KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
38. Jatuh cinta


__ADS_3

Di atas tribun, berjejer beberapa siswi yang menyaksikan para siswa anggota basket saling merebut bola. Sorak sorai dari para siswi membuat para pemain semakin bersemangat. Itu bukan pertandingan, hanya latihan para anggota tim lama dan tim baru yang beberapa waktu lalu sudah ditentukan.


Galang yang notabene mantan ketua tim basket juga ikut dalam permainan, ada pula Putra yang juga merupakan anggota tim inti terdahulu.


Terlihat Clarissa yang duduk di deretan paling depan dengan Zia dan Hanin di sisi kanan dan kirinya.


Galang dengan skillnya mendrible bola dan melemparnya ke dalam ring, dan yahh point bertambah karena lemparan bola Galang. Sorakan menggema di koridor yang semakin ramai mengiringi bola yang masuk dalam ring lawan.


Galang mencium tangannya dan mengarahkan pada Clarissa yang duduk di tribun. "I love you, Clarissa!" teriaknya setelah berhasil mencetak point.


Sorakan semakin menggema mendengar ucapan cinta Galang untuk Clarissa.


Clarissa melotot, kedua tangannya reflek menutup wajahnya mendengar teriakkan absurd dari pacarnya.


"Ciyee.." goda Hanin dan Zia menyenggol lengan Clarissa.


"Pacar lo sweet banget, Cla, gue iri."


"Gue juga, uhh Galang," Zia nampak gemas menangkup wajahnya.


"Jangan bayangin cowok gue," Clarissa menepis tangan Zia yang sedang menangkup wajah sambil memperhatikan Galang.


"Uhh posesif," Zia mencibir.


"Biarin," balas Clarissa acuh.


Setelah beberapa menit permainan selesai, beberapa siswi mulai bubar dari tribun, begitu pula dengan Clarissa. Tapi Clarissa bukan berbalik menuju kelas, melainkan masuk ke dalam lapangan basket serta menyerahkan sebotol minuman pada Galang yang juga berjalan menghampirinya.


"Terimakasih, Pacar," ucap Galang menggosok kepala Clarissa.


Clarissa mengangguk saja.


"Elap-in keringat aku dong, Yang," pinta Galang menyerahkan sapu tangannya.


"Idih, lap aja sendiri," tolak Clarissa mendorong tangan Galang.


"Enggak romantis banget kamu," Galang merajuk.


Clarissa mengulum tawa melihat reaksi Galang. Kemudian ia merebut sapu tangan dari Galang dan melakukan apa yang pemuda itu inginkan.


Galang tersenyum melihat Clarissa yang menuruti keinginannya, ia merendahkan tubuhnya guna memudahkan Clarissa melakukan tugasnya.


"Jangan senyum-senyum," peringat Clarissa memperhatikan wajah Galang yang ceria.


Galang tergelak, mencuri satu ciuman di pipi Clarissa.


Clarissa tertegun, tubuhnya memaku, ia merasakan suhu wajahnya menghangat.


Galang semakin tergelak melihat rona merah di kedua pipi Clarissa. "Udah, nggak usah kaget gitu, kamu juga harus terbiasa dengan hal kayak gini," bisiknya di telinga Clarissa.


"Apa?!"


"Apanya?" Galang balik bertanya, tidak mengerti arah pertanyaan Clarissa.


"Terbiasa dengan hal kayak gini gimana?" tuntut Clarissa menyelidik.


Sebelah sudut bibir Galang tertarik ke atas, tak berapa lama wajahnya mendekat dan kembali mencuri satu ciuman di pipi Clarissa. "Kayak gitu, Sayang~," ujarnya santai, seolah hal itu sudah biasa baginya.


Clarissa kembali mematung karena ulah Galang.


"Lihat pipi kamu merah aku tambah pengen makan kamu deh, Cla."


Kalimat Galang berhasil mengembalikan kesadaran Clarissa, ia menutup kedua pipinya. "Enak aja, nggak boleh."


Galang tergelak, merangkul pundak Clarissa. "Ayo ikut aku."


"Kemana?"


"Ganti baju," jawab Galang enteng.


Clarissa menyentak tangan Galang. "Ogah!" tanggapnya berlalu meninggalkan Galang yang kembali terkekeh.


"Lucu banget sih kamu, Cla," gumam Galang melihat Clarissa yang berjalan menjauh. "Kayaknya gue udah jatuh cinta beneran sama lo."


...***...


"Kak Ara!" pekik Clarissa saat melihat Chiara sedang berjalan di koridor.


Chiara yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hendak ke kantin berbalik mendapati Clarissa memanggilnya. "Kamu dari mana, Cla?"


"Lapangan basket. Kak Ara mau kemana?"


"Kantin, mau ikut?"


