
Delapan tahun kemudian.
Kenneth memasuki kendaraan roda empat berwarna hitam usai menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Penampilannya sungguh berbeda, tubuhnya lebih atletis dengan lekukan sempurna menonjolkan otot, pakaian formal melekat pas di tubuhnya yang tak banyak lemak. Tatanan rambutnya lebih rapi, dengan model jidat paripurna yang semakin membuatnya mempesona. Aura dinginnya semakin memikat.
Bukan suatu hal yang mudah untuk dilalui saat ia sekarang menjadi satu-satunya penerus perusahaan William Corporation. Banyak rintangan silih berganti hadir, namun kerja kerasnya membuahkan hasil. Kenneth mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan atas usahanya sendiri, ia mendapatkan pengakuan layak dari seluruh pemilik saham dan petinggi perusahaan untuk menempati posisi tersebut. Kini ia mulai mendirikan cabang baru di beberapa kota.
Tampan, mapan, dan kaya, sosok Kenneth begitu di gilai para wanita.
Kenneth mengendarai mobilnya menuju tempat yang beberapa tahun terakhir menjadi tempat favoritnya.
Sebuah tempat dimana ia bisa melepaskan penat serta mengisi energi, seperti halnya menemukan oase di tengah gurun pasir yang gersang. Tempat dimana ia dapat menemukan kebahagiaan. Tempat dimana ia bisa tertawa lepas. Tempat yang membuatnya nyaman.
Kenneth sengaja berbelok ke sebuah restoran dengan layanan drive thru. Setelah memesan beberapa makanan ia kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuannya.
Beberapa menit kemudian ia tiba di tempat tujuan. Kenneth memperhatikan penampilannya di kaca, hal yang sering ia lakukan belakangan ini.
Kenneth melangkah memasuki bangunan berlantai tiga di hadapannya. Aura yang dipancarkan begitu kuat dan memikat, beberapa pekerja menunduk hormat menyambut kehadirannya. Kenneth tidak perlu repot membalas sapaan tersebut, ia berjalan menuju lift dan menekan angka tiga. Di sanalah dunianya berada.
Kenneth membuka pintu perlahan, kepalanya menggeleng menyadari seseorang di dalam sana tak menyadari kehadirannya. Ia menghembuskan nafas, selalu sambutan seperti itu yang ia dapatkan ketika berkunjung. "Tidak bisakah kamu merasakan kehadiranku?" ujarnya menyindir.
Seorang gadis yang tengah duduk di kursi dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya mendongak, senyuman indah merekah di wajahnya yang ayu.
Kenneth menghampiri, meraih sebelah pipi sang gadis serta memberikan kecupan di keningnya.
"Aku tidak merasakan kehadiranmu," ujar sang gadis mendongak menatap Kenneth.
"Itu karena kamu terlalu sibuk dengan berlembar-lembar kertas itu," sindir Kenneth menunjuk kertas di meja dengan dagunya.
Gadis itu menyengir. "Maaf. Kamu tahu, kan, pekerjaan ini tidak bisa ditunda," ia membela diri.
"Hmm. Apa tema kali ini?" tanya Kenneth bersandar di meja.
"Gaun pesta pernikahan."
"Kamu harus jaga kesehatan, Sayang," Kenneth mengusap puncak kepala Chiara.
Ya, gadis tersebut adalah Chiara. Setelah berpisah selama hampir lima tahun lamanya Chiara memutuskan kembali ke Indonesia. Melanjutkan usaha butik sang Bunda. Meski sebenarnya ia sendiri yang mendirikan butik tersebut dengan nama Ara's Collection.
Selama belajar di negara orang, Chiara menyempatkan diri membuka butik kecil-kecilan dengan dibantu dan diasuh oleh sang Bunda selama ia menuntut ilmu. Setelah ia kembali ke Indonesia, butik itu resmi menjadi tanggung jawabnya.
Usahanya tidak serta merta langsung melejit, ada kalanya pasang surut hadir menyapa. Namun berkat ketekunannya, dua tahun belakangan ini karyanya banyak diminati konsumen, hingga ia berani untuk tampil di beberapa event dan semakin banyak yang mengenal karyanya.
Chiara ikut andil mengikuti event Jakarta Fashion Week dengan tema baju pengantin yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Sehingga ia harus benar-benar mempersiapkan semuanya. Meskipun terkadang Kenneth merasa terabaikan oleh hal itu.
"Iya, pasti," Chiara mengangguk. Seakan teringat sesuatu, ia berdiri di hadapan Kenneth, jemarinya terulur untuk merapikan dasi Kenneth yang memang sudah rapi. Itu hanya alibi.
Kenneth menyadari gelagat sang kekasih, ia sudah hafal di luar kepala tindakan Chiara jika menginginkan sesuatu padanya. Sehingga yang ia lakukan hanya diam memperhatikan.
"Sayang, kamu tahu, kan, kalau beberapa bulan lagi aku ikut event?" Chiara mulai berkamuflase menjadi perayu.
"H,hm?"
