
Jrengg!!!
Suara petikan gitar menghentikan langkah kaki Chiara dan juga Clarissa yang berjalan di koridor.
"Stop!!" potong Clarissa mengangkat kelima jarinya saat Galang baru akan membuka mulutnya untuk bernyanyi. "Silahkan dilanjut gue mau pergi, enggak mau denger suara cempreng lo,” imbuhnya.
"Wahh lo ngeraguin suara gue, Cla?” balas Galang tak terima. “Lo harus dengerin gue nyanyi.”
"Ogah!" ketus Clarissa hendak berlalu namun tangannya ditahan Chiara.
Galang berdehem. "Chia, lagu ini sengaja gue persembahkan buat bidadari cantik bernama Chiara Aprilly," selorohnya menaik turunkan alisnya. "A —"
"Bagus, Lang," potong Mila yang baru saja tiba, ia bertepuk tangan riang.
"Gue belum nyanyi, bego!" sentak Galang bersungut.
Mila, Chiara dan Clarissa kompak menertawakan kekesalan Galang.
"Eitss, jangan ngatain cewek gue bego," ujar Putra tajam.
"Cewek lo ganggu acara gue.”
Putra merangkul pundak Mila mesra. "Beb, ayo aku antar ke kelas," ujarnya mengabaikan tatapan iri seluruh makhluk di bumi.
Mila mengangguk, turut melingkarkan tangan di pinggang Putra. "Yuk, Beb,” balasnya. “Ra, Cla, gue duluan,” pamitnya kemudian. Ia menoleh pada Galang. "Lang, semangat!" imbuhnya mengepalkan tangan ke udara, setelahnya ia terkekeh diikuti Putra.
"Jadi, lo mau nyanyi lagu apa, Lang?" tanya Chiara kemudian.
"Emang cuma lo, Chi, yang pengertian sama gue."
"Huwekk.." Clarissa pura-pura muntah mendengar ucapan Galang.
"Bosss.." seruan Niko dan Joni kembali menghentikan mulut Galang yang sudah terbuka hendak menyanyikan lagu.
Clarissa dan Chiara tak mampu menahan tawa menyaksikan kenistaan seorang Galang.
Galang bersungut-sungut. "Lo berdua ngapain teriak-teriak, bang**t!" teriaknya marah.
"Yeilah kenapa ngegas, Lang."
"Lo ngapain bawa gitar?"
"Mau ngamen," jawab Galang asal.
Clarissa dan Chiara kembali terkekeh mendengar jawaban Galang.
"Lo napa dah, Bos. PMS lo?"
"Diem lo berdua, gue mau nyanyi buat calon pacar gue," balas Galang bersungut.
"Ohhh nyanyi.." Niko dan Joni kompak membeo.
Ekor mata Clarissa tak sengaja menangkap seseorang yang berjalan di koridor, ia menyenggol lengan Chiara. "Ada Kak Ken, Kak,” bisiknya.
Chiara mengikuti arah tatap Clarissa, tiba-tiba dirinya gugup melihat Kenneth berjalan ke arahnya. Tidak! Ia masih malu menunjukkan wajah di hadapan Kenneth setelah kejadian di ruang osis kemarin, ia harus segera pergi dan menghindar. "Eh, Galang. Sorry, gue ke kelas dulu,” potong Chiara tiba-tiba.
Galang melengos. "Gue belum mulai, Chi,” dengusnya lesu.
Clarissa menahan tawa.
"Lain kali gue dengerin, gue janji."
"Oke, pulang sekolah bareng gue," putus Galang.
Chiara semakin dilanda gugup saat langkah Kenneth mulai mendekat ke arahnya. "Oke, gue setuju. Gue duluan, dahh," balasnya gegas berlari.
"Yesss!! Yuhuu!" Galang berseru riang mengepalkan tangan serta bersiul.
__ADS_1
"Cieee yang mau pulang bareng sama Kakak gue," goda Clarissa.
"Ini semua berkat lo, adik ipar,” balas Galang mengapit leher Clarissa gemas, ia juga mencubit hidung Clarissa. "Mau gue traktir bakso?" tanyanya kemudian.
"Mauuu!!!"
Bukan Clarissa yang menjawab, melainkan Niko dan juga Joni yang berdiri di belakangnya.
Galang menatap tajam. "Gue nggak ngajak kalian,” ujarnya ketus, ia masih kesal pada keduanya yang menggagalkan lagunya untuk Chiara.
Joni mengerucut. "Pelit lo, Lang," cibirnya.
Clarissa mendongak. "Gue enggak makan bakso, lo ‘nraktir mereka berdua aja."
"Oh, maaf, lil sister, gue lupa, gue traktir es krim deh, mau?"
Clarissa mengangguk antusias. "Mau.”
...***...
Sepertinya apa yang sudah kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang Tuhan telah kehendaki. Galang yang sudah semangat empat lima untuk mengantarkan Chiara pulang harus pupus di tengah jalan saat tiba-tiba ban motornya kempes.
"Kenapa, Lang?" tanya Chiara merasakan laju kendaraan yang melambat.
Galang melongok ban motornya. "Ban gue kempes, Ra."
Chiara turun dari jok motor. "Mungkin kena paku."
"Rencana mau nganterin lo pulang malah ban gue kempes, sial banget gue," gumam Galang tersenyum kecut.
Chiara menepuk pundak Galang. "Nggak apa-apa, Lang,” ujarnya menenangkan. “Ayo gue bantu dorong kita cari tambal ban."
"Gue cariin taksi, ya, Ra. Enggak tega gue lihat cewek cantik kayak lo harus dorong motor, cuaca panas banget lagi."
"Udah nggak apa-apa, itung-itung olahraga biar sehat," balas Chiara tersenyum.
