KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Extra part 2


__ADS_3

Selama dua hari berturut-turut Chiara senantiasa uring-uringan tak jelas, pekerjaan pun semakin tak terkendali. Bahkan beberapa karyawan menjadi amukan kekesalannya.


"Ganti yang baru saja. Letakkan itu di gudang," Chiara mengembuskan nafas dalam usai marah-marah tak jelas pada karyawan yang tidak sengaja menjatuhkan manekin. "Jangan ada yang menggangguku hari ini," peringatnya kemudian. Ia tidak ingin orang lain menjadi sasaran amarahnya.


Kemarahan serta kekesalan Chiara hampir mencapai ubun-ubun jika mengingat perbuatan Kenneth padanya. Ingin rasanya ia mencakar-cakar wajah tampan kekasihnya itu dengan kuku-kukunya yang panjang dan dipoles cat warna.


Bagaimana tidak, setelah acara lamaran yang gagal malam itu, Kenneth sama sekali tidak pernah membahasnya lagi. Bahkan pria itu disibukkan dengan meeting dan meeting.


Jangan lupakan sekretaris yang kecelakaan waktu itu seakan menjadi tanggung jawab Kenneth. Padahal wanita itu bukan siapa-siapanya Kenneth, tapi dua hari berturut-turut Kenneth rutin mengunjunginya di rumah sakit. Tentu saja Chiara menolak keras saat Kenneth mengajaknya untuk menjenguk.


Masa bodo dengan semua itu, Chiara tidak peduli. Ia benar-benar kesal dengan Kenneth. Seharian hingga sore menjelang, Kenneth tak menghubunginya sama sekali. Terlebih, saat kemarin Chiara meminta dijemput, kekasihnya itu mengatakan akan menjemput seusai dari rumah sakit.


What the hell!


Chiara rasanya ingin memakan Kenneth beserta tulang-tulangnya, mengunyahnya rakus tanpa ampun.


Sepertinya ia harus meluapkan kekesalannya jika tidak ingin berakhir gila. Chiara mencari kontak seseorang untuk ia hubungi.


"Halo, Ara? Ada apa?" sahutan dari seberang.


"Lo sibuk? Gue perlu mengeluarkan unek-unek," ucap Chiara merengut sebal.


Terdengar suara kekehan dari seberang. "Gue otw, cafe biasa."


Chiara mengangguk meskipun seseorang di seberang sana tidak akan melihat. Kemudian ia beranjak.


*


"Jadi, lo marah karena dia nggak ngelanjutin lamaran?" Mila menyimpulkan dari apa yang sudah Chiara ceritakan sebelumnya tentang masalah yang membuat sahabatnya itu uring-uringan.


Chiara mengangguk lesu. "Dia itu sebenarnya serius nggak, sih, atau cuma ngasih harapan aja sama gue," keluhnya menekuk wajah kian lesu.


Mila mengaduk minumannya. "Udah berapa lama, sih, kalian pacaran?"


Chiara memicing, untuk apa Mila menanyakan hal yang seharusnya sudah diketahui jawabannya. "Delapan tahunan."


"Cicilan mobil gue udah dapet tiga series. Lo pacaran atau kredit mobil, sih?" cetus Mila terkekeh.


Chiara mendengus. "Cinta bukan penghalang cita-cita," balasnya tak terima. "Lagipula gue sama Kenneth udah berkomitmen saling dukung karir, jenjang berikutnya terserah takdir."


"Lo berdua udah sukses. Kenneth belum juga ngajak nikah, gitu?"


Chiara menggeleng. "Sebenarnya udah sering dia ngomong gitu, tapi gue pikir dia cuma bercanda."


"Giliran elo menganggap serius, dia malah ngilang?" Mila menebak.


Chiara mengangguk lesu. "Gue sebel sama dia. Dia lebih mentingin sekretarisnya daripada gue. Gue merasa di duakan," Chiara menutup wajahnya, isakan kecil mulai terdengar.


Mila mengulum senyum. "Lima tahun waktu yang kalian lewati hanya dengan menatap melalui layar ponsel. Dan sekarang cuma karena satu wanita yang belum jelas statusnya udah bikin lo nyerah?"


"Gue bukannya nyerah, tapi gue kecewa sama Kenneth. Status hubungan gue selanjutnya seperti apa?"


"Tanya aja langsung."


"Nggak. Seharusnya dia dong yang punya inisiatif."


"Mungkin aja dia tengah menyiapkan sesuatu," tanggap Mila santai.


"Menyiapkan apa?" Kening Chiara mengerut.


Mila mengangkat bahu.


...***...


Hari sudah larut saat ia tiba di kediaman Van Houten usai berbagi kisah dengan Mila. Ia sengaja mengabaikan Kenneth yang menghubunginya berulang kali.


"Mendung banget itu muka, padahal lagi kemarau," Alzayn berujar saat bertemu kakaknya di undakan anak tangga.