Clarissa menggeleng. "Aku mau ke perpustakaan, Kak."


"Ya udah Kakak duluan, ya?"

__ADS_1


"Tunggu, Kak," cegah Clarissa.


"Ada apa?"


Ragu Clarissa ingin berucap. "Em, gimana sama Kak Ken?" tanyanya hati-hati.


Chiara sempat terkejut, kemudian merubah raut wajahnya kembali seperti biasa saja. "Enggak gimana-gimana," jawabnya.


Clarissa menggigit bibirnya gugup. "Dia β€”"


"Enggak, Cla," potong Chiara cepat.


Clarissa terkejut.


"Udah nggak usah dipikirin, Kakak baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir," ujar Chiara menepuk lengan Clarissa.


"Tapi, Kak."


"Stop," Chiara mengangkat kelima jarinya membungkam ucapan Clarissa. "Awas kalau kamu berbuat macam-macam," peringatnya. "Kakak pergi dulu," pamitnya kemudian. Chiara baru hendak melangkah namun Clarissa kembali memanggilnya.


"Kak Ara," Clarissa mendekat dan memeluk tubuh sang kakak.


Chiara terkesiap mendapatkan serangan tiba-tiba. "Eh, kenapa?" tanyanya heran.


Clarissa menggeleng. "Clarissa sayang sama Kak Ara," ucapnya tiba-tiba.


Chiara tersenyum, menepuk punggung Clarissa. "Udah, Galang cemburu tuh karena kamu meluk Kakak," kekeh Chiara melihat Galang sedang berjalan ke arahnya.


Clarissa melepas pelukannya dan menoleh ke belakang. "Kak Ara, ih," gerutunya protes.


Chiara tertawa pelan. "Kakak pergi dulu, salam buat Galang, ya?" pamitnya kemudian dan benar-benar berlalu.


"Ada acara apa pake pelukan segala?" tanya Galang saat sudah berdiri di samping Clarissa.


Clarissa menggeleng. "Dapat salam dari Kak Ara."


"Wa'alaikumsalam," Galang menjawab. "Katanya mau ke perpustakaan?" tanyanya lagi.


"Mau nemenin aku?"


Galang berfikir sejenak. "Oke," putusnya kemudian.


Clarissa tersenyum, melingkarkan tangannya di lengan Galang. "Ayo."


...***...


Pak Narto membagi beberapa murid menjadi beberapa kelompok guna melakukan sit up. Awalnya Chiara beruntung karena berpasangan dengan Mila, lain dengan beberapa murid yang berpasangan dengan lawan jenis. Namun hal itu tak berlangsung lama saat Rangga yang tiba-tiba menyela protes tidak ingin berpasangan dengan Kenneth.


"Pak, saya tukar dong. Ken dan saya sudah terlalu pandai untuk sit up, tidak perlu berpasangan."


"Sombong amat lu, babi," Julio menanggapi.


Rangga tak menghiraukan cibiran Julio.


"Baiklah," Pak Narto memperhatikan muridnya. "Chiara, kamu tukar posisi sama Rangga," perintahnya kemudian.


"Ha? Saya, Pak?" Chiara terkejut menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu, ayo cepat."


Jantung Chiara berdebar mengetahui bahwa dirinya akan berpasangan dengan Kenneth, tidak tidak, ia tidak mau. "Mil, lo sama Kenneth, ya?" pintanya berbisik.


"Hah? Kok gue?"


"Ayolah, Mila, please."


Rangga berjalan menghampiri Chiara dan Mila yang sedang berdebat.


"Kenapa sih, Ra?" Mila merasa sesuatu tengah disembunyikan oleh Chiara.


Tanpa menjawab pertanyaan Mila, Chiara yang menyadari Rangga berjalan ke arahnya gegas menarik lengan Rangga. "Sana, lo sama Kenneth," ia mendorong tubuh Mila agar menghampiri Kenneth.


"Woahh asik gue pasangan sama Ara," Rangga nampak kegirangan.


"Ra?" protes Mila, namun Chiara menghiraukan.


"Rang, tuker posisi, dong?" seru Julio setengah berteriak.


"Sorry, ogah!" sahut Rangga sarkas.


Sebuah kesialan entah apa, Julio harus berpasangan dengan mantan pacarnya, β€”Icha. yang sepertinya mempunyai dendam kesumat dengannya.


"Jadi lo nggak mau pasangan sama gue?" tanya Icha menyelidik tajam.


"Elah, Cha, gitu aja ngambek," sahut Julio kemudian.


"Apa lo bilang?"

__ADS_1


Julio meringis. "Lo cantik," jawabnya lagi.


"Gue nggak baper," tanggap Icha ketus.


Pak Narto kembali memulai hitungan, beberapa murid sudah mulai melakukan sit up.


