KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
Garissa 2 - Stempel kepemilikan


__ADS_3

Ting!


Bunyi gelas kristal yang saling beradu.


Galang menyesap minuman berwarna merah gelap dalam gelas yang ia pegang. Rasa asam, pahit dan manis yang tercampur menciptakan rasa nikmat dari anggur fermentasi tersebut.


"Kau mengenal siapa pemilik gedung Blitz yang baru?" seorang pria berujar pada Galang.


Galang menggeleng. "Saya belum mengetahuinya."


"Setelah harga saham gedung itu merosot, kini ada seorang investor yang berusaha membangunnya kembali. Hanya saja aku belum pernah bertemu dengannya."


"Bukankah anda memiliki saham di gedung tersebut?"


Pria itu mengangguk. "Hanya 5% saja."


"Bukankah seharusnya diadakan rapat pemegang saham untuk mengetahui kelanjutannya?" Galang kembali bertanya.


"Karena saham milikku yang terkecil, aku hampir tidak pernah hadir sejak peristiwa penurunan penghasilan," pria itu terkekeh.


Galang tersenyum. "5% bukan apa-apa bagi anda, Tuan Felix," guraunya pada pria yang kemungkinan berusia setengah abad itu, seluruh rambutnya sudah memutih. "Meskipun pada akhirnya gedung itu gulung tikar, anda tidak akan merasa dirugikan hanya dengan saham 5%," imbuhnya terkekeh.


Tuan Felix tertawa, ia menepuk lengan Galang. "Dari sekian banyak tamu yang hadir, aku selalu mencari keberadaanmu. Kau masih muda, tapi mempunyai tekad yang besar. Terlebih selera humormu bagus."


"Anda sudah terlalu banyak memujiku," balas Galang sungkan.


Tuan Felix berdehem, "Andai aku mempunyai seorang putri."


"Maafkan saya, Tuan Felix. Meskipun anda mempunyai seorang putri, saya tidak berminat menjadi menantu anda," gurau Galang lagi, hal itu sudah sering ia katakan ketika bertemu dengan Tuan Felix.


Suara tawa Tuan Felix kian berderai-derai. "Kau sudah menolakku berulang kali, anak muda."


Galang tersenyum saja.


Tuan Felix kembali berdehem, ia menangkap siluet seseorang di sebuah ujung. "Lalu bagaimana dengan putri grup Beenar?" ucapnya lagi.


Galang mengembuskan nafas pelan. Ketidaksengajaan yang pria di hadapannya ketahui ketika seorang wanita mengejarnya membuatnya menjadi bahan godaan pria tersebut. "Tidak ada yang berubah," tanggapnya seadanya.


"Aku lihat dia sangat menyukaimu," Tuan Felix memperhatikan sebuah sudut.


"Terimakasih atas pujian anda."


Tuan Felix menepuk lengan Galang. "Dia anak yang baik, aku mengenal orangtuanya dengan baik pula. Tidak ada salahnya mencoba, beri dia kesempatan," nasehatnya sebelum berlalu, karena perempuan yang ia maksud tengah berjalan ke arahnya, lebih tepatnya ke arah pemuda di sampingnya.


Galang tak menyahut, ia kembali menyesap minumannya dan mengalihkan tatapan.


"Hai, Galang," sapa seorang gadis, dia adalah Berlian, putri dari pemilik Beenar grup. Sebuah perusahaan pengolahan bahan makanan yang tersebar di beberapa wilayah.


Galang mengangguk sebagai tanggapan.


"Kamu sendirian?" tanya Berlian kemudian.


Galang kembali mengangguk. "Aku menggantikan Papa," jawabnya singkat.


"Kebetulan aku juga sendiri, kita bisa mengobrol," Berlian tampak senang.


"Bukannya kamu keponakan pemilik acara?"


Berlian mengangguk. "Tapi aku tidak mengenal tamu, aku baru beberapa bulan bekerja di kantor Papi. Belum begitu akrab dengan relasi bisnis."


Galang mengangguk saja, ia tidak ingin terlibat percakapan terlalu jauh dengan Berlian. Ia sadar perempuan itu memiliki rasa terhadapnya, namun dengan tegas Galang katakan bahwa ia mempunyai orang lain di hatinya. Namun meskipun begitu Berlian tidak menyerah untuk mengejar.


"Lusa ada acara badan amal di gedung High, kamu hadir, 'kan?"


Galang hampir melupakan hal itu. "Tentu aku hadir."


Berlian mengulum senyum. "Dengan siapa kamu datang?"


