
Beberapa hari Clarissa selalu mengurung diri di kamar, tidak pernah beranjak dari kamar, ia hanya akan makan malam bersama, kemudian kembali mengurung diri di kamar. Pikirannya terus berputar pada hubungannya dengan Galang yang sama sekali tidak ada kemajuan, dan tidak bisa merangkak maju, hanya berhenti di tempat, atau bahkan harus mundur. Setelah beberapa hari mendengarkan nasihat dari sang Bunda dan juga saudara-saudaranya bahwa hubungannya dengan Galang memang tidak patut dilanjutkan membuat dirinya kian tersudut. Bahkan kini ia enggan untuk bicara dengan sang ayah, karena beberapa kali sang ayah yang memperingatkan kalau masih bersama dengan Galang, ia akan dipindahkan ke sekolah lain, bahkan yang lebih parah sang ayah mengancam akan mengirimnya kembali ke Jerman.
Clarissa duduk di kursi belajarnya dengan mata yang fokus pada layar ponsel, memperlihatkan fotonya bersama Galang yang diambil beberapa hari setelah jadian. Tak terasa sebulir air mata kembali menetes di pipinya yang putih, "Aku kangen kamu," lirihnya pelan mengusap wajah Galang di layar ponsel.
Ceklek!
Clarissa segera menghapus air matanya saat mendengar pintu kamarnya di buka, ia juga mematikan layar ponselnya.
"Cla?"
Clarissa menoleh, ternyata sang kakak perempuan yang datang mengunjunginya.
Chiara berjalan menghampiri, ia menghela nafas pelan melihat raut wajah Clarissa yang masih dirundung kesedihan mendalam. "Jadi.. gimana sama Galang?"
Clarissa menunduk dan menggeleng.
"Kakak bukannya memihak Bunda atau Daddy, Cla. Tapi apa yang dikatakan Bunda sama Daddy memang benar. Kakak tahu ini berat buat kamu dan Galang, tapi apa salahnya mencoba, Cla?"
"Aku nggak bisa, Kak," Clarissa menggeleng pelan, bulir air matanya kembali mengalir. "Aku nggak bisa anggap Galang sebagai saudara, Kak," Clarissa mendongak menatap Chiara dengan linangan air mata.
Chiara menarik tubuh Clarissa agar berdiri dan memeluknya.
"Apa yang harus aku lakuin, Kak? Aku ngerasa nggak sanggup, Kak, Cla nggak sanggup," Clarissa terisak.
Chiara mengelus punggung Clarissa, "Kakak tahu apa yang kamu rasain, Cla. Kakak minta maaf tidak bisa memberikan solusi pada kalian, semua ini salahku, andai di awal kita nggak nutupin kalau kita anak keluarga Van Houten, kamu pasti nggak akan merass sakit kayak gini," Chiara ikut menangis.
Clarissa menarik diri, "Enggak, Kak, Kakak nggak salah, jangan salahin diri sendiri, Kak," Clarissa menggeleng keras.
"Maafin Kakak," sesal Chiara menunduk.
"Jangan lakuin itu, Kak Ara," Clarissa kembali memeluk Chiara, keduanya menangis meratapi penyesalan yang mereka lakukan.
Clarissa yang menyesal telah salah menaruh hati, sedangkan Chiara yang menyesal telah menyembunyikan identitasnya di awal memasuki sekolah.
Tanpa mereka sadari, dari balik pintu seorang wanita yang masih kelihatan muda dari usianya sedang menutup mulutnya menahan isakan setelah melihat kedua anak gadisnya saling memeluk dan menangis. Perlahan kakinya beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya.
"Sayang, apa kita tidak keterlaluan sama Clarissa?" ucap Stella setelah memasuki kamar.
"Apa maksud kamu, Ste?"
Stella ikut bersandar di kepala ranjang di sisi Sandy. "Kamu tahu, kan, kalau tidak ada hubungan darah di antara mereka, apa kita tidak keterlaluan memisahkan mereka?"
Sandy menoleh, "Maksud kamu? Kamu mau mengizinkan Clarissa dan Galang pacaran, begitu?"
Stella mengangguk pelan.
"Tidak!" tolak Sandy tegas. "Aku tidak akan mengizinkan mereka berpacaran, entah mereka sedarah atau bukan, tetap aku tidak akan mengizinkan," titahnya tak terbantahkan. Sandy tidak akan pernah mengizinkan anaknya berhubungan dengan keluarga Rega, apalagi sampai berpacaran, tidak akan pernah! Mungkin karena di masa lalu mereka pernah bersaing mendapatkan wanita yang sama, menyebabkan Sandy enggan membiarkan anak gadisnya menjalin hubungan dengan keluarga Rega.
