
Clarissa tengah membaca hasil rekam medis dari suami Bu Erna, tidak ada yang aneh, dosis obat yang diberikan juga sesuai dengan yang tercatat di kertas. Sepertinya bukan itu yang menjadi kejanggalan.
Clarissa beranjak membuka laci untuk mengambil buku catatan miliknya, sebuah botol kecil menarik perhatiannya. "Ini," ia tampak mengingat-ingat dimana menemukan botol itu. Hingga kemudian ia tersadar bahwa botol tersebut ia ambil dari seorang pria mabuk yang mengamuk di sebuah cafe. "Kenapa aku menyimpannya," gumamnya terheran.
"E310," Clarissa membaca tulisan kecil pada botol tersebut. Sepertinya ia pernah membaca tulisan itu. Kemudian ia membuka ponsel untuk berselancar di dunia maya mencari arti huruf tersebut.
Clarissa membaca tulisan yang tertera, ternyata itu adalah jenis bahan kimia yang digunakan pada makanan, yang akan berdampak buruk jika dikonsumsi lebih. Semua yang berlebihan memang tidak baik.
Tapi sepertinya Clarissa menemukan sesuatu yang janggal, ia kembali membaca rekam medis suami Bu Erna, membaca tiap dosis yang diberikan dokter, kemudian ia juga membaca hasil riset yang dilakukan pada Bu Erna mengenai jumlah dan macam obat yang diberikan dokter ke dalam tubuh sang suami.
Clarissa mendial nomor untuk menghubungi seseorang. Beberapa menit sambungan terhubung namun belum dijawab.
"Halo, Clarissa?" sahutan dari seberang.
"Halo, Ko. Maaf mengganggu malam-malam."
"Ndak apa-apa. Ada hal penting, ya?"
"Sebenarnya tidak terlalu penting, Ko. Cuma aku kepikiran jadi mau ngasih tahu ke Koko, takut aku lupa, hehe.
Terdengar kekehan dari seberang. "Ono, opo, o, Nduk?"
"Itu, Ko. Soal hasil rekam medis suami Bu Erna. Kita sudah cek berulangkali tidak ketemu kejanggalan, kan, ya. Tapi bagaimana kalau memang bukti tertulisnya sudah diganti?"
"Maksudmu?"
"Jadi gini, Ko. Dosis obat yang diberikan memang sama dengan yang tertulis, tapi sebenarnya bukan itu rekam medis yang asli."
Di seberang sana Juno terdiam nampak berpikir. "Itu bisa jadi. Kamu sudah bilang sama Bu Helinda?"
Clarissa menggeleng, meskipun yang di seberang tak akan tahu. "Belum, Ko. Aku tidak berani mendahului Koko."
"Halah, mendahului opo, seh? Yawis, besok kita bahas masalah ini sama Bu Helinda. Sekarang kamu tidur, o, ini udah tengah malam."
Clarissa mengangguk. "Iya, Ko, selamat malam."
"Tidur, o, Clarissa. Jangan begadang," Juno mengingatkan.
"Siap, Ko Jun."
*
Esok harinya Clarissa dan Juno membahas tentang pemikiran Clarissa pada Helinda.
"Mungkin saja Dokter sudah bekerja sama dengan perusahaan," Juno berkata seraya menyetir mobil, ketiganya berencana menuju rumah sakit.
"Benar, itu yang aku maksud, Bu," Clarissa menimpali.
Bu Helinda terdiam tengah memikirkan sesuatu. "Itu memang bisa terjadi," ucapnya kemudian. "Kita tanyanya pada suami klien nanti, sepertinya klien berkata sang suami sudah sadar."
Setibanya di rumah sakit. Ketiganya menuju ruangan suami Bu Erna yang kebetulan saat itu beliau sudah sadar.
"Setiap bahan yang di masukkan ke dalam pengolahan akan di cek terlebih dahulu. Hanya bagian laboratorium yang bisa menyimpan catatan itu," suami Bu Erna memberi penjelasan.