Chiara tak menyahut, tenaganya benar-benar habis untuk merutuki kekasihnya.


"Kak Ara udah tahu besok Abang mau ke sini?"


Chiara menoleh lunglai. "Bunda ngadain acara makan malam lagi?" tanyanya lesu.


Alzayn nampak berpikir. "Ada acara penting katanya."


Chiara mengangguk-angguk, kemudian melangkah lesu menuju kamarnya.

__ADS_1


Alzayn hanya geleng-geleng kepala melihat respon kakaknya itu.


*


Tok! Tok! Tok!


"Kak. Ada Kak Ken di depan," ucap Alzayn membuka pintu kamar Chiara.


"Bilang aja Kakak sudah tidur."


"Kasihan, Kak, kayaknya dia lelah banget."


"Bodo. Udah sana, suruh dia pulang. Kakak ngantuk."


Alzayn menurut, ia keluar kamar dan tak lupa menutup pintu. Namun tak berapa lama ia kembali lagi.


"Kak. Dia nggak mau pulang sebelum ketemu dan ngomong sama Kakak."


"Memangnya dia tahu aku belum tidur?" Chiara menyelidik.


Alzayn menyengir.


Chiara mendengus. "Biarin, deh, terserah dia mau pulang atau nggak, aku nggak peduli."


Alzayn menghembuskan nafas lelah. "Kak. Kalau ada masalah itu dihadapin bukannya menghindar. Anak kecil banget, sih," semprotnya kesal. Ia lelah harus naik turun tangga.


"Terserah, Al, Kakak capek mau tidur," Chiara membungkus tubuhnya dengan selimut


"Dia hujan-hujanan, loh, di luar." Alzayn mendengus karena tak mendapat jawaban. Kemudian ia memilih keluar.


Chiara membuka selimutnya, melihat rintik hujan dari jendelanya. "Bukannya lagi kemarau? Perasaan tadi cuaca juga cerah. Kenapa tiba-tiba hujan?" gumamnya heran. "Hah. Masa bodo," imbuhnya kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.


Tak berapa lama.


"KAK ARA! KAK! KAK KEN PINGSAN, KAK!!"


Chiara terperanjat, ia membuka selimut serta membuangnya asal, kemudian berlari tanpa menggunakan alas kaki menuruni tangga tergesa. Kedua bola matanya membulat saat melihat tubuh Kenneth tergeletak di bawah rinai hujan.


Chiara berlari menghampiri. "Ken, bangun, Ken. Kenneth," ia mengangkat kepala Kenneth ke pangkuannya. "Apa yang terjadi?" ia panik hingga menangis.


Kenneth mengerjap. "Sayang, maafkan aku."


Chiara menggeleng.


"Jangan katakan apapun," cegah Chiara menggeleng. "Tolong siapapun panggil Dokter!" ia berteriak.


Jemari Kenneth merogoh saku celana, mengambil kotak beludru yang sebelumnya ia gunakan untuk melamar Chiara. "Aku belum dapat jawaban dari kamu. Will you marry me?" ucapnya dengan bibir bergetar, wajahnya pucat.


Chiara yang kalut dan takut melihat keadaan Kenneth hanya bisa mengangguk. "Iya, aku mau. Tapi aku mohon kamu jangan kayak gini. Aku takut, Ken." Ia meraup wajahnya dari guyuran hujan. "Tolong panggil Dokter!" teriaknya lebih keras.


"Kalau aku minta kita nikah besok. Apa kamu bersedia?" tanya Kenneth menggenggam jemari Chiara, tatapannya nampak sayu.


Kepala Chiara kembali mengangguk-angguk. "Iya, iya. Kita nikah besok, tapi kamu harus sembuh dulu," balasnya tak sabar. "Kenapa tidak ada yang datang? ALZAYYNN!!" teriaknya lagi.


Kenneth tersenyum, meraih jemari Chiara guna menyematkan cincin di sana, setelahnya ia mencium jari tersebut. "Terimakasih."


Di bawah guyuran hujan, airmata Chiara tiada henti mengalir, ia sangat takut terjadi hal buruk pada Kenneth.


Hingga tiba-tiba hujan berhenti dengan sendirinya, diikuti tepuk tangan meriah.


Chiara terperangah, tatapannya berotasi menatap beberapa wajah yang hadir tanpa ia ketahui kedatangannya. Ada keluarga besarnya termasuk Aiden. Bukankah Alzayn berkata Abangnya berkunjung besok? Ada teman-temannya juga yang tengah tertawa menatapnya entah kenapa. Chiara linglung. Kemudian ia memperhatikan Kenneth yang berdiri di hadapannya. Tunggu! Berdiri?


Kenneth merendahkan tubuhnya. "Kejutan," ucapnya menyentuh sebelah pipi Chiara.


Chiara mematung, tubuh dan pikirannya masih di menyusun puzzle yang berantakan.


"Sayang, ayo berdiri."


Ucapan Kenneth membuyarkan lamunan Chiara. Namun Chiara masih kebingungan.


