KENARA : The Love Of High School

KENARA : The Love Of High School
55. Demam


__ADS_3

Weekend merupakan hari yang paling ditunggu setiap orang, tentu saja para murid dan guru, dan sebagian besar karyawan swasta. Apalagi jika hari sabtu itu tanggal merah, sudah pasti sangat menyenangkan bukan? Mendapatkan libur selama dua hari berturut dalam satu Minggu.


Seperti pagi itu, berhubung hari sedang libur, Chiara mengajak Kenneth untuk pergi fitness. Itu murni paksaan dari Chiara, karena Kenneth selalu saja mengelak setiap kali Chiara mengajak.


Sudah lima belas menit Chiara menunggu di teras depan, namun Kenneth belum juga muncul di halaman rumahnya.


"Belum datang ya?" sang ayah berucap saat melihat anak gadisnya masih duduk di kursi teras depan, Chiara sudah meminta izin sebelumnya.


Chiara mendongak. "Belum, Dad." ia kembali menilik jam di pergelangan tangannya. "Daddy mau kemana?"


"Daddy mau jalan-jalan keliling kompleks, mau ikut?"


Chiara tersenyum, kemudian menggeleng.


"Ahh, Daddy lupa, kamu lebih senang olahraga sama Kenneth daripada sama Daddy," tutur Sandy menggoda.


"Daddyy, bukan begitu," Chiara mengerutkan bibir.


Sandy tertawa kecil. "Sudahlah, Daddy tahu, lagi pula Daddy tidak sendirian, Daddy ditemani Bunda."


Chiara tersenyum.


"Lho? Ara belum berangkat? Nggak jadi olahraga sama Kenneth?" sang Bunda turut berseru.


"Jadi, Bun, ini masih nungguin Kenneth."


Stella mengangguk. "Ya, sudah, Bunda sama Daddy jalan-jalan dulu, ya? Kamu hati-hati."


"Iya, Bunda, Bunda sama Daddy juga hati-hati."


Stella mengangguk.


"Dah, Bunda, Dad," Chiara melambaikan tangan, memperhatikan kedua orangtuanya yang sudah keluar dari gerbang. Ia mengembuskan nafas panjang, kembali melirik jam tangannya. Bibirnya mencebik kesal.


Chiara meraih ponsel yang tergeletak di meja, memutuskan untuk menghubungi Kenneth. Tiga kali sambungan terhubung, namun tak mendapatkan sahutan dari seberang, kakinya menghentak kesal. "Kemana, sih?" gerutunya mulai tak sabar. "Awas aja kalau dia lupa."


Lagi, Chiara menghubungi nomer ponsel Kenneth, namun tak kunjung mendapat sahutan. "KENNETHHH!!" teriaknya frustasi. Jarinya kembali menscroll layar, mencari nomer yang hendak ia hubungi.


"Halo?"


Chiara menggigit bibirnya menyadari siapa yang mengangkat telepon. "Halo, Tante, ini Chiara."


"Hai, Sayang, ada apa? Kenapa kamu telepon nomor rumah?"


"Em, Kenneth ada, Tante? Tadi aku udah telepon nomer ponselnya, tapi nggak di angkat."


"Ohh, mungkin dia masih tidur."


Bibir Chiara mengerucut sebal mendengar jawaban dari Ibunda Kenneth, bukankah sudah janji? Kenapa masih tidur, sih, gerutunya dalam hati.


"Semalam dia kehujanan, badannya demam, jadi Tante suruh istirahat saja."


Chiara terkesiap. "Kenneth sakit, Tante?"


"Cuma demam biasa, nggak apa-apa."


Chiara melipat bibir. "Emm, boleh Ara ke sana, Tante?" tanyanya ragu.


Terdengar kekehan dari seberang. "Ya, boleh, dong. Masak calon mantu mau berkunjung nggak boleh."


Pipi Chiara bersemu mendengar ucapan Ratih. "Iya, Tante. Ara siap-siap dulu, terimakasih, Tante."


"Iya, Sayang, hati-hati."


Tut.


Setengah jam kemudian, Chiara sudah berganti pakaian dengan memakai dress selutut berwarna hitam. Menggunakan sepatu putih dan juga tas selempang. Sedangkan rambutnya ia kuncir kuda dengan menyisakan bagian sampingnya. Menyelesaikan sarapan paginya dengan cepat, tanpa menunggu keluarga yang lain, berpamitan pada salah satu maid, agar memberitahukan kepada sang Bunda kalau ia pergi ke rumah Kenneth.


Chiara mengendarai mobil sport yang ia dapatkan dari orangtuanya saat berulang tahun. Kendaraan yang jarang ia gunakan karena Kenneth bersedia dengan senang hati menjemput serta mengantarnya kemanapun. Chiara berbelok ke sebuah toko roti untuk membeli buah tangan.


Beberapa menit kemudian mobil Chiara berhenti di depan rumah Kenneth. Chiara memperhatikan tampilannya pada kaca mobil. Mengambil buah yang di letakkan di kursi kiri dan membuka pintu mobil.


