
"Bagaimana magang di hari pertama?" Galang berujar setelah meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja.
Clarissa yang tengah mencuci tangan di wastafel menoleh. "Tidak terlalu buruk," tanggapnya sekenanya.
"Sepertinya sangat buruk," Galang mengambil piring serta menyiapkan makanan.
Clarissa mendesah. "Banyak orang menyebalkan di kantor, huh!"
Galang meminta Clarissa untuk duduk di meja. "Kalau masih mau lanjut, memang begitulah dunia kerja. Terlebih anak baru, sudah biasa mendapatkan perlakuan kurang baik. Tapi kalau tidak nyaman, bagaimana kalau magang di kantorku saja?" tawarnya menaik turunkan alis.
Clarissa menyipit tajam. "Nggak," tolaknya. "Tujuanku menjadi jaksa, bukan pengacara perusahaan. Lagipula aku tidak ingin terlibat dengan identitas Van Houten."
Galang tertawa. "Masih kucing-kucingan soal identitas?" sindirnya lagi.
Clarissa mulai menyendok makanannya. "Terkadang menjadi bagian dari nama Van Houten memang menguntungkan. Tapi, ada saat dimana tatapan remeh menghunus ketika aku bekerja dengan usahaku sendiri, namun orang lain mengaitkannya dengan Van Houten," ungkapnya jujur. Pro dan kontra berstatus sosial tinggi memang seperti itu, usaha keras kita tidak dinilai layak hanya karena backingan kita terlalu kuat.
"Setidaknya kamu mempunyai kuasa jika menjadi bagian nama Van Houten," Galang tersenyum.
"Udah, ah, jangan bahas itu lagi. Bagaimana dengan kamu? Sudah menjadi presdir, kah? Aku dengar Kak Kenneth sudah menjadi CEO sekarang," Clarissa nampak antusias.
"Semua masih dalam kendali Papa. Jabatan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia," Galang terkekeh. "Bagaimana kabar Chiara?" tanyanya lagi.
Clarissa mengangguk. "Cukup baik."
"Dia masih di Jerman?"
"Masih bolak balik Jerman, masih ada yang perlu di selesaikan. Kak Ara jadi desainer sekarang."
Galang menyandarkan punggungnya di kepala kursi. "Sudah berapa tahun, ya, kita nggak pernah ketemu, Cla. Kayaknya udah lama banget." Galang menatap lekat pada Clarissa. "Kamu tambah cantik sekarang."
Clarissa menelan makanannya alot, pujian dari Galang membuatnya gugup. "Aku sudah mengenal skincare, wajar kalau tambah cantik."
Galang terkekeh. "Kamu pernah pacaran seusai denganku?" tanyanya serius. Clarissa gadis yang ceria dan humoris, ditambah parasnya yang cantik, pasti banyak pemuda yang terpikat.
Clarissa menggeleng. "Tidak ada satupun."
Galang mengusap puncak kepala Clarissa gemas. "Masih ada barang bawaan kamu yang tertinggal? Biar aku bawakan."
"Masih ada pengiriman beberapa, kemungkinan besok baru tiba."
Galang mengangguk.
...***...
Hari itu untuk pertama kalinya Clarissa turut hadir di pengadilan untuk menangani kasus, ia sudah menyiapkan bahan dan berkas sejak seminggu yang lalu. Meskipun ia hanya menjadi asisten, namun ia bekerja sangat tekun.
Suasana ruang pengadilan begitu mencekam saat sang terdakwa tidak terima atas tuntutan yang diputuskan jaksa. Isak tangis dari keluarga terdakwa memenuhi ruangan saat dakwaan hukuman mati telah diputuskan.
Clarissa menatap miris akan kesedihan keluarga terdakwa. Bagaimana lagi, itu sudah konsekuensi ketika sang terdakwa melakukan pembunuhan berencana pada lebih dari satu orang.
"Kerja bagus, Clarissa," Helinda menepuk lengan Clarissa pelan. Beliau adalah pengacara senior yang membimbing Clarissa.
Clarissa mengangguk. "Terimakasih sudah memberi saya kesempatan, Bu," balasnya.
"Kita harus selalu kompak," Juno, asisten pribadi Helinda menepuk lengan Clarissa.
Clarissa tersenyum dan mengangguk. "Siap, Ko Jun."
Pria bermata sipit keturunan China Indonesia itu sendiri yang meminta Clarissa memanggilnya Ko Jun alias Koko Juno.
