
Sejak memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Galang. Bohong kalau Clarissa bilang ia baik-baik saja. Bohong kalau ia sudah rela melepaskan. Bohong kalau ia mengatakan tidak apa-apa. Bohong kalau ia berujar tidak merindukan Galang. Karena kenyataannya ia tidak baik-baik saja. Kenangan bersama Galang masih menari-nari di otaknya, meskipun kebersamaan itu tercipta dalam waktu singkat, namun semuanya membekas di relung jiwa.
Di beberapa malam yang sunyi ia gunakan untuk menangisi nasib yang menimpanya. Clarissa bukan menyalahkan kedua orangtuanya. Mungkin memang tidak seharusnya ia mempunyai hubungan lebih dengan saudara sepupunya. Salahkan takdir yang sengaja mempermainkannya. Sekuat hati, sekuat jiwa, ia berharap suatu saat nanti perasaan itu terbawa angin yang berhembus kencang dan tidak pernah kembali lagi.
Ucapan Vanya yang menyatakan alasan lain sang ayah tidak merestui hubungannya dengan Galang pun tak pernah, atau lebih tepatnya tak sanggup ia tanyakan pada Daddy maupun Bundanya.
Hari itu Clarissa memutuskan untuk pergi dengan Hanin dan juga Zia. Sepertinya ia sesekali harus keluar rumah guna mencari kesibukan, mencari pengalihan dari perasaan yang semakin lama menggerogoti relung jiwa, mencari pengalihan dari seseorang yang baru saja hadir dalam hidupnya dan harus dengan terpaksa ia dorong keluar.
Setelah berpamitan dengan sang Bunda, Clarissa keluar rumah dengan di temani sopir, menuju tempat janjian yang sudah dikatakan Zia melalui pesan.
Clarissa melangkahkan kaki menuju cafe, tatapannya menelisik sekitar, mencari keberadaan kedua temannya.
"Cla," Hanin melambai saat melihat Clarissa memasuki cafe.
Clarissa balas melambai dan berjalan menghampiri. "Kalian udah lama?" tanyanya mengambil duduk di kursi.
"Lumayan. Nih, udah gue pesenin minuman kesukaan lo," Zia menggeser gelas pada Clarissa.
"Thanks," Clarissa meraih gelas dan meneguk isinya.
"Cla, bentar lagi liburan, kita liburan, yuk?" Zia berujar.
"Kemana?"
"Gue tadi udah ngomongin sama Hanin, kalau kita ke puncak gimana?"
"Nggak ada yang lain gitu? Bosen gue ke puncak mulu dari orok," seloroh Clarissa asal.
Hanin mencibir. "Iya, yang punya villa di puncak, mainnya di sono dari orok," ledeknya.
Clarissa tergelak. "Yang lain lah.."
"Lo pengennya kemana?"
Clarissa mengetuk jarinya di meja. "Bali?"
"Jangan jauh-jauh, lah, Cla, Kakak sepupu gue mau nikah," protes Hanin mengerucutkan bibir.
"Kapan marriednya?"
"Pas kelas dua belas ujian."
"Di Jakarta?"
Hanin menggeleng, menelan kunyahan makanannya sebelum menjawab. "Di Surabaya."
"Terus ngapain lo ngajak liburan, Nin? Kalau lo sendiri mau ke Surabaya, aneh ni anak," Clarissa menggelengkan kepala tak habis pikir.
Hanin menyengir. "Gue pengen liburan sama kalian."
"Gimana kalau kita liburan di Surabaya aja, sekalian ikut ke acara Kakak sepupu gue?" usul Hanin kemudian.
"Gue setuju," Zia menyahut. "Lo Cla?" tanyanya pada Clarissa.
"Gue entar nyusul, deh, kayaknya gue awal liburan ke Bandung dulu, kemarin Bunda rencanain ngajak liburan ke sana, sekalian ngajak calon Kakak ipar gue ketemu keluarga besar," Clarissa bertutur.
"Eh, Abang lo mau married, ya, Cla? Kapan?" Zia tampak antusias.
"Siapa calonnya, Cla? Pasti cantik banget, ya? Secara Abang lo ganteng pake banget," timpal Hanin kelewat kepo.
Clarissa memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya. "Insyaallah tahun ini married, kalau nggak ada halangan." Ia menjeda kalimatnya untuk menelan makanan. "Cantik, lah, namanya juga cewek," imbuhnya terkekeh.
Hanin dan Zia mencibir.
"Gue juga tahu, Cla, kalau cewek itu cantik, mana ada sebutan cewek ganteng. Kalau cowok cantik sekarang lagi viral tuh," Zia tertawa diikuti Clarissa.
"Siapa namanya, Cla? Abang lo aja ganteng banget, pasti calon istrinya juga cantik," Hanin sepertinya masih penasaran.
"Namanya..."
"Hai?"
Kalimat Clarissa terhenti saat tiba-tiba seorang pemuda menghampiri mejanya. Ketiganya menoleh.
"Elo? Ngapain di sini?" cetus Hanin merasa terganggu akan kehadiran tamu tak diundang.
