
Sejak pertama guru memasuki kelas dan menerangkan beberapa materi pelajaran, sama sekali tidak bisa terserap oleh otaknya. Beberapa kali ekor matanya melihat ke sisi kanannya, mengabaikan sang guru yang sedang berceloteh di depan. Tangannya sibuk memainkan bolpoin di tangannya, serta bibirnya yang beberapa kali terlipat ke dalam tanda ia sedang dalam keadaan berfikir keras.
"Stt, lo kenapa?" Alex menyenggol lengan Kenneth yang sedari tadi sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
Kenneth menggeleng pelan. Lagi, tatapannya menoleh ke sisi kanan, dimana Chiara sedang fokus menghadap papan tulis, lebih tepatnya sang guru yang sedang menerangkan sebuah materi. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya, ia tidak bisa lagi menunggu, teringat kata-kata dari seseorang yang selama ini memaki serta mendukungnya dalam satu waktu.
"Lo bakal kehilangan dia, nggak akan pernah ada kesempatan kedua, lo itu terlalu bodoh, dan saat lo sadar dia sudah pergi, gue harap lo nggak muncul di depan gue dengan bilang 'gue kalah'"
Sekali lagi Kenneth membuang nafasnya kasar, kemudian mengangkat salah satu tangannya. "Pak."
"Ya, Kenneth, ada apa?" tanya sang guru.
"Saya sama Ara izin keluar sebentar, ada masalah osis yang harus kami selesaikan."
Sontak kalimat tersebut membuat seisi kelas tercengang, terutama Chiara sebagai salah satu pemilik nama. Ia bukan anggota osis, untuk apa Kenneth berbohong? Dan untuk apa ia mengajaknya keluar kelas?
"Baiklah, silahkan keluar."
Mendapatkan izin dari sang guru, Kenneth bangkit dan segera menarik tangan Chiara.
Chiara sempat menarik kembali tangannya, ia enggan pergi dengan Kenneth tanpa alasan pasti.
Melihat penolakan Chiara, Kenneth berbisik di telinga Chiara. "Lo ikut gue, atau gue bongkar kalau lo anak dari keluarga Van Houten."
Chiara tersentak, tak menyangka Kenneth akan mengancamnya. Dengan berat hati akhirnya Chiara berdiri serta mengikuti langkah kaki Kenneth yang berjalan di depannya.
Kenneth terus berjalan menuju lantai satu, tepatnya menuju ruang ketua osis, tempat yang hingga ini masih diisi olehnya, karena belum ada pengangkatan ketua osis baru. Kenneth menutup pintu saat Chiara sudah berada di dalamnya.
"Kenapa lo bohong?" tuntut Chiara meluapkan kekesalannya.
"Gue mau ngomong serius sama lo, dan lo terus saja ngehindar dari gue."
"Karena gue rasa udah nggak ada yang perlu di omongin antara kita."
"Tapi gue ada."
"Apa?"
Kenneth menghembus nafasnya pelan, mencoba mengatur nafas dan emosinya. "Ra, gue mau minta maaf sama lo."
Dada Chiara berdesir mendengar suara lembut pemuda di hadapannya.
"Gue tahu gue cowok paling bodoh di dunia ini, gue nggak bisa ngungkapin perasaan gue yang sebenarnya sama lo."
Chiara tercekat. Apakah??
"Ra, lo masih suka sama gue?" Kenneth menatap lekat gadis di hadapannya.
Chiara mengerutkan dahi. "Nggak," jawabnya membuang muka.
"Lihat gue, Ra," tuntut Kenneth memutar tubuh Chiara agar menghadap pada.
"Gue nggak suka sama lo!" sentak Chiara keras. "Gue nggak pernah suka sama lo, gue benci sama lo, gue benci sama lo, Kenneth!" ia berteriak histeris meluapkan amarah.
Kenneth tertegun. "Kenapa? Bukannya lo bilang —"
"Tidak!!" potong Chiara cepat. Tatapannya mengunci manik mata tegas di hadapannya. "Jangan katakan lagi, anggap gue nggak pernah bilang suka sama lo, anggap gue nggak pernah ada di kehidupan lo."
"Tapi kenapa?" protes Kenneth memegang kedua lengan Chiara.
