
Sekolah semakin heboh dan gempar dengan pemberitaan bahwa Chiara dan Clarissa adalah anak dari pemilik sekolah. Tidak pernah ada yang menyangka. Setelah kemarin sekolah heboh dengan pemberitaan sang ketua osis yang berpacaran dengan Chiara. Kini justru semakin heboh dengan adanya berita bahwa Chiara adalah anak dari pemilik sekolah. Beberapa anak mulai segan saat bertemu dengan Chiara dan juga Clarissa, banyak yang bertanya-tanya kenapa mereka menyembunyikan identitasnya.
Oh, jangan lupakan Vanya dan Lani yang shock berat, siapa yang menyangka bahwa yang selama ini mereka benci dan mereka bully adalah anak pemilik sekolah.
Clarissa menyeringai saat melihat Vanya sedang duduk di kursi koridor bersama Lani. Langkahnya ringan menghampiri. "Ehem, ehem, hai, Vanya, hai, Lani," sapanya melambaikan tangan.
Vanya mendongak. "Ada apa?" Jangan berfikir suara Vanya melembut, nada suara masih ketus dan menyebalkan.
"Enggak ada apa-apa, anak miskin dan tidak tahu diri ini hanya ingin menyapa kalian, para senior yang agung," ejek Clarissa tersenyum.
Vanya mengepalkan tangan, andai Clarissa bukan anak pemilik sekolah, pasti sudah ia hajar. "Gue nggak ada waktu buat ladenin elo," sungutnya.
"Ups.. santai, gue cuma mau bilang, persiapkan diri lo buat cari sekolah baru, karena sepertinya lo bakal dikeluarkan dari sekolah ini," ujar Clarissa melipat kedua tangannya.
Vanya dan Lani melebarkan mata.
"Terkejut, ya? Huh, pasti sekolah ini bakal merindukan kalian," sindir Clarissa menatap sinis. Ia menyeringai melihat wajah cengo keduanya. "Bye.. senior yang agung," ledek Clarissa mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Sialan!" umpat Vanya pelan saat Clarissa sudah menjauh.
"Van, gimana kalau kita beneran di keluarin dari sekolah?" Lani tampak ketakutan.
"Nggak mungkin, Lan, lo tenang aja, pasti dia cuma gertak kita doang." Vanya berusaha menghibur Lani, atau mungkin menghibur diri sendiri, karena ia juga tidak begitu yakin.
*
Tampak di koridor Chiara sedang berjalan beriringan dengan Kenneth, terlihat keduanya tengah membicarakan suatu hal yang serius.
"Hai, Chia~," sapa seorang dari belakang dan langsung melingkarkan tangan di pundak Chiara.
Chiara menoleh. "Hai, Galang, kapan balik?"
"Tadi malem, Clarissa mana?"
"Kayaknya udah di kelas."
Kenneth berdehem, "Singkirin tangan lo dari cewek gue," desisnya memperhatikan lengan Galang yang bertengger nyaman di pundak Chiara.
"Oh, jadi kalian beneran pacaran?"
Chiara tersenyum menanggapi.
"Atau gue patahin tangan lo," ancam Kenneth tajam memperhatikan Galang tak mengindahkan ucapannya.
Chiara melotot protes.
Galang meringis, menarik tangannya kembali. "Cowok lo posesif banget, Chi," bisiknya.
"Gue denger," tanggap Kenneth sengit.
Galang berdecih. "Eh, kata Clarissa, besok elo ulangtahun ya?"
"Iya, lo dateng, ya?"
Galang mengangguk. "Lo mau hadiah apa dari gue?"
"Nggak perlu repot-repot, Lang."
"Nggak repot, kok. Eh, gue nyamperin Clarissa dulu, ya?"
Chiara mengangguk.
"Bye, Kakak ipar," pamit Galang mengacak rambut Chiara, mengabaikan tatapan tajam dari pemuda yang ada di samping gadis itu.
"Ehem!"
Chiara menoleh, menatap raut wajah Kenneth yang datar, tak berapa lama senyumnya mengembang.
"Kenapa?" Kenneth merasa heran.
Chiara menggeleng. "Kamu lucu kalau lagi cemburu," ucapnya terkekeh.
Sebelah alis Kenneth terangkat. "Apa itu kelihatan seperti cemburu?"
Senyuman Chiara pudar. "Apa?" ketusnya membuang muka, menghentakan kaki kesal, berjalan cepat meninggalkan Kenneth. "Bilang cemburu aja apa susahnya, sih," gerutunya pelan.
Kenneth tersenyum mendengar gerutuan Chiara, tingkah Chiara yang merajuk terlihat menggemaskan.
Chiara bersendekap dada menunggu Kenneth yang berjalan di belakangnya.