Pemuda itu tersenyum, mengambil duduk di depan Clarissa. "Gue lagi nongkrong sama temen gue," ia menunjuk ke sebuah meja yang dihuni beberapa pemuda. "Nggak sengaja gue lihat lo di sini, makanya gue samperin," imbuhnya. "Lo nggak pengen ngenalin gue ke temen-temen lo?" ujarnya lagi.
Hanin memutar bola matanya jengah. "Cla, Zi, kenalin dia Marvell, sepupu gue," ucapnya memperkenankan. "Vell, ini Zia, dan ini Clarissa."
Clarissa dan Zia berjabat tangan dengan Marvell.
"Kalian satu sekolah?"
Clarissa dan Zia mengangguk.
"Lo masih sekolah?" Clarissa balik bertanya.
Marvell menggeleng. "Udah lulus gue, mahasiswa semester dua sekarang."
Clarissa membulatkan mulutnya.
"Balik sono, lo," usir Hanin mendorong pundak Marvell.
"Gue udah berbaik hati nyapa keluarga, malah lo usir?" Marvell memprotes.
"Sesi sapanya udah kelar, sekarang lo balik, gue eneg lihat wajah lo, sono," Hanin bersikeras mendorong Marvell.
Marvell beranjak. "Iye, gue balik. Clarissa, Zia, gue cabut dulu, kalau nyari gue, gue ada di sana," tunjuknya pada meja yang sebelumnya ia tempati.
__ADS_1
Clarissa dan Zia mengangguk saja. Kepedean sekali orang itu.
Marvell berbalik. "Oh, ya, Nin, dapet salam dari Tio, rindu katanya," ia terbahak.
Hanin melotot sebal.
Clarissa dan Zia saling tatap. "Siapa Tio?" ucap keduanya bersamaan.
Hanin menghembuskan nafas kasar, menyenderkan punggungnya di kursi. "Dia mantan gue," jawabnya setengah hati.
Clarissa dan Zia terkejut.
"Yang mana?" Clarissa celingukan menatap meja yang ditempati Marvell.
"Pake kaos ijo," jawab Hanin tanpa menoleh.
Clarissa dan Zia mengangguk-angguk.
"Hafal banget kayaknya, nggak perlu lihat udah tahu," ledek Zia terkekeh di ikuti Clarissa.
"Mantan terindah tuh.." goda Clarissa, detik berikutnya ia terdiam kaku mengingat Galang yang juga masih menjadi mantan terindah untuknya.
***
Minggu pagi yang cerah tak dilewatkan oleh Chiara untuk berolahraga di salah satu taman di sisi komplek perumahannya bersama dengan adiknya, βAlzayn.
Sepertinya hanya Alzayn yang memang bersedia menemaninya berolahraga, atau mungkin Chiara yang mengikuti Alzayn olahraga, karena adiknya itu selalu rutin berolahraga di hari libur seperti sekarang.
Seperti biasa, Chiara memilih tennis sebagai olahraganya. Hampir satu jam bermain, ia mengistirahatkan tubuh di kursi tribun seraya menunggu Alzayn yang masih bermain basket dengan teman-temannya. Chiara membuka ponselnya, melakukan video call dengan Kenneth. "Hai," sapanya renyah.
"Lagi dimana?"
"Di lapangan tennis deket komplek, sama Alzayn."
Kenneth mengangguk.
"Kamu udah sembuh?" Chiara menyadari tatapan Kenneth masih sayu.
"Udah mendingan."
Chiara mengangguk.
"Jadi ke sini, 'kan?"
"Hah? Ngapain?" Chiara mengerutkan dahi.
"Aku masih sakit ini," ujar Kenneth sesekali mengusap hidungnya, selain demam, ia juga terserang flu.
Chiara tersenyum kecil. "Iya, kamu mau dibawakan apa?"
Kenneth nampak berfikir. "Aku pengen makan bakwan udang."
Kenneth terdiam memperhatikan Chiara.
Chiara mengembuskan nafas pelan. "Ya, udah, nanti aku belikan."
"Aku maunya buatan kamu."
"What?!" Chiara tersentak.
Kenneth menarik ujung bibirnya. "Kenapa?"
"Aku.." Chiara tampak gugup menjawabnya, ia berfikir sejenak. "Iya, nanti aku buatin, tunggu, ya?" sambungnya tersenyum.
Kenneth mengangguk.
*
"Bunda."
Stella yang sedang membereskan sisa sarapan menoleh. "Iya, Sayang?"
"Bunda, ajarin Ara bikin bakwan udang, dong."
Stella terkesiap. "Kenapa tiba-tiba minta diajarin bikin bakwan udang, Kak?"
Chiara mengerucutkan bibirnya, "Kenneth minta dibuatin bakwan udang," cicitnya menunduk malu.
Kedua ujung bibir Stella terangkat. "Jadi calon mantu Bunda masih sakit, ya?" godanya.
"Bunda, ih."
Stella tertawa. "Jarang-jarang, loh, kamu punya inisiatif buat masak, giliran Kenneth yang minta aja langsung mau," ia semakin gencar menggoda anak gadisnya.