"Lo masih nanya kenapa?" Chiara tersenyum getir. "Gue malu, Ken, gue malu sama lo. Tidak. Gue malu sama diri gue sendiri, setelah apa yang gue ungkapin ke lo, dan ternyata lo nggak suka sama gue, lo nggak punya perasaan yang sama, sama gue." Setetes air mata jatuh di pipi Chiara. "Gue nggak mau ketemu sama lo, gue terlanjur malu, apalagi saat tahu ternyata lo udah balikan sama mantan lo." Air mata Chiara semakin mengalir deras mengingat semuanya, ia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa memusnahkan perasaan keparat yang merongrong jiwanya.
"Itu yang bikin lo ngehindar dari gue?" Kenneth mengerti sekarang.
Chiara mendongak menatap Kenneth, tanpa menjawab pertanyaan dari Kenneth, Chiara hendak pergi. "Udah nggak ada yang perlu gue jelasin lagi, gue mau balik."
Kenneth meraih tangan Chiara, mencengkeram lengannya. "Jawab gue, Ra."
"Apa?!" hardik Chiara mengangkat dagu.
__ADS_1
"Lo nggak bisa ngehindar dari gue," Kenneth menatap tajam.
"Gue bisa!" balas Chiara tegas, berusaha melepaskan cengkraman tangan Kenneth.
"Lo nggak boleh ngehindar dari gue, Chiara!" hardik Kenneth keras membuat Chiara membeku sesaat.
"Kenapa? Hah! Kenapa gue nggak boleh ngehindar dari lo?! Gue muak dengan semuanya, Ken, gue benci sama diri gue sendiri. Gue nggak bisa hapus perasaan gue dari lo, semakin gue deket sama lo, perasaan gue semakin dalam, dan gue semakin terpuruk dengan cinta sepihak ini, kenapa lo egois Ken? Hah?!" teriak Chiara meluapkan emosi, bahkan nafasnya mulai naik turun.
"Lo nggak boleh jauhin gue, Chiara! Karena gue juga suka sama lo!" Kenneth balik membentak, nafasnya sama berderu.
Tubuh Chiara membeku, air matanya mengalir membentuk anak sungai.
Kenneth menatap dalam netra teduh di hadapannya. Detik berikutnya ia menghembuskan nafas pelan, kedua tangannya membingkai wajah Chiara, menghapus air mata yang mengalir di sana. "Jangan menangis. Dengerin gue," Kenneth menjeda ucapannya. "Selama ini gue berusaha jelasin sama lo, tapi lo selalu ngehindar dari gue, gue cuma mau bilang, gue sayang sama lo." Kenneth merasakan perubahan raut wajah Chiara yang menegang. "Gue minta maaf, karena seharusnya gue yang bilang suka sama lo, bukan lo duluan yang bilang ke gue. Jadi gue harap lo nggak lagi ngejauh dari gue," tutup Kenneth menyelipkan anak rambut di telinga Chiara.
Keduanya bergeming dengan saling menatap.
Chiara benar-benar terkejut akan pernyataan dari Kenneth, bibirnya kelu untuk mengucapkan kata-kata. "Ll-lo serius?" tanyanya ragu.
"Gue nggak pernah seserius ini," jawab Kenneth yakin.
Melihat keraguan di mata Chiara, Kenneth meraih wajah Chiara dan melabuhkan ciuman di bibirnya, menyapunya sangat lembut, meskipun tidak ada respon apapun dari Chiara, ia semakin menekan ciumannya.
Chiara menegang, beberapa detik jantungnya serasa berhenti berdetak, tubuhnya begitu sulit digerakkan, ia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi, apa ini mimpi?
Kenneth melepaskan ciumannya, menyatukan keningnya dengan kening Chiara, menatap lekat manik mata teduh di hadapannya. "Gue menyerah, gue nggak bisa jauh dari lo. Gue sayang sama lo, Chiara Aprilly Van Houten," bisiknya lirih tepat di depan wajah Chiara.
Seluruh persendian Chiara serasa lemas, sapuan nafas hangat Kenneth di wajahnya membuat dirinya menutup mata, menikmati aroma mint yang menguar dari bibir Kenneth.
Kenneth menarik diri, ujung bibirnya terangkat melihat wajah Chiara yang memerah dengan kedua mata tertutup. Kenneth meniup pelan kedua mata Chiara.
Chiara berkedip membuka mata, dan senyuman Kenneth yang pertama kali menyapanya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Kenneth jauh lebih tampan kalau tengah tersenyum, membuat Chiara kian dilanda perasaan gugup berkali-kali lipat.
"Jangan terpesona sama gue," goda Kenneth tersenyum.
Chiara terkesiap, ia merasa dejavu dengan kalimat itu, namun ternyata benar, dirinya telah terpesona.
"Hah?"