"Rencananya aku mau buat gaun pengantin couple sama pasangannya," Chiara mulai memainkan kancing kemeja Kenneth,
"Terus?"
Chiara tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih, tangannya melingkar di leher Kenneth. "Aku belum dapat model prianya, kamu mau, ya, jadi model aku?" pintanya dengan netra berbinar.
Kenneth terdiam, tatapannya menghunus netra teduh di hadapannya. "Nggak," tolaknya.
__ADS_1
Bibir Chiara mengerucut. "Ayolah, Ken, bantuin aku. Kalau kamu jadi model aku, pasti banyak yang tertarik sama baju aku."
"Tertarik sama aku maksudnya?" Kenneth meralat.
Chiara mencebik. "Kalau orang lain tahu model aku pemimpin perusahaan William Corporation. Kamu, kan, jadi terkenal juga," rayunya menyengir.
"Aku nggak mau terkenal," Kenneth keukeh menolak, ia tidak mau menjadi pusat perhatian.
"Sayang~ ayolah, mau, ya, sekaliii aja. Please.." Chiara memohon.
"Kenapa harus aku?"
"Aku nggak ada pandangan lain selain kamu."
"Siapa pasangannya?"
Kening Chiara mengerut. "Para model wanita, lah."
Kenneth menggeleng. Ia melingkarkan tangan di pinggang Chiara. "Aku mau jadi modelnya kalau kamu yang jadi pasangan aku."
Chiara terdiam nampak berfikir.
"Jangan harap aku akan tampil di catwalk kalau sampai kamu mengganti model wanitanya," ancam Kenneth seakan bisa membaca pikiran Chiara.
Chiara tersenyum, mencium sebelah pipi Kenneth. "Setuju," putusnya kemudian. "Kayaknya aku harus bikin model gaun yang paling indah, biar semuanya pada iri sama kita nanti," ia terkikik.
"Gimana kalau kita beneran nikah aja?" usul Kenneth menaik turunkan alisnya.
"Besok-besok aja nikahnya, kalau aku udah terkenal," seloroh Chiara jenaka, ia tergelak.
Kenneth berdecak. "Kalau kamu nikah sama aku juga pasti akan terkenal."
Chiara mencium pucuk hidung Kenneth. "Jangan dulu, ya. Kerjaan aku masih banyak," tolaknya tak enak hati.
Chiara menyambutnya dengan sepenuh hati.
Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk hubungan yang mereka jalani dengan bentangan jarak puluhan ribu mil. Cobaan, godaan serta masalah menumpuk seperti susunan buku ensiklopedia yang memusingkan. Cemburu, rindu, marah, emosi, ego, hampir menjadi santapan setiap hari. Ditambah perbedaan waktu yang serasa mencekik.
Jika harus diperinci, mungkin author akan pusing menuliskan masalah yang Kenneth dan Chiara hadapi saat keduanya memutuskan LDR-an. Sama seperti pasangan lain yang terbelit rindu namun tak mampu bertemu, emosi menjadi garda terdepan untuk menguasai hati dan pikiran. Bahkan airmata menjadi saksi bisu pedihnya rasa sesak yang menggerogoti kalbu.
Namun Kenneth dan Chiara berhasil melalui itu semua, keduanya percaya pada kekuatan hati mereka sendiri. Walaupun hampir setiap waktu godaan mendesak ingin meruntuhkan tembok pertahanan mereka.
Mereka berdua telah berhasil melewati rintangan mengerikan dibalik kata LDR. Sekarang tidak ada lagi jarak yang memisahkan. Mungkin hanya beberapa minggu atau bulan saat Kenneth atau Chiara harus ke luar kota atau negeri untuk urusan pekerjaan. Bukan lagi untuk waktu yang sangat lama. Mereka kini memetik buah kesabaran yang berhasil keduanya tanam.
Bibir keduanya masih menyatu, cumbuan hangat yang perlahan menuntut membuat udara sekitar serasa sesak. Jemari Kenneth mengusapi punggung Chiara, membuat sang empu merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.
Terlalu gemas, Kenneth sengaja menggigit bibir candu itu kuat membuat Chiara memekik tertahan. Chiara memukul dada Kenneth sebagai pelampiasan. Sedangkan Kenneth tersenyum disela cumbuannya.
Chiara harus segera mengisi pasokan oksigen jika tidak ingin berakhir pingsan. Ia mendorong dada Kenneth guna mengakhiri ciuman.
Namun Kenneth tak ingin menyudahi kegiatannya, ia menarik pinggang Chiara dan kembali meraup bibir candu itu untuk ia nikmati manisnya. Sepertinya ia belum puas sudah membuat bibir lembut itu menebal.
Entah sudah berapa menit berlalu, Chiara benar-benar akan pingsan jika tak mengakhiri ciuman Kenneth yang memabukkan. Ia mendorong dada Kenneth kuat. "Udah," ucapnya dengan nafas memburu.
