
Flashback on.
Ting Tong!
Aiden baru saja keluar dari ruang kerja saat mendengar bel rumahnya berbunyi. "Biar saya saja," ucapnya pada seorang maid yang hendak membukakan pintu.
Pintu terbuka, menampilkan sosok lelaki seumuran dengan adiknya, Aiden memperhatikan lekat laki-laki berkaos putih dilapisi jas biru navy dipadukan dengan jeans putih di hadapannya, ia belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.
"Selamat malam."
Aiden mengangguk. "Malam, cari siapa?"
Laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kenneth mengulurkan tangan. "Gue Kenneth, teman sekolah Chiara. Gue ke sini mau jemput Chiara buat menghadiri acara ulangtahun salah satu nyokap temen sekolah."
Aiden lekat memperhatikan pemuda di hadapannya, kemudian mempersilahkan untuk duduk di teras depan. "Jadi, lo temen atau pacar Chiara?" tanyanya menyelidik.
"Temen."
"Lo yakin bisa jagain adik gue?"
"Yakin."
Aiden mengangguk-angguk. "Dimana rumah lo?"
"Jalan G."
Terlihat Aiden masih menimang serta menelisik pemuda yang akan membawa adiknya keluar itu. Jujur saja itu pertama kalinya sang adik diajak keluar malam hari oleh seorang laki-laki selama tinggal di Jakarta. Kalau dulu mungkin tanggung jawab itu dimiliki ayahnya, tapi sekarang itu menjadi tanggung jawabnya, menyelidik seseorang yang akan membawa pergi adiknya. Meskipun hanya untuk acara ulangtahun yang sebelumnya sudah Chiara bicarakan, tapi adiknya itu tidak mengatakan akan dijemput seorang laki-laki.
"Lo bisa datangi William Corporation kalau seandainya Chiara nggak pulang dengan keadaan baik-baik saja malam ini," tutur Kenneth menyadari keraguan di wajah Aiden.
Aiden seakan teringat sesuatu. "Lo anaknya Thomas William?" tanyanya memastikan. Sepertinya pemuda di hadapannya adalah orang yang sering Thomas ajak untuk meeting bersamanya beberapa kali, dan sepertinya Thomas pernah mengenalkan padanya bahwa ia adalah calon penerus perusahaan, hanya saja Aiden lupa siapa namanya.
Kenneth mengangguk.
Jawaban dari Kenneth membuat raut wajah tegang Aiden mencair. "Baiklah, gue percayakan adik gue sama elo,” putusnya kemudian. "Tunggu sebentar, Chiara akan segera turun,” imbuhnya.
Aiden masuk dan memanggil salah satu maid. "Tolong panggilkan Ara, ada temannya di depan, namanya Ken."
"Baik, Tuan Muda."
Flashback off.
Berjalan menuju kelasnya hari itu terasa berat bagi Chiara, seakan kakinya dirantai dengan batu besar. Ingin rasanya ia berbalik pulang saja tidak usah sekolah dan tidak perlu bertemu dengan Kenneth. Semua itu karena ucapan Kenneth tadi malam, Kenneth mengetahui identitas asli dirinya, lalu bagaimana kalau sampai Kenneth mengatakan hal itu pada teman sekelasnya, atau bahkan satu sekolah?
Semalam saat Chiara bertanya darimana Kenneth tahu, Kenneth sama sekali tak menjawab dan meminta dirinya segera masuk ke dalam rumah. Sungguh menyebalkan!
Sedang berkelana dengan pikirannya, tak terasa langkah kakinya sudah memasuki kelas. Chiara berhenti sejenak menyadari dirinya telah berada di dalam kelas, netranya menatap Kenneth yang sedang fokus pada buku di tangannya, laki-laki itu meliriknya sekilas kemudian kembali fokus pada bacaannya.
"Pagi, Chiara,” seru Julio yang baru tiba melingkarkan tangan pundak Chiara.
Chiara berjengit kaget. "Astaga, Julio,” cetusnya mengelus dada.
Julio menyengir. “Sorry, lo ngelamun, ya? Pagi-pagi jangan ngelamun, Ra. Entar kerasukan makhluk tak kasat mata."
Plak!
"Ngomong apa, sih, Julio. Mana ada makhluk kayak gitu, jangan ngaco," protes Chiara memukul lengan Julio.