Terlihat mereka yang hadir memberi selamat pada Chiara, sedangkan Chiara masih terdiam, mulutnya terkunci rapat tak mampu berucap, sepertinya raganya belum menyatu dengan jiwa.


"Ra. Kok lo bengong, sih?" Mila menyenggol lengan Chiara.


Chiara berkedip. "Aku.. Apa maksud semua ini?" hentaknya menatap Kenneth.


Kenneth tersenyum. "Artinya besok kita menikah."

__ADS_1


"Apa?!"


"Tadi kamu sudah menyetujuinya."


"Tapi, tapi, kan, kamu.."


"Semua bohong," Kenneth memotong. "Aku sengaja ngerusak acara makan malam kita waktu itu. Sebenarnya sekretaris aku nggak kecelakaan, yang nelpon waktu itu si Alex," Kenneth menunjuk pada Alex yang mengangkat tangan ber-say hello.


"Lalu? Kemana kamu selama dua hari ini?"


Kenneth menyeringai. "Mempersiapkan pernikahan kita," bisiknya pelan.


Chiara terperangah tak percaya. "Kamu nggak mikir kalau hujan-hujanan kayak gini bakalan sakit? Terus pernikahan batal?" cetusnya kesal.


Mereka yang hadir terkekeh, dan Chiara meringis heran.


"Saking paniknya dia sampai nggak sadar kalau airnya hangat," ucap Alex menggelengkan kepala.


"Apa?" Chiara tak paham, ia berjongkok menyentuh air yang tergenang di bawah kakinya. "Kok bisa?"


Kenneth mengarahkan telunjuknya ke atas.


Chiara turut mengikuti.


Dan taraa... di sana ada Julio beserta yang lain tengah memegang selang air.


"SELAMAT ULANGTAHUN, CHIARA!!" teriak mereka yang berada di atas balkon bersamaan.


Chiara terperangah menutup mulutnya dengan kedua tangan, sungguh ia tidak mengingat hari istimewanya itu. Mungkin karena ia sibuk memikirkan Kenneth yang berubah sikap dan membuatnya uring-uringan.


"Lo juga terlibat, Mil?" Chiara memperhatikan Mila yang tengah merekam kejadian. Masih ingat sore tadi ia menceritakan unek-uneknya pada sahabatnya itu. Dan nyatanya Mila juga turut andil mengerjainya.


Mila tersenyum lebar. "Iya. Keren, kan, gue," tanggapnya sombong.


Chiara mendengus.


Tak berapa lama keluarganya minus Clarissa —yang saat ini sedang perjalanan bisnis ke luar kota. datang dengan membawa kue ulangtahun dengan lilin menyala.


Sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana perasaan Chiara. Bahagia, sedih, kesal, terharu, berkumpul menjadi satu dalam hatinya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan semenyebalkan dan seindah itu.


Kenneth merengkuh tubuh Chiara yang kembali terisak dalam pelukan. "Happy birthday, Sayang," bisiknya mengecup sisi kepala Chiara.


Chiara memukul dada Kenneth. "Kamu jahat," ucapnya tergugu. "Kamu nggak tahu gimana takutnya aku lihat kamu pingsan," akunya jujur.


Kenneth semakin erat memeluk tubuh kekasihnya. "Maafkan aku."


Chiara kian terisak. "Kamu menyebalkan, Kenneth," ucapnya kemudian.


Kenneth terkekeh. "Persiapkan diri kamu, besok kita akan menjadi keluarga baru."


Chiara terkesiap, ia menarik diri menatap lekat manik legam di hadapannya. Tiba-tiba ia merasa gugup. Besok aku menikah? Besok aku menikah? Kalimat itu seakan berputar bagai kaset rusak di otaknya.


"Sayang, tiup lilinnya dulu," Stella berujar mengembalikan kesadaran Chiara.


Chiara merengut. "Bunda juga ikut ngerjain aku?"


Stella tersenyum. "Bunda sama Daddy sebagai tokoh hiburan saja," guraunya.


"Selamat ulangtahun, ya, Ara," istri dari Aiden turut berucap memberi selamat.


"Kalian juga," Chiara kian menekuk wajahnya, mereka semua bersekongkol menyusun rencana yang menyebalkan untuknya.


"Sudah jangan menangis, besok masih harus berdandan buat pernikahan, loh," istri Aiden kian gencar menggoda.


Chiara mengulum senyum.


"Ayo, tiup lilinnya," Stella kembali menginterupsi.


"Make a wish, Ra," Mila berseru.


Chiara mulai menutup mata, berdoa dalam hati. Berharap ia akan sehat dan bahagia. Orangtua, sahabat, semua yang ia sayangi bahagia. Semoga acara pernikahannya besok lancar, dan akan terus bahagia bersama kekasihnya, ups, calon suaminya.


Kenneth William Efrando.


Aminn...


.

__ADS_1


.


__ADS_2