Jangan sampai Galang berucap datang sendiri, karena kalau itu terjadi, perempuan di hadapannya pasti akan melakukan segala cara untuk mengajaknya pergi bersama. "Aku dengan seseorang," jawab Galang kemudian.


Kening Berlian mengerut. "Siapa?"


"Kamu tidak mengenalnya."


Wajah Berlian tertekuk. "Baiklah, kita bisa bertemu di tempat acara."


Galang mengangguk saja. Ia merogoh saku jas saat merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Clarissa.


Aku di pusat mall J.


Cari makan.


Galang mengetikkan sebuah balasan.


^^^Tunggu aku, aku ke sana.^^^


"Permisi, Berlian. Aku harus pergi," pamit Galang kemudian.


"Kemana?"


"Menjemput kekasihku," sengaja Galang mengatakan yang sesungguhnya berharap gadis di hadapannya mengerti dan tidak lagi mengharapkannya.


Berlian menatap kepergian Galang dengan nanar. "Apa benar yang dia katakan?" gumamnya tak yakin, sebab selama ini ia belum pernah melihat Galang bersama dengan seorang wanita. Karena penasaran, Berlian memutuskan untuk mengikuti Galang secara diam-diam.


*


Clarissa melambaikan tangan saat melihat siluet mobil Galang. Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di sampingnya.


Galang keluar dari mobil, menghampiri Clarissa serta memeluknya.


Clarissa menyambut pelukan hangat sang kekasih.


"Kenapa keluar malam-malam?" Galang berujar setelah melerai pelukan.


"Aku baru pulang kerja, ada kasus penting yang harus aku urus bersama Bu Helinda dan Ko Juno. Aku lupa kalau di apartemen tidak ada bahan makanan," Clarissa menyengir.


Galang mengusap puncak kepala Clarissa gemas, ia juga memberikan kecupan kecil di dahinya. "Besok kita belanja buah dan sayuran."


Clarissa menggeleng. "Tidak perlu, aku akan sering tidak masak, percuma membelinya. Lebih baik aku beli makanan diluar saja," ia tersenyum.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu makan di rumahku saja?"


Clarissa kembali menggeleng. "Bagaimana kalau kamu menemani aku makan diluar setiap hari?" usulnya yang disambut kekehan oleh Galang.


"Itu tidak terlalu buruk. Aku setuju," balas Galang mencium sisi kepala Clarissa.


Berlian mencengkeram kuat setir mobil hingga buku jarinya memutih melihat Galang tengah bersama seorang perempuan. "Ternyata dia serius dengan ucapannya," gerutunya pelan. "Tapi, siapa gadis itu?"


*


"Apa acara pestanya seru?" tanya Clarissa, keduanya tengah berada di sebuah cafe yang buka 24 jam.


"Tidak sama sekali," jawab Galang jujur. "Lusa kamu ada acara?" tanyanya kemudian.


"Lusa?" Clarissa nampak berfikir. "Sepertinya tidak, kenapa?"


"Ikut aku ke acara amal, mau?"


"Emang boleh bawa orang luar?"


"Boleh, lah, bebas bawa siapa aja."


"Apa acaranya sangat membosankan?" Clarissa tengah menyelidik.


"Kalau ada kamu pasti akan seru," Galang mengedipkan sebelah matanya genit.


Clarissa terkekeh saja.


"Bagaimana kerjaan kamu hari ini?" tanya Galang kemudian.


"Aku lebih banyak kerja di lapangan sekarang."


Sebelah alis Galang terangkat.


"Mencari barang bukti," Clarissa menyengir.


"Kamu belum terlalu mengenal kota ini, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," Galang menasehati.


Clarissa mengangguk. "Bu Helinda dan Ko Juno membimbingku dengan baik."


Prang!!


Seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam kafe dan memukul salah satu meja kaca hingga hancur.


Pengunjung kafe yang tak lebih dari sepuluh orang termasuk Galang dan Clarissa terkejut.


"KELUAR LO BAJINGAN! ANJING!!"pria itu berteriak keras membawa sebuah kayu panjang menghampiri arah tempat pemesanan.


"Lapor polisi," ucap salah seorang karyawan.


"Cla, kita pergi dari sini," Galang menarik lengan Clarissa.


"Kamu nggak pengen nolongin mereka?" Clarissa memperhatikan dengan was-was.


"Dia dalam pengaruh alkohol, percuma. Polisi akan tiba sebentar lagi," Galang hanya tidak ingin terlibat terlalu jauh, ia yang sekarang harus selalu hati-hati dalam bertindak.


