KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
49. Sisi lain


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah keputusan yang dibuat oleh Galang dan juga Clarissa, meski sulit, mereka akan berusaha menjalani hubungan keduanya yang kini berubah menjadi saudara. Meskipun sulit, harus dijalani bukan? Karena itulah ketulusan yang sebenarnya, membiarkan orang yang kita sayang bahagia meskipun bukan dengan kita.


Uh, kalimat macam apa itu, hanya pecundang yang mempunyai pemikiran seperti itu.


Tapi dalam kondisi Galang dan Clarissa memang itulah yang seharusnya terjadi, tidak ada yang sanggup melihat mereka yang kita sayang bersanding dengan yang lain. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua berharap bisa menghapus secara perlahan perasaan yang semakin menggerogoti relung hatinya.


Butuh tenaga dan juga tekad yang kuat. Jika di antara kalian pernah mengalami hal serupa, tolong katakan bagaimana kalian bisa memberikan hati kepada yang lain, dan tolong katakan bagaimana caranya menghapus perasaan yang menyesakkan ini.


Seperti sekarang ini, tak sengaja Clarissa melihat Galang yang juga berjalan ke arahnya. Hanya sebuah senyuman manis yang keduanya torehkan setiap kali tak sengaja berpapasan, meskipun jauh di dalam lubuk hati ingin memeluk, namun itu tidak mungkin terlaksana.


Chiara yang memperhatikan keduanya meringis kecil merasakan sesak di dadanya, meskipun sang adik sudah mulai bersikap seperti sedia kala bila di rumah, namun diam-diam ia mengetahui sang adik sering menangis di dalam kamar.


"Kenapa?" tanya Kenneth memperhatikan Chiara terdiam di depan ruang osis.


Chiara menoleh, tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa."


"Ken."


"Hm?"


"Malam minggu besok, Mila ngajak nonton di bioskop."


"Terus?"


"Kita ikutan, ya?"


"Kamu pengen nonton?" Kenneth balik bertanya.


"Aku enggak enak terus nolak tiap kali Mila ngajak ngedate bareng," Chiara memelankan suara di akhir kalimat.


Kenneth menyeringai. "Kamu ngomong apa? Aku nggak denger?"


"Ih, Kenneth," Chiara memukul lengan Kenneth kesal.


"Loh, aku, kan, nanya, kamu ngomong apa? Aku nggak denger?"


"Mila ngajak nonton, aku mau ikut," jawab Chiara ketus.


Kenneth tersenyum. "Kayaknya tadi bukan gitu."


Chiara mengerucut sebal. "Udah, ah, terserah kamu." Chiara mengibaskan tangan, berjalan mendahului Kenneth.


"Ck, ngambek dia," Kenneth meledek pelan.


"Aku denger!" teriak Chiara.


Kenneth tertawa pelan dan menggelengkan kepala.


...***...


Cuaca hari itu sedikit mendung karena sudah mulai memasuki musim penghujan. Beberapa rintik hujan mulai membasahi bumi, bahkan sejak pagi rintik hujan masih setia mengguyur.


Kegiatan belajar mengajar yang seharusnya di laksanakan di lapangan outdoor pun harus di pindah ke dalam lapangan indoor. Selama satu jam menyelesaikan pelajaran jasmani, Clarissa ditemani Zia dan Hanin memutuskan untuk mengganti pakaian mereka dengan seragam sekolah. Memutuskan untuk ke kantin, karena kebetulan setelah pelajaran jasmani adalah jam istirahat, beruntung sekali kelasnya.


Ketiganya berjalan santai sambil berbincang apa saja, Zia dan Hanin sudah mengetahui perihal hubungan Clarissa dan Galang yang tidak mendapat restu karena ternyata mereka saudara. Begitu pula seluruh murid VH 21 yang juga sudah mengetahuinya, namun keduanya tidak ingin membahas masalah itu, mereka tahu bahwa Clarissa sedang berusaha keras menekan egonya untuk menghapus perlahan perasaannya terhadap Galang.


"Bagaimana rasanya berpacaran dengan saudara sendiri?" seru sebuah suara dari koridor sebelah kiri.


