KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
53. Balapan


__ADS_3

Malam minggu yang ditunggu tiba. Malam dimana Kenneth akan bertanding balap melawan geng dari Roland.


Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Chiara melihat balap liar secara langsung, bahkan pacarnya sendiri yang akan bertanding. Sudah jelas terlihat bagaimana tegang dan takutnya Chiara.


Beberapa teman sekelasnya yang juga bagian dari kelompok Kenneth juga turut hadir. Namun dari mereka tidak ada yang membawa pacarnya, sebenarnya Kenneth juga tidak berniat mengajak Chiara, tapi Chiara keukeh ingin ikut, dan seperti yang pernah ia janjikan sebelumnya, akan mengajak Chiara melihatnya balapan, mau tidak mau Kenneth harus menepati janjinya.


Sesaat sebelum balapan dimulai, Kenneth berbincang-bincang dengan Draco sebagai ketua geng, ternyata benar bahwa Roland tidak turun ke sirkuit. Dan yang mengejutkan, Roland menyewa Galang sebagai pembalap yang akan melawan Kenneth.


Kenneth banyak tahu bahwa Galang merupakan tandingan yang sama hebatnya dengan dirinya, tapi bukan itu yang membuatnya khawatir. Biar bagaimanapun Galang merupakan saudara dari Chiara, dan juga akan menjadi iparnya kelak. Semoga.


Tak beda jauh dengan Kenneth, Galang juga terkejut mengetahui lawannya adalah Kenneth, ia juga terkejut saat melihat Chiara berdiri di samping Kenneth. Netranya menelisik sekitar, mencari seseorang yang mungkin datang, tapi setelah diteliti sepertinya apa yang ia cari tidak ditemukan. Galang pastikan bahwa Chiara hanya datang berdua dengan Kenneth, tidak ada Clarissa.


Beberapa dari mereka mulai mengecek kondisi motor yang akan digunakan para pembalap.


Waktu hampir tiba, seluruh penonton mulai berjejer di tepi jalan saling memberi support jagoan mereka.


Kenneth menghampiri Chiara. "Doain aku."


Meskipun kekhawatiran lebih dominan mengisi relung jiwanya, namun Chiara tetap mengangguk. "Hati-hati."


Kenneth menarik kepala Chiara, melabuhkan ciuman di keningnya. Tatapannya menatap Draco dan beberapa kawanannya. "Jagain cewek gue," titahnya mutlak.


Draco menepuk pundak Kenneth. "Pasti," balasnya mengangguk.


Mata Chiara terbelalak saat menyadari siapa lawan Kenneth malam itu. "Galang?" gumamnya terkejut.


Galang tersenyum dan mengangguk pada Chiara.


Suara derum motor mulai menggema, seorang joki berdiri di depan motor pembalap. Kenneth dan Galang saling lirik, setelah topi jatuh menyentuh tanah, kedua motor sport itu melaju membelah angin.


Jantung Chiara terpacu sangat cepat, bukan karena berharap Kenneth menjadi pemenang, namun lebih mendoakan keduanya baik-baik saja, tidak mendapatkan hal buruk yang tidak diinginkan. Tentu saja ia juga berdoa untuk Galang, biar bagaimanapun Galang adalah saudara sepupunya, anak dari tantenya, adik sang Bunda. Chiara tentu tidak ingin Galang mengalami hal buruk dalam balapan. Netranya senantiasa tertutup serta kedua tangannya menyatu, tak henti-hentinya Chiara merapalkan doa untuk kedua pemuda yang sedang bertaruh dalam lintasan.


Deru mesin motor mulai terdengar, sorakan semakin menggema menantikan sang pemenang melintasi garis finish.


Dari jauh terlihat kedua motor saling menyalip, bahkan kini posisinya hampir sama.


Seluruh penonton menunggu was-was, siapa gerangan yang akan menjadi pemenang dalam balapan.


Sorakan semakin menggema saat motor sport berwarna putih melaju lebih dulu melewati garis finish, disusul motor sport warna hitam di belakangnya tak lama kemudian.


Seluruh anggota geng dari Draco dan teman-teman Kenneth melompat riang, saling memeluk saat Kenneth berhasil memenangkan balapan.


"Ayo, Ra," Alex menarik tangan Chiara berlari menghampiri Kenneth yang berhasil melewati garis finish.


Hampir semua kelompok geng berhigh five memberikan selamat atas kemenangan Kenneth.


Chiara bernafas lega saat melihat keduanya baik-baik saja, ekor matanya beralih menatap Galang dan kawanannya, tercetak raut kekecewaan di mata mereka.