Kenneth geleng-geleng kepala. "Kenapa berhenti?" tanyanya kemudian.
"Nggak apa-apa, aku mau ke bawah."
"Ngapain?"
__ADS_1
"Perpustakaan."
"Nanti aja istirahat."
"Kenapa?"
"Aku temenin."
"Nggak usah!"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Kenneth menahan tangan Chiara saat gadis itu akan berbalik menuruni tangga.
"Apa?!" sentak Chiara mendongak.
"Aku cemburu."
Chiara terdiam, kedua netranya berkedip menatap Kenneth yang juga tengah menatapnya, ia merasakan suhu wajahnya mulai memanas.
Kenneth tersenyum, mencubit pipi Chiara yang merona. "Ayo," ajaknya menarik kembali tangan Chiara menuju kelasnya.
Kali ini Chiara tidak merespon apapun, ia hanya menurut seraya menetralkan degupan jantungnya yang menggila.
...***...
Galang berjalan menyusuri koridor menuju kelas di mana sang kekasih berada, senyuman tak pudar dari bibirnya, membuat beberapa pasang mata memekik tertahan karena mengira bahwa senyuman itu untuk mereka. Hampir seminggu ia tidak bertemu sang gadis, ia sangat merindukannya, huh, apa sekarang ia menjadi budak cinta? Kenapa alay begini?
"Cla, ada Galang," seru Hanin saat melihat ke arah pintu kelas.
Clarissa menoleh, senyumnya mengembang, ia berdiri dari duduknya.
"Hai, pacar," sapa Galang jenaka.
Clarissa tersenyum lebar, bahkan matanya hingga menyipit.
Galang semakin merindukan senyum gadis di hadapannya. Menghiraukan tatapan murid lain, ia menarik tubuh Clarissa masuk ke dalam pelukan hangat. Tindakannya sukses membuat seisi kelas memekik. "Aku kangen banget sama kamu," ucapnya.
Clarissa tersipu. "Aku juga," balasnya.
"Juga apa?"
"Juga tahu kalau kamu kangen banget sama aku," tanggap Clarissa terkekeh.
Clarissa menarik diri, menunduk malu saat beberapa anak menggodanya.
"Jangan ada yang iri ye lu semua," cetus Galang memperingati. Kemudian ia mengambil duduk di samping Clarissa, menggeser tempat duduk teman sebangkunya.
"Kapan kamu pulang?"
"Tadi malam."
"Katanya hari ini baru pulang?"
"Sengaja, biar surprise," jawab Galang menaik turunkan kedua alisnya.
"Shh," Clarissa berdesis. "Kabar Mama kamu gimana?" tanyanya lagi.
"Udah baik, seperti yang udah aku bilang, Mama udah boleh pulang."
"Kasihan, ya, Mama kamu. Kamu batal punya adik lagi, dong?" goda Clarissa terkikik geli. Seperti yang Galang pernah beritahukan sebelumnya bahwa sang Ibu harus dirawat di rumah sakit karena keguguran, serta harus menginap beberapa hari di rumah sakit.
"Nggak apa-apa, aku bisa buat sama kamu nanti," tanggap Galang enteng.
Clarissa menegang. "Apa?"
Galang tergelak. "Kenapa kaget begitu mukanya?"
Clarissa mencubit lengan Galang.
"Kamu jangan sembarangan kalau ngomong, nikah aja belum," sungutnya.
"Berarti kalau udah nikah boleh, dong?" Galang semakin gencar menggoda.
"Ih, apaan, sih? Kenapa bahas nikah coba."
"Kan kamu yang mulai."
Clarissa mengerucut sebal. "Udah sana, kamu balik ke kelas," ia mendorong tubuh Galang.
"Belum masuk juga, masih kangen ini."
"Idih, apaan sih, udah sana," Clarissa kembali mendorong tubuh Galang.
__ADS_1
Galang bangkit. "Nanti istirahat aku jemput," ucapnya menyampirkan ranselnya.
Clarissa mengangguk sebagai jawaban.
...***...
Sepertinya Galang terlalu lama meninggalkan sekolah, atau lebih tepatnya meninggalkan Jakarta, sehingga ia melewatkan banyak informasi baru.
Untuk sekedar membuka majalah online sekolah?
Galang bukan tipe orang yang suka akan gosip, sehingga ia tidak pernah membukanya, melirik aja jarang. Hampir saja ia tersedak minuman saat kedua temannya memberitahukan informasi tentang siapa Clarissa sebenarnya. "Lo serius?" Wajahnya semakin memerah entah karena tersedak atau karena hal lain.
"Serius kali, Lang. Kemarin nyokap bokapnya Clarissa ke sekolah, dan gue jelas tahu bahwa mereka adalah pemilik sekolah ini," terang Joni.