Ketiganya menoleh ke asal suara, di sana, Vanya, Lani dan beberapa murid sedang berjalan ke arahnya.


"Gue pikir nggak masalah pacaran sama saudara sendiri, toh, kita saling cinta," sahut sebuah suara yang berasal dari Lani.


Clarissa melipat tangannya, ingin melihat sejauh mana Vanya berkomentar tentang dirinya.


"Tapi sayang, orangtuanya nggak merestui, ck ck ck," Vanya berdecak miris. Ia berdiri tepat di depan Clarissa dengan jarak beberapa langkah serta melipat kedua tangannya. "Bukankah ini sebuah kesempatan untuk deketin Galang lagi?" imbuhnya menyeringai.


Tatapan Clarissa menggelap, tangannya yang terlipat mulai terkepal.

__ADS_1


"Ahh apa gue harus meminta Galang balikan sama gue aja, ya?" Lani mengompori. Ia juga pernah berpacaran dengan Galang sebelumnya.


"Ide yang bagus," timpal Vanya tersenyum samar.


"Tapi, berarti gue manggil dia adik ipar dong?" Lani berujar melirik pada Clarissa.


"Diem lo!" hardik Clarissa yang mulai muak mendengar ocehan keduanya.


"Eits, kenapa lo marah? Lo nggak terima Galang punya cewek lagi? Lo lupa siapa Galang? Dia saudara lo, saudara.lo," tekan Vanya menunjuk dada Clarissa. "Dan sampai kapanpun, elo, nggak bakal bisa bersatu sama Galang," imbuhnya. "Ups, apa lo yakin Galang beneran cinta sama lo?" Vanya menutup mulutnya pura-pura terkejut, kemudian menyeringai.


Rahang Clarissa mengeras, giginya bergemeletuk, wajahnya memerah, serta kedua tangannya terkepal. "Apa hak lo ngomong gitu sama gue? Ha! Lo nggak punya hak buat ngehina gue, dan asal lo tahu, gue bisa bikin lo keluar dari sekolah ini!" sepertinya Clarissa mulai muak.


Zia dan Hanin berusaha menenangkan Clarissa dan mengajaknya pergi, tapi Clarissa tetap bertahan meladeni Vanya.


Vanya tertawa. "Gue nggak takut dengan ancaman lo, bocah kecil. Lebih baik lo pikirin masalah cinta lo yang tak terbalas. Karena gue yakin, saat ini, Galang sudah mulai deketin cewek lagi," ia menatap jijik pada Clarissa.


Bola mata Clarissa membulat, jantungnya serasa di tekan kuat, apa Galang tidak mencintaiku? Bathinnya mulai goyah.


Vanya menyeringai menyadari Clarissa mulai termakan ucapannya. "Seharusnya lo nggak sembarangan ngasih hati lo buat Galang. Lo tahu sendiri, kan, Galang itu playboy. Apa lo percaya yang dia katakan sama lo?" Vanya mengambil nafas, memperhatikan gadis di hadapannya. "Lo lihat diri lo, tatapan anak-anak terhadap lo, mereka merasa kasihan sama lo, lo adalah anak pemilik sekolah, tapi lo dengan mudahnya di bodohi," sama gue ucapnya dalam hati. "Lihat kedua temen lo, mereka mandang lo nggak lebih dari tatapan kasihan, iba sama kehidupan lo."


Entah mengapa Clarissa menatap kedua temannya, melihat sorot mata keduanya yang seakan memang benar kasihan terhadapnya.


Zia dan Hanin menggeleng, tak setuju dengan ucapan Vanya.


"Enggak ada yang segan sama lo, padahal lo anak pemilik sekolah. Tatapan mata semua murid ke elo sama. Prihatin. Karena mereka nganggap lo cewek lemah, beda dengan cara pandang mereka ke Kakak lolo, si Ara." Vanya masih terus mengompori Clarissa, ia melirik Lani yang juga tersenyum menatap Clarissa yang semakin masuk ke dalam jebakannya.


