
..."Aku sayang kamu, itu yang harus kamu ingat."...
...-Galang Arrega-...
...ΒΆΒΆΒΆ...
Beberapa jam kemudian.
"Hati-hati, Cla, kalau ada apa-apa langsung telepon Abang," titah Aiden sesampainya di Bandara internasional Juanda Surabaya.
"Iya, Bang, pasti aku jaga diri, bentar lagi, kan, nikahannya Abang, Cla masih berminat jadi bridesmaid," sahut Clarissa menyengir.
Aiden tertawa mengusap kepala Clarissa. "Dimana teman-teman kamu?"
"Mungkin di dalam, Bang, Abang balik aja."
Kepala Aiden terangguk. "Kamu hati-hati, ya?" ia mencium kening Clarissa sayang.
Clarissa mengangguk. "Dah, Abang," ia melambaikan tangan pada Aiden yang berjalan menuju jet pribadinya.
Clarissa mengeluarkan ponsel guna menghubungi Zia, selagi menunggu telepon tersambung, ia memilih duduk di kursi yang disediakan. "Halo, Zi, gue udah nyampe bandara, nih, lo dimana?"
"Cla, sorry, gue sama Zia udah di rumah saudara gue."
"Hah? Terus gue gimana?"
"Elo dijemput sepupu gue, ya? Dia udah otw ke sana."
"What? Sepupu lo siapa? Gue nggak kenal, Hanin."
"Lo udah pernah ketemu sama dia, Cla, Marvell. Yang dulu ketemu di cafe. Lo inget?"
Clarissa nampak berfikir. "Gue lupa-lupa inget."
"Udah lo tenang aja. Dia udah gue kirimin foto lo, kayaknya bentar lagi dia sampe situ. Bye, Cla."
Clarissa menggerutu kesal ketika telepon dimatikan sepihak. "Teman kurang ajar. Ngakunya temen, malah ninggalin gue. Awas kalian berdua," gerutunya beranjak menggeret kopernya menuju luar Bandara. Ia memutuskan untuk menunggu sepupu Hanin di luar saja.
Terlihat seorang pemuda dengan kaos hitam yang dilapis jaket jeans motif sobek serta celana jeans yang juga sobek di beberapa tempat, sepatu sneaker putih bermotif garis hitam, dan jangan lupakan kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya.
Pemuda itu adalah Marvell, saudara sepupu Hanin yang telah diberikan tugas amat sangat penting. Yaitu menjemput teman sang sepupu yang baru saja tiba di bandara, serta akan menghadiri acara pernikahan family dari Hanin, dan tentu saja familinya juga. Jemarinya bergerak membuka layar ponsel, memperhatikan foto gadis cantik yang dikirimkan oleh Hanin, nama gadis itu adalah Clarissa. Sebenarnya ia pernah bertemu sekali, tapi ia tidak begitu ingat wajahnya.
Marvell mengedarkan tatapan mencari sosok Clarissa di antara lautan manusia di hadapannya, sesekali ia memperhatikan layar ponsel guna memastikan tidak salah orang. Tak berapa lama ujung bibirnya terangkat melihat seorang gadis tengah menggeret koper dengan menggerutu. "Clarissa," panggilnya ketika gadis itu berada tak jauh darinya.
Clarissa mendongak seusai berkomat kamit menyumpah serapahi kedua temannya. "Iya?" jawabnya memperhatikan pemuda berdiri menjulang di hadapannya.
"Gue Marvell, sepupu Hanin."
Clarissa berkedip. "Oh, hai, gue Clarissa," sambutnya.
"Masih ada yang lo butuhin? Temen-temen lo udah nungguin di rumah," tutur Marvell meraih koper dari tangan Clarissa.
Clarissa menggeleng. "Nggak ada. Biar gue bawa sendiri aja," tolaknya hendak kembali meraih koper miliknya.
Marvell tersenyum. "Nggak apa-apa, nggak enak gue ngebiarin cewek cantik kayak lo narik koper, sedangkan gue 'nganggur," tanggapnya, ia membuka kaca matanya sekilas untuk memberikan satu kedipan pada Clarissa.
