
Chiara sering melihat Mila yang semakin murung beberapa hari, pernah kala itu Mila berbicara dengannya, mengatakan bahwa sang kekasih seperti berbeda dan menjaga jarak dengannya. Namun Chiara menguatkan bahwa itu mungkin hanya perasaannya saja, dan mungkin saja Putra sedang ada urusan lain dengan kelompok satu gengnya dengan Kenneth. Karena memang beberapa hari pula Kenneth mengatakan akan diadakan pesta kecil-kecilan di basecamp guna memperingati berjalannya geng mereka dari tahun ke tahun.
"Mil, masih mikirin Putra?" Chiara mengambil duduk di samping Mila dengan segelas cup capuccino di tangannya.
Mila menoleh, mengembuskan nafas panjang. "Udah berapa kali gue berusaha buat percaya sama ucapan lo dan berusaha mempercayai Putra, tapi dalam hati gue meragukan, Ra, gue ngerasa terjadi sesuatu sama Putra," keluhnya menunduk.
"Udah coba ngomong berdua sama dia?"
Mila mengangguk. "Dia selalu bilang nggak ada yang berubah, dia masih seperti yang dulu."
"Lo harus percaya sama dia, Mil."
"Gue dalam mode mencoba percaya sama dia beberapa hari terakhir ini."
Chiara meneguk minumannya. "Sejak kapan lo ngerasa dia berubah?"
Mila tampak berfikir. "Sehari setelah lo dan gue jenguk Joanna."
Chiara menyernyit. "Lo serius?"
Mila menoleh. "Iya, Ra, gue yakin, hari itu gue nggak bisa jenguk Joanna, jadi Putra sendiri yang ke rumah sakit. Lalu, besoknya gue ngerasa Putra lebih banyak diem, kayak sedang banyak pikiran gitu. Awalnya gue ngira dia lagi mikirin acara buat pesta di basecamp, tapi makin ke sini gue ngerasa dia berusaha menjauh dari gue, gue ngerasa dia nyembunyiin sesuatu dari gue."
Kening Chiara berkerut dalam. "Ngejauh dari lo? Maksudnya?"
"Tiap kali gue ngajak jalan, dia selalu nggak bisa, Ra, katanya sedang ada urusan mulu," jawab Mila kian murung.
Chiara mengelus lengan Mila. "PosThink aja, Mil, jangan terlalu dipikirin."
Mila mengangguk ragu.
"Eh, gimana kabar Joanna?"
"Udah baikan, dia udah dibawa pulang, udah mulai terapi juga."
"Alhamdulillah, terus gimana? Keluarganya masih nyalahin lo?"
Mila menggeleng. "Joanna udah maafin gue, dan nggak mau memperpanjang masalah ini, dan lagi, dia ngelarang gue buat jenguk dia ke rumahnya."
Chiara merasa aneh. "Oh, ya? Kenapa?"
Mila mengangkat bahunya. "Dia bilang udah nggak perlu repot-repot jenguk dia lagi, dia udah sembuh."
Chiara mengangguk-angguk.
Kenneth yang melihat Chiara duduk di koridor bersama Mila bermaksud menghampiri. "Hai," sapanya mengambil duduk di samping Chiara.
"Hai, sudah selesai tugas negaranya?" sindir Chiara terkekeh.
Kenneth mengangguk. "Hm."
Chiara mengangkat cup cappucino pada Kenneth, dan Kenneth menyambut dengan menyedot isinya.
"Ken, entar pulang sekolah pada ngumpul di basecamp, ya?" Mila bertanya.
Kenneth mengangguk, mengarahkan tatapannya pada Chiara. "Mau ikut?"
Chiara menoleh pada Mila. "Elo ikut nggak, Mil?"
"Putra nggak ikut," jawab Mila ketus.
"Kenapa?" Kenneth yang bertanya.
"Nggak tahu gue, lo tanya aja sama temen lo itu, sikapnya agak aneh akhir-akhir ini, kesel gue," Mila bersungut-sungut.
Kenneth menatap datar, kemudian menatap Chiara meminta penjelasan, namun Chiara merespon dengan gelengan kepala.
"Aku pergi dulu," pamit Kenneth beranjak.
"Mau kemana?"
"Ngumpul sama anak-anak," Kenneth mengusap kepala Chiara.
__ADS_1
Chiara mengangguk mengiyakan.
...***...
Selagi Kenneth masih berkumpul dengan teman-temannya, Chiara bermaksud menghampiri Galang di kelasnya, karena ada yang harus ia tanyakan. Belum sempat memasuki kelas Galang, ia bertemu dengan Niko di koridor. "Niko," panggilnya.