Clarissa sudah menangis entah sejak kapan, tidak ada isakan, hanya air matanya yang senantiasa mengalir di kedua pipinya yang putih. Lihatlah, beberapa anak mulai mengerubungi mereka berlima, dan dari sekian banyak, dari mereka memang memandang kasihan ke arahnya, ia tidak suka seperti itu. Kepalanya mendongak menatap Vanya. "Setidaknya apa yang lo ucapin tentang Galang dan gue itu salah. Bagaimana hubungan kita yang sebenarnya lo nggak perlu tahu," balasnya membela diri.


Vanya tertawa. "Tapi apa lo tahu alasan sebenarnya kenapa orangtua lo nggak ngerestui hubungan lo sama Galang?"


Clarissa menatap Vanya lekat, seakan meminta sebuah penjelasan.


Vanya maju satu langkah, berbisik ke telinga Clarissa. "Karena bokap lo dan bokapnya Galang pernah mencintai wanita yang sama."


Clarissa terperangah, matanya melotot tajam menatap Vanya. "Lo.." ia menuding pada Vanya yang menyeringai. "Jangan bicara macem-macem tentang bokap gue!" hardiknya keras.


Clarissa menunduk, memikirkan perkataan dari Vanya, airmatanya senantiasa mengalir. Bahkan kini semakin banyak anak yang berkumpul mengitari mereka, beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik membicarakannya.


...***...


Seorang siswi berlari tergopoh menuju ruang kelas XII IPA 1.


"Ara."


Chiara yang sedang fokus dengan novel di tangannya mendongak. "Ya?"


"Ra, adik lo," siswi itu nampak letih karena terlalu lama berlari, nafasnya tersengal.


Chiara bangkit. "Clarissa?"


Siswi itu mengangguk, mengatur nafasnya perlahan.


"Ada apa dengan Clarissa?" Chiara mulai khawatir.


"Adik lo sama Vanya.." tunjuk sang siswi ke arah luar, ia belum sanggup berucap saat nafasnya benar-benar habis.


Tanpa menunggu sang siswi menyelesaikan kalimatnya, Chiara gegas berlari, menuruni tangga dengan tergesa. Bahkan seruan Mila yang baru keluar dari toilet tak dihiraukan olehnya, sedangkan Mila yang penasaran pun mengikuti Chiara dari belakang.


Melihat kerumunan di depannya, Chiara segera menghampiri, terdengar suara Vanya di sana. Dengan sedikit tenaga, Chiara menggeser tubuh beberapa murid agar membuka jalan untuknya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Vanya yang tengah menuding sang adik dengan tangannya, serta kata-kata yang memojokkan sang adik. Tangannya terkepal saat melihat bagaimana sang adik menangis tersedu. "VANYA!!" teriaknya berjalan menghampiri.


Kini tatapan mata dari seluruh murid mengarah pada Chiara.


Plak!!


Chiara menampar pipi Vanya hingga membuat wajahnya menyamping, semua terkejut akan tindakan Chiara yang tiba-tiba.


"Berani lo ganggu keluarga gue! Apa yang lo lakuin sama adik gue? Hah!" bentakan Chiara begitu nyaring.

__ADS_1


Vanya menatap tajam pada Chiara, tangan kirinya menyentuh pipinya yang terasa kebas. "Beraninya lo nampar gue. Breng**k!" ia hendak membalas namun ditahan oleh Chiara. Vanya terkejut, begitu pula semua yang melihatnya.


Clarissa menunduk dengan isakan tangis.


"Gue bahkan berani ngelakuin lebih dari ini," tekan Chiara menghempas tangan Vanya. "Gue pernah ingetin sama lo untuk jangan ganggu gue dan keluarga gue. Lo masih inget, 'kan?" ia mengingatkan. "Karena gue bisa bikin lo lebih hancur dari yang nggak pernah lo bayangin. Tapi sepertinya lo nganggap omongan gue angin lalu, lo udah bikin adik gue nangis. LO NANTANGIN GUE? HA!"


Vanya tersentak, ia tidak menyangka Chiara yang lemah lembut bisa beringas juga, tapi ia tidak akan mundur. "Gue cuma ngomong fakta, kalau dia dan Galang nggak bisa bersatu."


