
"Aku sungguh tidak melakukan apapun padanya, Sayang," sudah berulang kali Galang mengucapkan kalimat yang sama, berharap kekasihnya itu akan percaya.
Clarissa membuang muka menatap luar jendela. Mengingat dimana Galang hampir menjadi korban kemesuman Berlian membuat darahnya kembali mendidih.
"Sayang, jangan diem aja, dong,"Galang bahkan tak peduli dengan keadaannya yang basah kuyup di bagian atas tubuhnya setelah menjadi korban siraman air sang kekasih. Ia tidak peduli jika akan masuk angin sebab terkena air conditioner dalam mobil yang menyala.
Clarissa memicing. "Kenapa kamu sampai tidak tahu dia akan mencium kamu?!" ia menyalak. "Kamu sengaja mau dicium sama dia, iya?!"
"Tidak, Sayang, tidak seperti itu keadaannya."
"Lalu apa?!"
Galang menghembuskan nafas pelan. "Aku tidak tahu pasti, tapi aku bersumpah tidak menyentuhnya sama sekali," ucapnya sungguh-sungguh.
Melihat keterdiaman Clarissa, Galang kembali berujar, "Bertahun-tahun aku nunggu kamu, tidak memberikan akses untuk perempuan lain mendekat. Setelah kamu berhasil aku dapatkan kembali, aku tidak mungkin sebodoh itu untuk melakukan hal yang akan membuat kamu pergi dariku lagi, Cla," tuturnya serius. "Apa kamu sungguh tidak lagi percaya denganku?" tanyanya.
Clarissa dengan kemarahan yang masih menyala menatap Galang. "Aku bukannya tidak percaya sama kamu. Aku percaya. Tapi aku tidak percaya sama Berlian, dari awal aku udah feeling dia punya niat buruk sama kamu. Terbukti, kan, sekarang? Dia pasti berharap kita marahan, terus dia bisa masuk ke hati kamu kapan saja."
Galang tersenyum, mengusap puncak kepala Clarissa. "Kamu sendiri sudah tahu tujuan dia bikin kita marahan. Kenapa kamu masih terpancing emosi sama dia."
Clarissa kembali menyalak. "Memangnya aku bisa diam saja melihat pacarku digerayangi cewek lain?! Enak saja! Bagaimana kalau seandainya posisinya dirubah? Ha?!"
Galang mengangguk-angguk. "Iya, iya, aku mengerti," memilih mengalah adalah jalan pintas yang ia pilih. "Maafkan aku, ya, Sayang?" ujarnya kemudian.
Clarissa bersungut-sungut. "Minta maafnya besok saja, sekarang aku masih marah."
Galang mengulum tawa, kenapa gadisnya begitu lucu dan menggemaskan.
"Kenapa ketawa?!"
Galang menggeleng. "Aku ingat dulu waktu di sekolah kamu juga bar-bar kayak gini waktu berantem sama.." ia tampak mengingat. "Sama siapa, ya?"
"Vanya!" sergah Clarissa ketus.
"Iya, sama Vanya," Galang menambahi. "Lucu aja kamu kalau lagi mode macan gini," ia yang gemas mencubit pipi Clarissa.
Clarissa diam saja. "Setidaknya malam ini aku sudah puas bikin Berlian trauma," ucapnya lagi.
Galang menghembuskan nafas dalam, ia sempat memperhatikan keadaan Berlian tadi, dan memang sangat mengenaskan. Entah apa yang akan perempuan itu lakukan esok terhadap kekasihnya. Tapi ia sudah bertekad akan melindungi Clarissa.
"Kita pulang sekarang?" Galang kembali berujar.
Clarissa memperhatikan keadaan Galang yang seperti tikus got, rambutnya lepek setelah ia siram berulangkali tadi. "Kamu kedinginan?" tanyanya.
Galang tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa," tanggapnya.
"Biar aku aja yang bawa mobil, kamu masih setengah sadar, kan?"
Galang kembali menggeleng. "Aku udah sepenuhnya sadar. Aku akan hati-hati," ujarnya menenangkan.
"Lagian kenapa kamu kayak orang sakau gitu, sih?"
Galang menarik nafas saat perempuan di sampingnya yang mempunyai status sebagai kekasihnya, orang yang ia cintai kembali melanjutkan omelan. "Sepertinya aku salah minum alkohol dengan dosis tinggi," jawabnya mengakhiri perdebatan.
