KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
28. Incaran


__ADS_3

"Elo yakin dia orangnya?"


"Yakin! Gue pernah ketemu dia boncengan sama Galang."


"Sini, coba gue lihat fotonya." Pria itu menyunggingkan senyum. "Gue bakal bikin kejutan buat lo, Galang."


"Lo serius dengan rencana lo?"


"Kita bakal bikin perhitungan sama dia."


"Gimana kalau mereka lapor polisi?"


Bruak!!


Terdengar suara meja yang ditendang kuat hingga tergeser dari posisinya.


"Kalau kalian ragu, gue saranin buat mundur sekarang juga, gue nggak butuh pengecut di sini!” bentakan keras dan tajam membuat para anggota seketika terdiam.


"Ada yang mau mundur?!"


Suasana menjadi panas saat tatapan pria itu seperti menguliti satu per satu dari anggotanya.


"Bagus! Gue mau kalian persiapkan diri untuk pertempuran esok."


...***...


"Ra, ponsel lo belum kelar juga?"


"Udah kok, tapi entar gue mau ganti case, udah bosen sama si dora," Chiara mengangkat ponselnya dengan case gambar Doraemon.


"Lo pergi sama siapa?"


"Clarissa mungkin,” jawab Chiara mengangkat kedua bahunya. "Lo mau ikut, Mil?" ajaknya.


"Sorry, Ra. Gue enggak bisa."


Chiara mengangguk. "Sans aja, Mil. Gue bisa pergi sendiri kok."


"Sayang~" panggil Putra merangkul pundak Mila.


"Hai, Sayang," balas Mila tersenyum manis.


"Ngomongin apaan, nih?"


"Ara mau ke mall, aku nggak bisa ikut?"


"Mau ngapain, Ra. Belanja?"


"Enggak, gue cuma pengen ganti soft case," jawab Chiara mengangkat ponselnya.


"Yang, nanti aku ada latihan basket, nggak bisa nganter kamu pulang, gimana dong?"


"Bukannya udah mau pensiun, kenapa masih latihan basket?" Mila bertanya balik.


"Buat milih ketua basket yang baru, Yang. Jadi semacam tes kemampuan gitu lah, sebagai senior wajib ikut, dan lihat skill mereka,” jelas Putra.


"Ya, udah, nggak apa-apa, nanti aku pulang naik taksi aja."


"Lo bareng gue aja, Mil. Entar gue suruh sopir gue buat anterin lo pulang," usul Chiara mendongak dari ponselnya.


"Enggak usah, Ra. Elo, kan, mau ke mall."


"Nggak apa-apa, gue nggak keberatan kok."


"Iya, Yang. Kamu bareng Chiara aja, aku lebih tenang kalau kamu pulang sama Chiara," timpal Putra menyetujui usul Chiara.


Mila Nampak berfikir. "Em, iya, deh, gue bareng lo, Ra,” putusnya kemudian.


"Oke,” Chiara mengangguk.


"Ken," panggil Putra ketika melihat Kenneth di koridor.


Kenneth mendekat, kemudian mengangkat dagunya seolah bertanya ada apa?


"Entar malem lo dateng?"


"Nggak."


"Bang Lukas ngundang lo, kayaknya ada hal serius yang mau diomongin sama lo." Putra mendekat pada Kenneth, berbisik di telinganya. "Bakal ada balapan entar malem."


Chiara dan Mila saling tatap.


"Gue usahain dateng," jawab Kenneth kemudian.


Putra tersenyum menepuk pundak Kenneth.

__ADS_1


"Yang, ayo ke kantin,” ajak Putra merangkul pundak Mila.


"Kalian ngomongin apa?" Mila mendongak menatap Putra seraya berjalan beriringan.


Kenneth memperhatikan Chiara yang tengah menatap kepergian Mila dan juga Putra. "Lo mau ikut?"


Chiara menoleh kemudian menggeleng. "Gue mau ke perpus."


Tanpa menyahut, Kenneth melenggang pergi meninggalkan Chiara.