"Gue nggak menerima penolakan," cetus Kenneth tak terbantahkan.
"Apa? Tunggu-tunggu, berhenti." Chiara menarik tangan Kenneth yang akan berbalik. "Maksud lo apa dengan ngeklaim gue sebagai pacar lo? Sedangkan lo sendiri udah punya pacar," Chiara tentu tidak lupa siapa Liona.
Kenneth tersenyum. "Jangan dipikirkan."
"Maksud lo apa? Bagaimana dengan Liona?" tuntut Chiara tak paham.
"Udahlah, lo akan tahu nanti, sekarang kita balik ke kelas." Kenneth menarik tangan Chiara.
"Ken."
"Hm?"
"Lepasin tangan gue," cicit Chiara pelan, tatapannya berotasi, khawatir jika ada yang melihat.
"Kenapa? Lo cewek gue sekarang."
"Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Biarin ada yang lihat."
"Ken," protes Chiara membuat Kenneth mengentikan langkah. "Gue malu," cicitnya menunduk.
Kenneth mengeratkan genggamannya. "Lo percaya sama gue?"
Chiara menggigit bibir bawahnya, tak berapa lama kepalanya mengangguk.
Kenneth tersenyum, sebelah tangannya yang bebas mengelus kepala Chiara. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju kelas dengan masih menggenggam tangan Chiara.
Suasana koridor masih sepi karena kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di ruang osis.
__ADS_1
Tepat saat tiba di lantai tiga, bunyi bel tanda istirahat kedua berbunyi, membuat koridor yang sepi perlahan ramai oleh murid-murid yang keluar dari kelasnya masing-masing.
Chiara semakin gugup saat menyadari beberapa kelas di depannya sudah terbuka pintunya dan juga gerombolan anak mulai keluar kelas.
Kenneth menyadari kegugupan Chiara, ia meremas jemari Chiara, mengangguk seakan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Chiara mengambil nafas dalam seolah tengah menguatkan diri sendiri.
Koridor yang awalnya ramai mendadak sunyi saat Kenneth dan juga Chiara berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut. Semua tampak terkejut akan penglihatan mereka, karena itu adalah pertama kalinya mereka melihat sang ketua osis yang terkenal dingin serta datar berjalan dengan menggenggam tangan seorang gadis.
Suasana kelas juga tak beda jauh dengan di koridor, seperti tak ada kehidupan sama sekali, padahal masih ada beberapa murid yang berada di kelas, namun seakan waktu berhenti untuk beberapa menit saat melihat kedatangan Kenneth dengan Chiara.
Kenneth menarik tangan Chiara menuju depan kelas, menyapukan tatapannya ke penjuru kelas, sedangkan Chiara hanya berdiri sambil menunduk di sampingnya.
Kenneth berdehem, "Chiara pacar gue." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Kenneth, setelahnya ia kembali menarik tangan Chiara keluar kelas.
Sedangkan suasana kelas masih sepi atau lebih tepatnya membeku akibat pernyataan yang terlontar dari bibir Kenneth. Beberapa murid, eh bukan. Semua murid kelas IPA 1 terkejut, menerka-nerka apa itu nyata atau hanya mimpi. Hingga sebuah suara menyeru.
"Woahh akhirnya Ken laku!" celetuk salah seorang siswa.
"Gue nggak mimpi, 'kan?"
"Gila, gue nggak nyangka ternyata Ken sama Ara."
"CHIARAA!! LO PUNYA HUTANG PENJELASAN SAMA GUEEE!!" teriakan Mila menggema.
.
📚📚
📚
Siapa yang kemarin minta Kenneth bicara panjang?
Di sini Kenneth bicara panjang, bahkan panjang banget sampe bikin deg-degan. 😅
Siapa juga yang nungguin mereka jadian???
Noh udah gue kabulkan noh!
...
Mak : Ken, lo seneng nggak???
Ken : Seneng banget, Mak, lop u pol, Mak.
Ara : Kok bilang cinta ke Emak?
Ken : Buat kamu i love u full sayang~ (cium)
Mak : Woiii ada Emak di sini woiii!!
Ara : Maaf, Mak, khilaf.
Ken : Abaikan, anggap angin. (lanjut cium Ara)
Mak : Anak kurang ajar! 😤
...
Seneng 'kan gue jadinya. 😘😘
Kalian juga seneng dong pastinya...
Hati-hati! Kemungkinan beberapa part selanjutnya menyebabkan baper berkepanjangan hehehe
Mungkin loh ya 😋 gue nggak janji wkwkwk.
See u 😚
__ADS_1