
Kenneth berdiri bersandar pada dinding serta kedua tangannya terlipat di depan dada. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu Chiara yang sedang ada urusan dengan Galang di dalam ruang ganti pemain basket. Sebenarnya bisa saja ia langsung masuk, tapi Kenneth menghormati privasi Chiara, ia tidak ingin mengganggu keduanya, karena sepertinya Chiara sedang membicarakan hal yang serius dengan Galang.
Beruntung hari itu sedang jam kosong sehingga bebas untuk keluar kelas sesuka hati.
Nampak Galang dan Chiara yang baru keluar dari ruang ganti dengan raut wajah yang bisa dibilang senang, terukir senyuman di wajah keduanya.
Kenneth menegakkan tubuhnya, menatap datar Galang dan juga Chiara.
Galang dan Chiara tersentak menyadari Kenneth berdiri menjulang di hadapannya.
"Gue duluan, Ra," Galang berpamit. "Ken," sambungnya menoleh pada Kenneth.
Kenneth mengangguk saja, tatapannya tengah menghujam pada Chiara yang berdiri gelisah.
Chiara berdehem, "Kamu udah lama di sini?"
"Hm."
Chiara bingung harus berkata apa, alhasil ia hanya mengalihkan tatapannya dari intimidasi Kenneth.
"Ayo balik," ajak Kenneth mengulurkan tangan.
Chiara mengangguk, menyambut uluran tangan Kenneth mengisi kekosongan jemarinya.
"Dari siapa?"
Chiara menoleh. "Apa?" tanyanya tak mengerti.
Kenneth merespon dengan gerakan mata menunjuk pada setangkai bunga mawar dan coklat di sebelah tangan Chiara yang lain.
"Oh, ini, dari.. Hito," cicit Chiara pelan. Ia meringis merasakan genggaman jemari Kenneth mengeras.
Kenneth mengambil alih bunga dari tangan Chiara, meremasnya kuat hingga tak berbentuk, kemudian membuangnya pada tong sampah.
Chiara menelan saliva serta meringis ngeri melihat respon Kenneth. Hati-hati ia melirik wajah Kenneth. "Kamu.. marah?" tanyanya waspada.
Kenneth menggeleng. Kemudian enghentikan langkahnya menghadap Chiara. "Kalau kamu minta coklat sama bunga bilang sama aku."
Kening Chiara mengerut. "Jadi, kamu pikir aku yang minta sama dia buat ngasih coklat sama bunga itu?"
"Apa tadi aku bilang gitu?"
"Arti lain dari ucapan kamu emang kayak gitu, 'kan?" Chiara menghempas tangan Kenneth.
Kenneth meraih tangan Chiara, namun sang empu menepis. "Ra," panggilnya.
"Apa?" balas Chiara membuang muka.
"Memang seharusnya lebih baik kamu nyembunyiin identitas kamu yang asli," ujar Kenneth tiba-tiba.
Chiara menoleh, menatap tajam pada Kenneth. "Maksud kamu?"
"Sejak semuanya tahu kalau kamu anak pemilik sekolah, banyak yang berusaha deketin kamu."
Chiara menegang. "Apa itu artinya kamu cemburu?"
Kenneth mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Chiara berdesis. "Bisa dibilang begitu. Apa tadi aku bilang seperti itu?" ia menirukan beberapa kalimat Kenneth, setelahnya ia mendengus sebal.
Kenneth tertawa kecil. Entahlah, sejak bersama Chiara ia lebih banyak tertawa sepertinya. Ia merendahkan tubuhnya. "Iya, aku cemburu tiap lihat kamu deket sama cowok lain," bisiknya tepat di telinga Chiara.
Chiara menunduk malu, tapi kemudian ia mendongak. "Itu bukan kemauan aku."
__ADS_1
"Aku tahu."
"Terus?"
Kenneth menghela nafas. "Aku nggak bisa bayangin gimana kalau kamu di Jerman nanti," gumamnya mengawang.
Chiara tertegun. "Kamu percaya sama aku, 'kan?" tanyanya memastikan.
Kenneth beralih menatap Chiara, ujung bibirnya tertarik. "Aku percaya, kalau kamu ternyata bisa nolak dengan kata-kata yang pas, nyelekit di hati," godanya terkekeh.
Chiara mendengus. "Kamu tahu darimana?"
"Mata-mataku banyak di sini," jawab Kenneth kembali melanjutkan langkah.
"Oh, ya?" Chiara pura-pura terkejut.
Kenneth mengangguk.
"Ya, aku percaya," putus Chiara mengakhiri perdebatan.
Kenneth tersenyum, mengacak rambut Chiara gemas, kemudian melingkarkan tangannya di pundak Chiara posesif.
...***...
Clarissa termenung di taman yang berada di sisi gedung sekolah, duduk lesehan di rumput hijau, di bawah pohon yang rindang. Sengaja ia memilih tempat itu untuk menyendiri. Sebenarnya bukan hanya ia yang berada di sana, beberapa murid lain juga ada, tengah menikmati angin yang berhembus, menjadi tempat favorit bagi siswa siswi yang membutuhkan ketenangan.
Salah satu tempat bersantai, untuk pacaran juga salah satunya. Hehe.
Clarissa sengaja merebahkan diri dengan berbantalkan lengan, netranya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Namun tak berapa lama ia membuka mata saat merasakan kehadiran seseorang yang sudah mengganggu acara bersantainya. "Kak Ara?" gumamnya terkejut, ia bangkit dari posisi rebahannya.
Chiara tersenyum. "Tempat yang bagus untuk menikmati kesendirian," komentarnya memejamkan mata, merasakan angin yang menerbangkan rambutnya.
"Ada apa, Kak?"
