
Hari itu, hari terakhir kelas dua belas mengerjakan tryout sekolah untuk yang pertama kalinya. Tampak wajah kelegaan terlihat dari seluruh siswa siswi kelas dua belas yang baru saja keluar dari ruangan. Rata-rata dari mereka berbondong-bondong menuju kantin guna mengisi tenaga yang baru saja terkuras di beberapa jam yang lalu.
"Ken, gue denger gengnya Rolando ngajakin lo balap minggu depan?" seru Putra setelah meneguk minumannya.
"Pasti dia enggak terima karena lo berhasil ngalahin dia minggu lalu," sahut Julio.
"Bener tuh," Rangga ikut menimpali seraya mengunyah baksonya.
Kenneth tidak menanggapi, ia tengah hikmat menikmati makanannya.
"Jadi gimana, Ken? Lo ikut nggak?" tanya Putra memastikan.
"Lihat entar, kalaupun gue nggak ikut, Alex bisa gantiin gue."
Alex yang merasa disebut mendongakkan kepalanya "Masalahnya mereka nantangin elo, bukan gue."
"Mau aja lah, Ken, lumayan taruhannya, ye, nggak?" Rangga menyenggol lengan Deni.
"Yo' i, gue denger kali ini dia berani keluar banyak buat taruhan."
"Lihat sikon," jawab Kenneth datar.
"Gue denger geng Draco tertarik lihat lo menang balap minggu lalu, gue denger juga mereka berniat nyewa lo buat tanding lawan Roland," tutur Alex setelah menghabiskan makanannya.
"Sepertinya ini kesempatan buat hancurin si Roland, Ken."
Semua tatapan mengarah pada Rangga.
Rangga menyeruput minumannya sampai tandas, kemudian berujar, "Gue yakin si Roland udah siapin lawan yang sebanding sama lo, buktinya dia mau keluarin banyak buat lawan lo ulang, nggak mungkinkan dia sendiri yang turun tangan."
"Hem, gue setuju sama Rangga, Roland baru aja kecelakaan setelah tanding waktu itu, sebelah tangannya patah."
Semua nampak terkejut mendengar penuturannya Deni tentang Roland yang patah tulang.
"Kalau geng Draco beneran nyewa lo, lo bakal dapet keuntungan dua kali lipat, Ken," Julio tampak berbinar.
"Maksud lo?" Kenneth menatap Julio.
Julio mendekatkan wajahnya, reflek kelimanya turut mengikuti tindakan Julio, kecuali Kenneth tentunya, ia masih duduk tegap di kursinya.
"Gue dapet bocoran, Draco bakal pakai mobilnya buat taruhan lawan Roland, gue denger juga dia bakal ngasih hadiah besar buat Ken, kalau dia menang dalam tanding kali ini," bisik Julio pelan.
Brakk!!
"Woahh.. Serius lo?!" teriak Toriq menggebrak meja kantin.
"Anjing! Gue kaget bego!" Putra menonyor kepala Toriq.
"Sialan lo Riq," Alex turut meninju lengan Toriq meluapkan kekesalan.
"Jadi gimana? Lo mau?" Rangga menatap penuh harap pada Kenneth.
"Lihat entar aja, Draco aja belum hubungi gue," jawab Kenneth merogoh sakunya. "Bayarin makanan gue," ucapnya meletakkan uang pecahan lima puluh ribu di meja.
"Mau kemana lo?"
__ADS_1
"Cabut," Kenneth beranjak meninggalkan teman-temannya.
"Pake nanya segala lo, Jul, pastinya dia nyamperin ceweknya lah," ujar Alex mengaduk minumannya.
"Hahh emang beda sama yang udah punya cewek," gumam Julio maklum.
...***...