Ting! Tong!


Chiara menekan bel kediaman William. Tak berapa lama seorang maid membuka pintu.


"Selamat datang, Nona Ara, silahkan masuk," ujar maid itu ramah.


Chiara mengangguk. "Terimakasih," balasnya. "Tante Ratih dimana, Bi?" tanyanya kemudian.


"Nyonya dan Tuan ada di ruang makan, Non."


Sekali lagi Chiara mengangguk. "Terimakasih."

__ADS_1


Chiara berjalan menghampiri meja makan. "Selamat pagi, Om, Tante," sapanya.


Ratih dan Thomas yang sedang sarapan menoleh.


"Pagi, Sayang," Ratih tersenyum menyambut tamunya. "Ayo sarapan bersama," ajaknya kemudian.


"Terimakasih, Tante, tidak perlu. Tadi aku sudah sarapan di rumah."


"Mau ketemu Kenneth?" Thomas bertanya.


Chiara mengangguk kaku. "Iya, Om," jawabnya gugup.


"Mungkin masih tidur, kamu lihat saja ke kamarnya," Ratih menatap lantai dua dimana kamar sang putra berada.


Chiara melotot. "Nggak apa-apa, Tante, kalau aku masuk ke kamarnya Kenneth?" ia nampak terkejut.


Ratih tersenyum. "Nggak apa-apa, Tante percaya sama kalian," balasnya mengangguk mempersilahkan.


Chiara tersenyum kikuk. "Kalau begitu aku izin ke kamarnya Kenneth, Om, Tante."


Thomas dan Ratih mengangguk.


Sebenarnya Chiara ragu memasuki kamar laki-laki yang notabene adalah pacarnya, karena selama ini ia hanya pernah masuk ke dalam kamar Aiden dan Alzayn. Belum pernah Chiara masuk ke dalam kamar pacarnya terdahulu. Chiara mengetuk pintu pelan. Karena tak mendapat sahutan, ia membukanya pelan, mengintip keadaan di dalam, terlihat seseorang yang sedang tidur di ranjang dengan selimut menutup tubuh.


Chiara membuka pintunya lebar, tangannya terhenti saat akan menutup pintu, ia memutuskan untuk membiarkan pintunya terbuka lebar. Meletakkan parsel buah di meja nakas, kemudian ia berjongkok di hadapan Kenneth. Memperhatikan wajah Kenneth yang sayu dan pucat, terdapat kain kompresan di dahinya.


Chiara mengambil kain kompresan tersebut, meletakkan tangannya menyentuh kening Kenneth, masih terasa panas. Ia memasukkan kain tersebut ke dalam baskom berisi air, dan kembali mengompres dahi Kenneth. Ujung bibirnya terangkat melihat wajah Kenneth yang terlelap, tak terganggu oleh ulahnya.


Netra Chiara berotasi, menelisik ruangan Kenneth yang di dominasi warna hitam dan abu-abu. "Bahkan kamarnya pun berwarna hitam," gumamnya pelan.


Manik mata Chiara menangkap sesuatu yang tidak asing di sisi nakas, kakinya melangkah menghampiri, senyumnya semakin lebar saat menyentuh dan melihat foto dirinya yang terpajang di pigura tersebut. "Kapan dia dapat foto ini?" gumamnya memperhatikan foto dan Kenneth yang masih terlelap bergantian. Sepertinya foto itu di ambil secara diam-diam oleh Kenneth.


Chiara mulai memperhatikan beberapa pajangan dinding dan juga barang-barang milik Kenneth yang tersusun rapi di atas rak, hingga tiba-tiba seseorang datang menghampirinya, lebih tepatnya menghampiri Kenneth.


"Panasnya sudah sedikit turun," ujar Ratih usai menyentuh dahi anaknya.


Chiara mengangguk.


"Boleh Tante minta tolong sama kamu, Sayang?"


Chiara kembali mengangguk. "Iya, Tante."


"Sebenarnya hari ini Om sama Tante mau ke rumah Omanya Kenneth. Tante minta tolong temenin Kenneth, ya?"


Ratih tersenyum. "Dia belum makan, tolong nanti bangunin, terus minum obat."


Sekali lagi Chiara mengangguk.


"Ya, sudah, Tante titip Kenneth ya, Sayang," Ratih mengelus lengan Chiara.


Untuk yang ke sekian kalinya Chiara mengangguk. "Tante hati-hati."


Sepeninggalan Ratih.


Chiara duduk di sisi ranjang menikmati pemandangan di hadapannya, tangannya terulur untuk menyentuh wajah Kenneth dengan ujung jarinya, kemudian ia menarik tangannya kembali.


Tak berapa lama kelopak mata Kenneth berkedip dan terbuka, ia terkejut melihat gadis di hadapannya. "Ara?" ujarnya dengan suara khas orang bangun tidur.


Chiara tersenyum. "Selamat pagi," sapanya.