Pria mabuk itu tersungkur ke belakang saat salah seorang karyawan menendangnya kuat.


Sebuah botol kecil seukuran jari kelingking menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki Clarissa. Ia bermaksud mengambilnya, sepertinya itu dari saku pria pemabuk itu.


Prang!!


Galang menarik tubuh Clarissa di belakang tubuhnya saat lagi-lagi pria pemabuk itu menghancurkan meja. "Ayo," ajaknya tak sabar, ia harus melindungi Clarissa.


Clarissa mengangguk, tanpa sadar ia memasukkan botol kecil yang entah apa isinya itu ke dalam saku.


...***...


Sore itu, Galang mengajak Clarissa untuk belanja keperluan sehari-hari di sebuah mall.


Clarissa melingkarkan tangan di lengan Galang seraya memperhatikan deretan rak berisi beberapa jenis makanan.


"Expired-nya masih lama, kamu bisa menyimpan ini," Galang meletakkan kaleng oatmeal di troli.


"Kamu masih suka roti nanas?" Clarissa berujar saat tak sengaja membaca bungkus roti rasa buah berduri berwarna kuning itu.


Galang mengangguk. "Tidak ada yang berubah, Sayang~."


Clarissa mengulum senyum mendengar panggilan sayang yang Galang ucapkan. "Oh, ya, besok acara amalnya malam, kan?" tanyanya kemudian.


"Iya. Kamu nggak bisa?"


Clarissa menggeleng. "Bisa, kok. Cuma kalau siang menjelang sore kayaknya aku nggak bisa. Ko Juno minta aku buat ikut dia ke TKP."


"Kasus apa sekarang?" Galang bertanya seraya membaca tanggal expired di tiap bungkus makanan yang ia ambil. Ia harus memastikan bahwa tanggal kadaluwarsanya masih lama, karena Clarissa akan jarang mengonsumsinya dalam waktu dekat.


"Pembunuhan berencana," balas Clarissa berbisik.


"Sama seperti sebelumnya?"


Clarissa menggeleng. "Kali ini lebih rumit, karena menyangkut nama perusahaan besar. Klien kita yang sebelumnya mengajukan gugatan tiba-tiba menarik laporannya."


Galang menoleh. "Terus kenapa kamu masih mencari barang bukti?"


"Sebenarnya Bu Helinda sudah menutup laporan itu. Tapi tiba-tiba beberapa hari yang lalu mereka datang lagi melanjutkan gugatan," Clarissa memasukkan buah anggur ke dalam troli.


"Banyak resiko di tiap pekerjaan, kamu harus hati-hati. Bunda kamu udah nitipin kamu sama aku," Galang mencubit pipi Clarissa gemas.


Clarissa tersenyum. "Iyaa."


"Mama aku nanyain kamu dari kemarin."


"Iya, sejak tiba di Surabaya aku belum nyapa Tante Intan. Mau bagaimana lagi, pekerjaan aku lagi banyak-banyaknya," Clarissa nampak mengerucut.


"Besok kalau kamu udah free bisa ke rumah," Galang menenangkan. "Aku sudah kasih pengertian ke Mama kalau kamu lagi banyak kerjaan."


Clarissa mengangguk saja.


Usai berbelanja, Galang membawa troli ke kasir untuk membayar.

__ADS_1


"Aku ke toilet sebentar," pamit Clarissa kemudian.


"Perlu aku temenin nggak?" Galang menggoda.


Clarissa memicing tajam.


Galang terkekeh.


*


Berlian yang tengah berkeliling mall mencari barang branded terbaru melihat siluet Galang di sebuah sudut. Ia bermaksud menghampiri. "Galang," panggilnya.


Galang yang baru saja keluar dari supermarket dengan menenteng tas belanjaan menoleh. "Berlian?"


"Hai," Berlian memperhatikan barang belanjaan Galang. "Jarang-jarang cowok belanja sebanyak itu," guraunya.


"Ini untuk kekasihku," jawab Galang jujur.


Raut wajah Berlian seketika redup. Ternyata dia bersama kekasihnya. "Dimana dia? Kamu tidak keberatan memperkenalkan dia padaku, kan?"


"Tentu saja. Dia.. Itu dia," Galang menunjuk sebuah sudut.


Clarissa tersenyum, kemudian mendekat dan melingkarkan tangan di lengan Galang. "Nunggu lama, ya?" tanyanya.


Galang menggeleng. "Nunggu bertahun-tahun aja aku sanggup. Ini tidak ada apa-apanya," tanggapnya menggoda.


Clarissa tertawa.


