KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
64. Kebersamaan yang indah


__ADS_3

..."Pipi merah ini, jangan perlihatkan kepada laki-laki lain selain aku."...


...-Kenneth William-...


...ΒΆΒΆΒΆ...


Kantin. Adalah tempat yang paling diminati bagi para siswa siswi setelah beberapa waktu yang lalu telah melewati jam-jam penuh dengan teori, rumus, angka dan lain sebagainya.


Adapun yang di kelas hanya tidur-tiduran, malas-malasan. Tapi jika bel istirahat berbunyi, tujuan mereka tetap satu. Mengisi perut yang keroncongan, membasahi kerongkongan yang kering, atau hanya sekedar duduk-duduk di bangku sambil mengobrol bersama teman.


Tak terasa sebentar lagi Chiara akan lulus sekolah, padahal baru beberapa bulan ia berada di sekolah itu, sekolah miliknya atau lebih tepatnya milik orang tuanya. Dan saat waktu itu tiba, ia harus rela berpisah dengan kekasihnya yang baru beberapa bulan menjalin hubungan, meninggalkan negara kelahirannya untuk meneruskan pendidikan di negara tetangga.


Dan jangan lupakan Kenneth yang sebentar lagi meninggalkan tanggungjawabnya sebagai ketua OSIS, serta bersiap menjadi seorang pebisnis. Berpakaian jas rapi setiap hari, disela kuliahnya, dan harus berpisah jauh dengan kekasihnya yang memilih Berlin sebagai tujuan pendidikan.


Itulah kenyataan, bahwa tidak seharusnya kita menghalangi mimpi dan cita-cita orang terkasih, jika Kenneth egois, ia bisa menemani Chiara untuk meneruskan kuliah di Jerman juga. Tapi tidak. Ia mempunyai tanggungjawab yang besar untuk perusahaan milik ayahnya. Meskipun belum sepenuhnya ia akan menjadi pemimpin perusahaan, karena posisi itu masih di tempati oleh sang papa. Namun ketika sang papa memilih pensiun, ia lah satu-satunya penerus jabatan tersebut.


Maka, sebelum waktu itu tiba, Kenneth ingin membuat kenangan bersama Chiara, menghabiskan waktu yang singkat itu untuk saling melengkapi, saling mempercayai, saling mengerti, dan saling meyakini bahwa itu bukanlah akhir dari cerita mereka. Justru itu adalah awal dari semuanya, perpisahan dengan jarak yang tidak bisa dikatakan dekat akan menjadi saksi. Seberapa kuat, seberapa besar cinta kalian satu sama lain.


Di kursi kantin yang panjang, berjejer murid-murid yang saling mengobrol membicarakan masa depan mereka. Di sanalah Kenneth dan Chiara berada.


"Ra, lo mau lanjutin kuliah dimana? " Mila mendongak menatap lawan bicaranya yang tengah menyantap makanannya.


"Emm, gue ambil desainer di Berlin."


Jawaban dari Chiara membuat teman-temannya menatap ke arahnya.


"Lo serius, Ra?"


"Iya, kenapa, sih?"


"Yahh, lo bakal nggak ketemu gue, dong," Mila nampak lesu.


"Gue, kan, bisa pulang waktu liburan, Mil, lo lebay, deh," tanggap Chiara mengaduk minumannya.


"Lo bakal LDR an dong sama Kenneth," Putra menimpali.


Chiara menatap Kenneth yang duduk di sampingnya. "Iya," jawabnya kemudian.


"Kenapa nggak milih kuliah di sini aja, Ra?" Julio bertanya.


Chiara menggeleng. "Udah gue pikirin jauh-jauh hari. Sebenarnya bukan cuma itu alasan gue milih Jerman, tapi karena Oma sama Opa gue di sana, jadi gue mutusin kuliah di Berlin, sekalian jagain mereka gitu, orangtua gue, kan, bakal menetap di sini," terangnya.


