
Chiara semakin dirundung perasaan tidak mengenakkan. Bingung, sedih, kesal, malu, marah, semua campur aduk menjadi satu dalam pikirannya. Sudah jelas siapa penyebab suasana hatinya yang semakin tak menentu, jawabnya hanya satu nama, Kenneth. Terlebih saat menyadari bahwa Kenneth tidak pernah membahas masalah pernyataan sukanya. Itu disebabkan karena Kenneth yang masih mencintai mantan pacarnya, oh, atau bahkan sekarang sudah menjadi pacarnya.
Ah sial! Chiara benar-benar di buat kesal atas pernyataan dari Liona yang sangat menusuk jantung dan jiwanya. Sama aja. Berharap semua biasa-biasa saja, seolah ia tak pernah mengatakan itu?
Tidak bisa!
Chiara bahkan ingin mengubur diri saat dengan sengaja Kenneth menatapnya dengan tatapan sendu, entah karena alasan apa, pikir Chiara adalah itu salah satu penyesalan karena Kenneth tidak mempunyai perasaan yang sama terhadapnya dan tidak bisa membalas perasaannya.
Oh betapa mengerikan nasibmu Chiara, di saat dulu kau begitu dipuja oleh semua laki-laki, menjadi idaman seluruh siswa, bahkan kini seorang Kenneth tidak membalas pernyataan cintanya di saat justru dirinya sendiri yang menyatakan terlebih dahulu. Bahkan seumur hidupnya, baru kali ini Chiara menyatakan perasaannya terhadap lawan jenis, dan hasilnya luar biasa membuat Chiara tak ingin pergi ke sekolah dan bertemu dengannya. Pemandangan indah antara Galang yang sedang menguncir rambut Clarissa di koridor pun tak menarik perhatiannya. Chiara melewatinya begitu saja, tanpa menoleh sama sekali.
"Kakak lo kenapa?" tanya Galang heran.
Clarissa mengangkat bahunya acuh. "Aku enggak tahu, padahal kemarin biasa aja."
"Kamu ada masalah di rumah?"
Clarissa menggeleng. "Enggak."
"Gimana hubungan dia sama Ken?"
"Aku enggak tahu, tapi kayaknya Kak Ken enggak ada respon apa-apa deh."
"Kamu yakin?"
Clarissa mengangkat bahunya. "Atau mungkin Kak Ken nggak suka sama Kak Ara?" Clarissa menutup mulutnya karena terkejut akan asumsinya sendiri.
"Mungkin."
"Jadi.."
"Apa?" tanya Galang tak paham.
"Kamu masih mau deketin Kak Ara lagi nggak?" Clarissa menyenggol lengan Galang.
Galang menyernyit, kemudian tersenyum. "Enggak dong, aku, kan, udah punya pacar yang imut-imut kayak marmut, masak aku anggurin, sih," jawabnya merangkul pundak Clarissa.
Clarissa mencibir. "Enggak perlu samain aku sama marmut juga kali."
"Imut-imut kayak.." Galang menjeda ucapannya seraya berfikir.
"Awas kalau ngatain aku," Clarissa mengancam.
Galang menyengir. "Nggak deh, pacarku, kan, cantik."
Pipi Clarissa bersemu mendengar pujian dari Galang.
"Uluhh pacar aku gemesin banget sii," Galang mencubit kedua pipi Clarissa gemas.
"Woi, woi, woi. Pagi-pagi udah pacaran aja nih!" Niko berujar sarkas melangkah menghampiri Galang dan Clarissa.
"Dunia milik berdua.." timpal Joni berdendang seraya melebarkan tangan kanannya.
"Berisik!"
"Aduh si bos, yang udah jadian, traktiran kuy."
__ADS_1
"Yoi skuy."
"Santai.. entar gue traktir kalian berdua sepuasnya," ujar Galang sombong.
Joni dan Niko berbinar. "Woahh gitu dong."
"Eits jangan di kantin yah, bosen gue sama masakan kantin," Joni memberi usul, tidak punya etika memang, ditraktir malah minta di tempat elite.
"Gampang, gue traktir di warung bakso ujung gang sono," Galang menunjuk dengan tangannya.
"Lah.. napa cuma bakso sih, nggak modal banget lo, Lang."
"Aku, kan, enggak makan bakso," ucap Clarissa mendongak menatap Galang.
"Khusus mereka bakso, sayang, kalau kamu ya makanan restoran mahal lah."
Clarissa tersenyum, sedangkan Joni dan Niko mencibir.
"Bilang aja nggak ada duit," ledek Niko geram.
"Eh, eh, bilang apa lo? Siapa yang bilang seorang Galang nggak punya duit? Coret kata-kata itu," tanggap Galang angkuh.
"Sombong!" semprot Clarissa mencibir.
"Fakta, sayang~" Galang mengelus kepala Clarissa.
"Buktiin dong kalau lo kaya."