Pulang sekolah, Kenneth mengajak Chiara singgah di salah satu tempat, atau basecamp salah satu temannya. Sebenarnya ia enggan mengajak Chiara ke sana, karena di sana terdiri dari beberapa kelompok pria yang suka mabuk-mabukan dan juga preman. Namun karena undangan yang di terima langsung dari ketua geng tidak bisa ia tolak begitu saja, biar bagaimanapun ia pernah di tolong oleh ketua geng tersebut saat dulu dirinya di keroyok preman tak di kenal. Dan juga, rencananya, setelah itu Kenneth akan mengantarkan Chiara ke toko buku, jadi dengan terpaksa ia mengajak Chiara untuk singgah di basecamp temannya dulu.
Kenneth yakini kalau itu berhubungan dengan apa yang teman-temannya kemarin telah ceritakan di kantin, kalau geng Draco akan mengajukan dirinya mewakili geng mereka dalam balap malam minggu ini.
Setelah memarkirkan kendaraannya di depan, Kenneth turun seraya menggenggam jemari Chiara erat. "Jangan lepasin tangan kamu," titahnya.
Chiara mengangguk, sebenarnya ia agak takut berada di tempat itu, karena tempatnya yang seperti gudang, terlebih wajah para penghuninya yang lebih mirip preman, dengan beberapa tindikan juga tato di beberapa titik tubuh.
Chiara merapatkan tubuhnya di belakang tubuh Kenneth saat beberapa dari mereka terang-terangan menatap ke arahnya, seakan menelanjangi dirinya.
"Dimana bang Draco?" tanya Kenneth pada salah seorang di antara mereka. Namun mereka justru melihat ke arah Chiara yang berdiri di belakangnya, tangan Kenneth terkepal erat, ia tahu apa arti tatapan mereka kepada kekasihnya itu. "Jaga mata lo!" tekannya mengancam.
Sang pria mendongak, sudut bibirnya menyeringai. "Dia di dalem."
Kenneth menarik Chiara membawanya ke dalam ruangan.
Kedatangannya disambut oleh bau menyengat dari minuman beralkohol, matanya membelalak lebar saat melihat beberapa wanita dengan pakaian seksi tengah mengelilingi seorang pria, Chiara mencengkeram erat tangan Kenneth.
Sang pria bernama Draco bangkit dari duduknya ketika melihat tamu kehormatannya datang. "Akhirnya datang juga," ujarnya menghampiri Kenneth dan menepuk lengannya.
Draco mengusir beberapa wanita yang tadi memenuhi sofa, serta mempersilahkan Kenneth dan juga Chiara duduk.
"Seperti yang lo lihat, Ken," Draco melebarkan tangannya. Netranya menangkap seorang gadis di samping Kenneth. "Siapa?" tanyanya.
"Cewek gue."
Draco mengangguk. "Oke juga selera lo," pujinya, kemudian meletakkan kaleng minuman di hadapan Kenneth dan juga Chiara.
Draco duduk di seberang seraya tangannya mengapit rokok dan menghembuskan asap pelan. "Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue mau lo wakilin geng gue buat lawan gengnya Roland malam minggu ini," ia berucap pada intinya.
Chiara menatap keseluruhan isi ruangan, tatapan memuja beberapa gadis, atau wanita, entahlah.. dengan jelas mereka tujukan pada Kenneth, dan juga tatapan sinis mengarah padanya, apa maksudnya? Tubuhnya bergidik ngeri saat melihat banyaknya gadis yang dengan mudahnya meneguk minuman beralkohol itu.
Chiara meneguk saliva alot, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering, tangannya terulur untuk mengambil minuman yang tadi Draco berikan. Namun tangannya segera ditahan oleh tangan Kenneth.
"Jangan minum apapun di sini," bisik Kenneth di telinga Chiara.
Chiara menarik tangannya kembali, menelan saliva guna membasahi tenggorokan, dia benar-benar kehausan sekarang.
Draco yang menyadari sikap Kenneth merasa tak enak hati karena tidak menyediakan air mineral di basecampnya. Karena seluruh anggota kelompok menyukai minuman beralkohol atau minuman bersoda. "Apa perlu gue minta anak buah gue buat nyari air mineral?" tawarnya.