Teman-temannya mengangguk-angguk paham.


"Kalau lo ambil kuliah dimana, Mil?" tanya Chiara pada Mila.


"Gue ke Semarang, sama Putra, hehe," Mila menyengir.


"Nggak tahan LDR an gue," timpal Putra tersenyum mengusap kepala kekasihnya.


"Ikutin aja terus si Mila, entar diembat orang tahu rasa lo," celetuk Rangga asal.


Kenneth menegang, tatapannya menatap Chiara yang sedang tergelak oleh candaan Rangga. Tidak bisa dipungkiri hal tersebut juga bisa terjadi dengan Chiara, 'kan?


"Gas pol, Put, kalau perlu lo iket leher Mila pake tali, biar nggak bisa kabur dari pengawasan lo," seloroh Deni mengompori.


Mila memukul lengan Deni yang duduk di sampingnya. "Elo kira gue embek apa."


"Lah, itu lo sadar," Deni semakin tergelak.


"Enak aja, yang ada gue yang harus ngawasin dia, takut dia ngelakuin hal-hal yang tidak gue inginkan. Berkorban contohnya," sindir Mila menatap sang kekasih.


Putra terkesiap, kepalanya menoleh menatap Mila.


"Bener, lo yang harusnya iket leher Putra pake tali, terus lo tarik kemanapun lo pergi," Rangga sangat setuju dengan ide Mila.


"Kamu masih inget aja, Yang. Nggak lagi-lagi, deh," Putra merengkuh pundak Mila serta memberikan kecupan di pipinya.


"Wehh, main nyosor aja ini anak, di sini masih ada orang woiii," Alex berujar protes.


"Tau lo, bikin ngiri gue aja," Toriq mendengus.


"Lo berdua, kan, jomblo, tuh. Udah jadian aja, biar bisa nyosor kayak gue," ide Putra luar biasa ajaib.


Pletak!


Alex melempar botol plastik bekas minuman tepat mengenai jidat Putra.


"Adohh.. " Putra mengelus keningnya yang menjadi korban.


"Sembarangan kalau ngomong, gue masih normal, masih suka sama yang mulus, bukan sama yang lurus kayak dia," Alex bergidik ngeri.


"Gue juga masih normal kali, Lex. Belum belok haluan gue, masih doyan sama yang montok. Sesama pemilik ***** mah, bodo amat gue, nggak minat," sahut Toriq seenak udel.


Teman-temannya kian tergelak.


"Selama nggak ada cewek gue di sini, gue cuma bisa lihat kemesuman kalian berempat," seloroh Rangga dengan tatapan dingin menunjuk pada Mila, Putra, Kenneth dan Chiara.


"Setuju gue sama lo, Rang. Kalian sudah menodai mataku," timpal Deni menambahi.


"Apaan, sih, mesum gimana coba?" Chiara tak terima.


"Suka nyosor nggak lihat tempat," semprot Rangga sebal.


"Bilang aja lo iri," Kenneth yang sedari tadi menjadi pendengar buka suara.


Rangga tertawa sarkas. "Tahu aja lo, Ken," kekehnya kemudian.


"Apalah dayaku yang hanya seorang jomblo," keluh Julio nampak lesu mengaduk minumannya.


"Cari pacar sono."


"Eh, elo juga jomblo, Lex."


"Bakal keluar dari zona nyaman dia, tunggu aja tanggal mainnya," Deni menaik turunkan alisnya menatap Alex.

__ADS_1


"Widihh, gass, anak mana, Lex?" seru Rangga heboh.


"Kepo lo," sahut Alex acuh.


"Bakal ada makan besar, nih."


"Yo'i, Put."


"Akhirnya Alex sold out juga." Mila dan Chiara terkikik.


"Ken, gue masih penasaran dari mana lo tahu tentang Joanna?"


