
Terlihat motor sport berwarna hitam berhenti tepat di samping motor lainnya, setelah turun dari kuda besi, langkah kakinya melangkah pasti menyusuri koridor, menghiraukan tatapan memuja dari setiap mata yang melihatnya. Baginya hal itu sudah biasa terjadi, membuat dirinya tidak heran dan mengabaikan.
"Ken."
Melirik sekilas seseorang yang berjalan di sampingnya tanpa berniat membalas sapaannya.
"Muka lo kenapa, Ken? Lo habis berantem, ya?"
"Hm."
Merasa diabaikan, Vanya menghentikan langkah kaki Kenneth dengan menghadang serta melebarkan kedua tangannya.
Kedua alis Kenneth menukik tajam.
"Lo belum jawab pertanyaan gue? Lo habis berantem?"
Kenneth menatap tajam gadis di depannya, namun Vanya bergeming di tempatnya.
"Gue khawatir sama lo, Ken. Gue obatin luka lo, ya?"
Kenneth menepis tangan Vanya yang hendak menyentuh wajahnya. "Nggak perlu."
"Ken, lo kenapa, sih, cuek banget sama gue?" ujar Vanya mensejajarkan langkahnya dengan Kenneth yang berjalan melaluinya. "Lo nggak ngehargain usaha gue banget, selama ini lo tahu gue suka sama lo, gue berusaha perhatian sama lo, tapi lo seakan buta dengan apa yang udah gue lakuin buat lo."
Langkah kaki Kenneth terhenti, ia memutar tubuhnya ke belakang, menatap tajam pada Vanya. "Gue nggak butuh itu semua dari lo," ucapnya sarkas.
Tubuh Vanya membeku mendengar ucapan Kenneth, meskipun ia sudah sering mendengar kalimat itu, tapi tetap saja membuat dadanya berdenyut nyeri. "Setidaknya lo hargai usaha gue, Ken."
Kenneth menyeringai. "Berapa yang lo minta?"
Vanya melotot. "Gue nggak minta uang, cukup lo jadi pacar gue," jawabnya tersenyum lebar.
Kedua netra tegas nan dingin itu menyipit tajam. "Dalam mimpi lo," balas Kenneth sarkas kemudian berbalik dan meninggalkan Vanya yang menggerutu. Namun tak berapa lama langkahnya kembali terhenti saat tak sengaja bertemu dengan Chiara di tangga utama. Keduanya terdiam berapa detik saling menatap.
"Em, luka lo udah sembuh?"
Kenneth mengangguk singkat. "Terimakasih,” ucapnya, dan berlalu menaiki tangga.
Chiara mengangguk, ekor matanya mengikuti langkah kaki Kenneth yang menaiki tangga, hingga seseorang mengejutkannya.
"MINGGIR!"
Tubuh Chiara tersentak ke belakang.
"Kalau mau bengong jangan di sini, di kuburan sana, sekalian biar kerasukan sama jin!" hardik Vanya sinis.
"Lo ngomong sama gue?" Chiara menunjuk dirinya sendiri.
"Sorry, gue nggak ada waktu ngomong sama cewek murah*n kayak lo," Vanya mengibaskan rambutnya dan berlalu meninggalkan Chiara.
__ADS_1
Chiara menghembuskan nafas pelan. "Sabar, Ra. Sabar," ucapnya mengelus dada.
"Galang!"
Seruan seseorang menghentikan langkah Galang yang akan menaiki tangga, hal itu juga membuat Chiara menatap ke bawah.
Galang berbalik dan mendapati seorang siswa. "Ada apa?”
Terlihat siswa itu berbicara serius dengan Galang, bahkan terkadang Galang mengepalkan tangan serta rahangnya mengeras. Hal itu disadari oleh Chiara, dari jarak hanya beberapa anak tangga ia bisa melihat kedua siswa itu, tapi ia tidak bisa mendengar apa yang keduanya ucapkan.
Tak berapa lama siswa itu berbalik meninggalkan Galang, Galang memutar tubuhnya dan terkejut melihat Chiara di sana. "Hai, Chiara," sapanya.
"Pagi, Galang. Gimana luka lo?" balas Chiara seraya menuruni tangga.
"Udah lumayan, tenang aja nggak perlu khawatir."
Chiara mengangguk. "Syukurlah, boleh gue nanya sesuatu?"
"Anything for you," jawab Galang terkekeh.
"Soal kemarin, gue baru sadar kalau mereka yang ngeroyok lo itu pakai seragam sekolah, mereka anak sekolah?"
Galang menyenderkan punggungnya pada dinding. "Iya, mereka anak sekolah sebelah."
Kening Chiara menyernyit. "Kenapa anak sekolah bisa tawuran?"