__ADS_1
Galang tahu keadaannya berubah setelah minum minuman dari Berlian, beruntung kadar obat itu tidak terlalu besar sehingga ia bisa menahan dan menekan gairah di tubuhnya. Ingatkan Galang untuk membicarakan hal itu pada Berlian nanti.
Clarissa membingkai wajah Galang. "Maafkan aku, aku sengaja menyiram kamu dengan air dingin, aku cuma mau menyadarkan kamu."
Lihat, kan, gadis itu yang tadi menolak menerima permintaan maaf dari Galang, namun justru sekarang, gadis itu pula yang meminta maaf. Memang, ya, wanita itu sulit untuk dimengerti.
Galang menggenggam jemari Clarissa di pipinya. "Terimakasih sudah menyadarkan aku," daripada kembali berujung fatal, lebih baik Galang mengakhiri perdebatan yang sudah pasti akan dimenangkan Clarissa.
"Kita pulang sekarang, kamu harus cepet-cepet ganti baju."
Galang mengangguk setuju.
...***...
"Dia, itu dia!"
Clarissa yang baru saja tiba di tempat kerja terheran melihat Berlian di sana, terlebih perempuan itu tengah menudingnya.
"Dia perempuan gila yang sudah menganiaya aku!" Berlian tampak emosi.
Clarissa terdiam, ia tidak menyangka Berlian akan mengadu serta mengamuk di tempat magangnya.
"Aku tidak terima, aku akan bawa masalah ini ke pengadilan!" hardik Berlian berkobar amarah, perih di kulitnya masih dapat ia rasakan akibat ulah anarkis Clarissa.
Sebenarnya Clarissa tidak takut dengan ancaman Berlian, hanya saja saat ini ia tengah magang, tindak baiknya tengah di awasi, jika ia gagal dalam magang, ia yang jelas rugi.
"Tenang dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik," Juno menenangkan. "Silahkan kita duduk, bicarakan dengan kepala dingin," ujarnya lagi.
Berlian menurut, ia duduk di kursi serta memberikan ancaman pada Clarissa melalui tatapan mata.
Clarissa mengangguk, kemudian mengambil duduk di depan Berlian, sedang By Helinda dan Juno berada di sisi kanan dan kiri, mereka berdua bertindak sebagai penengah.
"Bisa jelaskan kronologinya?" Bu Helinda menatap Berlian.
"Dia tiba-tiba datang dan menyerangku, kalian tidak lihat bekas cakaran dia di kulitku ini?" Berlian memperlihatkan beberapa titik di wajah, leher, serta tangan yang memang menjadi bekas cakaran Clarissa.
"Itu karena kamu mencoba menggerayangi pacarku," balas Clarissa membela diri.
Bu Helinda dan Jeno terkejut.
Berlian seakan tercekat, ia mengerjap saat menjadi pusat tatapan. "Kamu tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Pokoknya aku akan membawa masalah ini ke pengadilan. Kalian seorang pengacara, tentu sudah tahu hukuman apa yang akan diterima oleh seseorang yang sudah melakukan tindak kekerasan," kilahnya mengubah topik.
"Meskipun hukumannya cukup berat, tapi jaksa tidak semudah itu memberikan tuntutan," Bu Helinda menyahut. "Kita sebagai pengacara harus mencari kebenaran dari laporan tersebut," imbuhnya lagi.
"Aku pasti akan menyewa pengacara yang hebat, aku tidak ingin berdamai dengan perempuan itu!"
Bu Helinda menghembuskan nafas. "Sehebat-hebatnya pengacara, jika bukti yang digunakan adalah palsu, dia tidak akan bisa menuntut," ia mengingatkan.
Berlian bersungut-sungut. "Percuma aku datang ke sini, kalian pasti akan membela perempuan itu, karena dia bagian dari kalian."
"Bukan seperti itu, Nona. Kita ini harus bicara dengan kepala dingin, mari cari solusi bersama. Kita tidak membela siapapun," Juno menengahi.
Bu Helinda memberi isyarat pada Clarissa agar meminta maaf.
__ADS_1
Clarissa sempat terkejut, karena ia tidak mungkin meminta maaf pada Berlian.
"Kalian tidak tahu, kan, kalau aku putri dari keluarga terhormat dan terpandang. Hanya untuk menyingkirkan dia, itu hal yang mudah. Apalagi membuat firma hukum kalian ini hancur," Berlian tengah mengancam dengan kekuasaannya.
Hampir saja Clarissa menyalak dengan mengatakan siapa ia sebenarnya, namun urung dilakukan saat atasannya kembali menyela.