Sedangkan Stella memilih bungkam, tidak lagi membalas pernyataan dari sang suami, mengelus lengan Sandy dan kemudian mulai berbaring. Ia tahu bahwa di saat sedang marah, Sandy sangat sulit dikendalikan, jadi ia akan membiarkan amarah suaminya mereda, setelah itu ia bisa bicara baik-baik dengan Sandy.
...***...
Selama dalam masa pengawasan, Clarissa sama sekali tidak diperkenankan bertemu dengan Galang, hanya di sekolahlah satu-satunya tempat dimana ia bisa berbicara dan bertemu dengan Galang. Meskipun berulang kali Clarissa memilih untuk menghindar setiap kali ada Galang, namun hari itu ia bertekad menghampiri Galang lebih dulu.
Sejak semua tahu bahwa Clarissa anak pemilik sekolah, desas desus tentang Galang yang merupakan keponakan pemilik sekolah pun mencuat, menyebabkan gosip antar keduanya yang menjalin hubungan terlarang menjadi hot topic.
__ADS_1
Tatapan prihatin nampak terlihat dari beberapa murid ke arahnya, namun tak sedikit yang bersorak senang karena Galang tak lagi menjalin hubungan dengan siapapun.
Clarissa berdiri di depan pintu kelas Galang, ia ragu untuk masuk ke dalam, ia bingung apakah keputusannya sudah tepat. Sedang berkelana dengan pikirannya, sebuah suara yang tak asing di telinganya menyambut.
"Cla, lo nyari Galang?"
Clarissa mendongak, mendapati Joni yang berdiri di sisinya. Ia mengangguk lesu.
"Mau gue panggilin?"
Clarissa kembali mengangguk.
"Tunggu bentar, ya?"
Tak berapa lama Galang muncul di hadapannya,
"Cla, ada apa?" tanya Galang terkejut melihat Clarissa menghampiri sampai di kelasnya.
"Aku mau bicara penting sama kamu," Clarissa meremas kuat rok abu-abunya.
Galang mengangguk, meraih jemari Clarissa, menariknya menuju rooftop.
Keduanya duduk berdampingan, merasakan hembusan angin yang menerpa wajah dan menerbangkan rambut Clarissa. Belum ada yang berniat membuka suara di antara keduanya, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku mundur, Lang."
Kalimat yang keluar dari bibir Clarissa membuat Galang menoleh. "Maksud kamu apa, Cla?"
Clarissa menunduk, "Maaf, aku nggak bisa bertahan sama kamu," sesalnya menunduk, jemarinya mencengkeram kuat pada kursi, menahan agar air matanya tidak lolos.
Clarissa menggeleng. "Bukan seperti itu, Lang. Setelah aku pikir-pikir, memang nggak seharusnya kita bersama, sejak awal kita udah salah."
"Nggak ada yang salah di sini, Cla. Yang salah kedua orangtua kita yang tidak menyetujui hubungan ini!" hentak Galang tak terima.
"Galang! Seberapa pun kita menghindar, seberapa jauh kita mengelak, kenyataan bahwa kita sedarah itu tidak bisa kita hapus, Lang!" Clarissa balik membentak meluapkan emosi.
Galang memalingkan wajahnya, menyugar rambutnya ke belakang, kemudian ia bangkit dan menendang kursi di hadapannya.
Bruak!!
"Breng**k!!"
Buk!!
Galang meninju keras dinding di sisi kanannya, nafasnya memburu, matanya memerah menandakan dirinya menahan amarah. "Kamu menyerah?! Kamu menyerah, Cla?!" hardiknya menatap tajam.
"Maafkan aku, Lang, aku tidak ada pilihan lain."
Bruak!!
Galang kembali menendang kursi sampai kursi itu hancur, meninju dinding dengan keras menyebabkan tangannya berdarah.
Clarissa tersentak, ia berdiri dan mematung melihat Galang meluapkan emosi, airmatanya mengalir tanpa bisa dicegah.
"Kalau memang itu keputusan kamu, aku bisa apa Cla? AKU BISA APA?! HA!"
__ADS_1
Clarissa berjengit, ia menunduk menghapus air matanya.
Galang menghampiri Clarissa, mencengkeram kedua lengan Clarissa kuat. "Kenapa kamu menyerah, Cla? Kamu tidak percaya sama aku? Iya?!"
Clarissa menggeleng, "Bukan begitu, Lang. Tidak," isaknya menatap sendu wajah Galang.