"Hanya Bapak yang mengalami kondisi, maaf, terburuk," sahut Bu Helinda. "Apa Bapak yakin dengan dosis yang seharusnya dimasukkan tidak sesuai anjuran sebenarnya?" ia tengah memastikan bahwa kliennya tidak sedang memutarbalikkan fakta.
"Pihak perusahaan sudah mengeluarkan uang kompensasi, apa itu masih belum bisa menjadi bukti bahwa mereka yang telah bersalah?" Clarissa turut mengeluarkan pendapat.
Bu Helinda menggeleng. "Tidak semudah itu. Pihak perusahaan memberikan uang kompensasi sebagai tutup mulut atas insiden itu. Mereka tengah menjaga nama baik perusahaan mereka."
"Tapi saya yakin suami saya keracunan dari produk mereka itu," Bu Erna menekankan.
"Kami mengerti, Bu," Bu Helinda menenangkan. "Hanya saja korban lain tidak ada yang memberikan saksi bahwa keracunan itu dari olahan pabrik. Kami juga sudah mendatangi pabrik, dan semua sudah sesuai dengan prosedur."
"Tapi, Bu, bagaimana dengan hasil rekam medis yang dipalsukan?" Clarissa kembali bersua.
Bu Helinda menghembuskan nafas dalam. "Itu yang tengah kita selidiki," balasnya. Ia kembali memperhatikan klien. "Kami akan berusaha mencari buktinya, bukti yang tidak akurat akan ditolak di pengadilan. Untuk itu, kami perlu kejujuran anda," tuturnya kemudian.
Suami Bu Erna nampak terdiam tengah memikirkannya sesuatu. "Saya ingat ada peneliti yang mengundurkan diri setelah insiden itu."
Clarissa dan Juno tampak saling tatap.
"Bapak yakin?" Bu Helinda memastikan.
"Iya, benar, saya ingat. Kalau tidak salah namanya Chandra."
Bu Helinda memperhatikan Juno dan juga Clarissa yang tengah mengangguk seakan mengatakan itu bisa menjadi bukti selanjutnya. "Kami akan mencaritahu. Mohon Bapak dan Ibu tidak lagi mempunyai pemikiran untuk mencabut laporan ini. Karena kami sudah berusaha membantu Bapak dan Ibu. Jika ada kejanggalan atau situasi lain segera hubungi kami," ia tengah menasehati juga memberi sedikit ancaman. Jangan sampai karena ada uang kompensasi berikutnya mereka memilih mundur. Sia-sia saja pekerjaannya.
"Saya dan suami tidak akan mundur lagi, Bu. Maafkan saya. Saya hanya perlu keadilan untuk suami saya," Bu Erna nampak menyesal.
"Sudah saya jelaskan sebelumnya, pihak PT akan berbalik mengajukan tuduhan atas uang kompensasi yang kalian terima sebagai pemerasan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menggali bukti. Jadi kami mohon Bapak dan Ibu tidak menyembunyikan fakta apapun dari kami. Kami benar-benar akan menolong Bapak dan Ibu jika apa yang anda katakan adalah sebuah kebenaran," Bu Helinda kembali memberikan peringatan.
Bu Erna mengangguk. "Saya yakin, Bu," jawabnya meyakinkan. Ia memperhatikannya suaminya yang kembali memejamkan mata, kemudian berjalan ke sisi Bu Helinda, berbisik lirih tanpa bisa didengar oleh orang lain.
__ADS_1
Bu Helinda mengangguk.
"Terimakasih sudah melindungi kami, berhati-hatilah dengan PT. Beenar, mereka orang-orang yang kuat," suami Bu Erna menasehati.
Bu Helinda mengangguk. "Sama-sama."
*
"Clarissa, yang kemarin berantem sama kamu siapa namanya?" Juno berujar setelah terdiam lama di dalam mobil dengan pikiran melayang.
"Yang minta uang ganti rugi, Ko?" Clarissa memastikan.
"Iya, itu."
"Berlian, Ko. Kenapa?"
Juno beralih memperhatikan Bu Helinda yang duduk di sebelahnya dan tengah sibuk dengan ponsel. "Bu, bukannya dia anak pemilik Beenar?"