Galang tersenyum menepuk lengan Chiara. "Mereka nggak terima kekalahan saat tanding balap sama gue."
"Jadi lo beneran ikut balap motor liar?"
Chiara menutup mulutnya yang terbuka akibat terkejut akan pengakuan Galang. "Apa geng motor lo juga sering tawuran?" tanyanya hati-hati.
Galang tersenyum, ia suka kalau Chiara bertanya-tanya seperti itu padanya. "Enggak kok, geng motor gue bukan kelompok yang suka tawuran, tapi kalau ada musuh yang nyerang, kita wajib bela diri, ‘kan? Sekolah sebelah sebenarnya udah lama nggak pernah ganggu geng gue. Yang kemarin itu karena masalah pribadi, salah satu anak dari geng motor gue nggak sengaja ketemu ceweknya, dianterin pulang. Nah, mereka nggak terima, ditambah minggu lalu mereka kalah balap sama gue, lagi apesnya gue kali, dikeroyok sama mereka,” terangnya terkekeh. "Tapi lo nggak apa-apa, ‘kan Chi?” imbuhnya memperhatikan Chiara.
Chiara menggeleng. "Gue baik-baik aja, justru gue khawatir sama lo dan Kenneth."
Galang mengangguk. "Beruntung saat itu Ken datang, kalau enggak? Mungkin gue sekarang enggak bisa masuk sekolah,” lagi, Galang terkekeh seolah hal seperti ini biasa untuknya.
"Gue harap lo lebih hati-hati, Lang,” ujar Chiara serius.
"Gue rela muka gue dihajar sama mereka, kalau pada akhirnya lo bakal khawatir sama gue."
Chiara tersenyum kikuk. "Jangan ngaco,” balasnya meninju lengan Galang.
"Gue serius, Chi. Lo cantik kalau lagi senyum."
Astaga, wajah Chiara memanas mendengar ucapan Galang.
"Woahh lo blushing, Chi," tunjuk Galang pada pipi Chiara yang merona.
"Apaan sih, enggak," elak Chiara memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ciee yang blushing,” goda Galang.
"Udah, gue pergi dulu."
Galang mencekal pergelangan tangan Chiara. "Mau kemana?"
"Gue mau ke kelasnya Clarissa."
"Boleh gue temenin?" Galang menaik turunkan alisnya.
Chiara berfikir sejenak, kemudian mengangguk. "Boleh.”
Jawaban Chiara sukses menciptakan lengkungan di bibir Galang. Keduanya berjalan beriringan, beberapa siswa siswi memperhatikan keduanya dengan tatapan iri.
"Chi, gue berharap bisa terus berjalan beriringan bareng lo."
Chiara menoleh. "Apaan sih, Lang. Jangan aneh-aneh."
"Gue serius, Chi. Kalau kayak gini, kan, orang-orang nyangkanya kita beneran pacaran," Galang terkekeh seraya merangkul pundak Chiara.
Chiara melepas tangan Galang yang bertengger di pundaknya.
"Kenapa?" tanya Galang protes.
"Nggak apa-apa, enggak enak dilihat anak-anak, entar fans lo berkurang," jawab Chiara menyengir. Entahlah, kalimat Galang yang menyebutkan orang akan mengira ia pacaran dengan Galang sedikit mengusik pikirannya.
"Huh, gue rela fans gue berkurang asal lo bisa sama gue," Galang memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Chiara melirik wajah Galang, tidak ada keraguan saat mengatakannya, membuat Chiara merasa tidak enak hati. Jujur banget, sih, si Galang ini.
"Chi, entar pulang bareng gue, yuk?" ujar Galang. "Apa lo trauma pulang sekolah bareng gue?" imbuhnya saat tak mendapat jawaban dari Chiara.
"B-bukan kok, bukan gitu, tapi gue enggak bisa, nanti pulang sekolah gue ada acara sama Clarissa,” jawab Chiara.
"Gue kira lo kapok pulang sama gue," gumam Galang.
Chiara menoleh. "Gue enggak kapok kok, Lang. Itu pengalaman pertama gue, meskipun jujur, gue ketakutan saat ketemu preman, tapi seru waktu dorong motornya,” ia terkikik.
"Jadi lo mau dorong motor lagi bareng gue?"
"Enak aja. Ogah gue. Capek tahu."
Galang tergelak. "Lo bilang itu pengalaman pertama yang seru.”
"Tapi enggak harus ngulang juga, Galang,” desis Chiara mendengus.
Galang tertawa. "Oke, lain kali gue pastiin motor gue aman dan sehat waktu nganter lo."
Chiara hanya tersenyum menanggapi ucapan Galang.
📖📖
__ADS_1
📖