KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 5 - Macan vs ular


__ADS_3

Malam itu Galang mengunjungi sebuah club malam untuk bertemu seseorang.


Tatapan Galang berotasi mencari seseorang yang dimaksud. Lambaian tangan dari seberang membuat Galang melangkah menghampiri.


"Nggak biasanya ngajakin bisnis di tempat kayak gini," komentar Galang ketika tiba di meja.


Pria itu terkekeh. "Sekalian gue perlu temen ngobrol."


Galang mengangguk, menyesap minuman yang sudah dipesan untuknya.


"Gue habis kalah taruhan sama Bisma. Diskotik yang ia bangun mencapai puluhan milyar itu hancur," pria itu berujar.


"Dia yang rugi banyak, kenapa lo yang pusing mikirin?" Galang tak mengerti.


Pria itu mengangguk-angguk. "Taruhannya gue lepasin cewek gue kalau seandainya diskotiknya dia hancur," ia nampak frustasi, meneguk minuman alkoholnya kasar. "Selama lima bulan ini baik-baik aja, kan, itu diskotik, sekarang malah hancur, terancam tutup."


"Itu usahanya dia, kenapa lo yang harus mikir kalau hancur? Terus kenapa lo harus nyeret cewek lo segala?" Galang masih tak mengerti.


"Lo tahu, kan, gue sama Bisma udah kayak lem korea, nempel banget. Gue lagi mabok waktu Ling Hao ngajak taruhan bisnis Bisma bakal hancur. Gue nggak terima temen gue digituin. Ya, udah gue bilang aja kalau sampai diskotik itu hancur gue serahin cewek gue beserta mobil gue sama Hao," terang pria itu.


Galang geleng-geleng kepala. "Bego banget lo, Fan."


Fando, pria yang tengah kalut itu mengangguk lemah. "Gue nggak kepikiran kalau bisnis besar itu bakalan hancur dalam waktu enam bulan."


"Bisnis ada pasang surutnya. Tapi Bisma bisa mulai dari awal lagi, kan?"


Fando menggelengkan kepala. "Bisma berniat ngejual diskotik itu."


Sekali lagi Galang menyesap minumannya. "Terus bisnis yang lo maksud apa? Ngebeli diskotiknya Bisma?" ia menebak.


Fando menyengir. "Ayo patungan, gue bakal cari temen lain buat ikutan."


Galang mendengus. "Makanya mikir dulu sebelum bertindak," ia meninju lengan temannya itu.


"Namanya juga mabok, emosi gue, temen gue diremehkan sama Hao. Cindo edan emang dia," semprot Fando marah. Ia meneguk alkoholnya sebelum berujar, "Gue udah dapet rekan satu lagi buat beli diskotiknya Bisma."


"Siapa?"


"Berlian."


Galang terkejut. "Kenapa lo bawa dia?"


"Dia sendiri yang ngomong sama gue pengen buka usaha lain, gue tawarin beli diskotik itu, dia setuju."


Galang memicing curiga, Berlian tidak akan semudah itu dibujuk.


Fando mendesah menyadari tatapan selidik lawan. "Oke. Gue bilang kalau elo juga tergabung dalam bisnis ini, makanya dia mau," akhirnya ia harus bicara jujur.


"Gue belum setuju dengan rencana bisnis lo," Galang menyahut.


Fando berdecak. "Bantuin gue napa, Lang. Gue butuh banget bantuan lo. Gue harus bikin diskotik itu berjaya lagi, atau cewek gue yang bakal jadi korban," ia tampak memohon.


"Itu masalah lo," Galang tak mau tahu.


"Kalau lo ada di posisi gue, cewek lo dalam bahaya, apa lo bakal diem aja? Gue juga pasti bakal bantuin lo."


Galang nampak berfikir, Fando adalah temannya sejak jaman kuliah, mereka cukup dekat hingga berbagi susah bersama. Jika seandainya Clarissa dalam masalah, Galang juga pasti akan memohon bantuan pada siapapun itu. Ia tidak akan membiarkan temannya itu sengsara. "Patungan bisnis butuh modal besar, gue nggak bisa bantu banyak," ujarnya pada akhirnya.


Fando tersenyum, ia menepuk lengan Galang pelan. "Yang penting lo udah setuju join kerjasama sama gue. Biar gue mikirin cara selanjutnya."


Galang merogoh sakunya saat merasakan ponselnya bergetar. Ia tersenyum melihat identitas sang penelepon. "Halo, Sayang?"


"Aku udah otw pulang, mungkin setengah jam lagi sampai."


"Aku jemput kamu di kantor?" Galang berujar.


"Nggak perlu."


Terdengar suara Clarissa yang tengah berbicara dengan seseorang.


"Kamu sekarang dimana?"


"Aku lagi di club X sama temen, dia lagi perlu bantuan."


"Kata Ko Juno dia bakal anterin aku ke situ."

__ADS_1


Galang mengangguk. "Kabarin kalau sudah sampai depan."


"Oke. Miss you."


"Miss you more."


Fando lekat memperhatikan juga mendengarkan Galang yang tengah bertelepon. "Cewek lo?" tanyanya kemudian.