Galang tersenyum lebar. "Gemes banget siii," ujarnya mencubit pipi Chiara gemas.
Keduanya mulai mendorong kuda besi yang memang besar dan pastinya berat berwarna putih itu.
Galang menoleh ke belakang. "Ra, kita kek orang pacaran, ya, pake dorong-dorongan motor, lihat aja semua pada lihatin kita,” ujarnya memecah keheningan.
Chiara memperhatikan sekelilingnya. Benar saja beberapa orang melihat ke arahnya, ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang berkomentar manis-manis tentang dirinya dan juga Galang. Ia hanya tersenyum menanggapi.
Sudah lewat lima belas menit keduanya mendorong motor namun belum menemukan tambal ban.
"Lang, gue capek,” keluh Chiara mengusap peluh di dahinya.
Galang menghentikan motornya. "Istirahat dulu, yuk?" ajaknya dijawab anggukan oleh Chiara. "Gue beli minum dulu, lo tunggu di sini, ya?" imbuhnya meminta Chiara duduk di sebuah halte.
Chiara mengangguk, ia mengibaskan tangannya untuk menyejukkan diri saat tubuhnya benar-benar kepanasan.
Tak berapa lama Galang datang dengan membawa dua botol air mineral dingin. Chiara menerima dan segera meneguknya.
"Sorry, Chi. Lo pasti capek, ya?" sesal Galang melihat wajah letih Chiara.
"Nggak apa-apa, Lang. Ini pengalaman pertama bagi gue,” jawab Chiara menyengir.
"Lo jadi keringatan gini, 'kan?" ujar Galang mengusap peluh di dahi Chiara.
Chiara gugup. "Makasih, Lang,” ucapnya kikuk.
Tiba-tiba awan menghitam, sepertinya akan turun hujan.
Chiara menatap langit yang berubah mendung. “Lang, kayaknya mau hujan.”
Galang ikut memperhatikan gumulan awan hitam di langit. "Gue pesenin taksi online, ya?" ujarnya bersiap mengeluarkan ponsel.
__ADS_1
"Eh, jangan, enggak usah, nanti lo gimana?"
Galang tersenyum. "Ciee yang khawatir sama gue,” godanya.
"Bukan gitu,” Chiara membantah.
"Gue seneng lo khawatir sama gue," tutur Galang tersenyum lebar.
Chiara mendengus. "Kalau gue naik taksi entar lo sendirian, dong, di sini, udah gerimis juga."
"Terus gimana? Lo mau di sini sampe hujan reda, gue nggak apa-apa, Chi. Gue bisa minta tolong Niko buat jemput gue."
Chiara nampak berpikir. "Em, iya, deh, terserah lo," putusnya kemudian.
Galang tersenyum, kemudian mulai berselancar di ponselnya, namun belum selesai memesan taksi online beberapa rombongan motor menghampiri mereka. Galang mengangkat dagu, jemarinya terkepal tanpa disadari.
"Wah, ada yang pacaran di sini,” seru salah satu dari mereka.
"Enggak modal banget pacaran di halte."
"Udah miskin lo?”
Mereka terbahak-bahak setelah menghina Galang.
Chiara beringsut mencengkeram lengan Galang, ia takut.
"Cantik juga cewek lo."
"Boleh gue pinjem?"
"Jangan sentuh dia, breng**k!" teriak Galang saat salah satu dari mereka hendak mendekat.
"Lang, mereka siapa?" cicit Chiara ketakutan.
"Mereka musuh gue, Ra. Hitungan ketiga kita lari,” bisiknya memberi titah.
Kedua bola mata Chiara membulat.
"Tiga."
Belum juga menyebutkan satu, Galang langsung berucap tiga membuat jantung Chiara serasa melompat karena dengan tiba-tiba Galang menarik tangannya untuk kabur.
"Kejar mereka!"
Beberapa gerombolan mulai mengejar Galang dan juga Chiara, bahkan di antara mereka menggunakan motor membuat Galang dan Chiara terkepung. Gerimis yang mulai turun menyebabkan jalanan sepi, hanya ada beberapa pengendara yang lewat dan sepertinya mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain.
Tangan Chiara bergetar hebat mencengkram lengan Galang.
"Banci! Jangan main keroyokan! Kalau berani maju satu lawan satu!" teriak Galang.
"Banyak bacot, lo. Serang!"
Galang mendorong tubuh Chiara agar menjauh sementara ia mulai menghajar satu persatu dari mereka, karena jumlah yang tidak seimbang membuat Galang beberapa kali terkena pukulan.
Tubuh Chiara bergetar, mendadak otaknya beku, gerimis yang semakin deras tak membuat mereka berhenti menghajar Galang yang kini tengah tersungkur di aspal. Ia hendak meminta bantuan dengan menelepon Abangnya, namun sebelum berhasil membuka kunci di layar ponselnya, seseorang mengambil ponselnya secara paksa dan menghempaskan ke aspal. Tubuh Chiara bergetar ketakutan saat salah satu dari mereka mendekat padanya dan kini tengah mencengkeram pipinya.
"JANGAN SENTUH DIA, BANGS*T!"
Belum sempat pria itu menoleh, tubuhnya telah tersungkur di aspal akibat tendangan dari Kenneth.
Iya Kenneth!
Kenneth yang melintas tak sengaja melihat motor Galang yang terparkir di tepi jalan, bahkan dirinya tahu kalau Chiara hari itu pulang bersama Galang. Praduganya semakin kuat saat melihat beberapa motor lain berada di samping motor Galang, dan salah satu stiker yang tertempel di motor tersebut menunjukkan bahwa itu adalah salah satu anggota geng motor.
Bagaimana Kenneth tahu?
Akan dijelaskan di part berikutnya hahaha.
__ADS_1
📖📖
📖