
Mila tergopoh menghampiri Chiara yang sedang duduk di kelas tengah mendengarkan sesuatu melalui earphone juga membaca sebuah novel. "Raaa!!" panggilnya.
Chiara tak menyahut.
Mila melepaskan salah satu earphone yang terpasang di telinga Chiara, membuat sang empu terkejut. "Ra, lo tahu nggak?"
Chiara menggeleng.
Huh, huh, Mila menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan. "Adik lo, Clarissa berantem."
Chiara terkesiap.
"Serius, Ra. Sama Vanya."
Chiara bangkit, gegas berlari keluar diikuti Mila di belakangnya.
Bruk!
Chiara yang tergesa-gesa tak menyadari seseorang akan memasuki kelas, sehingga ia menabraknya dan terhuyung ke belakang. Beruntung seseorang itu menarik lengannya agar tidak terjatuh, tapi justru menyebabkan kepala Chiara menubruk dadanya. Chiara meringis memejamkan mata merasakan kepalanya membentur sesuatu yang keras.
Mila menutup mulutnya yang menganga melihat kejadian di depannya, dimana Kenneth yang menarik tangan Chiara agar tidak terjatuh. Bukan! Bukan itu yang membuatnya terkejut, tapi posisi keduanya yang lebih tepat disebut berpelukan.
Chiara menarik diri, menyatukan kedua tangannya seolah berucap, maaf. Saat hendak berbalik kalimat Kenneth menghentikan langkahnya.
"Mau kemana?"
Mila semakin terkejut mendengar pertanyaan Kenneth untuk Chiara, berbagai macam kalimat terlintas di otaknya.
'Kenneth bicara?'
'Kenneth perhatian sama Chiara?'
'Kenneth bukan lagi manusia salju?'
'Kenneth berubah?'
Tangan Chiara menunjuk-nunjuk arah koridor, namun sepertinya Kenneth masih tak memahami isyaratnya. Ia berdecak, menepuk lengan Mila yang terbengong sedari tadi bermaksud meminta sahabatnya itu untuk memberi penjelasan.
Mila tersadar. "Mau ketemu Clarissa, dia berantem sama Vanya."
Chiara mengangguk mengiyakan ucapan Mila.
Kenneth menatap datar. "Dia ada di ruang BK, lo nggak bisa ke sana, sebentar lagi bel masuk."
Chiara dan Mila terhenyak saling lirik. "Lo serius, Ken?"
"Hm.”
"Kenapa sampai ketahuan BK? Lo yang ngadu?" selidik Mila.
"Bukan.”
"Terus?"
"Ya, lo pikir aja sendiri,” jawab Kenneth acuh, berlalu memasuki kelas.
Mila mengendikkan bahu ketika Chiara menatapnya. Tak berapa lama bel masuk berbunyi, mengurungkan niat Chiara dan juga Mila menemui Clarissa.
*
Mila menusukan bolpoin pada punggung siswi yang duduk di depannya.
Siswi itu menoleh. "Apa?"
"Lo tahu kejadian di koridor tadi?" tanya Mila berbisik.
Siswi itu tampak berpikir. "Maksud lo Vanya sama adiknya Ara?"
Mila dan Chiara kompak mengangguk.
"Lo tahu nggak kenapa mereka masuk BK?" tanya Mila lagi.
__ADS_1
Siswi yang duduk di depan Chiara ikut menoleh. "Ada yang laporin."
"Siapa?" tanya Mila penasaran. "Ken?" tebaknya.
Kedua siswi itu menggeleng. "Bukan dia. Gue enggak tahu siapa, tapi yang jelas bukan si Ken."
"Lo yakin?"
Kedua siswi itu mengangguk.
"Karena waktu kejadian gue lihat si Ken lagi sama Bu Rosa dari ruang osis."
"Ohh."
...***...
Perkelahian antara Clarissa dan Vanya sampai ke telinga Aiden, kini Clarissa sedang menunduk takut ketika disidang oleh kedua kakak serta adiknya.
"Katakan dengan jujur, Clarissa."
Kata pembuka dari Aiden menunjukkan bahwa ia benar-benar menyesalkan perbuatan sang adik, membuat Clarissa kian terpojok dan takut.
"Maaf, Bang. Cla cuma mau balas perbuatan Vanya, dia yang sudah buat Kak Ara kayak gini."
"Kenapa harus berantem?"
"Cla enggak terima waktu dia bilang Kak Ara bisu."
Ketiganya terkesiap mendengar jawaban Clarissa.
Chiara mengelus tangan Aiden, kepalanya menggeleng pelan.
Aiden menghembuskan nafas panjang, ia beranjak menghampiri Clarissa, merengkuh kepala Clarissa agar menyender padanya. "Abang enggak mau adik-adik Abang terlibat perkelahian, apalagi kamu cewek, Cla. Enggak sepantasnya kamu berantem seperti itu. Membela diri boleh, tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri," tuturnya menasehati. "Pikirkan Bunda sama Daddy, mereka pasti kecewa kalau terjadi apa-apa sama anaknya, apalagi kalau sampai Bunda tahu kamu berantem,” imbuhnya.