Clarissa tergelak. "Gue cuma basa-basi doang, sebenernya gue juga seneng ada yang bawain koper gue."
Marvell ikut tergelak mendengar jawaban dari Clarissa. "Ayo."
Clarissa mengangguk dan berjalan di sisi Marvell menuju kendaraan yang terparkir di depan bandara.
"Clarissa, lo dateng ke pesta sama siapa?" tanya Marvell saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Sama Zia dan Hanin, lah, kan, mereka yang ngajak gue ke sini."
Marvell tersenyum kecil. "Lo nggak tahu, ya, kalau mereka dateng sama gebetan mereka."
Clarissa menoleh cepat. "Apa? Maksudnya?"
Marvel terkekeh. "Kayaknya temen-temen lo udah bohongin lo, deh, mereka dateng sama gebetan mereka."
"Tapi, kan, ini acara keluarga, kenapa pada bawa pasangan coba. Heran gue."
"Soalnya, habis dari kondangan, mereka mau ke acara ulangtahun temennya Hanin." Marvell kembali menoleh pada Clarissa. "Hanin nggak cerita sama elo?" tebaknya.
Clarissa menggeleng. "Sial. Tahu gini mending gue nggak ikut," gerutunya sebal. "Terus gue harus gimana dong?" keluhnya menyenderkan kepala di kursi.
"Sebenarnya gue nggak ada pasangan kalau lo mau tahu."
Clarissa menoleh. "Maksudnya, elo ngajakin gue gitu?"
Marvell mengangguk. "Kalau elo mau sih."
Clarissa berdecih. "Memang sialan tuh anak berdua ngerjain gue," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Marvell. "Iya, deh, gue ikut apa kata lo aja," putusnya kemudian.
Marvell tersenyum. "Oke."
"Tapi kenapa Zia ikutan ke acara ulangtahun temennya Hanin?"
"Gebetannya Zia, kan, juga temen sekolahnya Hanin dulu."
Clarissa melotot. "Arrghhhh sialan!" hentaknya tanpa sadar seraya mengacak rambutnya.
__ADS_1
Marvell terkekeh melihat tingkah Clarissa. Lucu bathinnya.
...***...
"Cla, lo ikut kita aja gimana?" ujar Hanin yang tengah bersiap hendak ke acara ulangtahun teman sekolah.
"Iya, Cla, ikut aja nggak apa-apa," Zia menyahuti.
"Ogah! Mending gue tidur," tolak Clarissa ketus seraya mengunyah buah apelnya rakus.
Setelah acara pesta pernikahan saudara Hanin, ketiganya kembali ke hotel. Sebenarnya orangtua Hanin sudah meminta agar mereka tinggal di rumah salah satu family saja. Tapi mereka menolak dan memilih menginap di hotel, sebab tujuan mereka sangat banyak untuk mengisi liburan.
Namun kenyataannya hal itu tidak berlaku untuk Clarissa. Sebab kedua temannya memilih menghadiri pesta ulangtahun daripada mengajaknya jalan-jalan.
"Lo yakin?"
"Hm," Clarissa menjawab malas. "Udah, sana pergi," usirnya mengibaskan tangan.
"Lo ikut aja deh, Cla, nggak tega gue ngebiarin lo sendirian di sini," Hanin merasa tidak enak.
"Ya, kali, kalian berdua bawa pasangan, gue munfarid," semprot Clarissa kesal.
Hanin dan Zia terkekeh.
"Sorry, Cla, ini di luar rencana."
"Di luar rencana gue maksud lo?" sahut Clarissa sengit.
Hanin dan Zia terbahak.
"Masih ada hari esok. Oke." Hanin menekuk jarinya membentuk huruf O.
"Terserah, gue males sama lo berdua. Pergi sana," geram Clarissa menggigit apelnya kasar, melampiaskan kekesalannya.
"Kita pergi dulu, ya, Cla."
"Bye, Clarissa."
Clarissa mendengus sebal.
Menit berlalu, Clarissa yang masih terbaring di temani televisi yang menyala mulai berselancar dengan ponselnya. Hingga ia benar-benar bosan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Gue tunggu di bawah.