Julio tergelak. “Elo takut, Ra?"
Tak ingin menjawab pertanyaan konyol Julio, Chiara berjalan menuju kursinya.
"Ra, lain kali kita nonton, yuk?"
"Nonton apaan?" Bukan Chiara yang menjawab, tapi Mila yang baru saja memasuki kelas.
"Nonton bioskop, lah,” jawab Julio berjalan santai menghampiri kursi Chiara.
"Gue ikut dong?" rengek Mila.
"Gimana, Ra?" tanya Julio menyenderkan pinggulnya di meja Chiara.
__ADS_1
"Film apa?"
"Horor."
"Nggak!" tolak Chiara cepat.
Julio tergelak. “Elo beneran takut, Ra?"
"Julio, stop."
"Tenang, Ra. Kalau lo takut, lo bisa peluk gue,” goda Julio menaik turunkan alisnya.
Plak!
"Cari kesempatan elo mah," sahut Deni yang baru tiba memukul kepala belakang Julio.
"Anjing!" umpat Julio mengelus belakang kepalanya.
Chiara dan Mila terkikik melihat wajah kesal Julio.
...***...
"Kenneth, tunggu."
Kenneth menghentikan tangannya yang akan membuka pintu ruang osis, tubuhnya berbalik dan mendapati Chiara yang sedang terengah mengatur nafas.
"Gue mau ngomong, penting."
Kenneth masih memperhatikan siswi di depannya, tidak menyahut ataupun menjawab pernyataan dari Chiara, dirinya hanya menunggu siswi di depannya bicara.
Tidak mendapat respon dari Kenneth membuat Chiara kesal juga gugup, matanya menilik sekitar, sekelebat bayangan Vanya muncul di ujung koridor. Ia membuka pintu ruang osis tak sabar serta menarik tangan Kenneth tak lupa menutupnya kembali. Bukan apa-apa, dirinya hanya tidak mau memiliki masalah dengan Vanya apabila Vanya melihat dirinya bersama Kenneth. Sebab apa yang akan ditanyakan kali ini sangat penting, dan tidak bisa diganggu atau ditunda lagi. "Oh, sorry,” sesalnya melepaskan tangan Kenneth dari cekalannya.
Sebelah alis Kenneth terangkat menyadari siswi di depannya justru terdiam dan menunduk. "Jadi?"
Chiara menggigit bibir bawahnya. "Em, gue mau nanya. Lo beneran tahu siapa gue sebenernya?" cicitnya pelan.
"Kalau iya, kenapa?"
"Lo tahu darimana?"
Chiara mengerucutkan bibirnya kesal. ‘Benar-benar menyebalkan si Kenneth ini,’ gerutunya dalam hati, ia menghembuskan nafas kasar. "Oke, lo nggak perlu cerita dari mana lo tahu. Tapi gue mohon sama lo, jangan sebarin berita ini ke siapa pun, please,” pintanya memohon.
"Gue bukan orang yang suka banyak omong dan ngegosip."
Jawaban dari Kenneth membuat Chiara melengkungkan ujung bibirnya ke atas. "Gue tahu lo itu orang baik."
Kenneth mengerutkan dahi.
"Lo nggak bakalan bilang ke orang-orang kalau gue keluarga Van Houten,” ujar Chiara mengerti kebingungan Kenneth.
"Kenapa lo bohong?"
"Gue nggak pernah bohong," Chiara berkelit.
"Lalu?"
"Yaa ada beberapa hal yang nggak perlu orang lain tahu tentang siapa gue sebenarnya."
Kenneth mengendikkan bahunya. "Terserah, silahkan keluar."
Chiara tersenyum mengangguk. "Thanks."
Ceklek!
Brak!
Chiara baru membuka pintu namun kembali masuk ke dalam ruang osis setelah menutup pintu dengan keras.
Kenneth menoleh. "Ada apa?" tanyanya menyadari raut wajah gugup siswi di hadapannya.
Chiara menoleh sekilas. "Ada Abang gue," jawabnya mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang. "Angkat dong,” gumamnya tak sabar saat teleponnya tak kunjung terhubung.
__ADS_1
"Halo, Kak."
"Cla, Abang ada di sekolah."
"Hah? Serius, Kak. Kakak tahu darimana?"