Semua mata kompak mendongak menatap Putra, kemudian beralih memperhatikan Kenneth yang tengah memakan nasi goreng.


Kenneth menghembuskan nafas pelan.


"Gue sama Kenneth jengukin Joanna di rumah sakit," itu suara Alex.


Mereka kompak menatap Alex meminta penjelasan.


"Lo serius?"


"Kalian berdua?"


Alex mengangguk. "Awalnya, sih, Kenneth yang tahu kalau Joanna kecelakaan, bokapnya Joanna yang saat itu kebetulan sedang ada urusan di kantor bokapnya Ken cerita kalau anaknya jadi korban tabrakan. Karena Joanna juga temen kita waktu sekolah dasar serta bokap Kenneth yang kenal dekat dengan bokapnya Joanna, Kenneth sama gue jengukin dia di rumah sakit."


Chiara menoleh memperhatikan Kenneth seakan bertanya kapan kamu ke rumah sakit?


Kenneth mendekat. "Setelah kamu pulang dari rumah aku bawain bakwan udang," bisiknya seakan mengerti.


Chiara membulatkan bibirnya.


"Dan lo semua tahu? Joanna udah sembuh, dia bisa jalan normal. Meskipun gue terkejut saat kakinya di perban, tapi dia bilang udah sembuh," Alex menutup ceritanya kemudian meneguk minumannya.


Mereka tampak melotot terkejut.


"Kenapa lo berdua nggak ngomong sebelumnya?"


"Gue mana tahu yang lo maksud itu Joanna temen sekolah gue. Bego!" Alex menonyor kepala Putra.


"Ohh, pantesan waktu itu kamu terkejut waktu aku bilang Joanna korban tabrakan Mila. Jadi kamu udah curiga saat itu?" Chiara menatap Kenneth.


Kenneth mengangguk.


"Bener, bener, rubah berbulu domba itu cewek," Mila menggeram kesal.


"Yang bego jelas cowok lo, Mil," cetus Toriq santai.


Putra mendelik protes.


"Beruntung Kenneth segera nyadarin lo. Bayangin kalau sampai sekarang lo belum sadar udah ditipu sama dia."


"Lo berdua nggak bakal bisa ada dalam satu meja ini," Julio menanggapi.


Mila menyengir saja mendengar ledekan teman-temannya. "Terimakasih, gue jadi terharu."


Putra kembali mengusap kepala Mila mesra.


"Ck, mulai lagi dramanya," Deni berdecak kesal.


"Hahh, males gue," Rangga nampak muak.


"Gue juga," sahut Julio beranjak dari duduknya.


"Mau kemana lo, Jul?" tanya Toriq.


"Nyari mangsa buat pamer sama dua pasangan itu," jawab Julio melirik sinis pada Mila, Putra dan juga Chiara Kenneth. "Lo kira gue nggak bisa pamer mesraan juga, cih," decihnya kesal.


"Iri lo?" Kenneth sengaja melingkarkan tangan di pundak Chiara posesif.


Julio melotot sebal. "Iyee, gue iri, puas lo berempat," semprotnya ketus.


Mereka tertawa melihat Julio yang merajuk.


"Gue temenin, Jul," usul Alex turut beranjak.


"Lah, lo bukannya bentar lagi sold out, Lex?"


"Cuma mau mastiin kalau Julio nggak salah pilih," Alex terkekeh.


Toriq bangkit. "Gue ikut," serunya kemudian.


...***...


Bel pulang sekolah berbunyi, Kenneth berjalan menghampiri ruang ujian Chiara, kebetulan Chiara saat itu juga baru saja keluar dari ruangan.


Ujung bibir Chiara membentuk senyuman saat melihat Kenneth berjalan ke arahnya.


"Langsung pulang?" Kenneth bertanya.


"Aku belum pengen pulang, jalan-jalan dulu gimana?" usul Chiara.


Kenneth mengangguk. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.