Marvell
Dahi Clarissa mengerut membaca pesan misterius tersebut. Hingga kemudian ia tersenyum. "Daripada gue mati konyol sendirian di sini karena bosan, mending gue ikut Marvell aja," gumamnya.
Clarissa mengetik balasan pesan Marvell, setelahnya ia mulai bersiap. Mengenakan kaos putih di lapisi jaket, celana jeans panjang dan juga sepatu sneaker, membiarkan rambutnya terurai. Ia menatap tampilannya di cermin. "Mari bersenang-senang," gumamnya tersenyum.
Marvell mendongak memperhatikan penampilan Clarissa dari atas sampai bawah. "Wow, luar biasa," pujinya terkekeh.
"Apaan, biasa saja."
Marvell beranjak, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Mau kemana?"
Clarissa mengendikkan bahu. "Kan elo yang ngajakin gue. Jujur, gue nggak begitu ngerti kota ini."
Marvell mengangguk. "Oke. Yuk, jalan."
"Tunggu. Lo nggak berniat buruk sama gue, 'kan? Lo nggak bakal apa-apain gue, 'kan?" selidik Clarissa seakan tersadar akan pergi dengan orang asing yang baru ia temui beberapa kali.
Marvell tergelak. "Nggak lah, gue anak baik-baik. Kalaupun gue apa-apain elo, lo bisa lapor sama Hanin, dia pasti tahu dimana nyari gue."
Clarissa nampak berfikir. "Bener juga, ya."
"Jadi.."
"Oke. Hayuk kita berangkat," Clarissa tersenyum lebar.
*
Marvell mengajak Clarissa singgah di salah satu tempat makan yang terkenal di Surabaya guna mengisi energi. Kemudian berlanjut melihat monumen dan beberapa maskot kota Surabaya. Hingga hari semakin larut, Marvell memutuskan membawa Clarissa untuk jalan-jalan di sekitar alun-alun kota, membeli beberapa jajanan yang dijual di tapi jalan.
"Mau cilok?" tawar Marvell.
Clarissa menggeleng. "Gue alergi cilok."
Marvell terheran, kedua alisnya menyatu.
"Nggak usah kaget gitu muka lo, biasa aja," tanggap Clarissa terkekeh.
"Lo serius?"
Clarissa mengangguk seraya mengunyah makanannya.
Marvell kembali mengajak Clarissa berkeliling. Ada sebuah pertunjukan musik tradisional, mereka memutuskan untuk melihatnya.
Selama pertunjukan berlangsung, tanpa sengaja Marvell memperhatikan Clarissa yang tengah tertawa lepas di sampingnya. Entah mengapa hatinya merasakan getaran aneh melihat tawa itu. Tangannya terulur menyentuh dadanya yang berdebar.
Clarissa mendongak menatap Marvell, menyenggol lengannya serta mengangkat dagunya seakan berucap ada apa?
Marvell tersenyum dan menggeleng, kemudian kembali fokus menikmati pertunjukan yang tersaji di depannya.
__ADS_1
Setelah dirasa malam mulai larut, Marvell mengajak Clarissa untuk kembali ke hotel. Keduanya berjalan menyusuri alun-alun menuju tempat mobilnya terparkir.
Tanpa disadari, seseorang yang berada di atas motor melihat keduanya, lebih tepatnya memperhatikan Clarissa, tatapan matanya menyala tajam, jemarinya terkepal melihat keduanya tertawa.
Entah mengapa Clarissa merasa ada yang sedang mengawasi, tatapannya menyapu ke penjuru arah.
"Ada apa, Cla?" tanya Marvell.
Clarissa menoleh, kemudian menggeleng. "Nggak apa-apa," ucapnya tersenyum. Namun tak berapa lama senyumnya memudar, bahkan langkah kakinya terhenti.
Marvell kembali heran. "Kenapa, Cla?"
Clarissa tak menyahut, netranya terfokus pada seseorang yang duduk di atas motor tengah menatap ke arahnya. "Galang?" gumamnya lirih.
Marvell mengikuti arah pandang Clarissa. "Lo kenal siapa dia?" ia bertanya.
