Chiara merasakan gelenyar aneh saat jemari Kenneth bergerak naik turun di punggungnya, tanpa sadar ia menarik kaos Kenneth lebih dekat serta menggigit bibir Kenneth dengan keras.
Bukannya merasakan sakit, justru Kenneth semakin memperdalam ciumannya, menghisap habis bibir candu yang memabukkan, mengabsen deretan gigi dengan lidahnya yang piawai, membiarkan bibir ranum itu membengkak karena ulahnya.
Keduanya terengah saat tautannya terlepas, Kenneth kembali memberikan ciuman panjang di pipi Chiara.
Chiara mendorong tubuh Kenneth saat mendengar teleponnya berdering. "Ada telepon," ujarnya memberitahu.
Kenneth mencebik kesal, mengalihkan tatapannya pada layar televisi.
"Halo."
"..."
Kenneth menoleh saat menyadari gelagat tubuh Chiara yang menegang.
"Gue ke sana sekarang."
"Ada apa?" Kenneth bertanya.
"Kayaknya terjadi sesuatu sama Clarissa, aku harus pergi," Chiara meraih tasnya yang tergeletak.
Kenneth menatap sendu pada Chiara.
"Besok kita bertemu lagi di sekolah, oke," bujuk Chiara merasakan Kenneth merajuk padanya. Huh, pemuda itu, ternyata bisa merajuk juga.? Ternyata Kenneth bisa bersikap menggemaskan seperti itu?
Chiara meraih wajah Kenneth, memberikan ciuman panjang di kedua pipinya. "Aku pergi dulu, ya?" pamitnya kemudian.
Meskipun merasa tidak rela Chiara akan pulang secepat itu, namun tak urung Kenneth mengangguk. "Hati-hati."
__ADS_1
...***...
Clarissa yang sedang hang out bersama Hanin dan Zia tak sengaja melihat Galang yang juga sedang berada di salah satu mall bersama teman-temannya.
Namun yang membuatnya terkejut adalah salah satu gadis yang berada di antara mereka. Lebih mengejutkannya lagi bahwa gadis itu menggandeng lengan Galang posesif.
Clarissa tak bisa mengalihkan tatapannya dari Galang dan sang gadis, kakinya seakan berat untuk digerakkan, ia berdiri mematung di tengah hiruk pikuk orang hilir mudik berjalan melewatinya.
Hanin dan Zia dilanda kebingungan yang berarti melihat respon Clarissa, berulang kali mengajak Clarissa agar segera pergi dari sana, namun Clarissa tidak merespon sama sekali, bahkan meskipun keduanya berusaha mendorong tubuh Clarissa, Clarissa tetap diam di tempat.
Tatapan Clarissa meredup, jantungnya serasa diremas kuat, tangannya reflek menyentuh dadanya. Ternyata ia belum bisa merelakan Galang bersama gadis lain, setetes air matanya jatuh.
Hanin dan Zia semakin gelisah melihat Clarissa meneteskan air mata.
"Cla, ayo kita pergi dari sini."
"Iya, Cla, kita pulang aja, yuk?"
Hanin dan Zia saling tatap.
"Gimana, nih?" tanya Hanin khawatir.
Zia menggeleng. "Cla," panggilnya lagi.
"Telepon Kak Ara," bisik Hanin kemudian.
Zia mengangguk, ia memberi jarak menjauh dari Clarissa untuk menghubungi Chiara.
Beberapa menit kemudian Chiara sudah berada di salah satu mall tempat adiknya berada. Tatapannya berotasi guna mencari keberadaan sang adik, dan ya. ia menemukannya, sedang duduk di salah satu kursi pengunjung, ditemani Hanin dan Zia. Kakinya berlari menghampiri. "Cla?" panggilnya pelan.
Clarissa yang masih terbengong mendongak menatap sang kakak.
Hanin menggeser duduknya memberi ruang untuk Chiara.
Chiara mengusap pelan pundak Clarissa. "Kita pulang, ya?" ajaknya.
Clarissa menggeleng. "Dia siapa, Kak?" tanyanya menunduk. "Apa dia pacar baru Galang? Kenapa dia begitu mudahnya melupakan kenangan kita?"
Chiara menarik tubuh Clarissa ke dalam pelukan. "Sstt.. jangan diteruskan, Kakak nggak tahu siapa dia, tapi kalau kamu mau tahu biar Kakak tanyakan sama Galang."
"Bagaimana kalau dia memang benar pacar Galang?"
Chiara menarik diri, membingkai wajah Clarissa. "Cla, dengerin Kakak. Kakak nggak tahu dia siapanya Galang, tapi Kakak harap kamu jangan terlalu memikirkan hal ini, kamu harus melanjutkan hidup kamu, Cla, jangan hanya berpusat pada Galang. Kakak tahu ini sulit, tapi cobalah mengerti keputusan yang keluarga kita ambil, semua demi kebaikan kamu dan Galang." Chiara menarik nafas. "Kakak mohon, jangan sakiti diri kamu sendiri, ingat Daddy dan Bunda di rumah yang mengharapkan kebahagiaan kamu, Abang, aku, Al, semua berharap kamu melupakannya, mengikhlaskannya."
Clarissa menggeleng, airmatanya sudah membentuk anak sungai. "Tidak semudah itu, Kak."
Chiara menghela nafas. "Kakak tahu ini sulit, bahkan mungkin aku sendiri tidak akan bisa melakukannya. Ingat kata Bunda, Cla, satu-satunya cara adalah belajar mengikhlaskan, dia bukan bagian terdalam dalam hidup kamu, dia hanya seseorang yang singgah di hati kamu, bukan untuk menetap, hanya menempati bagian terkecil dalam hatimu." Chiara memperhatikan Clarissa yang mulai tenang. "Kakak akan tanyakan sama Galang siapa gadis itu, tapi Kakak harap kamu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi setelahnya."
Clarissa menggeleng kuat. "Jangan, Kak, aku nggak mau tahu siapa dia."
"Clarissa, kalau Galang saja bisa terus berjalan maju, kenapa kamu enggak? Lihat, mungkin itu juga salah satu cara agar Galang bisa menghapus bayangan diri kamu dalam pikirannya, itu yang sedang Galang lakukan, Cla, mencoba menerima posisimu sebagai saudara di dalam hidupnya. Jadi, kalau Galang bisa, kenapa kamu enggak bisa, Cla?" Chiara menghapus air mata yang mengalir di pipi Clarissa.
Clarissa tersentak. "Apa benar seperti itu, Kak?"
Chiara mengangguk. "Pelan-pelan."
Clarissa tengah mencerna ucapan Chiara, mungkin memang benar, Galang mencoba menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan bisa bersatu, bukankah pernah Galang katakan. Tolong beritahukan padaku kalau kamu berhasil melupakanku? Dan mungkin itu salah satu cara Galang. Kalau Galang berhasil, kenapa ia tidak bisa mengikuti cara Galang?
Baiklah jika memang begitu kenyataannya, Clarissa akan mencoba mengikuti caranya.
📖📖
📖
__ADS_1