"Ehem!" Berlian sengaja berdehem saat pasangan di hadapannya seakan tak melihat kehadirannya.


"Oh. Berlian, kenalkan dia Clarissa, kekasihku," ujar Galang memperkenalkan.


Clarissa memperhatikan perempuan di hadapannya. Cantik, dan auranya begitu angkuh.


"Sayang, dia Berlian, anak kolega bisnisnya Papa," Galang melanjutkan.


Berlian mendengus mendengar pengakuan Galang bahwa ia hanya anak kolega bisnis orangtuanya. Bukankah seharusnya ia berteman dengan pria itu. Menyebalkan.


Clarissa mengulurkan tangan. "Clarissa," ucapnya memperkenalkan diri.


"Berlian," Berlian menyambut.


Clarissa paham arti tatapan itu, tapi, ia berfikir harus memperlakukan perempuan di hadapannya dengan baik karena ia anak kolega bisnis orangtua Galang. "Sudah lama kenal sama Galang?" tanyanya basa-basi.


Berlian tersenyum tipis. "Sudah hampir dua tahunan."


"Wow.." Clarissa nampak terkejut, ia memperhatikan Galang yang biasa saja. "Kerja dimana?" tanyanya lagi.


"Aku kerja di perusahaan Papi aku sendiri. Kebetulan Papi baru buka cabang perusahaan baru," Berlian tidak boleh kalah dengan Clarissa, ia harus menyombongkan apa yang ia punya.


Clarissa mengangguk-angguk. "Kamu sungguh anak yang berbakti," tanggapnya tersenyum simpul.


"Kamu kerja?"


"Dia masih kuliah," Galang yang menjawab. "Kebetulan ambil magang di Surabaya."


"Kamu bukan orang Surabaya?" Berlian kembali bertanya.


"Kebetulan aku lahir dan tinggal di Jakarta."


Tatapan Berlian tengah menebak sesuatu. "Mungkin terdengar lancang, tapi, sejak kapan kalian bersama? Bukan apa-apa, selama dua tahun aku mengenal Galang, aku belum pernah melihatmu."


"Kebetulan juga aku baru bertemu dengannya sekitar dua minggu yang lalu," jawab Clarissa tersenyum.


Galang menatap protes pada kekasihnya itu.


Berlian tersenyum sarkas. Ternyata baru kenal, huh. "Oh, ya, besok kamu jadi datang ke acara amal, kan?" tanyanya pada Galang.


Galang mengangguk. "Aku datang dengannya," ia sengaja melingkarkan tangan di pundak Clarissa.


Berlian menatap berang pada tindakan posesif Galang pada perempuan di hadapannya. "Baiklah, sampai jumpa besok, Galang," pamitnya kemudian, ia benar-benar muak dengan keromantisan Galang terhadap kekasih barunya itu.


Clarissa mencibir menatap kepergian Berlian. "Baru juga sampai, udah ada saingan aja. Sabar, sabar," gumamnya menenangkan diri sendiri.


"Kenapa, Sayang?"


Clarissa mendongak, tatapannya menyelidik. "Jujur sama aku. Kamu pernah punya rasa sama dia, kan? Ngaku!" hardiknya menuntut.


Galang terkesiap. "Siapa? Sama Berlian?"


"Siapa lagi emangnya?"


Galang geleng-geleng kepala. "Bagaimana mungkin aku tertarik sama dia, kalau kamu sudah menguasai seluruh saraf di tubuhku."


Clarissa menyipitkan mata curiga.


"Benar, Sayang~" Galang memainkan pipi Clarissa dengan kedua telapak tangannya. "Sudah tidak ada tempat lagi untuk perempuan lain. Sudah ada stempel kepemilikan di sini," ia menyentuh permukaan dadanya. "Milik Clarissa," tekannya tersenyum lebar.


Clarissa berdesis. "Gombal."


Galang terkekeh. "Udah, ayo kita cari makan," ia menuntun Clarissa untuk melanjutkan langkah.


"Kamu harus hati-hati sama dia, dia punya niat buruk sama kamu."


Galang terkejut. "Agen mata-mata memulai aksi," guraunya.


Clarissa memukul dada Galang. "Aku serius, jaga jarak sama dia. Aku nggak suka kamu deket-deket perempuan itu."


"Iya," Galang memilih mencari aman.


"Dia kayaknya suka sama kamu."


Galang tersenyum saja mendengar ocehan Clarissa, jujur saja ia menyukai melihat Clarissa cemburu, wajah gadis itu lebih menggemaskan ketika marah. Ah, ia menyukai semua yang ada pada Clarissa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2