Bu Helinda menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada ponsel. "Iya, dia anak pemilik Beenar. Kasus yang klien hadapi, ya, sama perusahaannya dia."
Clarissa melotot. "Dia anaknya pemilik Beenar?" tanyanya terkejut.
Bu Helinda menoleh ke belakang. "Iya, tapi dia tidak terlibat, karena saat ini dia tengah mengurus bisnis lain."
"Tapi tetap saja dia anaknya pemilik perusahaan," Clarissa sungguh tidak menyukai semua yang berhubungan dengan Berlian.
"Kamu mau balas dendam?" Juno menebak, kemudian terkekeh.
Clarissa menyengir. "Menurut Ibu, bagaimanapun dengan suami Bu Erna?" tanyanya kemudian.
"Kita cari tahu dulu peneliti itu. Aku juga merasa ada yang janggal. Kita sudah mendatangi korban lain, tapi mereka memilih diam tak ingin membahas apapun."
"Mungkin saja uang kompensasi mereka sudah cukup untuk membiayai perawatan di rumah sakit. Mereka juga sudah bisa bekerja kembali," Juno menyahut.
Bu Helinda mengangguk. "Suami Bu Erna mengalami kondisi yang terburuk. Bisa saja ia mengonsumsi terlalu banyak, atau, dia mempunyai riwayat penyakit lain yang jika terkonsumsi bahan tertentu menyebabkan penyakitnya semakin parah," ia tampak terkejut mengetahui pemikirannya sendiri.
"Dan pihak perusahaan menolak memberi kompensasi lanjutan karena merasa bukan lagi tanggungjawabnya?" Juno menambahi.
"Jadi, apa kita ditipu?" Clarissa mengutarakan kesimpulan.
Bu Helinda menggeleng. "Karena kita sudah bersedia membantu klien, kita tuntaskan penyelidikan. Jika pada akhirnya tidak sesuai dengan fakta, kita akan mundur."
Clarissa mengangguk.
...***...
"Cantik banget, Neng," Galang menggoda ketika melihat Clarissa keluar dari salon untuk mempercantik diri.
Clarissa mengibaskan rambut. "Tentu saja. Aku mempunyai misi membuatmu tergila-gila padaku," balasnya.
Galang terkekeh, kemudian mendekat meraih pinggang Clarissa. "Aku sudah pada level kegilaan yang tidak bisa disembuhkan karena mencintaimu,"
Clarissa tersenyum lebar, menarik kerah kemeja Galang kemudian melabuhkan kecupan di bibirnya singkat.
Galang berdecak. "Itu bukan ciuman," protesnya.
"Aku tidak mengatakan akan menciummu," Clarissa membantah.
Galang merendahkan diri hendak mencium Clarissa, namun Clarissa mendorongnya. "Lipstik saya masih basah, tolong jangan merusaknya."
Galang melotot heran.
"Ayo berangkat," Clarissa abai akan keterkejutan kekasihnya.
"Tunggu sampai aku bisa menghapus lipstikmu dengan permainan bibirku," Galang tengah mengancam.
Clarissa terkekeh, kemudian bibirnya mengerucut. "Setidaknya biarkan aku pamer didepan teman-temanmu dulu," keluhnya.
Galang mendesah. "Baiklah. Come on, Babe," ia kembali meraih pinggang Clarissa posesif.
*
Sama seperti acara pesta pada umumnya, gedung yang luas sudah dihias sedemikian mewah. Kursi di tata rapi melingkari sebuah meja.
Galang dan Clarissa bergabung dengan teman-teman Galang usai memberiku selamat juga kado untuk pasangan tersebut.
"Edwin sudah merayakan pesta pernikahan yang ke lima tahun. Siapa berikutnya?" seorang pria berujar.
"Michael dan Sera, pacaran tahun-tahunan, kapan dadi bojonya?" pria lain menimpali. ("Michael dan Sera, pacaran tahun-tahunan, kapan menikah?")
"Pacaran atau kredit rumah?"
Gelak tawa terdengar.
__ADS_1
"Ojo koyo Rendy, geleme cuma ngetengi tok, ora dirabi-rabi," ucapan pria berjas abu-abu sukses membuat suasana meja kian ramai oleh gelak tawa.