"Oke, gue traktir lo berdua di restoran entar pulang sekolah," putus Galang kemudian.
"Deal," Niko dan Joni berjabat tangan.
"Itu bedanya kita," ucap Niko dan Joni bersamaan, kemudian keduanya tertawa.
Galang berbisik. "Jangan diladenin, mereka berdua gila."
"Kamu juga dong?"
"Eh, kenapa ngatain aku gila, aku pacar kamu lho, Cla," bantah Galang tak terima.
"Lah kamu mau temenan sama orang gila, bukannya kamu lebih gila dari mereka?"
"Bwahahaha," Niko dan Joni terbahak-bahak mendengar ucapan Clarissa mengejek Galang.
Galang menyorot tajam pada Clarissa.
"Peace," Clarissa menyengir, mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
...***...
Sepulang sekolah, kelas Chiara dan Kenneth tidak bisa langsung pulang karena ada kelas praktek kimia. Seluruh murid kelas XII IPA 1 berbondong-bondong menuju ruangan laboratorium setelah memakai jas berwarna putih. Sebelumnya Chiara mengabari Clarissa bahwa akan pulang telat.
Kelompok di bagi menjadi empat bagian dengan masing-masing ketua kelompok memegang cairan berwarna hijau yang terdapat di tabung kecil.
Entah keberuntungan atau kesialan, lagi-lagi Chiara harus sekelompok dengan Kenneth. Chiara mendengus kesal saat menyadari dirinya harus berkutat serta memperhatikan Kenneth yang tengah menuang cairan ke dalam tabung lain, seraya mencatat hasilnya. Chiara yakin tidak akan bisa fokus dalam menyalin catatan hasil pengamatannya, tiba-tiba ujung bibirnya tertarik, ia berjalan ke kelompok lain. "Mila, gue tukeran kelompok sama lo."
__ADS_1
Mila menoleh dan menyeryit. "Apa?"
"Ayo dong, gantian lah, gue pengen sekelompok sama Icha, dia, kan, jago kimia," bujuk Chiara merayu.
"Kenneth juga pinter kimia, Ra."
"Please, Mil, sekali aja," pinta Chiara memelas.
Mila tampak berfikir. "Oke deh, gue mau tukeran kelompok sama lo, ini demi persahabatan kita, ya?"
Chiara tersenyum lebar. "Oke."
Kenneth memperhatikan gerak gerik Chiara, entah mengapa ia merasa bahwa Chiara tengah menghindarinya, tapi apa mungkin itu cuma perasaannya saja?
Setelah satu jam berkutat dengan bahan-bahan yang entah apa gunanya, mereka kini akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Wajah-wajah letih dan lesu terpampang jelas di wajah mereka.
"Hai, sayang~"
"Hai, udah lama nunggu?" sahut Mila menyadari sang pacar setia menunggunya hingga selesai praktikum.
"Enggak kok."
Mila menoleh pada Chiara. "Ra, gue duluan, ya?"
Chiara mengangguk. "Hati-hati, Mil."
"Kuy, Ra," ucap Putra.
Chiara melambaikan tangan. Terkadang ia merasa iri dengan Mila, Putra ternyata sangat menyayangi Mila, bahkan rela menunggunya hingga selesai praktek. Berbeda dengannya, yang bahkan pernyataan cintanya tidak direspon, atau bahkan bertepuk sebelah tangan, Chiara tersenyum getir.
"Ara."
Lamunannya buyar ketika sebuah suara menginterupsinya dari depan. Chiara mendongak dan terkejut melihat Kenneth berdiri di hadapannya, sejak kapan dia di sana?
"Ya?"
"Lo mau pulang?"
"I-ya," jawab Chiara gugup, ia merasa aneh dengan pertanyaan Kenneth.
"Mau gue anter?"
"Eh? Nggak usah, gue udah dijemput sopir gue kok," tolak Chiara cepat.
Kenneth menatap lekat gadis di hadapannya.
Chiara dilanda gugup berkali-kali lipat, ia mengalihkan tatapannya dari intimidasi lawan.
"Ra gue —"
"Eh, itu sopir gue udah datang, gue cabut dulu, ya, bye, Ken," Chiara buru-buru menyela dan berlari setelah berpamit.
"Ra," seru Kenneth namun dihiraukan. "Kenapa dia jadi aneh?" gumamnya pelan.
Chiara menghembuskan nafas panjang ketika telah duduk di kursi penumpang, menyender pada jok mobil. "Untung aja gue bisa kabur dari dia," ucapnya pelan. Chiara menebak kalau Kenneth akan membahas masalah pernyataan cintanya waktu itu, dan ia tidak mau mendengar jawaban apapun dari Kenneth. Lebih baik begini, ia tidak tahu perasaan yang sebenarnya Kenneth miliki untuknya, setidaknya tidak untuk saat ini, hati Chiara masih sangat sensitif.
__ADS_1
📚📚
📚