Clarissa menggeleng. "Maafin Cla, Bang. Jangan bilang sama Bunda,” pintanya menatap Aiden.
"Asal kamu janji tidak mengulanginya."
Clarissa mengangguk cepat. "I'm promise."
...***...
"Mari bersulang untuk kesembuhan Chiara,” seru Julio mengangkat teh botolnya.
Toriq, Deni, Mila dan Chiara ikut mengangkat botolnya untuk bersulang. Mereka tertawa menyadari kekonyolan yang dilakukan.
"Lo beneran udah sembuh, Ra?" tanya Putra memastikan.
"Iya, tapi belum bisa teriak," jawab Chiara tersenyum.
Putra mengangguk-angguk.
"Sehari enggak denger suara lo rasanya hampa, Ra,” seloroh Julio menggoda.
"Alay!"
Chiara tersenyum. "Terimakasih, Julio," ucapnya tulus.
"Sama-sama Chiara-kuuhh.."
Deni yang duduk di sampingnya menonyor kepala Julio. "Jijik gue."
"Bukan temen gue!" ujar Toriq melirik sinis pada Julio.
"Eh, besok malem lo semua dateng ke rumah gue, ya?" Alex yang baru saja datang menyela.
"Ngapain?"
"Nyokap gue ultah, gue disuruh ngundang temen-temen gue."
"Serius lo, Lex?"
__ADS_1
"Tumben?"
Alex meneguk botol minuman teh di depannya, entah punya siapa. "Permintaan nyokap, biar akrab katanya."
"Ra, lo per—“
"Ara bareng gue."
Semua mata menatap kedatangan Kenneth yang tiba-tiba menyela ucapan Julio, mereka ternganga tak percaya. Sendok yang seharusnya masuk ke mulut Putra justru terjatuh kembali ke mangkok. Bungkus snack yang akan terbuka pun berhenti di depan tangan Deni. Chiara yang awalnya meminum teh pun menyemburkan minumannya. Waktu seketika berhenti, hampir seluruh penghuni meja menatap lurus pada Kenneth yang berdiri memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
BRAK!!
"WOIIII!!"
Alex menggebrak meja membuat teman-temannya terlonjak kaget.
"Ra, lo—"
"Nggak ada penolakan!" potong Kenneth menatap tajam pada Chiara.
Chiara mengerjap bingung, ia menoleh pada Mila yang duduk di sampingnya meminta persetujuan. Namun keningnya mengerut saat memperhatikan Mila mengangguk-angguk dengan mata berkedip-kedip.
Mila yang gemas akan kediaman Chiara pun menjawab pernyataan yang terlontar dari mulut Kenneth. "Iya, Ara mau pergi bareng elo, Ken."
Chiara melotot protes.
Mila mencubit pinggang Chiara seraya melotot balik.
"I-iya gue bareng lo," ucap Chiara kemudian menoleh pada Kenneth.
Setelahnya Kenneth pergi meninggalkan kantin.
Deni meneguk minuman yang tinggal setengah. "Gila, ini pertama kalinya seorang Kenneth ngajakin cewek keluar,” celetuknya.
"Bakalan ada hujan salju, nih, kayaknya."
"Keajaiban dunia,” ujar Mila dan Toriq bersamaan.
"Apa mungkin kiamat sudah dekat,” gumaman Alex membuat semua mata menatap tajam padanya. "Apa?" tanyanya memprotes.
"Jangan bawa-bawa kiamat, gue belum kawin," Julio melempar botol plastik kosong ke arah Alex, namun Alex segera menghindar.
"Jangankan kawin, gue aja belum bisa dapetin Sinta,” sahut Rangga mengunyah baksonya ogah-ogahan.
Toriq tertawa. “Berapa kali gue bilang, move on, woy, move on, jangan ngarepin si Sinta mulu,” teriaknya tepat di telinga Rangga.
"Tau lo, Rang. Tunjukin ke Sinta kalau lo bisa dapetin cewek yang lebih baik dari dia, bikin dia nyesel."
Rangga menelan baksonya. "Eh, besok malem lo pada bawa cewek enggak?"
"Kalau gue udah pasti,” jawab Putra pongah melingkarkan tangan di pundak Mila.
"Lo semua nggak usah bawa cewek, lah, lagian itu acara ultah nyokapnya Alex. Ya, kali, kalian pada bawa cewek," Mila menimpali.
"Bener, tuh, kata cewek gue, lagipula belum tentu kalian punya cewek,” tanggap Putra terbahak berhasil menistakan teman-temannya.
"Sialan lo. Mentang-mentang punya cewek. Gue doain kalian berdua putus."
"Aminnnn," ucapan Rangga diamini Julio, Deni, Toriq dan juga Alex.
"Bang**t!"
"Heh, sembarangan kalau ngomong, amit amit jabang bayi," Mila mengetuk meja dan sisi kepalanya bergantian.
"Temen sialan lo semua. Doa, tuh, yang baik, jangan nyumpahin gue putus, dong," protes Putra tak terima.
Chiara terkekeh pelan mengelus lengan Mila.
"Makanya jangan ngatain, doa seorang jomblo itu terkabul."
"Keparat!"
__ADS_1
📖📖
📖