KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
18. Semangkok bakso


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan pertandingan basket berhasil dimenangkan oleh tim Galang. Galang kembali menyumbangkan piala untuk SMA VH 21. Dan saat itu pula Clarissa resmi menjadi ketua cheerleader, pemilihan berdasarkan voting antar tim, dan juga kemampuan Clarissa memang tidak diragukan lagi. Sontak hal itu membuat Vanya marah, ia benar-benar tidak rela posisinya digantikan oleh Clarissa yang notabene adalah adik dari Chiara.


"Tunggu pembalasan gue,” Vanya bertekad.


"Kita harus ngerjain dia, Van."


Vanya mengangguk. "Lo punya ide?"


Lani tersenyum sinis. "Gue tahu,” ujarnya berbisik pada Vanya.


Terlihat Vanya menyeringai.


*


Suasana kantin kala itu lebih sepi dari biasanya karena merupakan jam istirahat yang kedua, jarang anak-anak mengunjungi kantin seperti saat jam istirahat pertama. Kebanyakan dari mereka memilih mengobrol di dalam kelas atau bahkan tidur.


Vanya berjalan angkuh menuju tempat duduk Clarissa dengan membawa nampan berisi semangkok bakso. "Heh, anak baru."


Clarissa dan teman-temannya mendongak.


"Sebagai ketua cheerleader yang baru lo harus melakukan satu tantangan dari ketua yang lama."


Clarissa menyernyit. "Memangnya ada peraturan kayak gitu? Ogah gue nurutin elo,” tolaknya.


"Hah, ternyata ketua cheerleader kali ini lempeng banget, belum juga tahu apa tantangannya udah mundur aja,” ejek Vanya merendahkan.


"Sebaiknya gue bilang sama Bu Dian, kalau lo enggak pantes jadi ketua tim,” sahut Lani mengompori.


Zia berbisik, "Udah, Cla, biarin aja, jangan ditanggapin."


Clarissa yang tersulut emosi langsung berucap. "Oke, gue terima, apa tantangannya?" tanyanya mengangkat dagu.


Vanya tersenyum sinis. "Mudah saja, lo habisin bakso ini," ia meletakkan nampan berisi bakso di atas meja.


Clarissa menelan salivanya alot, tiba-tiba tubuhnya bergetar, ia benar-benar gugup hanya melihat semangkok bakso di hadapannya.


Vanya melipat tangan. "Kenapa? Lo nggak berani?” tanyanya mengejek. “Cemen banget jadi orang,” imbuhnya kesal.


"Kenapa gue harus makan ini?"


"Yaa gue pengen tahu aja seberapa beraninya lo makan bakso dengan tiga sendok sambal. Atau jangan-jangan elo nggak bisa makan pedes ya?" selidik Vanya.


"Apa untungnya buat gue? Ini nggak ada kaitannya sama cheerleader,” kilah Clarissa gusar.


"Lo lupa? Gue kapten cheerleader sebelumnya. Dan sekarang gue nyerahin kepemimpinan gue ke elo. Dan ini adalah salah satu bentuk ucapan selamat bergabung dan penyerahan kepimpinan gue sama lo,” terang Vanya menghentak.


Clarissa berdecak. “Kalau gue nolak."


"Gue tinggal bilang sama Bu Dian, kalau lo nggak pantes jadi kapten cheerleader."


"Jangan banyak omong, bisa nggak lo habisin makanan ini, cuma semangkok aja, lagian nggak pedes-pedes amat,” timpal Lani menyulut api.


Clarissa melirik keseluruhan area kantin, sejak kapan ia menjadi pusat perhatian? Banyak dari mereka yang mengerubungi mejanya, ia juga melihat beberapa anggota cheerleader diantaranya. Clarissa gamang harus menerima tantangan dari Vanya atau tidak. Tapi bagaimana jika ia dinilai tidak mampu menjadi kapten cheerleader jika seandainya menolak? Namun jika menerima itu sama saja bunuh diri. Ia menoleh pada Hanin dan Zia meminta persetujuan, namun dua temannya itu kompak menggeleng.

__ADS_1


"Lama. Gue anggap lo nggak mau nerima permintaan gue, dan gue akan bilang ke Bu—“


"Tunggu,” potong Clarissa. “Gue mau,” putusnya kemudian.


Vanya dan Lani tersenyum sinis memperhatikan Clarissa yang menggeser mangkok bakso ke hadapannya.


Clarissa menarik nafas dalam, jantungnya tiba-tiba berdebar dengan keringat yang mulai muncul di dahinya, bahkan tangannya gemetar saat memegang garpu berisi bakso. Sedikit lagi bakso berukuran bola bekel itu masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba...


"Clarissa!!"


Semuanya menoleh ke asal suara, terlihat Chiara dan Mila yang baru memasuki kantin.


Chiara berjalan menghampiri, merebut garpu dari tangan Clarissa dan membantingnya ke dalam mangkok. “Apa yang kamu lakukan, Clarissa?!" hardiknya keras.


Semua mata menatap heran adegan di depannya, tak terkecuali Mila yang tidak mengerti apa yang telah terjadi.