Chiara menoleh. "Nggak apa-apa, Kakak lagi pengen lihat kamu."
Chiara terkekeh. "Kakak ingat itu."
"Dimana Kak Ken?" tanya Clarissa menoleh ke belakang.
"Memangnya aku harus bersama Kenneth untuk menemui adikku ini," Chiara mencubit pipi Clarissa.
Clarissa menyengir. "Siapa tahu sekarang dia merangkap sebagai bodyguard Kak Ara," balasnya terkekeh.
Chiara memutar bola matanya.
"Cla,"
"Hm?" Clarissa menoleh.
"Kakak barusan ngobrol sama Galang."
Tubuh Clarissa tampak menegang.
Chiara memperhatikan raut wajah Clarissa. "Kamu salah paham."
"Maksudnya?"
"Cewek yang kemarin kamu lihat bersama Galang, itu bukan pacar ataupun temen deketnya Galang. Dia adiknya Joni. Memang, sih, gadis itu punya rasa sama Galang, tapi tidak dengan Galang. Jadi Kakak harap kamu jangan terlalu terbebani dengan masalah ini," tutur Chiara menatap lekat sang adik.
Clarissa tersenyum kecil.
"Bukan berarti juga buat kamu terus mempertahankan Galang. Kakak harap kamu bisa melangkah maju ke depan, jangan berhenti di tempat, jangan pula mundur ke belakang. Ingat apa yang Kakak katakan kemarin, kamu harus mulai terbiasa menjalani hidup tanpa Galang, atau lebih tepatnya menjalani hidup dengan menganggap Galang sebagai saudara kita, anak dari Tante Intan."
__ADS_1
Clarissa menghela nafas panjang. "Kakak tenang aja, aku tahu, kok, Kakak jangan khawatir sama aku, aku nggak akan sedih lagi kali ini. Em, setidaknya tidak terlalu berlebihan dalam bersedih."
Chiara tersenyum dan mengangguk. "Kakak tahu, kalau kamu gadis yang kuat, bahkan jauh lebih kuat di banding Kakak," ungkapnya jujur.
Clarissa mengangguk. "Terimakasih, Kak."
"Apapun keputusan kamu, pasti Kakak dukung, asal jangan nyakitin hati kamu sendiri, oke."
"Bagaimana kalau keputusan Clarissa tetap memilih Galang?" Clarissa berucap lirih.
Chiara tercekat.
"Apa Kak Ara akan tetap mendukungku?"
Chiara menatap lekat manik mata teduh di hadapannya, terlihat kesedihan yang berusaha disembunyikan. "Kamu tahu, Cla. Di satu sisi, aku sebagai Kakak berharap kamu menemukan kebahagiaan kamu, apapun hal yang membuatmu bahagia pasti Kakak akan mendukung. Tapi, di sisi lain, Kakak nggak bisa membenarkan kalau hubungan saudara kalian mempunyai arti lebih. Bukannya Kakak melarang, Cla, tapi Kakak lebih memikirkan perasaan Bunda."
"Itu juga yang sedang aku coba lakukan, Kak," Clarissa nampak frustasi dan tertekan.
Chiara mengangguk, menepuk tangan Clarissa pelan, kemudian ia beranjak. "Kakak tinggal dulu, sepertinya ada yang ingin berbicara denganmu," ucapnya melirik seseorang yang berjalan ke arahnya.
Clarissa ikut menoleh, terlihat Galang yang berdiri tak jauh darinya.
"Kakak pergi dulu," pamit Chiara kemudian, ia berjalan menghampiri Galang, menepuk pundaknya pelan.
Galang berjalan menghampiri Clarissa, memposisikan diri di samping Clarissa. "Gimana kabar kamu, Cla?" tanyanya.
Clarissa mengangguk. "Seperti yang kamu lihat."
"Kamu sudah mendengar penjelasan dari Chiara?"
Clarissa kembali mengangguk. "Sepertinya aku belum bisa move on dari kamu," ucapnya tersenyum kecut.
Galang menghela nafas. "Sepertinya aku juga begitu."
Keduanya sama-sama diam menikmati semilir angin.
"Kamu ikut acara ke Bandung?" tanya Clarissa kemudian.
Galang mengangguk. "Tentunya."
"Tante Intan sama Om Rega sudah di Jakarta?" tanya Clarissa hati-hati. Perasaannya sedikit tersentil saat memanggil kedua orangtua Galang dengan sebutan tante dan om, yang sangat familiar baginya.
"Minggu depan mereka ke Jakarta."
Clarissa mengangguk, rasanya canggung berbicara dengan Galang, tidak seperti sebelumnya. Ia merindukan saat-saat obrolan konyol yang keduanya bicarakan. Clarissa tersenyum mengingat kebersamaannya bersama Galang sebelum kenyataan pahit datang.
Tak beda jauh dengan Galang, iapun merindukan saat-saat menggoda Clarissa, membuat Clarissa tertawa karena candaannya. Tanpa sadar ujung bibirnya terangkat mengingat kenangannya bersama Clarissa.
"Cla, Apa kita bisa seperti dulu lagi?" tanya Galang menatap Clarissa penuh.
Clarissa menoleh, kepalanya menggeleng pelan. "Sepertinya susah, Lang, entahlah," ia mengangkat bahunya.
"Mau mencobanya?" itu memang ide gila yang ditawarkan Galang, karena tidak bisa dipungkiri kalau itu semakin membuat hatinya semakin terikat dengan Clarissa.
"Haruskah aku menyetujuinya?" Clarissa balik bertanya.
Galang menatap Clarissa, tak berapa lama kepala menggeleng pelan. "Jangan setujui, Cla," putusnya kemudian.
Clarissa tersenyum kecut.
.
.
__ADS_1
📖
📖📖