Galang mengangguk.


"Wihh, seriusan udah punya cewek?" Fando nampak tak percaya, sebab Galang yang ia kenal sejak kuliah seakan alergi terhadap perempuan.


"Pemilik hati gue udah balik," tanggap Galang sekenanya. Karena ia tidak menceritakan detail tentang hubungannya dengan Clarissa pada siapapun.


Fando terkekeh. "Gue pikir elo nggak suka cewek. Berlian yang bening aduhai aja lo tolak."


Galang tak menyahut.


"Anak mana dia?" Fando penasaran.


"Jakarta, lagi magang di sini."


Fando mengangguk-angguk. Tak berapa lama netranya menangkap sosok perempuan yang baru saja memasuki club. "Berlian!" serunya keras.


Berlian menoleh, ia tersenyum dan menghampiri.


"Lo ngundang dia juga?" Galang menyelidik.


"Dia cuma nanya gue dimana, gue jawab di club sama elo."


Galang menghembuskan nafas lelah.


"Hai, Fando, Galang," sapa Berlian renyah.


"Hai, Lian."


Galang hanya mengangguk.


"Tumben kamu ke club?" tanya Berlian pada Galang.


"Aku yang ngajakin dia ke sini, membicarakan bisnis kita," Fando yang menjawab.


Fando menggeser tempat duduknya, ia suka dengan keantusiasan Berlian. "Untuk investasi itu terserah kamu, mau berapapun juga boleh. Aku masih harus mencari investor lain untuk benar-benar membuat tempat itu berjaya kembali. Kontrak kerjanya akan aku kerjakan secepatnya," ia tak kalah antusias.


"Risetnya kalau masih harus mendirikan diskotik apa akan menguntungkan juga?" Galang berujar.


"Bagaimana kalau Bar dengan gaya elegan?" Berlian mengusulkan. "Semacam Lounge gitu."


"Target pasarnya siapa? Lo harus mikir detail," Galang mengingatkan. "Kalau target pasar lo kalangan atas bener kata Berlian, lounge lebih cocok. Kalau diskotik sama seperti sebelumnya, target pasar lo anak muda," ia menambahi.


Fando terdiam dengan pikiran melayang, apa yang Galang katakan memang sudah ada dalam pemikirannya. "Menurut kalian gimana? Siapa target pasar yang cocok?" ia bertanya balik.


"Bar elegan aja," Berlian mengusulkan. "Kita bertiga mempunyai banyak kolega bisnis, bisa juga menyediakan tempat untuk meeting santai, kan? Atau berikan voucher untuk para karyawan kantor. Dengan begitu semakin banyak yang berkunjung dan kita mendapatkan keuntungan," imbuhnya lagi.


"Gue setuju ide Berlian," Galang menyahut.


Fando mengangguk-angguk. "Gue bakal cari investor lebih giat lagi."


"Tapi kamu sudah jamin temen kamu mau jual diskotiknya ke kamu, kan, Fan?"


Fando kembali mengangguk. "Udah, kok, Bisma udah angkat tangan sama usahanya yang itu. Gue juga udah ngomong sama dia mau beli diskotiknya, tapi nyicil, hehe," ia menyengir.


Berlian tersenyum. "Aku ke toilet sebentar," pamitnya.


Galang dan Fando mengiyakan.


"Kira-kira siapa lagi yang mau join bisnis sama kita, ya, Lang?" Fando berujar seraya jemarinya berselancar pada akun sosial media, ia tengah mencari kontak seseorang.


"Lo pikir aja sendiri, beban pikiran gue udah terlalu banyak, jangan lo bebani lagi," balas Galang tak peduli. "Lagian ini masalah lo, kenapa gue jadi ikut-ikutan mikir?"


Fando menyengir. "Lo, kan, temen baik gue," tanggapnya menaikkan kedua alisnya. "Gue terima telepon penting dulu, sebentar," pamitnya menjauh.


Berlian datang dengan dua gelas minuman di tangannya. "Fando mau kemana?" ia berujar seraya menyerahkan segelas pada Galang.


Galang menerima dan meneguknya. "Ada telepon penting katanya," lagi, ia meneguk minuman pemberian Berlian hingga tandas.

__ADS_1


Berlian memperhatikan Galang yang tengah meminum minuman darinya dengan lekat. "Clarissa nggak ikut?" tanyanya kemudian.


"Dia ada urusan di luar kota," Galang mengecek ponselnya. "Seharusnya dia sudah sampai," gumamnya.


"Clarissa mau ke sini?" Berlian tak suka itu.


Galang mengangguk, ia membaca pesan yang di kirimkan Clarissa padanya.


Sepertinya aku sedikit terlambat. Jalanan macet.


^^^Aku menunggumu, Sayang.^^^


Galang mengirimkan balasan. Namun tak berapa lama ia merasa berat pada kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya kuat guna mengusir rasa pusing yang kian menyerang.


"Clarissa bekerja di firma apa?" Berlian bertanya.


Galang menunduk serta memejamkan mata guna menetralkan kepalanya yang luar biasa pusing, seluruhnya serasa berputar saat ia membuka mata.