__ADS_1
"Setelah ini kamu bisa pulang, aku masih ada urusan lain dengan Juno. Aku akan menelepon jika butuh bantuanmu," ujar Helinda lagi.
Clarissa mengangguk. "Hati-hati, Bu. Ko Jun," balasnya.
Juno mengusap puncak kepala Clarissa. "Kamu baru beberapa hari di Surabaya, kalau butuh bantuan telepon aku," ujarnya, ia menganggap Clarissa sebagai adiknya.
Clarissa mengangguk. "Terimakasih, Ko Jun."
Clarissa memperhatikan mobil seniornya yang perlahan menjauh. Bertemu dan tergabung dengan tim seperti Bu Helinda dan Ko Juno membuat Clarissa senang. Meskipun awal hari magangnya begitu menegangkan sebab ia tidak mengenal satu pun di firma tersebut, terlebih ada beberapa tatapan yang tak menyukai kehadirannya. Namun setelah pembagian tim, ia sangat bersyukur dan beruntung bertemu rekan semenyenangkan seperti Bu Helinda dan Ko Juno.
Clarissa membuka tasnya saat mendengar ponselnya berdering. Senyumnyaq merekah membaca identitas sang penelepon. "Halo?"
"Bagaimana sidangnya?" suara Galang menginterupsi dari seberang.
"Berhasil," sahut Clarissa riang.
"Sudah mau pulang sekarang?"
"Iya, aku punya waktu bebas. Bu Helinda sama Ko Juno ada urusan lain."
"Mau berkencan?"
Clarissa tertawa, jadwal kencan yang sudah direncanakan seminggu yang lalu harus batal saat ia harus mempersiapkan berkas untuk sidang pengadilan. "Aku tidak bisa menolak."
Terdengar suara tawa dari seberang. "Nanti sore aku jemput. Aku masih ada kerjaan sedikit."
Clarissa mengangguk. "Aku menunggu," balasnya tersenyum.
...***...
Galang tersenyum memperhatikan penampilan Clarissa dari atas hingga bawah, ia bersiul, "Cantik banget, Mbak? Mau kencan, ya?" godanya.
Clarissa tersipu. "Kebetulan lagi ada pelanggan tetap ngajakin saya nonton bioskop, Mas," tanggapnya bergurau.
"Haduhh, sepertinya Masnya ahli film dewasa, ya? Jangan begitu, Mas, itu untuk yang sudah menikah. Lagipula film seperti itu tidak sembarangan diputar di bioskop," Clarissa menahan tawa.
"Kalau begitu hari ini kita batal ke bioskop, ya, Mbak?"
"Loh, kenapa?"
"Kita ke KUA aja, daftar nikah dulu, panggil penghulu buat nikahin kita. Setelah itu baru kita ke bioskop."
Tak tahan, Galang dan Clarissa akhirnya terbahak-bahak menyadari kekonyolan yang keduanya lakukan.
"Sudah kebuka kartu kamu, sering nonton film dewasa, ya?" selidik Clarissa kemudian.
Galang tergelak. "Aku sudah dua puluh empat tahun loh, sudah sewajarnya," kejujuran seorang pria tentang hal itu memang sulit didapatkan jawaban, terlebih yang bertanya adalah wanita, kebanyakan dari mereka masih merasa malu untuk mengungkapkan.
"Jorok, ih. Udah, ayo berangkat," Clarissa melingkarkan tangan di lengan Galang.
"Mau ke bioskop atau makan dulu?"
"Aku udah makan tadi, habisnya kamu lama banget jemputnya," Clarissa mengerucut sebal.
"Maaf, tadi ada kerjaan dadakan yang perlu aku koreksi," sesal Galang tak enak. "Bagaimana kalau kita keliling Surabaya? Kamu belum pernah jalan-jalan, kan, sejak tiba di sini."
Clarissa mengangguk antusias. "Motor kamu masih ada?" tanyanya kemudian.
"Ada, tapi udah lama aku nggak bawa motor."
__ADS_1
Clarissa menekuk wajahnya.
"Buat kamu apa, sih, yang enggak? Ayo kita keliling Surabaya pake motor," ucap Galang yang seketika membuat Clarissa berbinar.
*
Clarissa tersenyum menyadari motor Galang berhenti di tepi jalan, suara desiran ombak dari lautan di depannya yang tersapu angin begitu menenangkan.