Clarissa mendekat ke sisi Galang. "Dia ngomong apa?" tanyanya tak mengerti.
Galang tersenyum, kemudian berbisik di telinga Clarissa. "Jangan seperti Rendy, maunya menghamili saja tidak dinikahi," ia menerangkan.
Clarissa mengangguk-angguk.
"Paling enak yo iku," tersangka justru tertawa, tak merasa tersindir oleh ucapan temannya. "Modal celup," imbuhnya lagi.
"Modal celup dengkulmu!" tonyoran kuat berhasil membuat kepala Rendy terantuk meja.
Dukk!
"ASU!!"
"Kon lapo, seh, Ren? Tobat, o. Ora apik ngono iku," salah satu temannya memberi nasehat. ("Kamu kenapa, sih, Ren? Bertobat. Tidak baik seperti itu.")
Rendy menyatukan kedua tangannya pada posisi sungkem. "Injih, Suhu," kelakarnya kian membuat suasana riuh.
Clarissa turut tertawa meramaikan suasana meskipun ia tidak mengerti apa yang diucapkan.
"Kebetulan semua ada di sini. Ini, silahkan dibagikan," seorang pria meletakkan sebuah undangan di meja.
"Lagi ae di omongi, langsung nyebar undangan arek iki." ("Baru saja dibicarakan, sudah menyebar undangan dia.")
"Kredit perumahannya sudah lunas," pria yang diketahui bernama Michael itu menyindir temannya.
Suara kekehan terdengar.
"Lho, lha kok nama calon mempelai wanitanya bukan Sera?"
"Hiyo, lho, rabine dudu karo Sera," pria dengan aksen jawa kental itu turut menyeru. ("Iya, lho, menikahinya bukan sama Sera.")
"Matamu!" Michael menyalak, meraih sebuah undangan serta membukanya. "Delok'en, ***. Sera, ***, tulisane," ia menghardik dengan menunjuk tulisan yang tertera di dalam undangan.
Dua pria itu tertawa terbahak-bahak merasa berhasil mengerjai temannya.
"Dancuk!!" Michael mengumpat.
"Tadinya Michael udah khawatir salah tulis nama," Galang berujar seraya menyesap minumannya.
"Iyo, delok'en rupane, wes pucet koyo mayit." ("Iya, lihat wajahnya, pucat seperti mayat.")
"Iya, e, Lang. Batal nikah aku kalau sampai salah tulis nama," Michael mengiyakan ucapan Galang. Kemudian ia memperhatikan perempuan di samping Galang. "Pacarmu, Lang?" tanyanya.
Galang mengangguk. "Namanya Clarissa."
Clarissa mengangguk sapa.
"Arek Surabaya, ta?"
"Jakarta," Galang yang menjawab.
"Jakarta mana?"
Galang mengibaskan tangannya mengusir. "Jangan banyak tanya."
Michael berdecak. "Besok datang ke pernikahanku ya, Clarissa," ujarnya pada Clarissa.
"Iya kalau diajak," gurau Clarissa menatap Galang.
Galang menatap protes.
"Ya pasti diajak. Kalau Galang ndak mau ngajak kamu, ayo sama aku aja wes," pria dengan aksen jawa kental itu kembali berujar menggoda.
Clarissa tersenyum lebar.
"Terimakasih, Nyo. Tapi tidak perlu, dia sama aku aja," Galang membalas.
Pria yang akrab dipanggil Sinyo itu terkekeh.
"Panase, Dancuk!" Sinyo kembali menyeru merasakan gerah.
"Aku juga panas dancuk," Clarissa menimpali dengan aksen yang datar, seolah ia tengah mengatakan aku juga panas banget.
Ucapan Clarissa sukses membuat ia menjadi pusat perhatian.
Galang tersenyum maklum, mengusap kepala Clarissa. "Bukan seperti itu penggunaan kalimatnya," ucapnya pelan.
"Oh, ya?" Clarissa terkejut. "Lalu?"
Galang tersenyum saja, mencubit pipi Clarissa gemas.
__ADS_1
.
.