Kenneth mencari keberadaan Chiara, setelah ditemukan ia berjalan cepat menghampiri.


Chiara tersenyum menyambut kedatangan Kenneth.


Kenneth menarik tubuh Chiara dalam pelukan erat. "Aku menang," bisiknya di telinga Chiara.


Chiara mengangguk. "Selamat," balasnya mengusap punggung Kenneth.


Kenneth menarik diri, ia menunduk melabuhkan ciuman di bibir Chiara.


Sorak sorai terdengar dari kelompok yang mengerubungi keduanya, mengiringi aksi nekad Kenneth mencium Chiara.


Chiara terbelalak saat Kenneth menciumnya di depan umum.


Seakan tersadar akan kondisinya yang di kelilingi banyak orang, Kenneth menarik diri. Ia tersenyum lebar pada Chiara yang melotot protes. "Khilaf," bisiknya melingkarkan sebelah tangan di pundak Chiara.


Bibir Chiara mengerucut sebal.

__ADS_1


Beberapa kali ekor mata Chiara menoleh pada Galang, di saat itu pula Galang menoleh ke arahnya. Chiara mendongak. "Ken," panggilnya.


"Hm?"


"Aku boleh nyamperin Galang?"


Kenneth menoleh ke belakang, kemudian kembali menatap Chiara. Ia mengangguk. "Hati-hati, aku awasin dari sini."


Chiara mengangguk dan tersenyum. Ia berjalan menghampiri Galang yang berdiri di sisi motor. Chiara layaknya mangsa empuk yang masuk ke dalam kandang saat beberapa anggota geng terang-terangan menatapnya tajam. Bulu kuduk Chiara meremang.


Galang menangkap tatapan aneh anggotanya, tubuhnya berbalik dan terkejut melihat Chiara berjalan ke arahnya. Ia menghampiri. "Ra, ada apa?"


Chiara menelan saliva. "Emm, lo baik-baik aja?"


Galang tersenyum. "Gue baik-baik aja, kok, bukan masalah besar gue kalah dari cowok lo. Gue nggak bakal akhiri hidup gue," selorohnya jenaka.


Chiara mendelik. "Ngaco!"


Galang tergelak.


"Gue lega lihat lo baik-baik aja dan nggak terluka," ucap Chiara tulus.


Galang membeku. "Gue terharu, Ra, makasih udah khawatirin gue."


Chiara mengangguk saja.


Galang mendekat dan menarik Chiara ke dalam pelukan. Aksinya sukses membuat para anggota yang tidak mengetahui hubungan keduanya tercengang.


Chiara tak kalah tercekat dengan tindakan tiba-tiba Galang, oh, bukan itu yang membuatnya khawatir, ia khawatir jika Kenneth akan marah.


Di ujung sana, Kenneth dan kawanannya juga nampak terkejut akan tindakan Galang yang memeluk Chiara, β€”yang notabene pacar dari Kenneth. Salah seorang dari mereka hendak menghampiri Galang, namun Kenneth mencegah.


"Biarkan," ujar Kenneth memperhatikan Galang dan Chiara.


"Setidaknya gue masih bisa meluk lo sebagai saudara gue, Ra," bisik Galang pelan.


Galang tersenyum kecut. "Gue kangen Clarissa, Ra."


Chiara tercekat mendengar penuturan Galang, sangat jelas terdengar dari nada suara Galang yang serak menahan perih. Jemari Chiara terulur mengusap punggung Galang.


Galang memejamkan mata, bayangan Clarissa menari-nari di otaknya, tanpa sadar ia semakin erat memeluk tubuh Chiara. "Aku kangen kamu, Cla," gumamnya tanpa bisa dicegah.


Chiara merasakan nafasnya yang mulai sesak karena Galang terlalu erat memeluknya.


Kenneth menyadari sesuatu telah terjadi dengan kekasihnya, ia berjalan menghampiri, melepaskan paksa pelukan Galang terhadap kekasihnya. Aksinya sukses membuat seluruh penonton menahan nafas.


"Cukup," Kenneth menarik Chiara ke sisinya.


Galang tersadar, ia sempat merasakan bahwa Clarissa yang ada dalam pelukannya. "Sorry," sesalnya kemudian. "Ra."


Chiara menggeleng. "Nggak apa-apa, gue ngerti, kok."


Kenneth menatap Chiara. "Udah?"


Chiara mengangguk kaku.


Kenneth kembali berjalan menghampiri kelompoknya dengan sebelah tangan melingkar di pundak Chiara posesif.