"Masih ingat tempat ini?" Galang berdiri di samping Clarissa.
Clarissa menoleh sekilas. "Tentu saja. Sepertinya banyak yang berubah," ujarnya memperhatikan sekeliling.
"Ada perubahan di setiap tahunnya," Galang menjawab, kemudian menatap Clarissa lekat. "Tapi ada yang tidak berubah," imbuhnya.
"Apa?" Clarissa mendongak menatap Galang yang lebih tinggi darinya.
"Rasa cinta aku sama kamu."
Clarissa bersemu. "Gombal," ia memukul dada Galang pelan.
Galang menatap lautan lepas di hadapannya, ia menarik nafas dalam. "Setiap hari terasa mencekik, aku merindukan kamu tapi tidak bisa meluapkannya. Kamu berada dekat denganku, tapi terasa sangat sulit untuk ku gapai, Cla. Restu orangtuamu menyakitiku," tuturnya mengungkapkan fakta.
Clarissa merasakan perih itu, bertahun-tahun lamanya rasa sakit itu seakan mengakar di dalam tubuhnya.
"Aku berusaha melupakan semua kenangan kita dengan gila bekerja dan belajar. Tapi setiap malam aku selalu hadir di tempat ini, mengenang kebersamaan kita." Galang menatap lekat manik indah yang berkabut di hadapannya. "Aku hampir menyerah. Tapi tiba-tiba Tuhan mengirimkan takdirnya secara tiba-tiba," Galang tersenyum membingkai wajah Clarissa. "Aku menemukan kembali cintaku," ujarnya tersenyum menggesekkan ujung hidungnya dengan hidung Clarissa.
Clarissa tersenyum. "Terimakasih sudah bersedia menerimaku kembali," ucapnya jujur.
"Hei, aku yang seharusnya berbicara seperti itu," Galang memprotes.
Clarissa menggenggam jemari Galang. "Untuk pertama kalinya aku mengenal cinta, itu berkat kamu. Kesepakatan konyol yang kita lakukan saat SMA membuatku yakin bahwa kamu adalah milikku. Tapi takdir berkata lain, keluarga kita tidak memberikan restu. Dari situ aku sudah tidak bisa lagi berharap lebih. Terlebih kamu yang mempunyai deretan mantan. Aku tidak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti." bibir Clarissa mengerucut sebal. "Banyak dari mereka yang mendekat mencoba untuk memperkenalkan cinta sama aku. Tapi lagi-lagi bayangan tentang ucapan kamu sama Daddy aku hadir. Aku tidak berani memulai, karena aku masih percaya bahwa takdir Tuhan itu adil. Aku percaya sama kamu, kamu pasti bersedia menunggu aku yang dibawa oleh takdir." Clarissa tersenyum menatap Galang. "Hingga takdir itu terasa nyata di hadapanku."
"Meskipun awal mula hubungan kita karena ketidaksengajaan. Tapi hari-hari yang aku habiskan bersama denganmu terasa spesial. Kamu sungguh menggetarkan seluruh hatiku."
Clarissa terkekeh. "Kamu belajar bahasa rayuan darimana?"
Galang berdecak. "Kamu merusak suasana," cetusnya kesal.
Clarissa terkikik. "Habisnya kamu puitis banget. Aneh aja lihat kamu yang biasanya slengek'an jadi serius gini."
Galang mengusap puncak kepala Clarissa. "Menghayati suasana juga keadaan. Mumpung langitnya lagi cerah, bintangnya mekar semua."
Clarissa mendongak menatap langit. "Sepertinya semesta sudah merestui kita."
Galang menarik wajah Clarissa serta memberikan kecupan di bibirnya.
Clarissa terkejut akan tindakan tiba-tiba itu.
"Kamu gemesin banget, Cla. Pengen aku bawa pulang, terus aku makan," Galang yang terlalu gemas menggigit pipi Clarissa.
Clarissa memekik dan tertawa. "Mesumnya kumat."
"Kebetulan korban kemesuman saya sudah kembali. Jadi, saya bisa puas melampiaskannya," Galang tertawa jahat.
Clarissa melotot, derik berikutnya ia sudah berlari.
Galang mengejar Clarissa yang berlari di depannya. Menangkap tubuh Clarissa dalam dekapan erat. Memberikan ciuman bertubi di wajah kekasihnya.
Clarissa tertawa merasakan geli di tiap titik saraf tubuhnya.
__ADS_1
.
.