Kenneth menggeleng. "Nggak perlu, Bang, kita cuma bentar di sini," jawabnya melirik pada Chiara.
Chiara mengangguk. "I-iya, Bang, nggak usah repot-repot."
Draco kembali membicarakan perihal balapan dengan Kenneth.
Kenneth mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Draco. Meskipun ia yakin bahwa gadis di sampingnya sudah merasa jengah dan tak betah berada di tempat itu, begitu pula tatapan memuja yang dilayangkan para wanita ke arahnya, ia menjadi risih karenanya.
__ADS_1
Setelah pembicaraan selesai Kenneth pamit undur diri.
Chiara merasa lega karena akhirnya bisa terbebas dari kandang harimau, ya dia menamai basecamp itu sebagai kandang harimau. Karena hampir keseluruhan penghuninya memiliki wajah yang seram layaknya harimau yang siap menerkam kapan saja.
Saat keluar dari ruangan, dengan sengaja salah seorang dari mereka menyentuh lengan Chiara, lebih tepatnya mengusap.
Chiara memekik. "Aww," ia menepis tangan seseorang yang menyentuh kulitnya.
Kenneth berbalik. "Ada apa?"
Chiara beringsut bersembunyi di belakang tubuh Kenneth. "Dia.. dia sentuh lenganku, Ken," Chiara menunjuk seorang pria yang menggigit lidi di mulutnya.
"Gue cuma pegang doang, ternyata mulus banget," jawab pria itu tanpa rasa bersalah.
Tatapan Kenneth menggelap, jemarinya terkepal, kemudian memberikan bogeman ke wajah sang pria.
Buak!
Sang pria terhuyung ke belakang, bahkan lidi yang sebelumnya digigit terlempar.
"Berani lo nyentuh cewek gue?!" hardik Kenneth marah.
"Ken, udah," Chiara menarik lengan Kenneth menenangkan.
"Gue cuma sentuh lengannya doang, napa lo emosi kek gini?" sang pria membela diri serta menyeka ujung bibirnya yang berdarah, sepertinya pukulan Kenneth tadi sangat keras.
"Seujung kuku pun lo nggak berhak nyentuh cewek gue bangs*t!" Kenneth kembali hendak memukul, namun seorang sebagai ketua geng keluar dari ruangan.
"Ada apa ini?"
Tatapan mata Kenneth menggelap. "Kalau lo masih mengharapkan gue wakilin geng lo, bilang sama anggota lo buat nggak nyentuh cewek gue, bahkan dalam bayangan mereka sekalipun," hentaknya dingin penuh ancaman.
Kenneth berbalik, menarik tangan Chiara meninggalkan kerumunan.
Draco yang masih belum mengerti duduk perkara berlari mengejar Kenneth. "Gue pastikan anak buah gue nggak berulah lagi, tapi jangan batalkan kerjasama kita," serunya memohon.
Kenneth mengangguk tanpa menoleh.
Chiara menyempatkan diri menoleh ke belakang saat motor Kenneth sudah melaju, ia melihat pria yang tadi menyentuhnya kembali terhuyung akibat pukulan dari ketua geng.
Kenneth menarik tangan Chiara agar melingkar di perutnya, mengusap pelan dengan tangan kirinya yang bebas.
Chiara menyenderkan kepalanya di punggung Kenneth. "Kamu serem kalau lagi marah."
Kenneth menoleh. "Enggak akan aku biarkan mereka nyentuh kamu."
Kedua ujung bibir Chiara terangkat, pipinya bersemu mendengar pernyataan dari Kenneth. Tangannya semakin erat melingkar di perut Kenneth serta menyembunyikan wajahnya di punggung pemuda itu.
Kenneth bersumpah tidak akan membiarkan bajingan seperti mereka menyentuh gadisnya.
Ya, gadisnya.
📚📚
📚
__ADS_1