Chiara menoleh ke belakang, melambai pada Galang, dan Galang membalasnya.


...***...


Kenneth sengaja menghentikan laju motornya di bawah toko yang sudah tutup karena tiba-tiba hujan mengguyur bumi.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Chiara merapatkan jaketnya saat udara semakin dingin, bibirnya mulai bergetar.

__ADS_1


Kenneth melepas jaket Boombernya dan memakaikan di tubuh Chiara, ia tahu gadisnya keinginan.


"Kamu nanti kedinginan," Chiara menolak.


"Nggak apa-apa, aku nggak tega lihat kamu kedinginan," Kenneth menarik resleting jaket di tubuh Chiara.


Tubuh Chiara sedikit menghangat. "Kayaknya bakalan lama," ujarnya menengok ke depan.


Kenneth menoleh. "Mau langsung pulang?"


Chiara nampak berfikir. "Kita tunggu sebentar lagi."


Sudah hampir setengah jam mereka berteduh di ruko itu, namun hujan belum juga berhenti, yang ada semakin deras. Udara dingin semakin menusuk, bahkan kini Kenneth mulai merasakan hawa dingin menembus tulang-tulangnya. Bahkan Chiara sudah menguap berulang kali, kepalanya sesekali terantuk.


"Kita ke apartemen aku aja gimana? Deket dari sini?" usul Kenneth membuka suara, ia tidak tega melihat Chiara yang terkantuk-kantuk.


Chiara menegakkan kepala. "Em, itu lebih baik."


Keduanya melanjutkan perjalanan, menerobos hujan yang kian deras, tangan Chiara memeluk erat pinggang Kenneth, menyalurkan rasa hangat yang sebenarnya tidak bisa dirasakan.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen Kenneth, bibir Chiara bergetar, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.


Kenneth mengambil kaos di lemari, menyerahkan pada Chiara. "Kamu ganti baju dulu biar nggak kedinginan."


Chiara mengangguk, menerima kaos yang Kenneth berikan dan segera menggantinya di kamar mandi.


Kenneth sendiri masuk ke dalam kamar serta mengganti bajunya di sana.


Setelah mengganti pakaian, Chiara yang awalnya duduk mulai merebahkan diri di sofa empuk itu, mungkin karena sudah sangat mengantuk, tak berapa lama ia terlelap ke alam mimpi.


Kenneth membuka pintu dan terkejut melihat Chiara yang sudah tertidur pulas. Ia berjongkok, mengusap kepala Chiara pelan. "Ra?" panggilnya lembut, namun Chiara bergeming.


Telepon milik Chiara berdering, ternyata dari sang bunda, Kenneth bermaksud mengangkatnya, memberitahukan bahwa Chiara tertidur di apartemennya.


Dengan berat hati akhirnya Stella memperbolehkan Chiara menginap di apartemen milik Kenneth, dan tentu memberikan petuah agar Kenneth tidak melakukan hal-hal buruk pada anak gadisnya, serta memastikan besok pagi akan mengantarkan Chiara pulang. Sebenarnya bisa saja Stella meminta sopir untuk menjemput, tapi itu sudah larut malam, para sopir sudah tidur, ia merasa tidak enak.


Setelah memutuskan sambungan telepon, Kenneth menggendong tubuh Chiara memindahkannya ke dalam kamar, menyelimuti tubuh gadisnya dengan selimut, memberikan kecupan di kening. "Sleep tight," ucapnya mengusap kepala Chiara.


Setelahnya Kenneth berjalan keluar, memilih untuk tidur di sofa. Sebenarnya di dalam apartemen ada dua kamar tidur, namun yang satunya Kenneth gunakan untuk tempat fitness, jadi ia terpaksa harus tidur di sofa.


Β Β 


πŸ“–πŸ“–


πŸ“–


ΒΆΒΆΒΆ


Terkadang aku tuh bingung. Giliran part Garissa alias Galang Clarissa kalian protes.


* Minta part Kenara di banyakin


* Ini sebenarnya lapak siapa sih thor, kenapa yg muncul Galang Clarissa mulu


* Dan lain-lain


Giliran Kenara muncul, kalian protes lagi, minta part Garissa muncul lagi.


Huhuhu aku kadang pengen nangis di pojokan deh πŸ˜₯


Ada part dimana Garissa bakal muncul, tapi sementara ini lebih ke Kenara dulu, karena sesuai judul, jadi pastinya yg sering di bahas adalah masalah Kenara ya πŸ˜‡


Tenang... Part-nya masih panjang kok 😘


❀️

__ADS_1


Siiyuuu 😘


__ADS_2