"Hai, Ra, ada apa?"
"Lo tahu dimana Galang?"
"Dia lagi main basket di lapangan indoor, ini gue mau ke sana."
"Ya, udah, ayo bareng."
Niko mengangguk. "Ada urusan apa nyari Galang?"
Chiara menoleh. "Nggak apa-apa, bukan hal yang penting," jawabnya tersenyum.
Niko mengangguk, kembali berjalan beriringan dengan Chiara.
"Ara," seorang siswa datang menghampiri, atau lebih tepatnya menghadang langkah Chiara dan Niko.
"Iya, ada apa?" Chiara tidak kenal siswa di hadapannya.
Pemuda itu adalah Hito, mantan kapten futsal sekolah VH 21, kelas XII IPS 4, salah satu siswa yang juga mempunyai reputasi penting di sekolah.
"Buat lo," Hito menyerahkan setangkai bunga mawar dan coklat yang diikat menjadi satu pada Chiara.
Kedua alis Chiara menukik, memperhatikan Hito yang tengah tersenyum lebar. "Emm, ulang tahun gue udah lewat," tolaknya.
"Gue tahu, tapi ini bukan kado ulangtahun."
"Lalu?"
"Sengaja gue ngasih ini sama elo, gue harap lo suka." Hito menyerahkan bunga beserta coklat di tangan Chiara.
Chiara hendak menolak, tapi juga merasa tidak enak. Ia berada dalam masalah besar kalau sampai Kenneth tahu.
"Gue terima ini, tapi lain kali nggak perlu ngasih apapun sama gue, karena gue ngerasa nggak enak kalau harus nolak pemberian lo berulang kali," Chiara menolak secara halus.
Niko menahan tawa mendengar jawaban Chiara, bukankah itu berarti Chiara terpaksa menerima pemberian dari Hito?
Hito tersentak, namun kemudian ia tersenyum ramah. "Gue cabut dulu," pamitnya kemudian.
Chiara kembali meneruskan langkah bersama Niko.
"Kata-kata lo sadis banget, Ra," Niko terkekeh.
Chiara tersenyum saja.
"Penolakan yang halus namun menusuk, pas kena jantung," Niko kian terbahak.
"Lo mau?" Chiara menyerahkan setangkai bunga yang tadi diberikan Hito.
Niko menggeleng. "Ogah, kalau tuh coklat udah dikasih guna-guna, bisa-bisa gue lagi yang naksir sama Hito, hii," ia bergidik ngeri.
Chiara terkesiap. "Lo yakin ini dikasih guna-guna?"
Niko terkekeh. "Kali aja, Ra, siapa yang tahu."
"Lo nakut-nakutin gue deh, Nik?"
Niko terbahak. "Udahlah, kalau lo nggak mau makan tuh coklat, mending kasih ke temen lo, jangan dibuang, mubazir."
Chiara mengangguk. "Bener juga. Tapi hari gini masak masih pake guna-guna, sih, Nik? Lo ngaco, deh. Lagian mana mungkin si Hito pake guna-guna segala, tanpa guna-guna aja cewek pada nempel sama dia."
"Nah, itu lo tahu," tanggap Niko tergelak.
Chiara memukul lengan Niko. "Sialan, lo ngerjain gue."
"Hahaha."
__ADS_1
*
"Lang, dicariin Ara nih," seru Niko ketika sampai di lapangan basket indoor.
Galang yang sedang bermain basket menoleh, melihat Chiara yang melambai ke arahnya. Kemudian ia pamit pada teman-temannya dan berjalan menghampiri. "Ada apa, Ra?" tanyanya.
"Ada yang mau gue tanyain sama lo, penting."
Galang menyernyit, kemudian mengangguk. "Ikut gue." Ia menuntun Chiara menuju ruang ganti di dalam lapangan indoor, mengajak Chiara untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. "Mau ngomong apa, Ra?"
"Gue, em, maksud gue, temen gue kemarin sempet lihat lo jalan ke mall sama cewek, dia siapa lo, pacar?"
Galang menegakkan punggungnya, menatap lekat wajah Chiara. "Bukan, dia adiknya Joni."
Chiara terdiam, netranya mengerjap beberapa kali, berarti Clarissa salah paham, bathinnya. "Joni punya adik?" tanyanya kemudian.
Galang mengangguk. "Jujur, kalau sebenarnya adiknya si Joni punya rasa sama gue, tapi gue biasa aja, cuma menganggap dia kayak adik gue sendiri. Mungkin yang dilihat temen lo adalah waktu dia gandeng tangan gue, tapi gue pastikan kalau gue terpaksa ngebiarin dia kayak gitu, karena gue juga udah jengah buat ngusir dia, tapi ya, gitu," Galang mengangkat bahunya.