"Enggak penting Kakak tahu darimana, yang terpenting kamu jangan sampai temuin Abang, kamu ngumpet aja di toilet, atau dimana gitu."
"Iya, Kak. Eh, Kak, kalau Abang ke sini gara-gara masalah aku yang berantem kemarin gimana?"
"Nggak mungkin, Cla. Abang bilang enggak akan mengungkit masalah itu lagi, mungkin aja dia ada urusan sama kepala sekolah."
"Iya, Kak. Ya, udah, aku ke toilet dulu. Eh, Kak Ara juga lagi ngumpet sekarang?"
"Iya, Kakak sembunyi di ruang osis.”
"Oke."
Tut tut tut.
"Kenapa lo nggak pengen semua anak tahu siapa lo sebenarnya?" selidik Kenneth berdiri tepat di depan Chiara.
Chiara terlonjak kaget. "Udah gue bilang, enggak semua orang harus tahu siapa gue sebenarnya, nggak penting."
"Keluar dari ruangan gue,” usir Kenneth dingin.
Bola mata Chiara membulat. "Please, Ken. Izinin gue di sini sebentar sampai Abang gue balik, atau sampai bel masuk,” pintanya memelas. "Gue bantuin elo, deh, ngerjain tugas osis, gue bisa, kok,” imbuhnya memberi penawaran.
Kenneth menggeleng-gelengkan kepala. "Duduk," titahnya menunjuk sofa dengan dagunya, kemudian dirinya sendiri duduk di kursi kebesarannya sebagai ketua osis.
Chiara menurut, ia memainkan ponsel selagi menunggu bel berbunyi sedangkan Kenneth tengah membaca beberapa susunan rencana kegiatan akhir tahun. Entah kenapa rasanya bel pelajaran kali ini sangat-sangat lama, Chiara mulai bosan dan memilih menyandarkan kepalanya pada sofa, dan tak berapa lama ia tertidur.
Ekor mata Kenneth melirik pada Chiara yang tak bergerak seperti sebelumnya ketika melihat ponsel, kadang tertawa atau berkomentar entah apa. Ia beranjak dari kursinya menghampiri Chiara bermaksud membangunkannya. "Ra, bangun.” Tak ada pergerakan.
"Hei," Kenneth menepuk-nepuk lengan Chiara, namun tak kunjung bangun. "Dasar kebo," cibir Kenneth. Ia merendahkan tubuhnya tepat di samping telinga Chiara hendak berteriak membangunkan sang putri tidur. "BA —" Kalimatnya terhenti saat kedua bola mata Chiara terbuka dan menatapnya.
Pemandangan pertama kali yang dilihat Chiara saat membuka mata adalah sepasang mata legam yang menatapnya lekat, dengan jarak tak kurang dari lima sentimeter membuatnya mampu merasakan hembusan nafas Kenneth yang beraroma mint. Entah apa yang akan terjadi, menyadari Kenneth mendekat membuat Chiara reflek menutup mata.
Kenneth tersenyum kecil menyadari tingkah lucu Chiara. "Bangun, putri tidur,” bisiknya tepat di depan wajah Chiara.
Mata Chiara terbelalak lebar, wajahnya terasa terbakar saat melihat Kenneth tertawa lepas. Iya tertawa lepas. Namun Chiara bukan terpesona, wajahnya memanas karena menahan malu. ‘Astaga, Chiara, apa yang kamu harapkan? Kamu berfikir Kenneth akan menciummu? Hahaha bodoh!’ Chiara merutuki dirinya sendiri.
Dengan perasaan dongkol luar biasa, serta melihat wajah Kenneth yang menertawakannya membuat Chiara kian kesal, ia menghampiri Kenneth dan mencubit pinggangnya keras.
"Auw sshh," ringis Kenneth menghentikan tawanya.
"Rasakan!" Setelah mengatakan itu, Chiara gegas membuka pintu dan berlari seraya menutup wajahnya, ia benar-benar malu.
Sedangkan Kenneth terkekeh geli melihat wajah Chiara yang memerah.
📖📖
📖
.
.
...Huo huo ..... Yeahhhh !!...
...Paan thor?...
...Nggak tau....
...Plakk!!! 😖😖...
.......
.......
.......
__ADS_1
...Berikan vote, komentar, dan bintang nya yaa... jangan lupa klik suka juga....
...Instagram : @saskavirby...