Kenneth tersenyum melihat hasil karyanya pada bibir Chiara, ia telah berhasil mengerjai kekasihnya itu. "Aku ada meeting sebentar lagi," ujarnya beranjak merapikan jas.
"Kamu nggak makan siang dulu?"
Kenneth merendahkan tubuhnya, mengusap bekas cumbuannya di bibir Chiara dengan lembut. "Sengaja aku beli buat kamu, aku tahu kamu pasti melewatkan makan siang kalau seandainya aku nggak ke sini."
__ADS_1
Chiara tersenyum saja.
"Jangan telat makan, lusa kita ada pembukaan restoran di Semarang. Besok pagi aku jemput. Jangan begadang," titah Kenneth mengelus pipi Chiara.
"Siap, Tuan Muda," balas Chiara menggoda.
Kenneth mencubit pipi Chiara gemas. Kembali melabuhkan kecupan singkat di bibir Chiara.
Keduanya berjalan ke luar ruangan. Seperti sebelumnya, Chiara akan mengantarkan Kenneth sampai di depan pintu masuk butik. Chiara akan tersenyum ramah pada karyawan yang menunduk hormat padanya, sedangkan pria di sampingnya nampak acuh.
Setelah sampai di depan butik. Kenneth berbalik menatap Chiara. "Ingat pesan aku. Jangan begadang. Besok pagi kita berangkat," ia mengingatkan lagi. Sudah terlalu hafal jika kekasihnya itu akan begadang jika sedang ada event besar.
"Iyaa.." Chiara menyahut.
Kenneth tersenyum, mengusap sebelah pipi Chiara kemudian melabuhkan ciuman di keningnya. "Aku pergi dulu."
Chiara mengangguk. "Hati-hati.
...***...
Keesokan harinya.
Kenneth dan Chiara sudah tiba di Semarang, serta memilih menginap di salah satu hotel berbintang. Hampir seharian penuh keduanya mempersiapkan pembukaan restoran. Hingga acara pembukaan itu tiba.
Kenneth menggandeng tangan Chiara berjalan menuju bangunan dua lantai di hadapannya. Di atas pintu terdapat plang besar bertuliskan "ChiKen Resto", karena memang tempat makan yang keduanya bangun bahan baku utamanya adalah ayam, serta mengusung tema tradisional. Sedangkan kata ChiKen sendiri diambil dari nama keduanya. Chiara dan Kenneth. Pelesetan dari kata Chicken.
Sudah jauh-jauh hari Kenneth dan Chiara merencanakan membuka restoran dengan modal pribadi mereka sendiri, akhirnya sekarang mereka bisa mewujudkan impian itu.
Beberapa pengunjung turut menyaksikan acara potong pita sebelum menyerbu restoran tersebut, karena ChiKen Resto akan memberikan paket makanan gratis satu hari penuh.
Setelah pita berhasil dipotong, restoran akhirnya siap dibuka untuk umum. Para karyawan mulai hilir mudik melayani pengunjung. Begitu juga Chiara yang sibuk melayani pelanggan yang mengajaknya berfoto.
Jangan salah. Meskipun bukan artis, tapi wajah Chiara menjadi incaran para netizen, apalagi setelah identitas pemilik butik Ara's Collection adalah dirinya. Bahkan dalam akun Instagramnya jumlah followersnya bertambah. Chiara sendiri juga heran.
Terlebih lagi di dalam akun Instagram yang tidak ia privat banyak menampilkan foto dirinya bersama sang kekasih, —Kenneth William. Padahal foto itu diunggah sebelum ia terkenal seperti sekarang. Mungkin karena hal itu pula Chiara semakin diburu para netizen.
Soal dimana Kenneth.
Pria itu tampak acuh dan mengabaikan, siapa yang akan berani meminta foto dengannya jika tatapan tajam yang selalu ia perlihatkan pada semua orang. Yang ada mereka sudah mundur duluan.
Chiara mencuri tatap pada Kenneth yang tengah menatapnya tajam. Ia menyengir saja. Karena tidak tega membiarkan para wanita di hadapannya memohon untuk meminta foto bersama.
"Sebenarnya ini acara launching pembukaan restoran, atau jumpa fans?" sindir Kenneth sesaat Chiara duduk di sebelahnya. Acara jumpa fans dadakan sudah selesai.
Keduanya tengah berada di ruangan khusus manager restoran.
Chiara tersenyum lebar. "Menurut kamu jawaban mana yang tepat?" guraunya.
Kenneth memutar bola matanya. "Untung bukan pria yang minta foto," gumamnya pelan.
Chiara menoleh. "Kenapa?"
"Aku patahin tangan mereka."
Chiara terkikik geli. "Pacar aku gemesin banget si kalau lagi jealous," ia mencubit pipi Kenneth gemas.
Kenneth menahan kedua tangan Chiara dalam genggaman erat. Sebelah tangannya meraih pipi Chiara serta menggigitnya gemas.
Chiara tertawa geli menghindari gigitan Kenneth, meskipun itu tidak bisa mengubah apapun, karena Kenneth masih bisa meraihnya.
__ADS_1
.
.