Chiara mengangguk. "Gue ngerti sekarang."
Galang tersenyum getir. "Bilang sama Clarissa, kalau gue nggak semudah itu buat berpaling dari dia."
Chiara terkesiap.
Galang tersenyum menepuk pundak Chiara. "Gue tahu, yang lo maksud temen lo itu adalah Clarissa."
Chiara tersenyum canggung, kemudian menghembuskan nafas pelan. "Maafin gue. Entah kenapa gue ngerasa kejadian yang menimpa elo dan Clarissa gara-gara gue," sesalnya.
"Nggak perlu lo nyalahin diri sendiri, Ra, ini bukan salah lo, tapi salah takdir," tanggap Galang bersandar pada kursi dan menatap langit-langit.
"Andai dari awal gue jujur kalau gue anak Bunda Stella dan Daddy, pasti β"
"Udah, Ra," potong Galang. "Lo nggak perlu bahas yang sudah berlalu, gue cuma berusaha menjalani. Andaikan Clarissa mau berjuang bersama sama gue, gue pasti bakal perjuangin dia, tapi kenyataannya dia memilih mundur." Galang tersenyum kecut.
Chiara merasakan sesak di dadanya mendengar penuturan dari Galang. "Gue nggak tahu harus respon kayak gimana, Lang, di satu sisi gue juga berat kalau seandainya antara gue dan Kenneth seperti keadaan lo sama Clarissa. Tapi gue juga mikir posisi nyokap dan keluarga besar kita, bagaimana kondisi mereka kalau sampai ini diteruskan, mungkin itu yang Clarissa pikirkan, Lang," tuturnya menatap Galang. "Gue harap lo ngerti posisi Clarissa, meskipun gue yakin seratus persen kalau dia juga terpaksa ngambil keputusan ini, dia nggak bisa memilih antara elo dan keluarga besar kita, antara cinta atau keluarga, dua-duanya sama-sama mempunyai posisi yang penting dalam hidup, Lang," tambahnya.
Galang mengangguk. "Itu juga yang sedang gue lakukan sekarang," jawabnya tersenyum kecut.
"Em, boleh gue minta satu hal sama lo?"Β tanya Chiara hati-hati.
Galang menoleh. "Apa?"
"Gue tahu sebagian besar hati Clarissa masih ada nama lo di sana, sama seperti lo yang mencoba belajar melepaskan dia, mengikhlaskan dia bersama yang lain. Tapi gue mohon selama kalian sama-sama belajar mengikhlaskan, jaga perasaan Clarissa, jangan sakiti dia dengan lo yang deket cewek lain." Chiara tidak ingin hal seperti kemarin terulang, ia tidak ingin adiknya terluka. "Oke, gue ralat. Maksud gue, jangan tunjukin kedekatan lo sama cewek lain di depan Clarissa, karena gue nggak tega lihat adik gue sedih lagi, dan itu mungkin juga berlaku buat Clarissa. Tapi seperti yang gue katakan, kalau sampai detik ini nama lo masih berada di posisi terdalam dalam hatinya."
Galang tersenyum dan mengangguk. "Makasih, Ra, lo udah ngertiin gue dan Clarissa, cuma lo yang tahu bagaimana besarnya pengorbanan kita buat melepaskan satu sama lain," ungkapnya jujur.
Chiara menepuk lengan Galang. "Gue saudara lo, kalau lo lupa," kekehnya mencairkan suasana.
Galang ikut tersenyum. "Liburan nanti pada ngumpul di Bandung, 'kan?"
Chiara mengangguk. "Lo ikut?"
Galang mengangguk. "Bisa diseret bokap kalau gue sampai nggak ikut."
Chiara tergelak. "Gue pasti bakal bantuin Om Rega buat nyeret lo."
"Sialan lo."
"Lo harus dateng. Emang lo nggak pengen kenalan sama calon istrinya Bang Aiden."
"Ah, ya, gue hampir lupa, kemarin nyokap gue bilang sekalian ngenalin calon istrinya Bang Aiden ke Oma Opa."
Chiara mengangguk. "Elo, sih, perginya kelamaan di Dubai, sampai adik-adik gue lahir aja lo nggak tahu, bahkan tiap tahun lo nggak pernah hadir di Bandung," ia mencibir.
Galang terkekeh. "Elo juga sama, Ra, giliran gue balik Indo lo pergi ke Jerman, gue mana tahu wajah adik-adik lo, sama elo aja gue nggak inget."
Keduanya terdiam, kemudian tertawa bersama.
π
ππ
__ADS_1