"Kamu mau bunuh diri? Iya?"


Clarissa menunduk mendengar bentakan dari kakaknya.


Vanya berdecak. “Ini lagi, lo nggak usah ikut campur deh, Ra,” cetusnya.


Chiara menoleh. "Ini pasti ulah lo, ‘kan?" tebaknya menuding.


"Iya, kenapa?" jawab Vanya menantang.


"Apa yang lo lakuin sama adik gue? Lo nggak tahu k—“


Hampir seluruh penghuni kantin merasa tegang melihat adegan tersebut, beberapa anak bahkan mulai mengerumuni meja Clarissa.


Tatapan Chiara menggelap. "Apa maksud kamu, Cla?" desisnya.


"Drama,” Lani mencibir.


"Gue cuma nyuruh dia makan bakso, apa susahnya, sih?" sungut Vanya mulai jengah.


Chiara melotot tajam. "Lo —“


"Kak, please," pinta Clarissa memelas.


Chiara mendongak, menghembuskan nafas kasar. "Biarin gue yang gantiin Clarissa,” putusnya.


Clarissa melotot. "Kak," protesnya.


"Ide yang bagus, jadi tunggu apa lagi, silahkan," ucap Vanya tersenyum mempersilahkan. 'Meskipun enggak dapat adiknya, Kakaknya juga lebih baik,' bathinnya menyeringai.


Chiara duduk di samping Clarissa, menggeser mangkok bakso ke hadapannya, aroma sambal yang menyengat menusuk hidungnya.


"Kak Ara," cicit Clarissa menggeleng pelan.


"Berapa sendok sambal yang lo masukin?" menghiraukan Clarissa, Chiara mendongak menatap Vanya.


"Cuma tiga sendok,” jawab Vanya memperhatikan kukunya yang baru di cat.

__ADS_1


Clarissa menggeleng menyentuh lengan Chiara. "Jangan, Kak," lirihnya berkaca-kaca.


Chiara menepuk tangan Clarissa. "Cuma sedikit, Kakak pasti bisa," ujarnya menenangkan.


Kenneth, Julio dan Alex yang baru memasuki kantin terkejut melihat kerumunan di depannya.


"Ada apaan, sih?" tanya Julio entah pada siapa.


"Kita lihat, yuk?" usul Alex.


Ketiganya mendekat pada meja yang menjadi pusat perhatian.


Satu butir bakso berhasil masuk di tenggorokan namun wajah Chiara sudah memerah, ia memejamkan mata serta menggigit bibir bawahnya kuat.


"Kak Ara,” lirih Clarissa dengan kelopak mata yang panas.


Chiara mengangkat sendok berisi kuah bakso dengan tangan yang gemetar, aroma sambal yang menusuk hidung membuat kepalanya berdenyut.


Vanya dan Lani saling tatap, kemudian tersenyum samar.


"Ra, lo nggak apa-apa?" tanya Mila khawatir menyadari wajah pucat Chiara.


Chiara menggeleng pelan. Saat kuah itu berhasil ditelan, mendadak tenggorokan tercekat, telinganya pengang tak mampu mendengar apapun atau mungkin memang sekitarnya sunyi, sendok yang dipegangnya terjatuh di meja.


Mereka yang melihat merasa terkejut dengan perubahan raut wajah Chiara tak terkecuali Vanya dan Lani yang saling tatap heran.


Sementara Kenneth diam-diam memperhatikan seluruh wajah Chiara yang memerah hingga ke telinganya, raut wajah Chiara seakan menahan sesuatu.


"Apa yang terjadi sama Ara, Ken?" Alex menyenggol lengan Kenneth.


"Wajah Ara kok merah,” sahut Julio.


"Kak Ara,” wajah Clarissa sudah basah oleh air mata.


Chiara menutup mata saat mencoba menelan saliva guna membasahi tenggorokan, ia harus menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram ujung meja merasakan tenggorokannya panas dan terbakar.


"Kak, please, bicara sesuatu, jangan bikin aku takut," Clarissa menggoyang-goyangkan lengan Chiara.


Chiara merasakan seluruh tubuhnya berkeringat, ia menghirup udara karena nafasnya mulai terasa sesak. Ia membuka mulutnya hendak berucap namun tenggorokannya serasa terbakar, dan tak berapa lama ia pingsan menyender di pundak Clarissa.


"Kak Ara, Kak,” Clarissa nampak histeris menepuk-nepuk pipi Chiara.


Semua orang terkejut melihat Chiara pingsan. Pupil mata Vanya melebar menyadari Chiara pingsan, ia masih belum mengerti apa yang terjadi.


Entah dorongan dari mana, Kenneth menghampiri Chiara dan gegas membawanya dalam gendongan bridal menuju UKS.


Clarissa tergugu mengikuti Kenneth yang membawa Chiara ke UKS. "Zi, tolong bawakan air hangat buat Kak Ara,” pintanya pada temannya.


Zia mengangguk cepat, ia berbalik arah menuju kantin bersama Hanin. Sungguh ia juga tidak tahu dan takut dengan apa yang telah menimpa kakak sahabatnya itu.


📖📖


📖

__ADS_1


__ADS_2