"Dasar salju," cibir Chiara, kemudian ia berjalan menuju perpustakaan sekolah. Tapi ia heran melihat Kenneth yang juga menuju arah yang sama dengannya, kakinya sedikit berlari mensejajarkan langkahnya dengan Kenneth. "Lo mau kemana?" tanyanya.


Kenneth menoleh sejenak. "Perpus," jawabnya datar.


"Lo ngikutin gue?"


Kenneth melirik Chiara melalui ekor matanya, tidak berniat menjawab pertanyaan gadis itu.


Chiara mendengus kesal. "Tinggal jawab apa susahnya, sih," gerutunya pelan.


Sepertinya Kenneth mendengar ucapan Chiara, dengan sengaja ia berbalik dan mengentikan langkahnya.


Brukk!!


"Aduhh," keluh Chiara saat kepalanya menubruk tubuh Kenneth yang berhenti tiba-tiba di depannya. "Kenapa berhenti mendadak, sih," omelnya.


"Gue nggak ngikutin lo."


Tuk!


"Aduh," Chiara kembali mengelus dahinya yang disentil Kenneth.


"Lo yang ngikutin gue."


"Apa? Enak aja, gue yang duluan, bwek," Chiara menjulurkan lidahnya mengejek dan segera berlari mendahului Kenneth menuju perpustakaan.


Tanpa sadar Kenneth menarik ujung bibirnya membentuk senyuman tipis melihat tingkah Chiara.


...***...


To : Kak Ara


^^^Kak, aku ada latihan cheers, nggak bisa pulang bareng, Kakak duluan aja.^^^


From : Kak Ara


Setelah mendapat balasan dari sang kakak, Clarissa memulai latihannya di ruang kesenian, kali ini ia lah yang menjadi leader.


Di lapangan basket indoor, para pemain basket mulai melakukan pemanasan, Galang selaku ketua mulai memperhatikan skill para siswa yang patut dan pantas untuk dijadikan ketua tim menggantikan dirinya. Galang beserta tim inti pun ikut turun tangan melawan beberapa tim baru.


Hampir dua jam, pertandingan akhirnya diakhiri, nampak wajah-wajah lelah dari pemain yang berpeluh keringat. Begitu pula tim cheerleader yang baru menyelesaikan koreografi terbaru mereka, kini semuanya mulai bubar dan meninggalkan ruang kesenian.


Clarissa melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan masih menggunakan seragam cheerleader, netranya terfokus pada layar ponselnya untuk menghubungi Abangnya minta dijemput.


Tinnn!!!


Clarissa terlonjak kaget, bahkan ponselnya hampir terjatuh karena bunyi klakson yang nyaring.


"Hai, adik ipar,” Galang menyengir lebar tanpa merasa berdosa.


"Galang! Bikin gue jantungan tahu nggak?!" hardik Clarissa bersungut.


Galang terkekeh. "Sorry. Mau pulang bareng? Motor gue ngambek, pengen bonceng cewek, nih," ajaknya dengan gaya jenaka.


"Emang motor lo bisa ngomong?"


"Bisa, buktinya sekarang dia enggak mau jalan kalau lo belum naik di sini," Galang menepuk jok belakangnya seraya tersenyum.


"Dasar gila!" cibir Clarissa, tapi tak urung dirinya naik di boncengan Galang.


"Jalan, Bang,” ucap Clarissa menepuk pundak Galang.


"Lo kira gue tukang ojek."


"Wajah lo cocok kok jadi tukang ojek,” ejek Clarissa tertawa.


“Sialan lo."


"Ayo, Bang. Buruan," Clarissa kembali menepuk pundak Galang.


"Berangkaattttt.." seru Galang menirukan salah satu gaya tukang ojek di sitkom yang masih tenar hingga sekarang, yang sering ditonton author. 😅


"Lang, beli makan dulu, yuk? Gue laper," ujar Clarissa saat keduanya tengah di jalan.


Galang mengangguk sebagai jawaban, kemudian berbelok ke arah kedai kopi di kiri jalan. Keduanya turun dari motor dan memasuki kedai tersebut, Clarissa memilih tempat duduk di pinggir kaca agar bisa melihat lalu lintas di luar, sedangkan Galang masih memesan makanan.