"Kamu di sini?"


Chiara mengangguk, membantu memasang bantal di kepala Kenneth saat ia akan terbangun.


"Sejak kapan?"


"Sejak tadi," Chiara menyerahkan gelas berisi air putih pada Kenneth. "Kamu belum sarapan, aku ambilkan bubur dulu di bawah, kamu jangan kemana-mana," titahnya kemudian.


Kenneth hanya mengangguk dan tersenyum, memangnya dia akan kemana?


Chiara kembali dengan nampan berisi semangkok bubur, duduk di sisi ranjang serta membantu menyuapi Kenneth.


"Ngerasa Dejavu?" Kenneth berujar.


Chiara menyernyit, ia nampak berfikir, kemudian ujung bibirnya terangkat, ia masih ingat saat dulu Kenneth menyuapinya bubur di kelas, sekarang keadaannya terbalik, ia yang menyuapi Kenneth.


"Habiskan, jangan di sisain, entar ayamnya mati."


"Aku nggak piara ayam."


Chiara mendelik.


Kenneth terkekeh. "Sama siapa?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Sendiri. Tadi aku nungguin kamu di rumah, aku telepon nggak kamu angkat, jadi aku telepon Mama kamu. Mama kamu bilang kamu demam, ya, sudah aku ke sini."


Kenneth mengangguk. "Maaf."


"Nggak apa-apa. Kamu habis dari mana, kok, kehujanan?"


"Siapa yang bilang?"


"Mama kamu."


"Ngumpul sama anak-anak."


"Makanya jangan pulang malem."


"Enggak. Aku pulang pagi."


Chiara melotot. "Kamu."


Kenneth terkekeh, sesekali terbatuk, sepertinya ia terserang flu.


Tak terasa sudah hampir tengah hari Chiara menemani Kenneth, bicara hal tak penting sampai dengan yang sedikit penting. Sudah jelas bukan? Siapa yang lebih banyak bercerita dan siapa yang menjadi pendengar yang baik.


"Aku pulang, ya?" pamit Chiara menilik jam di pergelangan tangan.


"Kenapa buru-buru," sahut Kenneth dengan suara serak.


Chiara memutar bola matanya, sedari tadi setiap ia berpamit mau pulang, pasti jawaban Kenneth seperti itu. "Udah siang, Ken, besok aku ke sini lagi," ucapnya asal.


"Bener?"


"Hah? Apa?"


"Besok ke sini lagi?" Kenneth menyeringai.


Chiara melotot, mengerjapkan matanya berulang kali. "Iyaa.." jawabnya pasrah.


Kenneth mengangguk. "Hati-hati."


Chiara mengangguk saja, meraih ponsel yang tergeletak di nakas, saat hendak berbalik Kenneth menahan tangannya. "Apa?"


Kenneth menggerakkan bibirnya seperti akan mencium.


"Ih, lagi sakit juga," protes Chiara.


"Biar cepet sembuh."


"Biar sembuh itu minum obat, bukan ciuman," Chiara berbisik di akhir kalimat serta mencondongkan kepalanya.


Menghiraukan protesan Chiara, Kenneth mendongak serta memejamkan mata.


Chiara mencium bibir Kenneth sekilas. "Udah."


Tapi Kenneth masih memejamkan mata, ia juga belum melepaskan cekalannya.


Bibir Chiara mengerucut sebal, kepalanya memutar melihat keadaan pintu kamar Kenneth, khawatir jika ada yang melihat. Di rasa aman, Chiara segera mencium seluruh wajah Kenneth, mulai dari kening, kedua pipi dan terakhir bibirnya dengan sedikit menekan.


Kenneth terkekeh dan membuka mata setelah mendapat serangan bertubi-tubi di wajahnya.


"Puas?" sentak Chiara ketus.


Kenneth menggeleng. "Belum."


Chiara mendelik.


Kenneth terkekeh, kemudian melepaskan cekalan tangannya. "Hati-hati, langsung pulang," ucapnya kemudian.


Chiara mengangguk.


Sudah beberapa langkah Chiara akan keluar dari kamar Kenneth, tapi kemudian ia berbalik dan berjalan menghampiri Kenneth. Memberikan ciuman dalam dan lama di pipi Kenneth. "Cepet sembuh," ucapnya tersenyum manis.


Kenneth tertawa kecil mendapatkan serangan tiba-tiba. "Aku yakin kali ini akan sembuh lebih cepat," kelakarnya menggoda.


Chiara memalingkan wajah menahan malu. "Aku pulang, ya, dah.."


Kenneth mengangguk mengiyakan. "Hati-hati, kabarin kalau sampai rumah."


Chiara mengangguk dan benar-benar berlalu.


Jemari Kenneth terulur menyentuh pipinya yang baru saja dicium oleh Chiara. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman, kepalanya menggeleng pelan. Kemudian ia kembali merebahkan tubuh untuk melanjutkan istirahat.


📚📚


📚

__ADS_1


__ADS_2