Senyuman Chiara kian mengembang saat menyadari motor Kenneth berbelok ke arah jalan yang jarang ia lewati. Ia tahu akan kemana tujuan Kenneth membawanya.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Chiara sesampainya di depan gubuk yang dulu pernah mereka singgahi untuk mencari katak. "Tapi aku senang," imbuhnya tersenyum riang.


"Aku tahu apa yang membuat kamu senang," jawab Kenneth sekenanya.


Chiara tersenyum lebar hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.


Keduanya duduk berdampingan di gubuk, bercerita kesana kemari membahas segala hal, juga antusias Chiara yang mengenang ketika dirinya mencari katak dan menjumpai binatang sawah. Namun sekarang berbeda, padi di sana sudah menguning dan siap panen, serta burung-burung yang semakin banyak berkeliaran mencari makan, hinggap di dahan padi.


"Ra."

__ADS_1


Chiara menoleh sekilas. "Ya?"


"Kemarin kamu pulang sama siapa?"


Chiara menoleh, nampak berfikir. "Oh, itu, aku pulang sama Galang, sekalian dia ikut acara makan siang sama keluarga juga."


Kenneth menatap Chiara lekat.


"Em, maaf, aku belum sempat cerita sama kamu."


Kenneth lekat menatap Chiara, pikirannya tengah melayang pada foto yang dikirim seseorang.


"Kemarin aku ketemu Hito."


Ucapan Chiara menarik Kenneth kembali pada kesadarannya. "Dimana?"


"Sebenarnya, kemarin dia nawarin buat nganter aku pulang, tapi tiba-tiba ada Galang. Ya, udah aku bareng Galang aja, daripada bareng dia, 'kan."


Kenneth paham. Berarti foto terakhir yang ia lihat adalah Galang, foto dimana Chiara menepuk pundak Galang. Memang warna motor keduanya sama-sama putih, sepertinya sang pengirim mengharapkan dirinya marah dengan Chiara karena foto tersebut.


Kedua ujung bibir Kenneth terangkat, mengacak rambut Chiara pelan. "Aku juga minta maaf, aku lupa kalau hapeku aku silent, waktu kamu ngirim pesan aku nggak tahu," sesalnya. "Kalau ak popu tahu kamu buru-buru, pasti aku juga bakal tutup rapat saat itu juga," lanjutnya.


"Eh, jangan, lah. Kalau kamu terus-terusan kayak gitu aku jadi yang nggak enak sama anggota osis lain. Gara-gara aku kamu ninggalin rapat terus, nanti kamu kena teguran."


Kenneth menatap hamparan sawah dengan kedua tangan yang digunakan sebagai tumpuhan tubuhnya. "Aku pengen segera ngelepas jabatan ini."


"Kenapa?"


Kenneth menoleh, bibirnya membentuk seringaian, kemudian tubuhnya mendekat. "Biar bisa punya banyak waktu sama kamu," bisiknya mencium pipi Chiara.


Kedua pipi Chiara merona, ia memalingkan wajahnya ke sisi lain agar tidak terlihat oleh Kenneth. Ahh, dia jadi malu. "Kamu nggak ke kantor Papa kamu lagi?"


Kenneth merebahkan tubuhnya, menggunakan lengan sebagai bantal. "Sementara aku libur dulu, besok kalau udah selesai ujian lanjut lagi. Lagipula waktuku nggak banyak."


Kening Chiara mengerut, kepalanya merendah menatap Kenneth yang tengah menutup mata. "Maksudnya?"


"Beberapa minggu lagi kamu ke Jerman. Mau menghabiskan hari denganku?" Kenneth membuka mata menatap Chiara.


Chiara menegang, tapi kemudian kepala mengangguk dengan senyuman terpatri di wajahnya.


Tanpa aba-aba, Kenneth meraih tengkuk Chiara dan mencium tepat di bibirnya.