__ADS_1


"Chiara nggak nungguin lo latihan, Cla?" tanya Galang meletakkan nampan di meja.


"Kak Ara lagi ke mall, mau beli soft case baru," Clarissa menyedot minuman dan meneguknya. "Rencananya gue mau nemenin, tapi gue lupa kalau hari ini ada latihan cheers, hehe,” tambahnya.


"Udah pulang belum, ya, dia?"


"Udah, barusan dia chat gue," jawab Clarissa mengunyah makanannya.


Galang mengangguk dan mulai memakan makanannya juga.


"Lo kapan nyatain perasaan sama Kakak gue?"


Galang menelan makanannya. "Belum tahu gue, gue juga belum tahu gimana perasaan Kakak lo ke gue. Menurut lo gimana?"


Clarissa tampak berfikir. "Gue nggak tahu, sih. Waktu gue tanya tentang lo, Kak Ara biasa aja, tapi kadang juga malu-malu gitu jawabnya. Kayaknya dia mulai suka deh sama lo."


Galang berbinar. "Lo serius?"


Clarissa mengangguk ragu.


"Yah, kenapa lo jawabnya ragu-ragu, Cla. Gue juga jadi ikutan ragu buat nyatain perasaan gue ke Chiara," wajah Galang nampak sendu.


"Kenapa? Takut ditolak?"


Galang berdehem, “Sorry, ya, dalam kamus hidup gue, pantang bagi seorang Galang ditolak sama cewek,” jawabnya angkuh.


Clarissa mencibir. "Kalau lo ditolak, gue orang pertama yang ngasih selamat sama lo."


"Lo nyumpahin Chiara nolak gue dong."


Clarissa tergelak, meneguk minumannya. "Enggak kok, bercanda gue," balasnya masih terkikik.


"Chiara suka yang romantis nggak?"


"Cewek mana yang suka sama hal berbau romantis?" ungkap Clarissa. "Tapi kalau Kak Ara sih orangnya netral, nggak terlalu berharap sesuatu yang romantis, yang terpenting membuatnya terkesan."


Galang mengangguk. "Kayaknya gue udah punya pandangan, nih."


"Apaan?"


"Ada, deh."


"Kasih tahu gue."


"Kepo lo," Galang menekan hidung Clarissa.


"Ish, nyebelin!"


"Gue pasti bikin Kakak lo terkesan sama gue, siap-siap aja lo jadi adik ipar kesayangan gue,” Galang terkekeh.


Clarissa memutar bola matanya. "Iye percaya."


"Cla."


"Hm?"


"Lo nggak lagi naksir cowok gitu?"


Clarissa mendongak. "Kenapa?"


"Ya, gue, kan, bisa bantuin buat lo pedekate, balas budi gitu."


"Gue enggak butuh bantuan lo buat pedekate.”


Galang tergelak. "Gaya lo, emang lo lagi suka sama siapa?"


Clarissa nampak berfikir, mengetuk dagunya dengan jari, sedangkan Galang sudah menunggu was-was jawaban dari Clarissa. "Em.. enggak ada!" jawabnya kembali menyendok makanannya.


Galang mendengus. "Serius ditungguin juga."


Clarissa tertawa. “Emangnya enak,” ejeknya.


Acara makan sore itu berlanjut dengan candaan dari masing-masing. Sesekali mereka tertawa dan saling melempar godaan.


Tanpa diketahui ada seseorang yang tengah mengambil gambar keduanya dari ujung jalan. Kemudian seseorang itu mengirim gambar pada bos mereka.


^^^Gue nggak pernah salah orang. ^^^


Tulisnya pada bawah gambar yang sudah diterima oleh sang bos.


Kerja bagus!


Balasan dari seberang membuat sang pengirim gambar tersenyum lebar.


"Nggak lama lagi, gue akan bikin lo nggak bisa ketawa, Galang, puas-puasin aja lo ketawa hari ini,” gumamnya menatap tajam Galang dan Clarissa yang sedang tertawa di ujung sana.

__ADS_1


📖


📖📖


__ADS_2