"Dia.. cowok gue," jawab Clarissa tanpa sadar.
Marvell menegang, menatap Clarissa tak percaya. Jadi, Clarissa sudah punya pacar? Marvell menertawakan dirinya sendiri.
"Em, Vell, gue harus pergi. Gue bisa pulang sendiri," ujar Clarissa menoleh.
Marvell mengangguk. "Hati-hati."
Clarissa gegas berlari menghampiri Galang yang masih berada di posisinya semula.
Marvell menatap kepergian Clarissa, ia tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. Setelahnya ia kembali melanjutkan langkah.
"Galang," Clarissa berseru saat tiba di hadapan Galang.
Galang hanya diam menatap Clarissa.
Menyadari lawan bicaranya terdiam, Clarissa mendekat dan memeluk tubuh Galang tiba-tiba.
Galang terkejut oleh tindakan tiba-tiba dari Clarissa, namun kemudian ia membalas pelukan gadis itu.
"Kenapa kamu di sini?" Clarissa menarik diri.
"Kamu percaya kalau aku ngikutin kamu?"
Clarissa tersenyum. "Aku percaya," tanggapnya terkekeh.
"Siapa dia?" Galang tengah menyelidik.
Kening Clarissa mengerut. "Oh, dia Marvell, sepupunya Hanin."
"Kenapa bisa sama dia?"
"Hanin sama Zia pergi sama gebetan, sedangkan aku sendirian di hotel, makanya waktu Marvell ngajak aku keluar, aku mau, daripada bosen di hotel," Clarissa masih kesal dengan kedua temannya.
"Aku anterin pulang."
Clarissa menggeleng. "Aku mau jalan-jalan sama kamu," pintanya mengulum senyum.
Galang tersenyum. "Baiklah, tuan putri," sahutnya menggoda.
"Tapi.." Clarissa mulai ragu.
"Jangan ingat mereka. Pikirkan tentang kita berdua saja, kita habiskan malam ini hanya berdua," Galang menggenggam jemari Clarissa menguatkan, menghapus keraguan di hati gadis itu.
Clarissa tersenyum, kemudian naik ke belakang jok motor Galang, melingkarkan tangan di perut Galang posesif.
Galang melajukan motornya, sesekali mengelus tangan Clarissa yang melingkar di perutnya.
Biarkan malam itu mereka habiskan untuk bersenang-senang, sebab belum tentu esok hari mereka bisa seperti itu.
Keduanya saling berbagi cerita, tertawa bersama, menciptakan kenangan indah bersama, menghilangkan sejenak beban yang menimpa keduanya. Melupakan sekilas masalah pelik yang menjadi penghalang hubungan keduanya.
Galang menghentikan motornya di tepi trotoar, menikmati langit malam dengan taburan bintang. Malam semakin larut, bahkan menuju dini hari, jalanan mulai sepi, hembusan angin semakin menusuk kulit, Clarissa mengeratkan pelukannya di perut Galang.
"Dingin?"
Clarissa mengangguk.
Galang turun dari motornya, membiarkan Clarissa tetap duduk di jok motor, kemudian ia memeluk tubuh Clarissa erat, mengikis jarak guna memberikan kehangatan pada tubuh gadisnya.
"Andai kita bisa seperti ini seterusnya," gumam Clarissa pelan.
Galang tersenyum getir, ia juga mulai pesimis sekarang. Jemarinya terulur mengusap kepala Clarissa. "Aku sayang kamu, itu yang harus kamu ingat."
Clarissa mendongak. "Aku tahu."
Galang tersenyum, mengecup kening Clarissa dalam,
Clarissa memejamkan mata merasakan sentuhan lembut di keningnya.
"Love you, Cla," ungkap Galang lirih.
"Aku mencintaimu juga, Galang," balas Clarissa tersenyum.
Galang membingkai wajah Clarissa, melabuhkan ciuman panjang di bibirnya, salah satu tangannya merambat menahan tengkuk Clarissa.
Clarissa menerima ciuman Galang dengan sepenuh hati, memejamkan mata menikmati sentuhan lembut di bibirnya.
__ADS_1
π
ππ