Galang membeku, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Tolong seseorang katakan bahwa itu mimpi, atau prank, atau dirinya salah dengar, atau mereka semua salah bicara, tolong!
Galang terus merutuk dalam hati, kenyataan itu begitu memukul telak hatinya. Kepalanya menggeleng cepat, tidak! Ia tidak bisa menerimanya, ia mencintai Clarissa, sungguh, ia benar-benar mencintai gadis itu.
Kenapa di saat ia benar-benar akan serius dengan perasaannya, kebenaran menghancurkannya bahkan sampai di titik terendah dalam hidupnya. Kenapa kenyataan itu harus ia ketahui saat ini, atau kenapa kenyataan ini tidak dari dulu ia ketahui.
Galang mengusap wajahnya, menyugar rambutnya ke belakang, ia benar-benar frustasi.
"Lo kenapa, Lang?" Joni dan Niko saling tatap melihat respon Galang yang sudah diyakini sedang frustasi.
"Arrggghh," Galang berteriak serta membanting kaleng minumannya.
Joni dan Niko terheran.
"Lang, lo kenapa?"
"Cerita sama kita, ada apa?"
Joni dan Niko nampak benar-benar khawatir dengan keadaan Galang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya? Bukankah tadi pagi wajahnya begitu ceria sesaat tengah bertemu kembali dengan kekasihnya setelah berpisah seminggu yang lalu? Tapi setelah memberikan informasi bahwa Clarissa anak pemilik sekolah wajahnya berubah seperti frustasi dan tertekan. Apa yang salah dengan semua itu? Keduanya kembali saling tatap dan mengangkat bahu.
Galang bangkit, ia harus memastikan sendiri kenyataan itu, ia harus menemui sumber informasi agar bisa mendapatkan kebenaran tentang semuanya.
"Lang, lo mau kemana?" seru Niko.
"Gue ada urusan," jawab Galang tanpa menoleh. Selama berjalan di koridor nampak wajahnya yang mendung, membuat para siswa siswi dibuat heran, karena tidak biasanya Galang seperti itu. Seorang siswi memberitahu bahwa orang yang sedang dicarinya berada di kantin, ia gegas menghampiri.
"Cla, aku perlu ngomong sama kamu."
Clarissa yang sedang duduk di meja kantin menoleh. "Ada apa, Lang?"
"Ini penting," Galang mengulurkan tangan.
Sebenarnya Clarissa ragu, raut wajah Galang berbeda dengan yang tadi pagi, kali ini raut wajah Galang menunjukkan keseriusan, dan kesedihan sepertinya. Clarissa mengangguk, ia menerima uluran tangan Galang, menoleh kepada temannya dan melambai.
Sedangkan di meja lain, Chiara yang melihat hal itu merasa penasaran dengan sikap Galang. "Ken, kamu ngerasa Galang berbeda nggak?" tanyanya tanpa sengaja.
Kenneth mendongak, menatap punggung Galang yang perlahan menjauh. "Jangan kepo urusan orang."
Chiara beralih menatap Kenneth, matanya memicing. "Kamu ngeselin banget, sih. Aku, kan, cuma nanya?"
Kenneth menatap Chiara, menghembuskan nafas pelan, kemudian menyodorkan sendok berisi nasi goreng pada Chiara.
"Nggak mau!" tolak Chiara ketus.
"Makan."
"Nggak mau."
"Makan, Sayang~"
Chiara membeku, 'Astaga jantung gue'. Untuk pertama kalinya setelah jadian Kenneth memanggilnya semanis itu, Chiara 'kan jadi baper. Kedua pipi Chiara bersemu, ia menunduk malu.
Kenneth menarik dagu Chiara agar mendongak, kemudian kembali menyodorkan sendoknya. Chiara menerima suapan darinya, mengunyah dengan kepala menunduk.
Kenneth tersenyum dan mengelus kepala Chiara. "Kalau nurut gini, kan, tambah sayang."
Uhuk! Uhuk!
Chiara tersedak mendengar kalimat Kenneth, menepuk nepuk dadanya yang terasa panas.
Kenneth menyodorkan minuman serta menepuk punggungnya. "Pelan-pelan, Ra."
"Ih, gara-gara kamu, tuh," protes Chiara masih sedikit terbatuk, bahkan wajahnya memerah karena tersedak nasi goreng.
"Kok aku?"
"Udah, ah, kamu makan sendiri, aku kenyang."
Kenneth menghela nafas, kemudian meneruskan kegiatan makannya.
Chiara menghembuskan nafas panjang. 'Huh, kenapa Kenneth jadi manis begini, sih, bisa diabetes gue nanti, gila!' bathinnya memperhatikan Kenneth yang sibuk mengunyah makanannya.
__ADS_1
📚
📚📚