Mata Chiara membulat. "Apa hak lo ngomong gitu sama adik gue?! Itu bukan urusan lo!" ia menunjuk wajah Vanya.


Lani sedikit mundur, jujur ia takut dengan Chiara yang beringas.


Chiara menarik nafas. "Lo udah bikin adik gue nangis. Minta maaf sama dia."


Vanya melotot, kemudian tertawa. "Apa hak lo nyuruh gue? Lo bukan siapa-siapa gue, dan lo nggak berhak ngatur gue!"


Chiara menyeringai. "Elo lupa siapa gue?"


"Lo cuma anak pemilik sekolah, bukan anak presiden, apalagi malaikat," jawab Vanya tak gentar.


Chiara mengangguk. "Lo bener, gue cuma anak pemilik sekolah, anak dari keluarga Van Houten," tekannya mengingatkan.


Vanya mulai was-was mendengar kalimat bahwa Chiara anak keluarga Van Houten.


"Jadi gue ralat kalimat gue." Chiara berdehem, "Lo harus bikin pernyataan terbuka bahwa lo minta maaf sama semua penghuni sekolah, karena selama lo di sini lo sering bully anak-anak."


Beberapa murid tampak setuju dengan ide Chiara, tapi mereka tidak yakin kalau Vanya akan melakukannya.


Vanya melotot mendengar kalimat Chiara, "Lo —"


"Atau lo milih keluar dari sekolah ini. Bisa gue pastikan bahwa lo nggak pernah bisa masuk di sekolah manapun, nggak akan ada sekolah yang mau nerima lo di sana," Chiara tengah mengancam.


"Lo ngancem gue?"


"Ya, karena gue punya marga Van Houten di belakang nama gue, dan gue pastiin bokap lo bakal marah besar sama lo, karena perbuatan lo itu termasuk mencoreng nama baik keluarga lo."


Vanya tersentak, tubuhnya menegang.


Chiara beralih menatap Lani. "Apa gue juga harus minta Abang gue buat narik saham di perusahaan Millen?"


Lani tersentak, matanya membulat sempurna, itu adalah nama perusahaan ayahnya, bagaimana Chiara tahu?


"Gue nggak akan nurutin kemauan lo," Vanya menolak tegas.


Chiara menatap tajam. "Oke, terserah lo, keputusan ada di tangan lo berdua." ia mundur satu langkah, menatap Vanya dan Lani bergantian. "Gue ingetin sekali lagi, jangan ganggu gue dan keluarga gue, karena gue bisa bikin hidup lo nggak tenang, lo ingat kalimat gue itu, 'kan?" peringatnya.


Vanya dan Lani mulai gugup, menelan saliva alot.


"Gue tunggu kalian berdua untuk melakukan pernyataan terbuka kalau kalian menyesal dan akan meminta maaf." Chiara berbalik.


"Lo cuma bisa berkuasa di balik nama keluarga lo, gue juga bisa, karena orangtua gue nggak kalah tajir dari keluarga lo," Vanya kembali berseru.


Chiara memutar tubuhnya menatap Vanya, seringainya muncul. "Keluarga bokap lo maksudnya?"


Vanya tercengang, netranya melirik kanan kiri, ia benar-benar gugup, apa yang Chiara tahu dari gue? bathinnya mulai was-was.


"Perlu gue ingetin sama lo, kalau lo cuma anak tiri bokap lo!"


Semua murid terkejut mendengar kalimat Chiara, beberapa mulai berbisik-bisik membicarakan Vanya yang ternyata hanya anak tiri dari ayahnya yang kaya raya itu.


Begitu pula Lani yang mematung, jadi selama ini Vanya bukan anak kandung bokapnya, kenapa ia tidak tahu setelah berteman hampir tiga tahun dengannya.


"Lo.." Vanya menuding, namun kemudian ia berbalik pergi meninggalkan kerumunan.


Chiara menyeringai, merengkuh tubuh Clarissa yang terisak, menuntunnya menuju toilet untuk membersihkan diri.


📚

__ADS_1


📚


__ADS_2