"Bundaa, Ara, kan, jadi malu," Chiara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Stella terkekeh. "Ya, sudah, ayo, ke dapur, Bunda ajarin."
Chiara mengangguk semangat mendengar jawaban dari sang bunda. Keduanya mulai mencampur bumbu dengan jagung yang sudah di pipil, kemudian diberi tepung dan juga udang. Chiara serius memperhatikan berapa banyak garam yang digunakan, berapa banyak macam rempah yang dipakai. Tengah sibuk memasak tiba-tiba seruan seseorang mengalihkan perhatian keduanya.
"Selamat pagi, Tante, pagi Kak Ara."
Ternyata suara Hanin dan Zia.
"Pagi, Sayang," Stella menjawab, memberikan punggung tangannya untuk dicium keduanya.
"Kak Ara buat apa?" Zia melongok melihat adonan di depan Chiara.
"Mau masak buat calon suami," jawab Stella terkekeh.
__ADS_1
Chiara melotot.
Hanin dan Zia bertatap bingung.
"Jangan dengerin Bunda, kalian mau ketemu Clarissa, 'kan?" Chiara mengalihkan perhatian.
Hanin dan Zia mengangguk.
"Dia di kamar, samperin sana."
Zia berbinar. "Oh, Kak Ara lagi masak buat Kak Ken, 'ya?" tebaknya baru mengerti.
Chiara menunduk, menyembunyikan rona merah diwajahnya.
Hanin terkesiap. "Ciye.. Kak Ara romantis banget," timpalnya menggoda.
Stella, Hanin dan Zia terkekeh setelah berhasil menggoda Chiara.
"Clarissa di kamarnya, kalian langsung ke atas aja," ucap Stella kemudian.
"Iya, Tante, kami ke kamar Clarissa dulu."
"Kak Ara, jangan sampai keasinan masaknya, nanti dikawinin sama tante Stella," celetuk Zia menggoda.
Chiara mendelik tajam pada Zia. Sedangkan yang ditatap tertawa senang dengan wajah tanpa dosa.
*
"Kak Ara?" Alzayn tengah memastikan bahwa yang menggunakan alat penggorengan itu kakaknya bukan hantu.
Chiara menoleh. "Ya, Al?"
"Kak Ara ngapain?" Alzayn menghampiri.
"Ngepel," jawab Chiara asal.
Alzayn terkekeh. "Aku pikir lagi berenang."
Chiara mendengus. "Udah tahu masak, masih nanya lagi," cetusnya kesal.
Alzayn mengambil duduk di pantry. "Tumben-tumbenan Kak Ara masak, bisa hujan es nanti," kelakarnya.
Chiara memicing. "Diam kamu. Mending cobain, nih, bakwan udang buatan aku, dijamin enak," ia meletakkan maha karya luar biasanya di hadapan Alzayn.
"Wuih.. enak, nih, kayaknya," respon Alzayn terlihat sumringah.
Chiara menanti dengan awas saat Alzayn mulai mengunyah bakwan udang buatannya, jantungnya berdebar menantikan komentar dari sang adik. "Gimana?" tanyanya tak sabar.
Kening Alzayn mengerut. "Kakak kebelet kawin, ya?"
Chiara terkesiap menegakkan punggung.
"Abang aja belum married, Kak, Kak Ara mau duluin Abang?"
Kening Chiara mengerut. "Ngomong apa sih, Al, kamu, aku nggak ngerti."
"Asin," Alzayn memeletkan lidahnya serta matanya terpejam. Mengekspresikan keasinan.
"Seriusan?" tanya Chiara menuntut.
"Nggak percaya? Nih," Alzayn menyuapkan sepotong bakwan pada Chiara.
Chiara menerima dan mengunyah bakwan buatannya. "Enak, nggak asin, tuh," komentarnya.
"Emang nggak," tanggap Alzayn tergelak.
Chiara memicing tajam memperhatikan adiknya yang terbahak setelah berhasil mengerjainya. Ia merebut piring berisi bakwan udang di hadapan Alzayn.
"Eh, Kak, bagi bakwannya, dong?" Alzayn belum puas kehilangan makanan lezat.
"Bikin sendiri," semprot Chiara kesal.
"Ck, bagi dikit, lah, Kak," Alzayn berdiri dan berjalan menghampiri Chiara.
"Ini bukan buat kamu, Al," Chiara menjauhkan piring dari terkaman adiknya.
"Terus buat siapa?"
"Buat Kenneth."
Alzayn terdiam. "Kak Ken?" gumamnya pelan. "Bagi sedikit, lah, Kak," imbuhnya berusaha meraih.
Chiara meletakkan piring di atas meja. "Jangan di habiskan!" titahnya mutlak.
"Iya, tenang aja."
"Bi, tolong terusin gorengnya, ya? Aku mau mandi dulu," pinta Chiara pada maid yang tengah menggoreng bakwan.
"Baik, Non."
Chiara memperhatikan Alzayn yang hikmat menikmati makanan. "Al, inget, jangan dihabiskan," peringatnya lagi.
Alzayn mengangguk saja seraya mengunyah bakwan udang.
Β
ππ
π
__ADS_1