"Kamu kenapa, Galang?" Berlian menyentuh paha Galang yang terlapisi celana berbahan dasar kain.


Galang berjengit hingga menjauhkan diri dari Berlian. "Tidak, aku tidak apa-apa," tepisnya menghindar.


Bukannya menjauh, justru Berlian mendekat karena khawatir dengan Galang. "Kamu tidak baik-baik saja, Galang," ia bahkan berani membingkai wajah laki-laki di hadapannya.


Galang menjauhkan diri, sentuhan jemari Berlian di kulitnya menimbulkan efek luar biasa terhadap tubuhnya. Ia merasakan gejolak aneh yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. "Menjauh dariku, Berlian," ia mendorong tubuh Berlian.


Berlian tak gentar, ia kian mendekat memperhatikan lekat raut wajah Galang yang mulai pias. "Galang? Ini aku," ucapnya.


Galang menjambak rambutnya kuat, suara itu seakan berdengung di gendang telinganya. Ia benar-benar tidak tahan lagi.


Berlian menahan jemari Galang yang menyakiti diri sendiri. "Galang, lihat aku," pintanya. "Galang!" sentaknya lagi.


Galang memejamkan mata, penglihatannya mulai kabur.


Berlian memberanikan diri untuk mengikis jarak dan mencium bibir Galang.


Oh, tapi tunggu dulu, tidak semudah itu ferguso. Belum sempat bibir itu bertemu, Berlian merasakan tubuhnya ditarik dan terjerembab ke belakang, bahkan punggungnya menyentuh meja dengan cukup keras.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Clarissa, gadis itu seperti macan yang siap menerkam. Setibanya di depan club, ia sudah menunggu selama dua menit namun Galang tak menjawab telepon. Clarissa memilih masuk dan menemukan ular betina telah membelit kekasihnya, tentu saja ia tidak akan diam saja. Ular betina berwujud Berlian itu sudah memunculkan tanduk yang selama ini Clarissa sembunyikan.


"DASAR MURAHAN!!"


Plakk!!


Clarissa menampar pipi Berlian keras. Kemudian ia beralih menatap Galang yang seperti orang sakau. Ia meraih segelas minuman di atas meja, menyiramkan tepat di wajah Galang. Tak puas, ia juga beranjak meraih botol air mineral yang masih utuh, kembali menyiramkan pada kepala Galang. Masih kurang, ia bahkan menyiramkan air dingin di wajah kekasihnya itu.


Galang hanya mampu terdiam tak bisa berkutik saat kepalanya hampir meledak.


"Gue belum selesai sama lo, brengs*k!" Clarissa kembali beralih kepada mangsa pertama. Ia meraih baju Berlian serta mengacak-acak rambutnya. "Cewek kurang ajar! Beraninya lo menggoda pacarku! Kurang ajar!"


Berlian mencoba menghindar, namun ia yang kebingungan ditambah rasa sakit di punggungnya tak bisa melawan tindakan anarkis Clarissa. "Tolonggg!!" hanya itu yang bisa ia ucapkan saat keadaannya benar-benar memprihatinkan.


"Lo cuma bisa minta tolong, kan? Lo nggak bisa ngebales gue. Dasar sampah!" Clarissa yang kalap turut menggunakan kuku panjangnya untuk mencakar wajah Berlian.


"Aaaaaaa..!!" Berlian sudah berteriak histeris merasakan perih di kulitnya.


Galang yang mulai sadar terkejut melihat aksi pengeroyokan yang Clarissa lakukan. "Cla, udah, Cla," cegahnya menarik tubuh gadisnya.


"Diam kamu! Aku harus kasih pelajaran cewek murahan ini! Dia sudah mengibarkan bendera perang denganku!" Clarissa menyentak keras.


Galang masih harus menekan kepalanya yang berdenyut. "Clarissa, udah, Sayang," ia kembali menarik pinggang Clarissa agar menjauh.


Fando gegas menghampiri saat melihat ada keributan, alangkah terkejutnya ia melihat seorang wanita tengah menganiaya Berlian. Berlian tampak pasrah saat wanita asing itu mencakar serta mengacak rambutnya buas. Ia kemudian menghampiri Berlian sesaat wanita asing itu tengah di amankan oleh Galang. "Astaga, Berlian," ia membantu Berlian untuk berdiri dan menjauh, keadaan Berlian sungguh sangat memprihatikan.


"Brengs*k! Cewek murahan! Perebut pacar orang! Uler!" Clarissa mengeluarkan seluruh umpatannya. "Sekali lagi lo ganggu cowok gue, habis lo! Cewek murahan!"


"Sayang, udah," Galang menenangkan.


"APA?!" Clarissa menyalak.


"Kita pulang, ya?" Galang mencoba menenangkan macan di dalam tubuh Clarissa agar tak lagi menggila.


Clarissa bersungut-sungut, nafasnya memburu karena amarah, ia menghentakkan kaki kemudian keluar dari club dengan kemarahan yang memuncak.


Tindakan bar-bar yang baru saja ia lakukan menjadi tontonan pengunjung. Clarissa tidak peduli.

__ADS_1


.


.


__ADS_2