"Ken, lo ngerasa Ara aneh nggak?" tanya Mila saat tengah melakukan gerakannya.


"Kenapa?"


"Lo sama dia ada masalah?"


"..."


"Mungkin perasaan gue aja kali, ya?" gumam Mila yang tidak mendapatkan jawaban.


Sedangkan Kenneth sendiri tengah memikirkan perubahan sikap Chiara terhadapnya, awalnya ia mengira itu hanya perasaannya saja. Tapi semakin ke sini ia memang merasakan bahwa Chiara berusaha menghindar darinya. Apa ia sangat keterlaluan sehingga beberapa kali Chiara menghindarinya?


Setelah kegiatan olahraga selesai, beberapa murid menuju toilet untuk berganti seragam, begitu pula dengan Chiara dan Mila.


"Ra, gue tahu lo nyembunyiin sesuatu dari gue," selidik Mila seraya menyisir rambutnya di depan cermin besar di toilet.


"Nyembunyiin apa?"


Mila mengendikkan bahunya. "Lo nggak pengen cerita sesuatu gitu sama gue?"


Chiara menghembuskan nafas pelan, menatap bayangannya di cermin, haruskah ia memberitahukan masalahnya yang memang berusaha menghindar dari Kenneth karena suatu hal yang sangat memalukan.


Chiara dan Mila berjalan keluar dari toilet, namun keduanya, lebih tepatnya Chiara yang terkejut saat menyadari Kenneth berdiri bersandar pada dinding dan melipat kaki, sepertinya sedang menunggu seseorang, tapi siapa?


Tatapan Kenneth menghunus ketika melihat seseorang yang ditunggu keluar dari toilet. "Ra, gue perlu ngomong sama lo," ucapnya menyadari Chiara berjalan melewatinya.


Chiara berbalik. "Ada apa?" tanyanya gugup.


Mila melihat keduanya bergantian, sepertinya memang terjadi sesuatu dengan mereka berdua. "Gue duluan, Ra," pamitnya kemudian, memberikan waktu untuk Chiara dan Kenneth berbicara.


"Mil," cegah Chiara namun tangannya ditahan Kenneth.


Chiara memperhatikan Kenneth. "Mau ngomong apa?" tanyanya kemudian.


Bukannya menjawab, justru Kenneth menarik tangan Chiara agar mengikutinya.


"Eh, Ken, kita mau kemana?"


Tak mendapat jawaban, akhirnya Chiara hanya diam dan mengikuti langkah kaki Kenneth, bahkan langkahnya hampir terseok karena tidak bisa mengimbangi langkah kaki Kenneth yang lebar.


Kenneth berhenti di ujung koridor yang sepi, ia berbalik menatap Chiara setelah melepaskan tangan yang memegang tangan Chiara.


Chiara merasa gugup ditatap oleh Kenneth, ia berusaha tidak membalas tatapan pemuda itu, netranya tengah menatap pada tanaman yang sedang berbunga.


"Ra."


"Hm?" sahut Chiara tanpa menoleh.


"Ra," Kenneth mengulang panggilannya.


"Apaan?"


"Ra," lagi, Kenneth memanggil Chiara agar menatap ke arahnya.


"Apaan sih, Ken?" ucap Chiara yang mulai jengah.


"Lihat gue."


"Kalau mau ngomong, ya ngomong aja, gue dengerin kok."


Kenneth menarik nafas. "Lihat gue, Chiara," tekannya dalam.


Chiara menelan saliva, suara berat pemuda di hadapannya berhasil membuatnya terintimidasi. "Apa?" ujarnya mendongak.


Kenneth menatap lekat wajah gadis di hadapannya. "Lo suka sama gue?"


Jederr.....!!


Jantung Chiara melompat dari tempatnya mendengar pertanyaan dari Kenneth. Pertanyaan macam apa itu? Bukannya pemuda itu sudah tahu, kenapa mengulang pertanyaan yang sulit dijawab oleh Chiara. "Nggak," jawab Chiara ketus.


Kenneth menghembuskan nafas pelan. "Ra, gue minta maaf."


Chiara tersentak, apa ia salah dengar? Kenneth minta maaf? Untuk apa? Chiara tersenyum getir, akhirnya ia tahu kenapa Kenneth meminta maaf. Ia mendongak dan tersenyum. "Gue tahu. Nggak apa-apa kok, lo santai aja," balasnya kemudian.


Tanggapan yang diberikan Chiara membuat Kenneth bingung, kedua alisnya menyatu.


"Gue pergi dulu," pamit Chiara setelahnya.


Kenneth memperhatikan langkah kaki Chiara yang perlahan menjauh dengan kebingungan yang kentara di wajahnya.


πŸ“šπŸ“š

__ADS_1


πŸ“š


__ADS_2