"Di sini bukan tempat untuk menyombongkan identitas, mau setinggi, atau sekuat dan sebesar apapun pengaruh keluarga kalian tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik."
Berlian terdiam, kesalahan awal memang ada pada dirinya yang sengaja memberikan obat perangsang dalam minuman Galang, tapi pengeroyokan itu tidak termasuk dalam rencana. Clarissa benar-benar menghancurkan semuanya. Dan jika masalah obat perangsang itu diketahui orang lain termasuk orangtuanya, bisa tamat riwayatnya.
"Clarissa, minta maaf padanya."
Bola mata Clarissa membulat, ia tidak setuju dan tidak sudi melakukannya.
"Nona Berlian, apa anda bersedia menerima permintaan maaf Clarissa dan tidak melanjutkan masalah ini ke pengadilan?" Bu Helinda berucap pada Berlian.
Berlian terdiam, ia memperhatikan Clarissa yang menatapnya tajam. Setidaknya membuat Clarissa meminta maaf sudah bisa membuatnya merasa menang bukan? Daripada masalah obat perangsang itu akan menyebar dan berdampak buruk untuk kariernya. "Baiklah, aku tidak akan melanjutkan perkara ini ke pengadilan asalkan dia meminta maaf padaku, dan juga mengganti rugi pada pengobatanku," putusnya kemudian.
Clarissa mendelik, tidak menyangka bahwa Berlian akan menyetujuinya. Sejujurnya jika seandainya perempuan itu memilih jalur hukum ia akan bersedia menerimanya dan menggugatnya balik. Namun justru perempuan itu memilih jalur damai, sangat aneh.
"Clarissa?" Bu Helinda memperingati.
Clarissa mengerjap, ia mengambil nafas dalam guna mengatur emosi. "Berlian, maaf atas tindakanku malam tadi. Aku bersedia menanggung semua biaya perawatan tubuhmu yang sudah menjadi korban cakaranku."
Berlian mendelik, kenapa Clarissa harus mengatakan detailnya juga. Menyebalkan!
"Bagaimana, Nona Berlian?" Bu Helinda kembali bersua.
"Baiklah, aku terima permintaan maafmu. Meski sebenarnya aku tidak kehabisan uang untuk mengobati luka di tubuhku sendiri. Tapi aku ingin membuat dia membayar atas apa yang sudah dia lakukan," Berlian terlihat angkuh dengan mengangkat kepalanya.
Bu Helinda mengangguk saja, menghadapi seseorang yang angkuh sudah menjadi santapannya setiap hari. "Clarissa," ucapnya menginterupsi.
Clarissa mendengus, kemudian mengulurkan tangan di depan Berlian.
Berlian menyambutnya, walaupun hanya dengan seujung jari.
Juno bernafas lega. "Sudah menemukan solusi. Terimakasih kalian berdua."
"Untuk biaya pengobatan, anda bisa mengirimkan bukti tertulis untuk Clarissa menggantinya nanti," Bu Helinda berujar.
Berlian mengangguk angkuh, ia kemudian berdiri, tanpa kata ia melenggang pergi dengan keangkuhan yang mendarah daging.
Bu Helinda diam-diam menghembuskan nafas melihat kepergian Berlian. Ia memfokuskan tatapannya pada Clarissa. "Clarissa, kamu harus ingat sekarang berada di tempat kerja, apapun tindak tandukmu akan berpengaruh terhadap rekan kerja ataupun instansi tempatmu bekerja. Jadi, aku harap kamu akan lebih memikirkan akibat sebelum bertindak," nasehatnya.
Clarissa yang menunduk mengangguk. "Maaf, Bu," sesalnya.
"Beruntung dia mau bekerjasama, masalah selesai dengan permintaan maaf. Bagaimana kalau sampai dia mengajukan ke pengadilan? Bukan hanya kamu dan aku, tapi firma hukum ini juga akan kena dampaknya," Bu Helinda tengah memperingati, pengaruh Berlian yang merupakan putri dari Beenar grup bisa membuat firma hukumnya tercela.
"Iya, Bu, aku mengerti. Aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Clarissa benar-benar menyesal, ia tidak berharap rekan kerja serta instansi tempatnya bekerja akan hancur akibat perbuatannya.
Bu Helinda menghembuskan nafas dalam. "Ya, sudah, kita kembali bekerja," ucapnya kemudian.
Clarissa mengangguk lesu.
__ADS_1
.
.