Chiara yang terkejut hanya bisa menahan tubuhnya agar tidak menindih Kenneth dengan tangan yang berada di dada Kenneth.


Setelah merasa kehabisan oksigen Chiara menarik diri, ia menatap wajah Kenneth yang berada di bawahnya. "Aku nggak nyangka sisi lain dari kamu ternyata sangat menggemaskan," tuturnya menyengir.


Kenneth menaikkan sebelah alisnya.


"Di saat orang lain melihat sikap kamu yang dingin seperti kutub, di sisi lain aku bisa melihat sisi manis dan menyebalkan dari kamu."


Kenneth tersenyum. "Itu artinya kamu salah satu orang yang beruntung."


Chiara tersenyum lebar. "Iya, aku beruntung, ya?"


"Aku jauh lebih beruntung."


"Apa?"


"Bisa dapetin kamu dan hati kamu, yang orang lain belum tentu mendapatkannya," balas Kenneth merayu.


Lagi-lagi pipi Chiara merona.


"Jangan perlihatkan wajah ini pada orang lain, bahkan saat di Jerman nanti," peringat Kenneth menyentuh pipi Chiara.


"Apa?" Chiara tak mengerti.


"Pipi merah ini, jangan perlihatkan kepada laki-laki lain selain aku."


Bola mata Chiara membulat. "Kamu juga," cetusnya kemudian.


"Apa?"


"Selama aku di Jerman. Jangan kasih perhatian sama cewek lain. Jangan modusin cewek lain. Jangan kasih harapan sama cewek lain."


"Sejak kapan aku modusin cewek?" tanya Kenneth.


Chiara nampak berfikir. "Iya, juga, ya. Ahh, pokoknya kamu nggak boleh deket-deket cewek lain, apalagi ngasih harapan."


"Kayaknya mereka harus mikir dua kali buat bikin kamu marah, atau mereka milih masuk kandang singa," goda Kenneth terkekeh.


Chiara mendelik. "Makanya jangan macam-macam sama singa yang sedang lapar," balasnya tak mau kalah.


"Emang singanya lagi lapar sekarang?" goda Kenneth mencubit pipi Chiara.


Chiara menyeringai. "Iya, lagi pengen makan orang, nih."


Kenneth tergelak. "Makan aja aku."


Chiara segera membungkam bibir Kenneth yang tengah tertawa, tindakannya sukses membuat sang empu terkejut. Tak ingin kehilangan kesempatan, Chiara memberikan cumbuan hangat yang menuntut, tak segan ia akan menggigit bibir candu kekasihnya itu. Ia terlalu gemas dengan Kenneth yang sering menggodanya. Benar apa yang dikatakan Liona, Kenneth sungguh menyebalkan.


Kenneth tersenyum merasakan ciuman Chiara yang menuntut dan terkesan agresif. Akan ia biarkan Chiara mendominasi, ia akan menikmati alur yang Chiara ciptakan. Jarang sekali Chiara seagresif itu dalam ciumannya. Namun Kenneth menyukainya.


Setelah di rasa puas, Chiara menarik diri, memberikan ciuman panjang di pipi Kenneth, menghilangkan perasaan malu yang berkecamuk dalam dirinya. Setelahnya ia duduk dengan kaki bergelantungan, menatap lurus pada hamparan sawah.


Kenneth bangkit, mengambil duduk di samping Chiara. "Ternyata singanya benar-benar lapar, ya?" godanya merengkuh pundak Chiara.


"Iya, nih, sukanya makan orang," balas Chiara mengulum senyum.


Kenneth tergelak, kemudian membenamkan hidung bangirnya di pipi Chiara, memberikan kecupan kecil di sana.


Keduanya tertawa bersama menikmati senja yang mulai membentuk cakrawala indah, kicauan burung-burung membentuk nyanyian merdu.


πŸ“šπŸ“š


πŸ“š

__ADS_1


__ADS_2