"LALU APA?!"
Clarissa terguncang, tubuhnya bergetar, air matanya semakin deras mengalir, ia terisak hebat.
Galang menarik Clarissa ke dalam pelukan, memeluk erat tubuh gadisnya yang bergetar hebat karena menangis.
Clarissa membalas pelukan Galang tak kalah erat, menyesakkan kepalanya di dada Galang.
"Jika kamu berhasil melupakan aku, katakan padaku bagaimana caranya, Cla.?" ucap Galang lirih.
Clarissa menggeleng disela pelukannya.
"Agar aku juga bisa melupakanmu."
Clarissa semakin kuat menggelengkan kepala. "Aku benci kamu, Galang," ia memukul dada Galang. "Aku benci kamu," racaunya terisak.
"Aku juga benci kamu, Clarissa," balas Galang meraih jemari Clarissa untuk ia kecup, membuat Clarissa semakin tergugu.
Galang merapatkan matanya, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak mengalir. Mungkinkah itu karma baginya karena selama ini mempermainkan gadis? Di saat ia memulai membuka hatinya untuk satu gadis dan berniat serius dengannya, justru kenyataan menghempaskannya, mendorongnya jatuh sedalam dalamnya ke dalam lubang yang tak mungkin bisa ia capai puncaknya.
Galang mengusap kedua pipi Clarissa yang basah oleh air mata, ibu jarinya mengusap pelan bibir Clarissa. "Boleh aku menciumnya untuk yang terakhir kali?" suara Galang bergetar.
Nafas Clarissa tercekat, air matanya kembali mengalir, kemudian kepalanya mengangguk pelan.
Galang menundukkan wajah, menarik tengkuk Clarissa dengan tangan kanannya. Perlahan mencium bibir Clarissa dengan lembut, menumpahkan segala resah yang menimpanya selama ini, menyesali perbuatan yang ia perbuat selama ini, sehingga tuhan memberikan karma yang sangat menyakitkan padanya. Lidahnya menerobos ke dalam mulut Clarissa, mengoyak habis seluruh rongga.
Clarissa memberikan akses bebas untuk Galang, membiarkan Galang menikmati rasa manis bibirnya. Hanya itu yang bisa ia berikan, itulah akhir dari kisahnya, itulah akhir dari semuanya, semuanya berakhir sampai di sini. Clarion tidak menyesal pernah mencintai playboy cap kadal di hadapannya, ia tidak pernah menyesal pernah menjalin kisah indah bersama playboy itu. Air matanya terus mengalir, bahkan isakannya masih terdengar di sela ciumannya.
Galang menarik diri, memberi ruang untuk menghirup oksigen guna mengisi udara.
Galang menatap sendu wajah gadis di hadapannya yang masih berlinang air mata. Sekali lagi, ia menarik wajah Clarissa, melabuhkan ciuman di bibirnya, ******* habis bibir tipis Clarissa, seakan hari esok tidak akan ada lagi kesempatan. Memang begitulah kenyataannya, bukan ia lagi pemilik bibir tipis menggoda yang menjadi candunya. Membayangkan pria lain mencium gadisnya membuat Galang semakin buas menekan bibir Clarissa, bahkan tak segan ia menggigit keras bibir Clarissa, merasakan rasa asin di lidahnya.
Clarissa memekik tertahan merasakan Galang mengigit bibirnya, ia juga merasakan rasa asin di lidahnya, namun ia tidak pula menghindar, ia membiarkan Galang meluapkan emosinya.
Galang menarik diri, mencium kening Clarissa dalam dan lama. Menghapus bekas pagutan di bibir Clarissa dengan jarinya, sebuah senyuman terukir di wajahnya melihat karyanya membuat bibir Clarissa membengkak. "Aku mencintaimu, Clarissa Alanis Van Houten," ucapnya tepat di depan bibir Clarissa.
"I- i love you too, Galang Arrega Bramantyo," balas Clarissa tersenyum.
Galang terkesiap. "Kamu tahu nama panjangku?* godanya.
Clarissa hanya mengangguk.
Galang tersenyum, membingkai wajah Clarissa, menciumi seluruh wajahnya, Clarissa hanya diam merapatkan matanya mendapat ciuman di seluruh wajahnya.
Sekali lagi, Galang menarik Clarissa ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepalanya, seraya merasakan hembusan angin yang terasa sejuk, seakan memberinya oase pada keduanya yang baru saja dibakar rasa kepahitan mendalam dengan saling memeluk.
📚📚
📚
__ADS_1